
Beberapa hari kemudian!!
" Fa, kamu baru pulang? " Tanya Kenan pada Syafa yang duduk di bangku kebesarannya seraya mendesain baju.
" Hemm... Aku baru pulang hari ini! Kenapa? " Tanya Syafa balik. Kenan menggeleng. Seakan tak percaya perkataan Syafa yang mengatakan jika ia keluar kota beberapa hari lalu. Memang Syafa tak mengatakan yang sebenarnya pada Kenan. Ia takut Kenan akan mengganggunya.
" Mau keluar, makan siang bersama! " Usul Kenan seraya duduk didepan Syafa yang asyik dengan dunianya. " Maaf Ken, aku sibuk! " Tolak Syafa halus. Kenan menghelah napasnya. Syafa terlihat semakin dingin saja sejak terjadi perjodohan konyol itu.
...*****...
" Pa, papa yakin mau ke kantor. Entah kenapa perasaan mama jadi nggak enak " Ujar seorang wanita paruh baya seraya memandang suaminya yang sedang sarapan.
" Papa ada meeting ma, nggak bisa ditunda. Papa juga nggak enak sama klien papa yang udah jauh jauh dari kota Semarang. Mungkin cuma rasa khawatir mama aja yang berlebihan" Ujar suaminya seraya mengelus pelan lengan sang istri.
" Aleta juga punya firasat buruk pa. Aleta jadi takut terjadi sesuatu sama papa " Sahut sang putri yang juga ikut sarapan dengan kedua orangtuanya. Papanya tersenyum ke arah sang putri.
" Berdoa saja yang terbaik untuk kita semua nak. Jangan terlalu dipikirkan " Ujar sang papa. Aleta mengagguk.
" Hemm.. yaudah, papa pamit dulu ya ma, dek " Pamitnya kemudian pada istri dan anaknya. Aleta berdiri dan mencium tangan sang papa sedangkan sang mama ikut mengantar papa kedepan.
" Papa berangkat ma! Jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi " Ujar papa Rizky menenangkan istrinya yang masih saja gelisah.
" Iya pa " Papa Rizky tampak mendekati mama Lesty. Mama mencium tangannya dan bergantian ia mencium kening sang istri. Setelah itu ia memeluk istrinya sebentar sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.
" Ya Allah lindungilah suami dan anak anakku dimanapun mereka berada "
...*****...
Papa Rizky menyetir mobilnya dengan pikiran melayang kemana mana. Apalagi setelah mengetahui jika putri sulungnya sudah berada di Surabaya tanpa berpamitan padanya ataupun pada istrinya. Belum lagi perkataan sang sahabat yang bertemu dengannya kemarin membuatnya merasa risau.
Flashback on
Papa Rizky baru saja selesai melakukan rapat dengan para direksi perusahaan. Dengan langkah pasti ia melangkah keluar dari ruang meeting diiringi oleh sang asisten.
" Tuan maaf! Tuan Andra menunggu anda di loby " Ujar sang asisten memberi tahu tuannya.
" Kau turunlah kebawah dan jemput Andra langsung ke ruangan saya " Titah Papa Rizky pada asistennya itu.
" Baik tuan " Papa Rizky langsung memasuki lift dan kembali keruangannya sementara asistennya turun kelantai bawah, menjemput tamu tuannya.
...®®®...
" Assalamualaikum bro! "
" Waalaikumsalam, masuklah! " Seorang pria paruh bayah yang seumuran dengan papa Rizky melangkah masuk kedalam ruangan kerja papa Rizky.
" Saya permisi tuan " Ujar sang asisten setelah mengantarkan tamu tuannya.
" Iya! Siapkan berkas untuk meeting selanjutnya dua jam lagi " Ujar papa Rizky.
" Baik tuan " Sang asisten berlalu keluar sementara kedua pria itu sudah bergerak duduk di sofa supaya lebih santai berbicara. Papa Rizky juga menghubungi ob dan membawakan mereka minuman untuk teman ngobrol.
" Maaf membuatmu menunggu lama " Ujar papa Rizky.
" Nggak masalah. Aku juga belum lama sampai" Balas pria yang diketahui bernama Andra itu.
" Tumben Presedir yang super sibuk ini berkunjung ke perusahaan kecilku ini? " Canda papa Rizky. Andra tampak mendengus.
" Jangan membalikkan keadaan. Oiya ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu "
" Apa? " Tanya papa Rizky.
" Masalah perjodohan anak kita! Ri.. eh maksudku Ando putraku sudah menyetujui perjodohan itu. Lalu bagaimana dengan calon menantuku yang cantik itu? Apa dia juga setuju? " Papa Rizky menghelah napas.
" Putriku sudah aku beritahu, tapi dia malah marah dan meninggalkan rumah. Sekarang dia menginap dirumah kakaknya. Tapi tenang saja, aku pasti akan segera memberi jawabannya padamu. Aku harap kamu tidak kecewa " Jelas Papa Rizky menatap sang sahabat dengan penuh penyesalan. Andra menepuk pelan bahu sahabatnya. Ia tahu tidak mudah bagi sahabatnya untuk meyakinkan sang anak. Ia saja sangat susah bicara pada Ando sehingga pada akhirnya Ando menyetujui. Andai saja bukan janji yang mereka buat dulu, mereka pasti tidak akan terlalu memaksa mereka berdua.
" Aku tunggu jawabanmu sobat! Jangan terlalu dipikirkan. Jika mereka jodoh pasti ada jalannya. Aku pamit dulu! " Ujar Andra seraya berdiri dan meninggalkan papa Rizky yang masih melamun. Setelah sang sahabat pergi, papa Rizky menelpon Dafa untuk menanyakan keadaan Syafa. Dafa terus saja berkilah ketika sang papa menyuruhnya menyerahkan handphonenya pada Syafa. Karena sudah berulang kali ia menelpon putrinya namun tetap saja tidak diangkat.
" Sepertinya ada yang Dafa sembunyikan! " Gumam papa Rizky. Ia menelpon Satya, salah satu bodyguard kepercayaannya dan menyuruhnya menyelidiki keberadaan putri sulungnya.
" Bagaimana? " Tanya papa Rizky di telpon sesaat setelah ia memberi perintah pada Satya.
" Nona muda Syafa berada di Surabaya tuan besar. Beliau berangkat 5 hari yang lalu bersama tuan muda Raka. Mereka mengendarai mobil nona muda Syafa. Dan berdasarkan informasi yang saya dapatkan tuan muda Raka sudah kembali ke Jakarta hari ini sementara nona muda Syafa masih berada di Surabaya! " Papa Rizky terkejut mendengar penuturan Satya. Anaknya itu benar benar marah padanya hingga pergi ke luar kota tanpa memberi kabar atau sekedar berpamitan lewat ponselnya.
" *Kamu yakin informasi itu akurat? "
" Saya sendiri yang melacak ponsel nona muda Syafa tuan besar. Saat ini nona muda Syafa sedang berada diapartemen "
" Terima kasih*! "
Papa Rizky mematikan telponnya. Rasa bersalah mendera. Ia tak tahu jika ternyata masalahnya bisa menjadi serumit ini. Bahkan Dafa juga ikut berbohong padanya. Tidak hanya Dafa, Raka putra sulungnya juga ikut berkonspirasi.
" Maafkan papa ya nak! " Lirihnya seraya menatap foto Syafa di galeri handphonenya.
Flashback off
Lamunannya buyar lantaran terdengar suara teriakan orang orang. Ternyata ada seorang anak kecil yang berteriak ketakutan karena mobil mewah papa Rizky yang berjalan sangat cepat kearahnya yang entah bagaimana sudah berada di tengah jalan.
" Astaghfirullah!!! " Pekik papa Rizky sontak membanting stirnya dan mobil mewah itu menabrak sebuah pohon.
...*****...
" Aku sedang badmood Ken, tolong mengertilah! " Ujar Syafa setengah berteriak membuat Kenan terperanjat.
" Hemm.. baiklah! Aku pergi " Jawab Kenan pada akhirnya. Syafa menghela napasnya. Ia hendak menghampiri Kenan yang sudah berada diambang pintu ruangannya.
Prankk..
Kakinya tersandung kaki meja kerjanya yang membuat ia tak sengaja menyenggol sebuah figura yang terletak di atas meja. Fotonya bersama cinta pertamanya. Dia papa Rizky!
" Astaghfirullah! " Gumam Syafa. Kenan juga menghentikan langkahnya ketika mendengar suara pecahan.
" Syafa, kamu nggak papa " Kenan menghampiri Syafa yang diam termenung seraya melirik foto yang sudah pecah itu.
" Papa " Lirih Syafa tiba tiba. Ia hendak meraih foto yang berada diantara pecahan kaca bingkai itu. " Awss.. " Jarinya tak sengaja terkena pecahan kaca yang membuat jarinya berdarah. Syafa mengulum jarinya agar darahnya terhenti.
" Biar aku panggilkan ob untuk bereskan ini " Ujar Kenan kemudian. Ia menarik Syafa menuju sofa.
" Aku bantu obati " Ujar Kenan.
" Nggak usah Ken, aku sendiri aja " Tolak Syafa. Kenan mengagguk. Ia tahu Syafa tak suka bersentuhan dengan pria yang bukan makromnya.
" Ya Allah kenapa aku jadi kepikiran papa. Lindungilah papa, mamaku ya Allah " Batin Syafa.
" Ken, aku kepikiran papa. Aku takut terjadi sesuatu sama papa " Lirih Syafa.
" Berdoa saja semoga om Rizky tidak kenapa napa " Ujar Kenan mencoba menenangkan Syafa. Syafa mengagguk lemah. Dalam hati ia terus berdoa semoga papanya baik baik saja.
...****...
Mama Lesty sedang sibuk menata ulang taman kecil yang ada disamping rumah. Tiba tiba saja tangannya tak sengaja terkena duri bunga mawar yang bermekaran di taman itu.
" Awwss.. perasaanku jadi nggak enak " Gumamnya. Ia memutuskan untuk duduk sejenak di kursi taman.
Drett.. Drett...
Ponselnya berdering membuat mama Lesty segera mengambilnya.
" *Ya Hallo?! "
" Maaf benar ini dengan nyonya Lesty, istrinya tuan Rizky "
" Iya saya Lesty. Ada apa dengan suami saya? "
" Maaf nyonya, kami dari Df. Medika Hospital! Kami mau memberi informasi jika tuan Rizky Ferdian mengalami kecelakaan dan sekarang dalam penanganan dokter "
" Apa? Suami saya kecelakaan? "
" Iya nyonya! Sebaiknya anda segera kemari untuk mengurus administrasi dan segala keperluan tuan Rizky "
" B.. baik! Saya akan segera ke sana* "
" Ya Allah pa, kenapa papa bisa kecelakaan " Lirih mama Lesty terduduk lemas. Sesaat ia termenung sebelum akhirnya ia memaksakan diri untuk beranjak dan segera pergi kerumah sakit tempat papa Rizky mendapatkan penanganan.
...****...
Mama Lesty sudah berada di depan IGD setelah bertanya lebih dulu bertanya pada resepsionis rumah sakit tersebut. Beberapa menit ia menunggu dengan perasaan yang was was. Hingga akhirnya pintu IGD itu terbuka, dan munculnya dua orang dokter muda dari dalamnya diikuti dua suster yang sepertinya membantu menangani pasien.
" Dafa!! Bagaimana keadaan papamu? Dia baik baik saja kan nak? Katakan pada mama papamu tidak papakan? Hanya luka kecil yang didapatkannya? " Pertanyaan bertubi tubi langsung dilontarkan mama Lesty pada sang anak yang kebetulan ikut menangani sang papa. Sesaat kedua dokter itu saling pandang, sebelum akhirnya Dafa mengangguk dan menepuk pelan bahu rekan kerjanya itu.
" Ma, kondisi papa saat ini tidak stabil. Terjadi benturan yang cukup parah di lengan bagian kirinya menyebabkan papa sempat mengalami pendarahan yang cukup hebat. Dan saat ini kita harus segera melakukan donor darah untuk membantu papa. Kalau tidak.. " Dafa tidak melanjutkan kata katanya. Ia menunduk, setetes cairan bening mengalir begitu saja dari bola matanya. Sekuat apapun seorang dokter, jika dihadapkan dengan orang yang dia sayang pasti akan tetap merasa lemah.
" Kalau begitu lakukan perdonoran segera! " Lirih mama Lesty.
" Masalahnya saat ini stok golongan darah yang sama dengan tuan Rizky sedang habis nyonya. Kami juga sudah menghubungi bank darah, tapi mereka juga kehabisan stok. Dan jalan satu satunya adalah mencari pendonor. Mungkin ada anak atau saudara tuan Rizky yang memiliki golongan darah yang sama dengan tuan Rizky "
Mama Lesty terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mencerna ucapan dokter.
" Kalau begitu minta adikmu kemari nak, hanya Syafa dan Raka yang memiliki golongan darah yang sama dengan papa. Sementara kalian bertiga sama dengan mama. Tidak mungkin kita menunggu Raka yang datang dari Jakarta kan? " Ujar mama Lesty penuh harap.
" Ma! Maaf, bukan bermaksud membohongi papa dan mama. Tapi.. "
" Tapi apa mas? Cepat ambil tindakan! Nyawa papamu sedang diujung tanduk " Pekik mama Lesty yang geram dengan tingkah anaknya.
" Ma, Syafa tidak disini! Dia sudah pulang ke Surabaya seminggu yang lalu bersama abang. Dan sekarang abang sudah di Jakarta, tapi Syafa masih di sana " Ujar Dafa pada akhirnya.
" Apa? " Sebuah kenyataan yang membuat mama Lesty bertambah syok. Bahkan mengabari lewat handphone pun tidak Syafa lakukan.
" Mas mohon jangan salahkan adek ma, dia hanya butuh waktu sendiri. Dia juga perlu tempat yang tenang untuk bisa mengambil keputusan! Mas juga ikut andil dalam hal ini. Mas minta maaf. " Ujar Dafa lagi. Mama Lesty terduduk dilantai. Ia menangis! Sungguh, dirinya tak menyangkah perjodohan konyol yang spontan mereka ucapkan dulu membawa dampak yang begitu besar untuk putri mereka.
" Mas akan beritahu adek ma! Kita masih punya waktu " Ujar Dafa kemudian.
" Maaf dokter Dafa, sebaiknya masalah keluarga seperti ini dibicarakan ditempat yang sedikit privasi. Tidak enak didengar para keluarga pasien lain " Saran dokter muda yang bersama Dafa tadi seraya melangkah pergi diikuti kedua suster.
" Kita bicarakan di ruangan Dafa aja ma! "
...****...
Setelah pertimbangan yang cukup matang antara Dafa dan mama Lesty, mereka akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Syafa sebelum semua terlambat. Di zaman ini sangat susah mencari seorang pendonor, walau hanya donor darah. Terlebih keluarga papa Rizky rata rata berada dipulau Kalimantan.
...Syafa💕...
...Bergetar...
" *Hallo mas! "
" Syafa, lagi dimana kamu? "
" Syafa sedang dibutik! ada apa mas? "
" Kembali ke Bandung sekarang juga dek. Ini darurat "
" Apa yang terjadi? Semua baik baik saja kan mas! "
" Papa... " Dafa menghentikan ucapannya sejenak.
" Papa kenapa? "
" Papa kecelakaan dekk. Kondisi papa kritis, papa butuh donor darah secepatnya*! "
...****...
" Papa kecelakaan dekk. Kondisi papa kritis, papa butuh donor darah secepatnya! " Bagai disambar petir disiang bolong, Syafa langsung terduduk lemas di sofa mendengar ucapan mas.
" Mas, jangan bercanda! "
" Mas nggak bercanda dek. Pulanglah sebelum semuanya terlambat " Dafa mematikan sambungan telponnya.
" Hiks.. hiks.. papa!! Maafin kakak pa, papa kecelakaan pasti karena mikirin kakak. Bertahan pa, kakak mohon.. hiks.. hiks.. " Lirih Syafa terus menangis. Kenan mendekati Syafa.
" Ada apa Fa? "
" Ken.. hiks.. hiks.. papa, papa kecelakaan " Ujar Syafa.
" Kalau begitu ayo! Aku akan mengantarmu ke Bandung sekarang " Ujar Kenan mengambil kunci mobilnya dan bersiap hendak mengantar Syafa ke Bandung. Syafa menggeleng.
" Aku bisa sendiri! " Syafa menghapus air matanya. Ia mencoba bersikap tegar.
" Tapi itu berbahaya Fa!! "
" Kamu bilang ada meeting penting setelah ini. Lakukan saja, aku akan pulang sendiri " Ujar Syafa kemudian keluar dari ruangan itu dan berjalan cepat menuju mobilnya. Kenan pun akhirnya pasrah dan berpesan agar Syafa berhati hati.
To be continued!!!