
Alican mengangkat alisnya sebelah. Pria tua dihadapannya masih terlihat terkejut.
Dia mundur beberapa langkah dan berniat melarikan diri.
Tapi saat dia ingin keluar dari pintu, tubuhnya tiba-tiba terasa mati rasa saat listrik bertegangan sedang menyengat tubuhnya.
"Terkejut boleh, lengah jangan" ucap pria tua itu mendekati tubuh Alican yang terbaring dilantai dengan mata terkulai.
Alican bisa merasakan jika tubuhnya sangat sakit dan rasanya kesadarannya mulai memudar. Dia dengan samar-samar melihat pria tua itu mengangkat kepala nya dengan perlahan.
"Hm, kepribadian ganda... Anak ini jadi sangat menarik untuk di jadikan eksperimen...!"
Pria tua itu mengangkat tubuh gadis berusia tujuh tahun itu keatas meja yang dilengkapi dengan berbagai alat aneh.
-----
Akh...
Alican bangun dengan tiba-tiba saat tubuhnya kembali mendapat kejutan. Dia kembali terkejut saat dia melihat kedua tangan dan kakinya diborgol.
Apa ini!?
Gadis itu melihat sekeliling dengan mata was-was.
Hanya ada satu lampu yang menerang tempat itu dan itu tepat berada diatasnya.
Dia mengerucutkan bibirnya cemas.
Bagaimana cara keluar dari tempat itu?!
"Em? Kamu sudah bangun nak?" tanya pria tua itu mendekati Alican yang terikat.
Dia memakai sarung tangannya dan mengambil sebuah pisau bedah diatas meja samping tempat Alican diikat.
"A-apa yang ingin kamu lakukan!?" tanya Alican sambil terus memberontak.
"Tenang-tenang~ jangan terlalu banyang bergerak, aku hanya ingin memastikan perkataan Xion saja" ucap pria tua itu tersenyum. Dia memanggil ayah Alice dengan sebutan Xion memang.
Pria tua itu perlahan menggores pisau itu di lengan dan perlahan naik ke siku
Ugh...
Alican dengan sekuat tenaga menahan teriakannya dengan menggigit bibirnya sendiri hingga berbekas dan terluka.
Pria tua itu dengan takjub melihat luka akibat sayatan pisau itu perlahan menutup dan hanya menyisakan darah yang sempat keluar.
Tubuh gadis itu bergetar dengan kuat.
"Luar biasa!! Hebat, sangat hebat!! Haha!" tawa pria tua itu dengan lepasnya.
"Tidak, jangan lagi!! Itu menyakitkan!!!" teriak Alican saat dia melihat ujung pisau itu kembali memasuki rongga kulitnya.
Walau dia bisa meregenerasi tubuhnya dengan cepat, tatap saja dia adalah manusia dan juga anak kecil yang masih berumur tujuh tahun, dia pasti merasakan sakit dan keputus asaan.
"Accrrrrkkk...." Alican berusaha sekuat tenaga menahan dirinya agar Alice tidak kembali tapi itu bukan kemampuannya untuk menahan, jadinya Alice lah yang merasa kan sakitnya sampai-sampai tubuhnya terangkat merasakan sakitnya.
"Hugh.. Apa- yang kamu lakukan hiks, sakit...! Hiks... Ayah! Hwu wu sakit paman! Tolong jangan lakukan itu...!" mohon Alice sambil terus menangis.
Pria tua itu hanya tersenyum kecil dan mengusap kepala Alice. "Jangan takut...ini hanya sebentar tak akan lama nak!"
Beberapa jam dia berkutat dengan tubuh gadis itu sementara gadis itu sendiri terus saja menangis dengan mulut tersumpal.
Pria tua itu memasukkan berbagai macam cairan dan obat aneh ke sela-sela kulit gadis yang dia gores sedikit.
Alice terus memanggil nama Alican dan ayahnya dalam pikirannya, namun tak ada yang bisa menolongnya.
Alican yang ada di kepala Alice tidak bisa keluar karena tubuhnya bahkan tidak bisa bangkit dari perahu pikiran membuatnya tersiksa.
Anehnya gadis itu tidak pingsan sama sekali saat dia benar-benar kesakitan. Walau tubuhnya sangat lunglai tetap saja dia tidak kehilangan kesadarannya.
"Apa kah sudah selesai?" tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Pria tua itu berbalik sebentar dan melepas penyumpal mulut Alice.
Alice membuka matanya yang sedikit tertutup.
"Ayah..." ucap gadis itu dengan lemas.
Xionel mengedipkan matanya pelan.
"Yah, kau benar, dia memang unik! Kamu harus membawanya setiap minggunya pada ku, aku harus meneliti tentang kepribadian gandanya" ucap pria tua itu melepas ikatan borgol ditangan dan kaki gadis itu.
Xionel hanya melirik sedikit dan mengangkat tubuh anaknya yang lemas tak bertenaga.
"Kepribadian ganda?" ulang Xionel menatap wajah Alice yang pucat.
"Ya, kalau tidak salah namanya... Alican! Ya Alican! Sepertinya itu laki-laki"
"Oh ya! Ini, biarkan anak itu memakan obat ini setiap dua hari sekali, aku ingin melihat apa yang akan terjadi nantinya" ujar pria tua itu menyerahkan beberapa tablet obat yang dibungkus dalam plastik.
Xionel hanya mengguk dan membawa anaknya kembali kerumah.
Sepanjang jalan tidak ada yang berbicara, Alice hanya duduk dengan gemetar dan Xionel juga tidak ada niatan membuka percakapan.
Sesampainya mereka di rumah, Xionel melihat jika tubuh Alice masih gemetar dengan keringat bercucuran.
Gadis itu sama sekali tidak menangis, dia duduk dikursi depan dengan ayahnya.
Xionel memberikan obat yang sebelumnya kepada Alice dan memintanya untuk memakannya setiap dua hari sekali.
Alice hanya mengangguk beberapa kali dan turun dari mobil. Tubuhnya terasa berat dan matanya sedikit kabur.
"Nona!!"
Dari arah depan pelayan yang melayani gadis itu langsung berlari dan mengangkat tubuh Alice yang perlahan rubuh.
"Hei, berhenti!!" perintah Sisca langsung berdiri dan mendekati pelayan itu.
Dia menatap anaknya yang bernafas tidak normal dan matanya langsung sinis.
"Heph! Bawa langsung ke kamarnya sana!!"
Sisca melenggang keluar dan menemui Xionel yang sedang menelfon seseorang.
"Xion, kamu dari mana?" tanya Sisca mengerutkan alisnya.
"Kenapa Alice sampai seperti itu?" tanya Sisca lagi.
Xionel melirik sedikit dan menutup telepon nya. Dia menatap Sisca dengan mata datar.
"Apa peduli mu? Bukankah kamu juga tidak menyukai anak itu? Ingatlah kita tidak memiliki kepentingan yang membuat kita berbicara seperti ini" ujar Xionel meninggalkan Sisca diluar sendirian.
"Pria br3ngs3k!" umpat Wanita itu mengepalkan tangan dan mengerutkan bibirnya, mata lentiknya juga langsung menajam.
Beberapa hari kemudian...
Alice membuka pintu kamarnya sedikit dan menemukan jika ibunya sedang menunggunya di luar.
Sisca menatap anaknya dengan lurus.
"Ibu?" cicit gadis itu menundukkan kepalanya
"Kamu ingin kemana?" tanya sisca dengan wajah kesal.
"Itu... Ayah bilang ingin jalan-jalan...?" cicit Alice sekali lagi dengan takut.
Sisca dengan tidak sabaran menarik anak nya kearah gudang, dia menguncinya dari luar. Alice yang sering diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dengan air mata yang terus mengalir.
Wanita itu datang dan membawa daging steak ditangannya. Dia memaksa Alice memakan daging itu dan kembali meninggalkan gudang itu.
Alice dengan susah payah mengatur nafasnya agar dia tidak berteriak. Namun itu tidak berhasil, dia pingsan digudang dengan tubuh tergolek lemas.
Xionel melihat anaknya yang pingsan digudang dan pikirannya langsung tertuju pada istrinya, Sisca.
Pria berperawakan tinggi dan wajah tampan tapi lempeng itu mendatangi istrinya di kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
Sisca mengalihkan matanya dari handphonenya dan mengkat alisnya.
"Untuk apa kamu memasuki kamar milikku?"
Kamar kereka berdua itu terpisah, mereka memiliki kesepakatan untuk tidur terpisah. Jika ingin tidur bersama, maka itu akan terjadi tiga tahun sekali. Dan walau memiliki waktu yang terbilang lama, itu juga tidak dilakukan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!"
Sisca mengerutkan dahinya tidak suka.
"Memang kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang jika kita tidak memiliki kepentingan yang membuat kita berbicara seperti ini? Lagi pula itu bukan sekali atau dua kalipun, a**ku! Sudah! Sering melakukannya**!!" sinis wanita itu pergi.
Walau hubungan mereka tidak baik, tapi demi kesepakatan kontrak pekerjaan mereka tidak bisa bercerai sampai salah satu dari mereka mati.
Sisca memasuki mobilnya dan pergi begitu saja dari mansion yang hampir bisa dibilang sebagai istana mewah itu.
☆࿐ཽ༵༆༒flashback off༒༆࿐ཽ༵☆
Asrama...
Arya membuka matanya perlahan, itu sudah pukul tiga dini hari. Dia yang terbiasa bangun pagi untuk membuka lembaran putih bertinta hitam kini jadi hampa sama seperti mimpi yang setelah bangun langsung dilupakan.
Gadis itu membawa seragamnya menuju kamar mandi yang berjarak beberapa meter dari asramanya.
Dia melirik sedikit kearah pohon disamping kamar mandi itu.
Burung apa tuch?
Gagak? Kakak tua? Pipit(?)
Burung yang terlihat besar itu bertengger dengan santainya diatas pohon sambil menatap Arya diam. Tubuhnya yang hitam tersamar dengan gelapnya malam hari. Mata emas yang jernih itu bagaikan permata yang bersinar dimalam hari, sangat indah!
"Apa? Ingin melihatku mandi?" ujar Arya mengkat alisnya.
Dia bisa melihat burung hitam itu karena matanya yang spesial.
"Crucut cwut cwut(percaya diri sekali)" kicau burung itu yang mengira jika gadis dihadapannya itu tidak mengerti.
Arya yang merupakan keturunan Roseland itu bisa mengerti bahasa hewan, itu tidak sulit, karena itu kemampuan turunan dari generasi ke generasi. Dan juga hal lumrah jika dia melakukan hal seperti itu.
"Kukira gagak, ternyata pipit" gumam Arya menghembuskan nafasnya berat.
Burung yang bertengger itu kaget dan langsung berkicau marah.
"Cwut wut cruwuut creeewwut(apa kamu bilang? Pipit? Aku Burung Hitam Artenia! Bagaimana kamu mengataiku pipit!!?)" protes burung itu tidak terima dikatai pipit.
"Rempong banget sih jadi burung!! Ku goreng, crispy kau!!?" jawab Arya sewot.
Burung hitam itu membuka paruhnya tidak percaya.
"Cwurut cwuwut(ka-kamu mengancam seekor burung? Dasar penjahat!!)" burung itu terbang pergi meninggalkan Arya sendiri yang mematung ditempat.
"Apaan a*jir! Aku dikritik sama burung burik?! Idih dasar!!" gumam Arya memasuki kamar mandi itu dengan cepat.
_________&__________
Like dan komen?
Banyak typonya, bertebaranlah pokoknya!
Selamat membaca!!