
" Kenapa rasanya berat sekali meninggalkan tanah air " Gumam Rivan.
Kringg... kriingg
Suara ponsel membuyarkan lamunan Rivan. Diraihnya ponsel yang berada diatas nakas.
" Arka "
Dengan segera Rivan mengangkat telpon itu.
" Hallo " Ucap Arka setelah Rivan mengangkat telponnya
" Waalaikumsalam " Ledek Rivan
" Hehe.. iya gue lupa. Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam, kenapa Ar? tumben lo telpon gue? " Tanya Rivan.
" Yaelah, masa nggak boleh nelpon temen sendiri sih "
" Bukan gitu, nggak biasanya aja lo nelpon gue. Apalagi pagi pagi kek gini " Ujar Rivan. Arka sangat jarang menelpon Rivan. Ia lebih suka chatting atau sms jika ingin mengabarkan sesuatu pada kedua sahabatnya. Berbeda dengan Bagas yang lebih sering menelpon
" Rencananya gue mau ajak kalian berdua nongkrong. Udah lama kan kita nggak kumpul. Lo bisa nggak?" Jelas Arka
" Gue sih bisa aja, tapi Bagas gimana? "
" Tenang aja, Bagasnya bisa kok. Tadi udah gue telpon " Ujar Arka
" Hemm.. iya deh. Kapan kumpulnya? "
" Sekarang, dicafe favorit kita "
" Apa? "
" Nggak usah teriak teriak gitu kali. Cepetan siap siap terus berangkat, gue udah otw nih"
" Gila lo ya, kasih tahu dari kemaren kek " Omel Rivan
" Udah siap siap sana, mau ikutan nggak? " Tanya Arka
" Hemm.. iya iya, sekalian ada yang mau gue omongin sama kalian berdua "
" Iya iya, sampai ketemu ntar. Assalamualaikum"
" Waalaikumsalam " Rivan segera memutuskan telponnya dan segera bersiap. Setelah semhua siap ia mengambil hp dan juga kunci mobilnya. Kemudian ia keluar dari kamarnya. Saat melewati ruang keluarga ia berpapasan dengan ayah dan bundanya.
" Mau kemana kak? " Tanya Viona
" Keluar bentar bun, kumpul sama Arka dan Bagas " Jawab Rivan
" Pulangnya jangan terlalu sore kak, besok kamu akan berangkat " Sambung Andra
" Iya yah, kalau gitu aku pamit ya. Assalamualaikum " Ucap Rivan sembari mencium tangan kedua orangtuanya.
" Waalaikumsalam, jangan ngebut bawa mobilnya kak " Teriak Viona
" Iya bun " Setelah berpamitan Rivan bergegas menuju garasi dan mengeluarkan mobil kesayangannya itu.
°°°°°°°°°°
Lima belas menit kemudian Rivan sampai di cafe Apple. Cafe itu merupakan cafe favorit mereka bertiga. Apalagi pemiliknya adalah papanya Arka, jadi tak jarang mereka makan gratis disana. Walaupun terkadang mereka menolak.
" Tuan Rivan nyari tuan muda ya? " Tanya salah satu pelayan yang sudah mengenali mereka bertiga
" Iya, Arkanya ada dimana ya mbak? " Tanya Rivan
" Tuan muda ada diprivate room lantai dua tuan. Tuan muda bilang kalau ada tuan atau tuan bagas langsung disuruh kesana aja karena beliau sudah menunggu" Jawab pelayan itu
" Oke, makasih ya mbak "
" Sama sama " Rivan segera menaiki tangga dan naik ke lantai dua dan segera masuk private room.
" Ar, udah lama? " Tanya Rivan saat masuk keruang itu.
" Emm.. lumayan " Jawabnya sembari melirik jam tangannya.
" Sorry ya, tadi jalanan sedikit macet " Ucap Rivan lagi sembari duduk didepan Arka
" Iya gue tahu kok, sih Bagas juga belom keliatan batang idungnya " Jawab Arka
" Ehmmm.. ada yang bicarain gue? " Tanya Bagas yang tiba tiba muncul
" Eh elo Gas, gue kira demit tadi " Canda Rivan
" Iya Van, abisnya dateng tiba tiba " Sambung Arka yang disambung gelak tawa keduanya
" Lo berdua aneh, masa iya demitnya ganteng kek gini " Jawab Bagas sembari duduk
" Ganteng mbahmu.. ha.. ha... ha " Ledek keduanya
Tok... tok.. tok
" Masuk " Ujar Arka
" Maaf tuan muda, ini pesanannya " Ujar seorang pelayan sembari meletakkan tiga minuman favorit mereka bertiga dimeja.
" Makasih ya " Ujar Arka ketika pelayan itu selesai
" Sama sama tuan, kalau begitu saya permisi " Ujar Pelayan itu. Arka menggangguk. Setelah itu pelayan tadi keluar dari private room.
" Oiya Van, lo bilang ada yang mau lo bilangin sama kita? " Tanya Arka
" Hemm.. sebenarnya besok gue akan pergi ke Kanada " Ujar Rivan
" What Kanada? Tapi kenapa? " Tanya Arka dan Bagas bersamaan
" Masalah perusahaan, Ayah minta gue yang tangani perusahaan cabang yang ada disana karena ada sedikit masalah " Ujar Rivan
" Terus berapa lama lo disana? " Tanya bagas
" Huh! Gue juga belom tahu. Bisa Satu minggu, dua minggu bahkan dua tahun " Ujar Rivan
" Apa wanita itu sudah tahu? " Tanya Arka
" Wanita? "
" Wanita berhijab yang kamu kagumi itu? " Jawab Bagas yang diangguki Arka. Memang tak ada yang disembunyikan Rivan pada kedua sahabatnya ini. Termasuk saat ia mengagumi Syafa. Sosok wanita berhijab yang membuatnya kagum pada pandangan pertama.
" Belum " Jawab Rivan tertunduk lesu
" What? Masalah sepenting ini nggak kamu ceritaiin sama dia? " Tanya Arka
" Cerita lah bro. apalagi lo pergi ke Kanada belum tahu berapa lama? Gimana kalau dia sudah digebet sama yang lain " Ujar Bagas
" Gue belom yakin sama perasaan gue. Entahlah apa yang gue rasain saat ini, gue rasa cuma sebatas rasa kagum aja nggak lebih " Jelas Rivan
" Lo bilang lo cemburu saat dia sama pria lain. Siapa namanya itu.. Ni..Nito? " Ujar Arka
" Nico " Sahut Rivan
" Iya iya Nico. Apa coba kalau nggak cinta namanya? " Tanya Arka
" Gue cuma kesel bukan cemburu " Kilah Rivan
" Sama aja bro.Artinya lo nggak mau kehilangan dia karena lo sayang sama dia, lo cinta sama dia " Jelas Bagas. Rivan masih terlihat mencerna ucapan Bagas. Perlahan Arka menepuk pelan bahu Rivan.
" Kasih tahu dia yang sebenarnya. Jujur sama perasaan lo bro, jangan sampai lo nyesel dikemudian hari " Ujar Arka. Rivan mengangguk pelan.
" Huh! yaudah kalau gitu gue pamit ya bro. Thanks udah ngasih saran buat gue " Ujar Rivan
" Good luck Van " Teriak keduanya saat Rivan keluar
°°°°°°°°°°°
Rivan segera melajukan mobilnya menuju kampus Syafa. Ia berpikir Syafa masih dikampus karena hari masih pagi.
" Nico " Panggil Rivan saat melihat Nico turun dari mobilnya.
" Hai Van, apa kabar? " Tanya Nico basa basi sembari mendekat kearah Rivan
" Baik, Oiya congrats ya buat lo " Jawab Rivan
" Congrats juga buat lo. Lulusan terbaik UGM nih " Canda Nico
" Oiya ngomong² ngapain lo kesini? Nggak ada acara bakti sosial lagi kan? " Tanya Nico
" Kita udah lulus bro nggak ada lagi acara begituan. Udah diurus sama junior kuta dikampus " Canda Rivan terkekeh
" Oiya, Syafa ngampus nggak ya hari ini " Tanya Rivan
" Setahu gue sih iya. Tapi katanya hari ini dia cuma ada mata kuliah pagi. Jadi kemungkinan sudah pulang " Jawab Nico
" Pulang kerumah? "
" Nggak, biasanya dia ke butik "
" Syafa Boutique? "
" Yes "
" Oke, makasih infonya bro. Gue pamit dulu ya Assalamualaikum " Ujar Rivan
" Waalaikumsalam "
" Astaga jadi dia kesini cuma mau nanyain Syafa. Kayaknya tuh anak emang cinta mati sama adek sepupu gue " Gumam Nico sembari melanjutkan langkah kekampus. Karena ada sesuatu yang harus ia urus.
To be continued...