
Pukul 24.00 WIB acara pernikahan baru selesai. Kini anggota keluarga inti Ferdian dan Pranata sedang bercengkrama di sudut ballroom yang sedang di bersihkan oleh para OB.
" Sudah larut malam, sebaiknya kalian istirahat " Titah papa Rizky melirik putri sulungnya dan juga menantu barunya itu.
" Kayaknya Rivan juga udah nggak sabar om " Sahut Axel melirik adiknya dengan tatapan menggoda.
" Apaan sih mas! " Protes Rivan membuat semua orang disana terkekeh pelan.
" Awas aja kalo macem macem sama adikku! Habis kau " Raka menatap tajam Rivan.
" Memangnya kenapa? Rivan itu suaminya Syafa loh mas " Protes Nayra memukul pelan lengan suaminya. Bisa bisanya ia mengancam Rivan. " Loh, bener sayang! Dia memang suami Syafa, tapi dia nggak berhak macam macam sama adikku. Enak aja " Raka menarik istrinya kedalam pelukannya, menenangkan wanita itu yang seperti masih sedikit emosi.
" Nggak gitu juga kali bang " Timpal Dafa.
" Sudah² kenapa kalian jadi bertengkar! Rivan bawa Syafa ke kamar. Istirahatlah.. " Papa Rizky melerai pertengkaran anak anaknya.
" Baik om, eh maksudnya papa " Ujar Rivan gelalapan.
" Bisa salah juga kamu Van " Ledek Shalsa.
" Namanya juga manusia mbak " Sahut Kalista membela sang kakak.
" Tuh, adek aja tau " Rivan menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya kedalam kamar.
...****...
" Sayang, kamu mau mandi duluan? " Tanya Rivan. Syafa mengangguk karena ia sudah muali gerah memakai gaun pengantin itu berjam jam lamanya. Benar saja, tadi ia hanya melepas mahkota di atas kepalanya. Dan saudara² nya sudah menariknya bergabung dengan mereka semua.
Syafa mengambil baju ganti yang sudah dipersiapkan dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Sekitar 30 menit, Syafa berada didalam kamar mandi.
Ceklek..
" Apa ada kesulitan, Zaujatii? Kenapa lama sekali didalam? " Tanya Rivan yang duduk di sofa seraya memperhatikan istrinya yang melangkah keluar dari kamar mandi.
" Ehm.. nggak kok mas! Cuma gerah aja, makanya agak lama " Jawab Syafa seraya duduk di depan meja rias.
" Rambutmu sudah kering, sayang? " Rivan mendekati Syafa yang sedikit heran mendengar pertanyaan Rivan.
" Ehmm.. "
" Kalau belum kering lepas aja hijabnya! Sini mas bantu keringkan " Ujar Rivan seraya memeluk Syafa dari belakang.
" N.. nggak usah mas, udah kering kok " Jawab Syafa gugup. Rivan tersenyum.
" Kamu tau sayang, mas begitu beruntung bisa mempersuntingmu menjadi istri mas. Kamu begitu menjaga auratmu dari yang bukan mahrammu... " Rivan menjeda ucapannya. Ia menarik kursi yang sedang diduduki Syafa hingga posisi mereka berhadapan. Rivan berlutut didepan istrinya.
" Sekarang kamu sudah halal untuk mas. Jadi nggak masalah kalau kamu mau buka hijab didepan mas. Atau bahkan lebih dari itu " Ujar Rivan membuat Syafa tertunduk. Syafa sudah tahu itu, tapi tetap saja ia belum terbiasa melepas hijabnya didepan pria lain selain papa dan ketiga kakak laki-lakinya.
" Aku.. "
" Jangan dipaksakan kalau kamu nggak nyaman, sayang! Biarkan semuanya mengalir saja... "
" Mas mau mandi dulu " Rivan bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, membuat Syafa merasa bersalah.
Huftt..
" Mas Rivan benar, aku harus terbiasa "
Ia membuka jilbab instan yang melekat dikepalanya dan membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai.
Ceklek..
Tak sampai 15 menit, Rivan sudah keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang rapi dan segar.
" Sayang boleh mas minta tolong ke... " Ucapannya terjeda melihat Syafa yang tengah duduk di atas ranjang dengan rambut yang tidak tertutup jilbab lagi. Syafa menoleh mendengar ucapan Rivan. Seketika ia menunduk. Ia malu dan gugup ditatap begitu intens oleh Rivan.
" Masyaallah! Kamu sangat cantik, Zaujatii " Puji Rivan seraya duduk di samping istrinya itu. Ia menarik dagu Syafa agar menatapnya.
" Mas.. " Rengek Syafa. Rivan terkekeh. Ia lantas meletakkan handuknya diatas meja rias begitu saja dan langsung duduk disamping Syafa yang sudah menenggelamkan wajahnya ke bantal.
" Sayang! Sholat yuk.. " Ujar Rivan seraya tersenyum menggoda. Syafa mendongakkan kepalanya menatap suaminya.
" Sunnah loh.. " Goda Rivan lagi membuat Syafa mencubit pelan lengan Rivan.
" Pikirannya mesum " Ketus Syafa membuat Rivan tersenyum penuh arti. Ia menarik tangan Syafa dan bangkit dari tempat tidur.
" Kamu siap? " Tanya Rivan membuat wajah Syafa menegang seketika.
Benarkah sekarang waktunya...
" Mas.. Ak.. u.. "
" Kalau belum siap, nggak papa! Mas akan tunggu sampai kamu benar benar siap. Ayo istirahat! " Ujar Rivan seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Syafa tertunduk lesu, bukannya tak siap. Ia hanya merasa gugup saja.
" Bukan begitu mas! A.. ku siap " Ujar Syafa membuat Rivan kembali membuka matanya.
" Jangan dipaksa, mas nggak papa kok " Syafa hanya menggeleng.
" Kamu benar benar siap, Zaujatii? " Tanya Rivan sekali lagi. Kali ini Syafa mengangguk membuat Rivan tersenyum sumringah.
" Kalau begitu ayo kita sholat shunah dulu, Zaujatii..."
🤫🤫🤫
...****...
Pagi Harinya...
Orangtua kedua pengantin baru itu sudah duduk manis di restoran hotel. Hanya tinggal papa Rizky, mama Lesty, ayah Andra dan bunda Viona saja. Karena semua anak anak mereka yang lain sudah pulang kerumah masing masing.
" Mentang-mentang baru nikah, udah berani bikin orangtua sama mertua nungguin lama " Ujar Ayah Andra menyindir Syafa dan Rivan yang baru saja duduk dikursi mereka. Syafa menunduk malu sementara Rivan hanya cengengesan mendengar sindiran ayahnya.
" Maaf ayah, kami nggak bermaksud.. "
" Nggak papa sayang! Ayah juga pernah muda kok. Pasti juga pernah ngerasain kayak kita " Rivan memotong ucapan Syafa. Ayah Andra menggelengkan kepala mendengar ucapan putranya yang balik memojokkannya.
" Tapi ayah nggak pernah berani nyuruh orangtua sama mertua nunggu lama. Makanya, kalau mau main itu harus main cantik! " Ujar ayah Andra.
" Kalau begitu Rivan tanya sama nenek aja! " Ujar Rivan membuat ayah Andra meneguk savilahnya. Kenapa Rivan begitu nekat ingin menanyakan hal yang tidak penting itu pada neneknya?
" Sudahlah! Sampai kapan kami mendengar perdebatan kalian? Kami sudah sangat lapar " Ujar bunda Viona melerai perdebatan mereka.
" Anak bunda tuh! "
" Ayah yang mulai duluan kok bun "
" Sudah bunda bilang! Ayo makan.. " Bunda Viona mengisi piring didepan ayah Andra dan menyerahkannya pada sang suami.
" Jaman sekarang anak anak sudah cerdas! Makanya kalau mau ngomong di filter dulu " Sahut papa Rizky yang sudah memulai sarapannya.
" Hemm.. tapi tetap ayahnya lebih cerdas " Jawab ayah Andra tak mau kalah.
" Vi, suami kamu nggak berubah! Masa nggak mau kalah sama anak sendiri " Protes mama Lesty membuat ayah Andra mendelik kearah istri sahabatnya.
" Apa yang aku katakan itu memang benar! Kalau bukan gen dari ayahnya, lalu dia bisa cerdas karena siapa? " Tanya ayah Andra lagi.
" Ibunya juga bisa! " Jawab mama Lesty.
" Tapi terkhusus anakku dia mewarisi gen cerdas ayahnya karena bundanya itu.. "
" Bunda apa? Ayah mau bilang bunda nggak cerdas gitu? " Bunda Viona melolot tajam kearah suaminya.
" Bu.. bukan gitu bunda, maksud ayah.. "
" Maksud ayah bunda bodoh? Okeyy, nanti malam ayah nggak usah tidur dikamar " Ancam bunda Viona. Ia bahkan menggeser kursinya sedikit menjauh dari suaminya.
" Bunda nggak bisa gitu dong, ayah bercanda bun.. "
" Tuhkan, ayah yang kena! Makanya jangan jahili Rivan " Sambung Rivan seraya terkekeh.
" Diam kamu, mau jadi anak durhaka "
" Hahaha.. nikmatilah teman! " Papa Rizky menepuk bahu sahabatnya seolah memberi semangat sekaligus ejekan.
To be continued!!