The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Diserang



Keesokan harinya Syafa, Rivan, Aleta dan Kalista sudah duduk di meja makan. Hari ini mereka kembali melakukan aktivitas masing masing. Kalista dan Aleta yang sedang persiapan untuk magang mereka. Rivan dan Syafa sibuk dengan kantor masing masing.


" Kak, kita nebeng ya " Ujar Aleta seraya menatap kakak dan kakak iparnya bergantian. Sementara tangannya sibuk memotong steak dipiringnya.


" Hemm.. iya! " Jawab Syafa.


" Kalian ikut kak Syafa aja ya, kakak ada meeting pagi ini soalnya " Sahut Rivan.


" Emangnya kalian nggak berangkat bareng? " Tanya Kalista. Biasanya kedua pengantin baru itu selalu berangkat dan pulang bersama. Syafa menggeleng.


" Kakak udah lama nggak nyetir mobil. Lagipula kak Rivan ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal " Kilah Syafa. Memang hari ini Rivan ada meeting yang tidak bisa ditunda. Meskipun awalnya Rivan hendak membatalkannya saja mengingat ia akan mengantar sang istri terlebih dahulu ke perusahaannya.


" Ohh.. " Tak ada lagi yang bersuara setelah itu. Mereka fokus pada makanan masing masing.


...*****...


" Mas berangkat ya sayang! Assalamualaikum.. " Ujar Rivan setelah Syafa mengecup punggung tangannya. Ia pun mengecup singkat kening sang istri.


" Hemm.. telat²! " Teriak Kalista seraya sengaja menyenggol lengan sang kakak.


" Apasih dek! " Gerutu Rivan kesal.


" Katanya ada meeting pagi, tapi kok malah mesra²an disini. Dasar si bucin nggak tau waktu " Omel Kalista seraya membuka pintu mobil kakak iparnya dan duduk di belakang kemudi. Sementara Aleta disamping kemudi.


" Astaghfirullah, untung adikku " Syafa terkekeh mendengar gerutuan sang suami.


" Sudah ah, yuk berangkat mas! " Ujar Syafa seraya mendorong suaminya masuk ke dalam mobil. " Ayo, mas iringi kalian dari belakang! " Ujar Rivan sebelum Syafa menutup pintu mobilnya.


" Iya mas " Syafa bergegas kembali ke mobilnya. Disana dua adiknya sudah menunggu.


Tin.. tin..


Dua mobil mewah itu beriringan keluar dari pekarangan rumah. Saat di persimpangan, keduanya berpisah karena Syafa harus mengantar kedua adiknya dulu ke kampus.


...****...


" Kak, kayaknya mobil item di belakang ngikutin kita deh " Ujar Kalista yang duduk di bangku tengah. Syafa melihat spion mobilnya. Ia kemudian mencoba berbelok, ternyata benar mobil itu mengikutinya.


" Apa itu bodyguardnya kak Rivan kak? " Tanya Aleta. Syafa menggeleng.


" Kak Rivan nggak ada mobil kayak gitu. Semua mobil yang di pake bodyguardnya juga ada logo perusahaan di kaca depannya " Ujar Syafa sambil fokus mengemudi.


" Berarti kita dalam bahaya dong kak " Kedua gadis itu mulai panik.


" Kalian tenanglah, insyaallah semuanya akan baik baik saja. Pasang sabuk pengamannya dan tetap waspada. " Ujar Syafa seraya menginjak pedal gasnya lebih kencang lagi.


" Leta, di dalam dasboard ada dua buah pistol. Ambil dan persiapkan di tangan kalian berdua. " Aleta mengambil pistolnya dan memberikan satunya pad Lista.


" Kak, di depan ada lampu merah! " Ujar Lista.


" Sepertinya kita masih sempat melewatinya " Ujar Syafa yang semakin menginjak pedal gas mobilnya.


5...


4...


3...


2...


1...


" Good job! " Teriak kedua gadis itu.


" Mereka juga berhasil melewati lampu merahnya kak " Ujar Aleta sesaat kemudian.


" Dibelakang ada dua mobil yang mengejar kita. Jika kakak beri aba aba. Kalian buka kaca mobil dan tembakan peluru kalian pada ban mobil musuh. Mengerti? " Syafa memberikan instruksi pada kedua gadis itu.


" Sekarang, tembak! "


Reflek kedua gadis itu membuka kaca mobil dan menembak ban mobil musuh sehingga mobil mereka sedikit oleng dan kecepatannya mulai berkurang. Sementara, musuh tidak memprediksi hal itu terjadi sehingga mereka tidak sempat menghindar ataupun memberikan perlawanan.


" Good job girls " Mereka kembali menaikkan kaca mobil dan melaju dengan kecepatan di atas rata rata.


" Shitt, kenapa bisa gagal? "


" Maaf bos, kita tidak tahu kalau ada orang lain di mobil itu selain nona Syafa. Dan kita juga tidak memprediksi hal ini akan terjadi "


" Kembali ke markas, kita atur rencana lain! Biarkan mobil ini orang bengkel yang ambil "


" Siap bos " Sekitar 6 orang berperawakan tinggi itu keluar dari dalam mobil dan mulai meninggalkan tempat itu.


...*****...


" Kalian mengerti sekarang, kenapa kakak dan kak Rivan ingin kalian magang di perusahaan keluarga? " Tanya Syafa menatap adik dan adik iparnya itu bergantian.


" He'em.. " Sahut kedua gadis muda itu. Mereka masih shock dengan kejadian beberapa menit lalu.


" Sudah sampai! Mau berapa lama lagi kalian berdua merenung di dalam mobil? " Tanya Syafa. Sejak 10 menit lalu, mereka sudah sampai di gerbang kampus. Tapi kedua gadis itu tetap diam di tempat duduk mereka.


" Eh.. maaf kak! " Keduanya menyalimi Syafa dan kemudian bergegas turun. Setelah kedua adiknya turun, Syafa kembali melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


Drett.. drett.. drett...


Baru juga sampai di ruangannya, handphone Syafa berdering. Dengan segera ia mengambil ponselnya di dalam tas seraya menggeser tombol hijaunya dan duduk di kursi kebesarannya.


My Hubby💖


" Hallo Assalamualaikum, mas! " /Syafa


" Waalaikumsalam sayang! Anak buah mas bilang mobilmu diserang tadi, apa kamu dan adik adik baik baik saja? " /Rivan


" Alhamdulillah, kami nggak papa kok mas! Lagian mereka aja yang terlalu berani mau lawan aku. Memang mereka pikir mereka itu siapa? " /Syafa


" *Syukurlah kalau kalian baik baik saja, mas khawatir sama kamu, sayang! "


" Nggak ada yang bisa nyakitin Syakilah Asyafa Ferdian Pranata mas, tenang aja okayy? "


" Mas serius sayangg*!! " /Rivan


" Heheh.. tenang aja, pokoknya mas fokus aja sama kerjaannya. Insyaallah aku baik baik saja. Kan ada Allah yang selalu melindungi aku. Dan juga bodyguard mas itu pasti akan selalu ada untuk membantu. So, don't worry my dear husband " /Syafa


" *Iya iya sayang, kamu hati hati ya. Yang semangat kerjanya. "


" Iya mas, mas juga semangat! Aku tutup ya mas. Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam* "


Syafa kembali menyimpan handphonenya. Hatinya berbunga bunga mendengar kekhawatiran dari sang suami.


" Begini ya rasanya punya suami! " Gumam Syafa seraya tersenyum manis.


" Permisi nona, klien kita sudah menunggu di ruang rapat " Ujar Cindy mengagetkan Syafa yang sedang melamun.


" Eh, Cindy! Kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk? "


" M..maaf nona, tapi sudah berkali kali saya mengetuk pintu! Tapi tidak mendapat respon. Saya kira nona sedang istirahat di ruang pribadi " Ujar Cindy menunduk.


" Hemm.. Maaf saya sedang tidak fokus tadi. Kita keruang rapat sekarang! " Ujar Syafa seraya berdiri dan melangkah keluar ruangannya di ikuti Cindy di belakangnya.


To be continued!