
Seorang pria tampan terlihat gagah dengan jas warna Bottle Green dengan celana senada dan sepatu hitamnya. Ia menata rambutnya didepan cermin.
Tok.. tok... tok
" Kak cepetan, udah ditunggu diruang makan loh " Ujar Viona memanggil sang anak
" Iya bun, bentar " Jawab Rivan. Ia kembali melihat cermin memastikan penampilannya.
" Perfect " Gumamnya. Dengan segera Rivan keluar dari kamarnya. Tak lupa ia menyeret kopernya dan diletakkan di ruang keluarga. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya keruang makan.
" Wah, tampan banget sih anak bunda " Puji Viona
" Iya nih, kayaknya kak Rivan sengaja banget beli jas baru bun " Sambung Kalista
" Iyalah dek, kan adik mbak yang tampan ini juga harus tampil perfect " Ujar Shalsa menambahkan
" Apaan sih kalian, jas ini dikasih sama temen aku " Jelas Rivan
" Teman yang mana kak, setahu ayah sih nggak ada tuh temen kakak yang orangtuanya ada butik " Ujar Andra
" Ada yah, temen aku yang namanya Syafa. Dia punya butik dan yang lebih hebatnya lagi dia bangun sendiri tanpa bantuan orangtuanya. Dan jas ini adalah salah satu rancangannya yang akan dilauching minggu depan " Jelas Rivan
" Wah, keren banget tuh anak " Puji Shalsa
" Kalau bunda liat liat nih, kayaknya memang bahannya berkualitas bagus, desainnya juga best banget. Kalah loh desain bunda sama desain milik teman kamu itu kak. Bunda yakin dia anak yang cerdas " Ujar Viona juga memuji Syafa. Rivan hanya tersenyum menanggapi ucapan keluarganya. Memang saat ini hanya Shalsa, Kalista, Rivan, Viona dan Andra karena Vivto dan Axel beserta anak dan istrinya sudah pindah kerumah mereka sendiri.
" Udah dulu ngobrolnya, Kita sarapan dulu " Ujar Andra
" Siap yah "
" See you kakakku sayang, moga betah disana. Aku bakal rindu berat tahu " Ujar Kalista memeluk Rivan
" Kakak juga bakal rindu sama kamu sayang " Balas Rivan
" Emm.. mbak jadi terharu nih. Jaga diri baik baik ya dek. Ingat kita disini selalu berdoa yang terbaik buat kamu " Ujar Shalsa beralih memeluk adiknya
" Makasih mbak "
°°°°°°°°°°°
Bandara Internasional Husein Sastranegara!
Viona dan Andra turut mengantar sang anak sampai kebandara. Sesampainya di bandara Rivan segera memarkirkan mobil milik ayahnya itu diparkiran. Setelah itu mereka bertiga turun. Rivan membuka bagasi mobil dan mengambil kopernya.
" Semangat ya kerjanya nak, bunda yakin kamu bisa " Ujar Viona menyemangati
" Iya, pokoknya anak ayah harus semangat " Sambung Andra
" Pasti. Makasih yah,bun semangatnya " Ujar Rivan memeluk kedua orangtuanya
" Astaga tas bunda kelupaan di mobil " Ujar Viona
" Yaudah ayah temenin ngambilnya bun " Ujar Andra. Rivan memberikan kunci mobilnya kepada Andra.
" Tunggu disini bentar ya nak "
" Iya bun "
Sementara itu disisi lain bandara seorang gadis nampak terburu buru memasuki bandara pasalnya ia sedikit telat menjemput sang kakak.
" Astaga, kak Nic mana sih. Apa jangan jangan dia udah pulang duluan " Gerutu gadis itu. Ia pun bertanya pada salah satu petugas bandara.
" Maaf pak, penerbangan pagi dari kota Malang sudah landing belom ya? "
" Belum nona, tadi pagi pesawat mengalami delay. Jadi kemungkinan 15 menit lagi pesawat baru landing " Jawab petugas itu
" Begitu ya, makasih infonya pak " Ujar Syafa. Petugas itu mengangguk.
" Ah sial, tahu gitu nggak perlu buru buru tadi " Omelnya. What? Tak sengaja matanya melihat sosok Rivan yang sedang duduk disalah satu kursi tunggu. Ia segera mendekati Rivan.
" Mas Rivan " Sapanya kemudian duduk disamping Rivan
" Eh Syafa " Jawab Rivan sedikit kaget
" Mau berangkat ya? " Tanya Syafa. Rivan mengangguk.
" Hati hati dijalan ya mas, sering sering chat ya soalnya bakal rindu kalau berjauhan.. he.. he " Canda Syafa
" Iya tenang aja " Ujar Rivan menanggapi candaan Syafa
" Thank you, ini juga kamu yang desain kan " Jawab Rivan
" Iya.. Btw gelangnya juga aku pake loh " Ujar Syafa memperlihatkan tangannya pada Rivan
" So Beautiful " Puji Rivan
" Syaafaaa " Teriak seorang pria mendekati mereka berdua
" Aduh, apaan sih kak teriak teriak nggak jelas. Emang dikira hutan apa? " Tanya Syafa kesal
" Mana kunci mobil kamu, kita pulang aku lelah banget nih " Ujar Nico
" Salah sendiri, asal kakak tahu ya. aku disini dari lima belas menit lalu nungguin kakak. Tahu pesawatnya delay tadi mending aku tiduran dirumah " Omel Syafa
" Iya iya maaf, kakak juga nggak tahu kalau bakal delay " Jawab Nico. Memang kemarin sore ia pergi ke Malang karena urusan kerjaan. Dan pagi ini Nico harus kembali ke Bandung karena nanti siang ia harus menghadiri meeting penting dengan kliennya.
" Eh Rivan mau kemana lo? " Tanya Nico yang baru menyadari keberadaan Rivan disana
" Kanada, Biasa urusan kerjaan " Jawab Rivan
" Wah, jauh banget tuh.. Good luck ya " Ujar Nico
" Thanks Nic " Ujarnya memeluk Nico
" Rivan ayo bentar lagi pesawatnya take off " Teriak Viona dari jauh
" Iya bun " Jawab Rivan
" Syafa, Nico maaf aku harus segera check in. See you next time " Ujar Rivan
" Iya mas, bye " Ujar Syafa melambaikan tangannya dibalas juga oleh Rivan
" Bye " Jawab Rivan kemudian berlalu
" Udah Syafa siniin kunci mobil kamu " Paksa Nico
" Aku aja yang nyetir. Kak Nic bilang tadi capek, jadi istirahat aja dimobil " Ujar Syafa berjalan mendahului Nico. Nico pun hanya menurut. Sesampainya di mobil Syafa membuka bagasi mobil dan Nico segera menaruh kopernya dimobil. Setelah itu Nico dan Syafa naik kemobil. Perlahan Syafa melajukan mobilnya membela keramaian kota dipagi hari menuju rumahnya.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Rivan memperhatikan gerak gerik mereka berdua.
" Semoga rasa kagum ini berubah jadi cinta yang sesungguhnya. Dan aku harap disaat cinta itu benar benar hadir, kamu masih bisa aku gapai seperti sekarang " Batin Rivan tersenyum.
" See you later Beautiful, see you Indonesia. I hope when I come back here that beautiful smile I can see again. I will always admire you " Ujar Rivan dalam hati sembari tersenyum.
Walau ia sedih harus berpisah dengan keluarganya. Namun ia juga harus pergi demi keluarganya juga. Jadi, mau tak mau harus ia lakukan.
" Jaga diri baik baik disana kak, kalau ada apa apa jangan lupa hubungi ayah atau bunda "
" Bundamu benar nak, ingat jaga kesehatan dan pastinya tahan dirimu dari hal hal yang tidak wajar kita lakukan "
Dan banyak pesan pesan dari ayah dan bundanya yang mereka berikan sebelum Rivan berangkat tadi. Rivan tersenyum mengingatnya. Betapa orangtuanya sangat menyayangi dia hingga dari hal hal terkecilpun mereka ingatkan kepada Rivan.Perlahan ia mulai menaiki tangga pesawat.
" Welcome Canada " Teriaknya dalam hati. Ia merasa sedikit tenang saat tak ada lagi yang sembunyikannya ketika pergi.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
•
To be continued!!!