
Arya masuk kedalam kantin beriringan dengan teman-teman nya.
Kantin terdiri dari empat lantai. Lantai pertama untuk siswa baru, lantai dua untuk siswa menengah, lantai tiga untuk menengah senior, dan lantai empat untuk para senior tahun akhir.
Biasanya sangat jarang ada kakak kelas yang datang ke lantai pertama karena mereka memiliki lantai tersendiri. Tapi, tak jarang akan ada saja kakak kelas yang datang lantai satu hanya untuk sekedar menyapa atau hanya jalan-jalan saja. Biasalah kakak kelas gabut memang gitu, gak bisa diam gitu loh!
Arya mengambil nampan makanan nya dan langsung mencari tempat duduk. Delvan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Arya begitu juga dengan yang lainnya.
Dia sangat lapar, sungguh! Ini pertama kalinya dia lapar ketika melihat orang makan.
"Kamu seperti tidak diberi makan selama seabad" ucap Ayka melihat Arya yang makan dengan sopan namun cepat.
Sumpah dah anak satu ini!!
"Kamu sepertinya sangat menyukai ikan? Apakah kamu tidak makan daging?" tanya Habby mengamati nampan makan Arya yang rata-rata sayur, buah dan ikan itu.
"Aku gak bisa makan daging" jawab Arya tetap memakan makanan nya.
"Kamu pilih-pilih makanan?" tanya Habby lagi.
"Engga sih, cuma... Bisa dibilang begitu juga" jawab Arya lagi mengangkat bahunya.
"Hah?"
Tidak satupun dari mereka yang mengerti, kecuali Delvan yang sudah tahu kebenarannya sejak awal.
Arya tersenyum kecil dan memakan makannya. Dia melirik sedikit kearah Delvan yang juga sedang menyembunyikan senyum nya agar tidak terlihat mencolok.
Kalau mau ketawa, ketawa aja...!
B꙰a꙰w꙰a꙰h꙰▼
Sektor sihir...
"Ngapain kamu disini? Mana kelompok mu?" tanya Emilly dengan mata sinis dan nada bicara yang terdengar judes.
Rokan yang baru saja duduk dihadapan Emilly itu mengangkat pandangannya. Dia dengan aneh mengangkat alisnya.
"Gak tau!" jawab remaja laki-laki itu dengan santai.
Emilly berkedip beberapa kali dan bibirnya tidak bisa diam.
Feron yang tahu gadis disampingnya itu akan mengutuk, langsung dia bungkam dengan sebuah roti yang bahkan besarnya melebihi mulut gadis itu.
Emmmp...
Si*lan...
"Diamlah, cepat habiskan makan mu!" tegur Riden mengalihkan matanya pada anak didepan Emilly.
Remaja bernama Rokan itu memiliki rambut cokelat kemerahan yang halus dan sedikit panjang. Mata biru tua bulat lentik dengan tanda unik dibawah matanya yang khas, mata yang terlihat lembut tapi seperti menuntut itu memberikan kesan yang sangat bagus. Warna kulit sawo matang yang juga terlihat halus, wajah yang manis walau agak nakal, bibir yang tipis dan lembut yang selalu digulung. Tapi... Satu hal yang unik dan mencolok dari remaja itu adalah tanda dibawah matanya. Itu hitam dan sejajar dibawah mata kirinya.
Feron mengunyah makanan saat alat komunikasinya bergetar, "Katanya pembuat onar itu juga datang?"
Hening...
Emilly ngebug sebentar sebelum terkejut "Uhuk, apa? Siapa?"
"Arya?" tanya Riden mengangkat alisnya.
Feron menatap alat komunikasinya dan menggeleng, "Bukan, tapi Aryan"
Emilly mengerutkan alisnya bingung. Siapa lagi itu?
"Siapa itu?"
"Aryan? Apakah kalian mengenal anak laki-laki berwajah cantik itu?" sela Rokan mengingat penampilan Arya yang umm.. Yah gitulah.
"Anak laki-laki berwajah... Cantik? Tunggu! Maksudmu yang kamu bilang kemarin itu Aryan?" tanya Emilly menarik kerah Rokan membuat Feron menepuk dahinya kesal. Tolong jangan buat masalah!!
"Ap-- aku tidak tahu! Yang jelas dia masuk sektor pedang dan kalau tidak salah temannya ada yang bernama Del.. Vi?"
"Delvan, bod0h! Itu kakak saya!" ucap Emilly memukul kepala Rokan membuat remaja itu meringis. Senyum greget
Begitulah, Arya dan Emilly akan memanggil diri mereka sebagai 'saya' bukan 'aku' ketika kesal. Itu seperti sebuah kebiasaan yang tidak bisa hilang.
"Datangin?" usul Feron memasukan kembali alat komunikasinya kedalam saku celana.
"Skuy!"
"Bentar-bentar! Makananku belum habis, sabar woy!" Emilly dengan cepat memasukan sisa makannya kedalam mulutnya dan langsung menyusul kedua temannya sambil menyeret Rokan yang tidak ada hubungannya.
Kenapa aku juga?!
Mereka berempat memiliki wajah tampan dan cantik, itu sudah cukup untuk menarik perhatian semua siswa yang menyaksikan penampilan mereka.
Bibit unggulan semua....?!!
Sebelum masuk Akademi mereka mengubah penampilan mata mereka untuk beberapa alasan.
Feron mengubah sedikit warna matanya menjadi seperti ada sedikit gradasi merah muda.
Riden sedikit membuat matanya menjadi lebih cerah
Emilly menggunakan sedikit warna hijau dimatanya
Dan Rokan... Em saya rasa, saya tidak tahu ×͜×
Sesampainya mereka dikantin sektor pedang, hal pertama yang mereka lihat adalah....
"Apa? Ada yang salah?"
Suara dingin dan datar mengisi ruangan yang terlihat penuh sesak itu, walau begitu ruangan itu sangat hening. Semua orang tidak ada yang berani untuk bersuara.
"Kenapa? Kenapa diam?" sekali lagi suara dingin itu terdengar.
"Ada apa?"
Siswa itu menoleh dan berbisik, "tadi ada kakak senior yang datang, tapi sepertinya dia terganggu dengan wajah salju milik Aryan, jadi dia menyiram minuman ke tubuhnya dan itu pun terjadi" ucapnya sambil menunjuk pada seorang anak laki-laki berambut merah muda yang masih duduk di kursinya.
"Itu... Aryan?" tunjuk ulang Feron pada tubuh Aryan yang terlihat mengkilap karena basah.
"Dia basah?" sambung Rokan yang sedikit menekan tubuh Riden dengan sikunya.
Emilly berjalan mendekat pada Arya dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
"Arya? Atau Aryan?" tanya Emilly mengedipkan matanya. Bau menyengat masuk ke indera penciuman nya membuat dia langsung mengernyit.
Bau minuman beralkohol...!
"Singkirkan tanganmu Lili! Bau itu akan menempel di tanganmu!" ucap Arya menepis tangan Emilly.
Emilly tidak menghiraukan perkataan Arya, dia mengendus kepala hingga pundak Arya. Dan dia yakin jika apa yang dia cium itu adalah aroma minuman beralkohol.
"Siapa yang menyiram mu dengan beer?" tanya Emilly dengan wajah yang tiba-tiba jadi datar. Itu adalah pertama kalinya Arya melihat wajah Emilly berubah dalam sekejap.
Arya hanya tersenyum miring dan mengusap kepala gadis yang ada didepannya itu dengan kepala menggeleng.
Gadis yang unik...
.......Beberapa saat yang lalu.......
Arya meminum air bening didepannya dan menghela nafas. Perasaan sesak gara gara tersedak akhirnya hilang. Ya, tadi dia tersedak makannya sendiri karena gebrakan dimeja belakangnya.
"Kenapa sih?" tanya Arya pada Habby memajukan kepalanya berbisik.
"Kakak kelas 3 ada disini"
Seperti yang dikatakan diawal, kantin terdiri dari 4 lantai, setiap lantai mewakili setiap tingkat. Yang berarti Arya dan teman-temannya ada ditingkat satu alias junior. Dan yang tadi datang adalah kakak kelas yang dua tingkat di atas mereka.
"Lalu, kenapa dia main gebrak meja adik tingkatnya? Bukannya mereka ada kantin sendiri!?" kata Arya dengan nada sewot.
"Kenapa sih malah buat masalah pada adik tingkat!?" sambungnya dengan wajah kesal.
"Biasalah, cari perhatian mungkin?" jawab Delvan mengangkat bahunya bersamaan.
Kakak kelas tiga yang tidak sengaja mendengar perkataan Delvan langsung memukul meja dibelakangnya, tepatnya milik Arya dan yang lainnya duduk.
Makan milik Arya yang belum selesai dia makan langsung tumpah dan mengenai pakaiannya. Pakaian seragam itu basah dan tetesan nya sampai ke celananya dan menyebabkan di sana juga basah.
Sabar... jangan emosi...
Kakak kelas tiga itu mengerutkan dahinya setengah kesal.
"Kamu laki-laki? Kenapa wajahmu seputih ini? Kamu lahir dari salju?" kakak kelas tiga itu menarik rambut Arya membuat sangat empu rambut mengernyit kesal.
"Lepaskan rambutku!!" ucap Arya berusaha untuk tidak meledak. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menunjukan jati dirinya dan juga kekuatannya sampai dia lulus.
"Hei, kak tolong lepaskan teman kami! Kenapa kakak membuat masalah pada siswa baru!" ujar Delvan langsung berdiri dan melepaskan tautan tangan kakak kelas tiga itu dari rambut Arya.
"Ar, kamu gak papa?" tanya Brian mengusap kepala Arya yang yang terus ditutupi oleh tangan gadis itu. Brian tidak suka memanggil nama Arya dengan sebutan Iyan karena dia tidak terbiasa. Dan dia lebih nyaman memanggil Arya dengan namanya langsung.
"Eng-enggak papa, sial jangan sampai sihir ku lepas!" gumam Arya mengalihkan tubuhnya kehadapan Brian agar remaja laki-laki itu menutupinya.
Dia sekuat tenaga untuk tidak terpancing emosi, tapi apa yang terjadi berikutnya membuatnya kaget.
"Apa-apaan, apakah kalian maho!?" ucap salah satu kakak kelas tiga itu membuat Arya melempar cangkir yang ada disampingnya. Untungnya gak kena, kalau kena berarti refleks nya lambat.
"Pala bapak kau botak!!" sentak Arya dengan perempatan di pelipisnya. Untung dia gak terlalu banyak menggunakan kekuatan.
Untunglah sihirnya tidak lepas...!
"Kok tahu?" sahut kakak kelas lainnya yang dihadiahi geplak kan di kepalanya.
Semua siswa yang ada di kantin itu tertawa dalam diam namun tetap kedengaran membuat kakak kelas tiga yang tadi dilempar cangkir oleh Arya naik pitam.
"Bodoh diam!!!" teriaknya membanting piring milik Arya.
Baik...
Hal paling menyebalkan akhirnya muncul.
"Ayahku bahkan tidak pernah membanting barang di hadapanku, semarah dan sekesal apapun dia!" ucap Arya lirih namun bisa didengar semuanya. Dia mengedipkan matanya dengan tenang namun terdapat kilatan berbahaya di sana.
Yap, Zaint tidak pernah sekalipun membanting barang-barang dihadapan anaknya; Arya. Tapi lihatlah sampah sialan dihadapannya ini, dia bahkan tanpa ada perhitungan apapun melakukan hal itu?! Apakah orang itu waras?! Pastinya tidak kan?! Jikalau waras, maka Arya bahkan tanpa pandang bulu akan menendangnya sama seperti dia menendang Geun-Haa; adiknya Geun-Lee tempo lalu.
Kakak kelas tiga yang merasa seperti ada tekanan yang menekan tubuh mereka langsung mengeluarkan sesuatu dan menumpahkan nya di seluruh tubuh Arya.
Kali ini bukan hanya setengah tubuhnya yang basah tapi semuanya, mulai dari rambut hingga sepatunya, dan beberapa sisanya muncrat ke meja.
Semua orang membelalakkan matanya terutama teman-teman sebangku Arya yang menyaksikan paling dekat.
"Arya(Iyan)!!!?" teriak mereka semua langsung berdiri dan menarik Arya yang diam membeku merasakan sensasi dingin dan menyengat nya aroma dari tubuhnya.
"Be-beer? Ka-kau menyiram ku dengan be-beer?" tanya Arya dengan suara bergetar yang penuh ketidak percayaan.
Kakak kelas tiga itu menatap Arya dengan tajam. Sedangkan temannya yang lain menatap nya tidak percaya.
"Kau-- bagaimana kamu memiliki minuman itu?!! Kamu tahu, kita bisa saja dikeluarkan jika ketahuan!?"
Peraturan di dua Akademi itu sangat lah ketat. Terutama, larangan untuk membawa minuman beralkohol memasuki kawasan Akademi, terutama siswa. Jika itu ketahuan, maka, siswa yang melanggar peraturan itu akan dikeluarkan dari Akademi. Yang dengan kata lain merupakan aib terbesar bagi siswa dan keluarganya, bahkan yang paling parah adalah keluarganya anak dikeluarkan dari pergaulan sosial bangsawan, apapun tingkat kebangsawanan keluarga siswa yang melanggar aturan itu. Kenapa? Karena pengaruh Akademi termasuk sangat besar setelah Kekaisaran. Siapa yang melanggar sama saja seperti mencari kematian.
𒋨𒋨𒋨𒋨𒋨𒋨
Sorry semuanya untuk keterlambatan up nya😥🙏
Alasan saya lambat karena saya maraton nonton anime sampai tamat S2. Maaf yaaa!!😰
Seriusan gak boong😩✌
Tinggalkan jejak nya ya semua😄