The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Mulai beraksi



Celine berjalan dengan begitu anggun memasuki salah satu perusahaan ternama di kota. Ia menemui resepsionis.


" Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu " Sapa resepsionis itu dengan ramah.


" Saya mau bertemu tuan Carrel " Jawab Celine dengan angkuh.


" Sudah buat janji nona? "


" Tentu sudah! "


" Saya konfirmasi sama asisten tuan Carrel dulu nona. Mohon tunggu sebentar "


" Cepatlah, saya tidak suka bertele-tele " Ujar Celine dengan nada tinggi. Resepsionis itu mulai menghubungi asisten tuan Carrel.


" Anda dipersilakan masuk nona! Ruangan beliau ada di lantai 20 "


" Saya sudah tahu " Celine dengan wajah angkuhnya segera melangkah masuk kedalam lift.


Tok.. tok.. tok..


" Masuk " Celine membuka pintu ruangan itu setelah mendengar perintah dari dalam. Didalam ruangan itu tidak hanya ada tuan Carrel tetapi ada Reyhan juga. Dua orang asing yang tidak dikenali oleh Celine.


" Kau yang bernama Celine Dalbora? " Tanya tuan Carrel.


" Benar tuan " Jawab Celine


" Duduklah! " Celine duduk di sofa bersebrangan dengan dua pria itu.


" Kau sudah mendengar semuanya dari Gina? " Tanya Reyhan. Celine menatap Reyhan sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk.


" Tanda tangani ini jika kau setuju dan setelah itu kau bisa bekerja di perusahaan ini " Ujar Reyhan seraya menyodorkan sebuah kertas dan pulpen pada Celine. Celine membacanya sejenak, kemudian ia membubuhi tanda tangan diatas kertas itu.


" Tunggu dulu, apa posisi yang akan saya duduki disini? " Tanya Celine


" Kau mau bekerja diposisi apa? " Tanya tuan Carrel balik.


" Sekretaris tuan Rivan " Jawab Celine dengan percaya dirinya.


" Tuan Rivan tidak ingin sekretaris perempuan. Dia bahkan memindahkan sekretaris lamanya pada divisi lain " Jawab tuan Carrel.


" Baiklah, kalau begitu saya bersedia diposisi apapun. Asalkan sering berhubungan langsung dengan tuan Rivan "


" Kalau begitu saya tempatkan kamu pada divisi keuangan. Sesekali manager keuangan menyuruh anggota divisinya menemui tuan Rivan langsung. Dan tiap dua minggu sekali tuan Rivan pasti akan mengadakan rapat dengan divisi keuangan. Jadi saya pastikan kamu akan sering berhubungan langsung dengan tuan Rivan. "


" Tetap saja tidak terlalu intens "


" Itu lebih baik daripada divisi lain. Karena hanya divisi keuangan yang dipantau ketat oleh tuan Rivan. Sementara untuk divisi lain hanya diadakan rapat satu bulan sekali " Terang tuan Carrel.


" Baiklah saya setuju " Putus Celine setelah cukup lama terdiam.


" Mulai besok kau langsung bekerja! Biar saya yang mengurus sisanya "


" Jangan lupa setelah ini temui saya di cafe Leon " Sahut Reyhan. Celine mengagguk. Tak apa dia bekerja sama dengan pemuda didepannya ini asalkan ia bisa membalaskan dendamnya secara perlahan.


" Baik "


...****...


Rivan dan Syafa sedang duduk di taman sebelah rumah.


" Besok kamu sudah mulai kerja mas? " Tanya Syafa. Rivan menatap istrinya.


" Iya sayang! Maaf untuk bulan madunya kita handle dulu ya.. Ada banyak sekali proyek yang mengharuskan mas turun tangan sendiri " Ujar Rivan seraya menggenggam tangan sang istri. Syafa tersenyum.


" Itu pasti sayang! Kamu yang pertama dan insyaallah akan menjadi yang terakhir juga untuk mas " Rivan mengecup singkat pipi istrinya membuat Syafa tersipu.


" Aamiin.. semoga mas "


" Kakak, tolong adek ngerjain tugas " Tiba tiba Kalista datang entah darimana. Gadis cantik itu tampak sudah siap untuk pergi kuliah.


" Tugas apa? Bukankah sudah kakak bilang, kalo ngerjain tugas itu sepulang kuliah atau malam tadi. Bukan waktu mau berangkat kuliah kayak gini " Omel Rivan membuat adiknya itu mencebik kesal.


" Kakak nggak liat tadi malam Kalista itu ngerjain laporan. Makanya baru sempat ngerjain tugas kuliah sekarang. Lagipula mata kuliah adek hari ini baru mulai 3 jam lagi. Jadi waktunya masih panjang " Tanpa peduli dengan tatapan tajam sang kakak, Kalista justru duduk di samping kakak iparnya. Lebih tepatnya diantara kakak dan kakak iparnya.


" Kalista! Kalau mau duduk, duduk dikursi lain. Jangan gangguin kakak dan kakak iparmu " Rivan kembali bersuara membuat Kalista menatap jengah.


" Kakak bawel banget sih. Kak Syafa mau kan bantuin Lista? " Kalista menatap Syafa dengan tatapan memohon.


" Coba kakak liat tugasmu? "


Dengan senang hati, Kalista mengeluarkan buku buku kuliahnya. " Ini kak. Kak Syafa kan lulusan jurusan desain, pasti bisa! " Ujar Kalista bersemangat.


" Hemm.. kerjakan sendiri Lista! Jangan copy paste jawaban kakakmu " Ujar Rivan.


" Kakak bisa diam nggak sih. Cerewet banget dari tadi. Lagian Lista cuma minta tolong ajarkan bukan minta jawaban " Kalista tidak terima dengan tuduhan sang kakak.


" Sudah², jangan dengarkan kakakmu Lista. Yang mana tugasmu, kakak akan bantu sebisa kakak " Syafa menengahi pertengkaran kakak adik itu. Jujur saja melihat Rivan dan Kalista seperti itu membuatnya merindukan ketiga kakak laki-lakinya.


" Uhh.. kak Syafa yang terbaik!! " Kalista mulai membuka buku kuliahnya. Sementara Rivan hanya tersenyum kecut. Jika Syafa dan Kalista sudah bergabung, dapat dipastikan dirinya lah yang terabaikan.


...****...


" Kau yakin dia bisa diandalkan Rey? " Tanya pria muda yang duduk didepannya seraya menyesap kopi didepannya.


" Aku yakin, dia itu anak mantan orang terkaya di kota X, Kanada. Dan tujuannya datang kemari adalah membalaskan dendamnya pada Syafa. Jadi sudah dipastikan ia akan bertekad memisahkan kedua orang itu tanpa aku tekan sekalipun. Kau tenang saja Car, aku pastikan rencana ini akan berhasil " Reyhan tersenyum sinis.


" Apapun rencanamu kau harus berhati hati. Ingat lawanmu kali ini buat orang sembarangan " Carrel mengingatkan Reyhan agar memikirkan rencananya matang matang.


" Dan satu lagi, jangan sampai aku kehilangan pekerjaanku karena membantumu sobat " Sambung Carrel membuat Reyhan terkekeh.


" Tenang saja, perusahaanku siap menampungmu jika Rivan sialan itu memecatmu " Reyhan menepuk pelan bahu Carrel seraya beranjak dari duduknya.


" Aku pergi dulu, terima kasih atas bantuannya sobat "


" Hemm.. aku minta imbalan yang setimpal untuk ini "


" Tenang saja, setelah aku berhasil merebut Syafa dari Rivan sialan itu. Aku akan memberikan 10 persen saham perusahaanku untukmu " Reyhan berkata dengan sangat serius membuat Carrel menatapnya tak percaya.


" Really? "


" Of course " Reyhan keluar dari ruangan Carrel. Sesuai janjinya, ia akan bertemu dengan Celine.


Cafe Leon!


" Celine Dalbora! " Suara bariton Reyhan membuat Celine yang sedang meminum jus orange terkejut. Untung saja ia tidak tersedak.


" I.. iya tuan " Celine berdiri dari duduknya dan mempersilahkan Reyhan duduk.


" Santai saja, tidak perlu terlalu formal. Panggil saja Reyhan " Reyhan duduk di seberang Celine.


" Ayo duduklah, lanjutkan minum sebelum aku mengutarakan apa yang harus kau lakukan " Ujar Reyhan. Ia lantas memanggil pelayan dan memesan caffe kesukaannya.


" Ah, iya tuan "


To be continued!!