The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kediaman Ferdian



" Semua sudah sayang? " Tanya Rivan seraya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan sang istri masuk.


" Sudah mas " Jawab Syafa seraya duduk dikursi mobil. Rivan mengangguk. Ia mengitari mobil dan duduk dibalik kemudi.


Tin.. tin..


Rivan membunyikan klakson mobilnya tanda pamit pada sang bunda yang ikut mengantar mereka hingga kedepan pintu utama. Syafa juga menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya pada bunda Viona.


" Hati hati nak " Teriak bunda Viona yang dibalas senyum oleh keduanya.


" Huhh.. sabar Vi! Suamimu benar, mereka juga harus membagi waktu bersama besanmu " Gumam bunda Viona seraya masuk kedalam rumah.


...****...


Begitu mobil Rivan berhenti didepan pintu utama, mama Lesty dan papa Rizky langsung menyambut keduanya.


" Mama, papa " Ujar Syafa seraya mencium tangan keduanya lalu berpelukan.


" Yaampun anak mama sudah semakin berisi ya " Goda mama Lesty membuat Syafa cemberut.


" Yahh.. Syafa nggak gendut kok ma "


" Bukan gendut sayang, hanya sedikit berisi "


Rivan yang baru saja menurunkan kopernya dari bagasi mobil juga segera menghampiri mertua dan istrinya seraya mencium tangan mertuanya bergantian.


" Sehat nak? " Tanya papa Rizky.


" Alhamdulillah sehat pa "


" Ayo², kita masuk! Mama udah masak makanan kesukaan kalian berdua. " Mama Lesty menarik tangan Syafa yang masih memasang wajah masamnya dan Rivan bersamaan. Meninggalkan papa Rizky yang hanya geleng² melihat tingkah sang istri.


" Bibi, tolong bawakan koper menantuku kekamar Syafa ya " Teriak mama Lesty memanggil pelayan dirumahnya.


" Siap nyonya "


" Ma, biar Rivan aja yang bawa kopernya ke kamar " Ujar Rivan seraya mengikuti mama Lesty yang masih menarik tangannya.


" Udah nggak papa, biar bibi yang bawa. Kalian pasti lelah " Mama Lesty menggiring keduanya ke meja makan. Aroma masakan mama Lesty masuk ke rongga hidung membuat siapa saja merasa lapar dan ingin segera melahap makanan makanan itu.


" Eh, mana papa? " Mama Lesty baru menyadari sang suami tidak ada disana. Ia pikir papa Rizky menyusul di belakangnya.


" Mama sih, masa papa mama lupain " Jawab Syafa.


" Kalau ada anak kesayangannya, papa pasti bakal dilupain " Papa Rizky melangkah keruang makan seraya menggendong balita yang baru berusia satu tahun setengah itu.


" Hanna " Panggil Syafa seraya tersenyum lebar. Tak lama munculnya Rasya yang menuntun Hanif.


" Kalian kapan sampai? " Sapa Rasya pada kedua adik iparnya yang duduk dikursi meja makan.


" Baru aja sampai teh " Jawab Syafa yang kini beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Hanna yang masih digendong sang papa.


" Cucu nenek kenapa nggak kasih kabar kalau mau main. Nenek bisa siapin makanan kesukaan kalian " Tak mau ketinggalan, mama Lesty juga menuntun Hanif yang berdiri disebelah sang ibu untuk ikut bersamanya.


" Kebetulan Aca nggak ke butik ma, jadi ngajak twins jalan jalan keluar. Tapi, Hanif pengen kerumah kakek katanya " Ujar Rasya seraya menatap sang anak yang kini duduk dipangkuan sang nenek.


" Teh Aca sekalian ikut makan! Pasti kalian belum makan siang kan? " Tawar papa Rizky.


" Papa tau aja. Ini Aca juga bawain iga bakar kesukaan mama dan papa " Rasya mengeluarkan isi paper bag yang dibawanya.


" Wah wah, nggak perlu repot² teh. Mama juga udah masak banyak, mama maklum kok ada twins yang lagi nakal²nya " Ujar mama Lesty.


" Nggak ngerepotin ma. Aca malah menikmati peran itu " Jawab Rasya seraya memindahkan makanan yang ia bawa dari rumah kedalam mangkuk dan menyajikannya di meja makan. Mereka semua duduk di kursi dan memulai makan siang dengan hikmat. Sementara Hanna disuapi oleh Syafa dan Hanif oleh neneknya. Namun, sepertinya Hanif lagi lagi iri dengan sang adik karena disuapi oleh aunty kesayangannya.


" De.. dek, ti.. fa " ( Dedek, aunty Syafa ) Jari telunjuk kecil milik Hanif menunjuk adik kembarnya yang asyik makan dan mengobrol dengan auntynya.


" Kenapa abang Anif? Pengen disuapi aunty juga sayang? " Tanya Syafa. Dengan cepat Hanif mengangguk.


" Sayang, sama mami aja ya! Auntynya juga mau makan " Bujuk Rasya seraya mengulurkan tangannya pada sang anak yang duduk dipangkuan mama Lesty. Namun, bukannya menggapai tangan maminya Hanif justru menangis.


" No.. no... huahh "


" Jangan menangis anak sholeh, sini ikut uncle ya! Biar uncle yang suap " Rivan beranjak dari duduknya dan mendekati Hanif. Melihat unclenya mendekat, Hanif mengulurkan tangannya.


" Lihat, sihir apa yang kalian berdua pakai sehingga twins lengket pada kalian? " Tanya mama Lesty menatap anak dan menantunya.


" Nggak ada sihir kok ma, mungkin karena kami memang benar benar menyayangi mereka jadi mereka juga menyayangi kami " Ujar Rivan seraya menyuapi Hanif yang duduk di pangkuannya.


" Adik ipar benar ma, itu sihir alami " Sahut Rasya tersenyum.


" Kita juga sedang berikhtiar teh, mohon doanya " Jawab Rivan seraya menggenggam tangan sang istri membuat Syafa tersenyum malu.


" Aamiin.. nggak boleh nunda² pokoknya " Sahut mama Lesty.


" Iya mama "


Mereka terus berbincang hingga makanan didalam piring masing masing habis tak bersisa. Setelah itu mereka berkumpul di ruang keluarga.


...*****...


" Menginap disini aja hari ini teh, bilang sama aak langsung kesini kalau pulang " Ujar mama Lesty.


" Aca sih terserah aak aja nanti ma "


" Biar mama yang bilang sama aak ntar "


" Taraa.. liat, uncle bawa apa untuk kalian? " Rivan yang tadi menghilang entah keman tiba tiba muncul dengan membawa dua kotak ditangannya.


" Ancel.. Van " ( Uncle Rivan )


Kedua anak yang tadi asyik bermain kejar kejaran kini berlari kearah Rivan.


" Hati hati sayang " Ujar Syafa.


" Iya sayang " Goda Rivan membuat Syafa menunduk malu. Ia menegur keponakannya tapi Rivan malah menyahut.


" Hemm.. jangan disini kalau bucin, ada anak balita " Tegur Rasya.


" Teteh.. " Rengek Syafa.


" Inan " ( mainan ) Hanif mengambil kotak itu dengan antusias, begitupula Hanna. Kedua anak itu tampak begitu bahagia.


" Darimana Van? Kok bawa mainan segala? " Tanya papa Rizky yang penasaran.


" Tadi Rivan titipan bunda buat mbak shalsa kerumah sakit pa. Kebetulan lewat toko mainan, jadi sekalian mampir. Rivan juga mau pamit sama papa mama tapi nggak enak gangguin papa dan mama didalam kamar " Jelas Rivan. Papa Rizky menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Mainan apa itu? Coba sini mami lihat? " Hanif dan Hanna berlari menghampiri maminya.


" Wah, ada mobilan untuk abang Hanif dan boneka untuk adek Hanna. Bilang apa dulu sama unclenya? " Rasya memberikan mobilan dan boneka itu untuk kedua anaknya.


" Telima kacih Ancel Van " Ujar mereka bersamaan membuat Rivan merasa gemas sendiri.


" Sama sama kesayangan uncle "


Drett.. drettt..


" Aca permisi angkat telpon dulu " Rasya sedikit menjauh. Tak lama kemudian ia kembali dengan raut wajah yang sedikit tegang.


" Ada apa Ca? " Tanya papa Rizky yang melihat menantunya sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu.


" Pa, ma, maaf sepertinya Aca harus pamit. Aunty Aca masuk rumah sakit sementara suaminya masih di luar kota. Mommy dan daddy juga sedang di luar negeri " Ujar Rasya menjelaskan. Auntynya itu memang hanya tinggal berdua dengan suaminya. Mereka hanya punya satu orang anak laki laki. Anak yang mereka angkat sejak bayi karena aunty Rasya itu divonis mandul. Dan sekarang anaknya itu sedang menempuh pendidikan militer di ibu kota sementara sang suami sedang meninjau perusahaan cabang mereka di luar kota.


" mama ikut nak, sudah lama juga kami tidak saling bersilaturahmi " Ujar mama Lesty seraya beranjak dari duduknya dan bersiap siap dikamarnya.


" Twins ditinggal saja teh, biar Syafa yang jaga " Tawar Syafa.


" Nggak udah dek, biar twins ikut aja. Ntar mereka merepotkan kalian "


" Nggak kok teh, kita malah seneng ada twins. Jadi rame " Timpal Rivan. Tak lama mama Lesty turun diikuti papa Rizky yang tadi juga ikut sang istri kekamar.


" Ayo, papa antar! "


" Kakak sama Rivan dirumah dulu aja ya " Pesan mama Lesty.


" Iya ma. " Rasya hendak mengajak twins karena tak enak pada adik iparnya. Tapi, sepertinya twins nyaman bermain dengan aunty dan unclenya sehingga menolak ikut maminya.


" Nggak papa teh, twins ditinggal aja " Ujar mama Lesty meyakinkan menantunya.


" Yasudah kalau gitu teteh titip mereka berdua ya.. Syafa, Rivan! Telpon aja kalau mereka rewel. Susu mereka teteh taruh diatas meja makan "


" Iya teh, "


" Kami berangkat dulu nak, Assalamualaikum " Syafa dan Rivan menyalimi ketiganya.


" Waalaikumsalam "


To be continued...