
Ikhsan samudera adalah salah satu mahasiswa di akademi kepolisian tingkat akhir. Ikhsan memiliki keluarga yang senantiasa membuatnya bahagia. Tak lupa ia bersyukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan kehidupan yang sangat sempurna ini. Ibunya adalah seorang guru TK. Ayahnya memiliki percetakan di sebuah kawasan pasar kota. Dan adiknya, Hasna Fatihatul Himmah kini masih duduk di kelas 3 di salah satu SMA Negeri di kotanya. Kehidupan Ikhsan begitu datar saja, yaahh begitulah kehidupan remaja seperti biasa. Ikhsan pandai menjaga diri dari pergaulan bebas dan kenakalan remaja yang makin membahayakan generasi zaman sekarang. Karena ayah dan ibu Ikhsan senantiasa memberikan perlindungan, petuah dan kasih sayang serta perhatian yang lebih dari cukup untuknya. Tapi tidak terlalu datar juga sih, waktu itu ibunya Ikhsan yang cerewetnya minta ampun, pernah mendapati ada majalah dewasa berbau pornografi dan sebungkus dua bungkus rokok di dalam kamar anak sulungnya itu. Sontak saja ibunya ngamuk gak ketulungan, sedangkan di dalam keluarga nya tidak ada perokok, bahkan ayahnya sendiri tidak merokok dari sejak belum menikah dulu. Hal itu membuat Ikhsan bergidik ngeri kalo mengingatnya. Tanpa ba bi bu lagi, ibunya Ikhsan langsung membakar majalah itu dan rokoknya di depan mata Ikhsan. Lalu dengan histerisnya, sang ibu langsung mengambil sebilah pisau yang kemudian diberikannya kepada Ikhsan sambil berkata : "Ayo, bunuh mama mu sekarang nak, daripada mama dihukum Allah dan dilemparkan ke neraka gara-gara kelakuan anak-anak mama yang menyalahi aturanNya, lebih baik mama mati saja! padahal mama sudah berusaha mendidik kalian dengan baik. hiks hiks hiks... "
" Ya Allah, hiks hiks hiks... "
Mama berteriak sambil menangis meluapkan kekecewaan hatinya. Ada rasa pilu dan penyesalan yang mendalam di hati Ikhsan saat itu. Ikhsan pun ikut tersedu melihat sikap mamanya. Lidahnya kelu tak bisa mengucap sepatah kata pun. Dilihatnya sang ayah sedang menenangkan istri yang dikenal bawel itu, lalu adiknya Ikhsan pun tak kalah kaget saat pulang sekolah mendapati situasi kacau dirumahnya saat ini.
Lalu sejurus kemudian, sang ayah mendekati Ikhsan, dengan bibir bergetar, ayahnya kemudian melontarkan pertanyaan : "punya siapa itu nak?"
Ikhsan hanya menggelengkan kepala.
"Jawab nak..." Tanya ayahnya lagi.
Ikhsan tak kuasa lagi menahan air yang sedari tadi ingin meledak dari kelopak matanya. Kemudian Ikhsan berusaha menjawab pertanyaan ayahnya dengan begitu susah payahnya : "Ayah, demi Allah, itu bukan milik Ikhsan. Itu bukan barang milik Ikhsan. Barang-barang itu milik Zaki. Bahkan ada didalam tasnya. Zaki memang menginap disini kemaren malam."
Lalu sejurus kemudian, ibunya beringsut menuju ke tempat berdirinya Ikhsan, melihat ibunya mendekat, Ikhsan kemudian meraih tangan ibunya dan memeluknya. Terdengar suara ibunya dan berkata :
"Maafin mama nak, mama kaget... Kirain anak mama terjerumus ke pergaulan yang gak bener.... huwaaa.... huwaaa.... hiks hiks hiks"
Ada semburat lucu di wajah Ikhsan mengingat kejadian itu, betapa imut dan lucunya ketika mamanya sedih dan ekspresi kaget bersamaan, kadang Ikhsan berfikir kalo mamanya memang cocok jadi guru TK, kadang sikapnya kekanakan seperti anak TK. Tapi walau bagaimanapun, Ikhsan salut terhadap wanita satu itu, betapa mamanya sangat berhati-hati dan selektif dalam mendidik anak-anak nya. Finally, setelah kesalahpahaman itu, endingnya keluarga itupun larut dalam keharuan dan pelukan hangat. Sang adik, Hasna, tentu saja tak lupa mengabadikan momen berharga ini dalam ponsel pintarnya. Hasna memang iseng, suka sekali menjahili abangnya. Dalam momen genting abangnya seperti ini pun, ide jahil Hasna mulai berkoar minta dikelakarkan. Hasna senyum-senyum penuh arti. Klik, icon capt video sudah diaktifkan.
'Tunggu kejutan dari ku, abang' Gumam Hasna dalam hati.
Mohon maaf kalo kata-katanya belum bagus, maklum aku masih amatiran. Happy reading Kaka 🥰