The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Sisi yang tak terlihat



Mereka bersembunyi dibalik tubuh Hasna. Mereka merasa takut berhadapan dengan lelaki tegap nan gagah itu. Sedangkan Ikhsan justru merasa sangat tak nyaman dengan perlakuan intimidasi yang anak-anak itu lakukan.


Ikhsan segera memasang senyum setengah dipaksakan. Wajah Ikhsan terlihat sangat aneh dan lucu. Hasna pun terlihat tak tahan menyaksikan pemandangan yang diperlihatkan wajah bodoh abangnya itu.


Hasna segera mencairkan suasana yang terlihat kikuk itu.


Hasna : " Ibooom, adik-adik, jangan takut. Om ganteng itu abangnya kak Hasna. Namanya Bang Ikhsan. Dia itu polisi loh, jadi kalian jangan jadi anak nakal yaa, takut nanti ditangkep... "


Ibom terlihat mulai tenang dan memberanikan diri mendekati Ikhsan.


Ibom : " Hai Abangnya kak Hasna, Abang bawa pistol gak sekarang? " Tanya Ibom dengan wajah lugunya. Sontak semua tertawa saat mendengar pertanyaan dari bocah polos itu.


Lalu disusul pertanyaan lainnya dari bibir bocah yang berbeda :


" Abang, galak gak? "


" Abang suka jahatin Kak Hasna gak? "


" Abang pernah nangkep penjahat gak? "


" Abang suka makan apa sih biar ganteng?"


Daaaannn semua pertanyaan yang terlontar dari bibir lugu nan polos itu dijawab Ikhsan dengan jawaban yang luar biasa anehnya...


Suasana pun mendadak cair seketika. Ikhsan dengan sigap menurunkan semua makanan yang mereka bawa menuju ke bawah pohon rindang untuk kemudian mereka nikmati bersama.


Ibom dan kawan-kawannya terlihat sangat menikmati makanan tersebut. Terlihat juga beberapa minuman dan camilan tersedia disana.


Mereka menikmati suasana yang sangat hangat itu. Sampai senja menjemput. Mereka pulang dengan hati yang bahagia. Ternyata berbagi itu indah. Kebahagiaan hakiki adalah ketika mampu berbagi bahagia itu sendiri dengan yang lain.


Ikhsan kini yang menyetir mobil menuju rumah. Hasna tertidur sesaat setelah mereka meninggalkan kawasan kumuh itu. Mungkin dia lelah. Terlihat Hasna tertidur dengan pulasnya. Ikhsan hanya tersenyum. Tak menyangka sama sekali, singa betina itu punya hati juga. Hahahahhaha. Tawanya dalam hati.


Setelah rencana shoping tak berjalan mulus, bahkan Safira memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh, serta mendapati kenyataan bahwa sang lelaki penyelamat itu sudah memiliki kekasih hati, hmmm kurang pahit apa lagi coba hidup aku? Safira said with herself.


Tak ada harapan.


Tak ada guna lagi.


Percuma saja.


Sepertinya Safira sudah kehilangan separuh semangat hidupnya.


Sejenak ia mengingat sesuatu. Handphone, ya handphone nya. Ia harus segera menghapus semua kenangan tentang Safira dan Virzha. Bahkan frame foto yang menampilkan pict manis Safira dan Rey sudah mendarat mulus di tempat sampah kini. Ya, dia harus tetap meneruskan hidupnya apapun ujian dan cobaan yang dialami.


Safira pun segera menyalakan laptop nya, dia menghapus semua foto, video ataupun data yang berkaitan dengan mantan sahabat dan mantan kekasihnya itu.


Agar tetap seimbang, bukankah kita harus tetap bergerak dan mengayuh sepeda agar tidak limbung dan jatuh?


Begitu juga dengan kehidupan. Agar kita tetap bertahan, setidaknya kita harus berusaha untuk tetap bergerak, apapun yang terjadi.


Ya, Safira sudah memutuskan bahwa dirinya harus tetap bisa bertahan, survive dan semangat demi orang-orang yang ia cintai, termasuk Mommy and Daddy nya..


Ada kalanya kita harus mundur selangkah ke belakang, untuk kemudian maju seribu langkah kedepan.


Masa lalu itu kenangan. Masa kini adalah kenyataan. Dan masa depan adalah harapan.


*PoV Hasna


Aku sebenernya malu mau mengakui bahwa aku punya adik asuh di lingkungan kumuh di sudut kota. Gimana nanti reaksi bang Ikhsan kalo tau itu. Aku takut reaksinya mengecewakan. Hmm, tapi udah hampir sebulan aku gak ketemu Ibom dan kawan-kawannya. Ada rasa rindu mendesir dihati. Aku kangen Ibom dan kawan-kawannya. Aku bertekad untuk mengatakan yang sebenarnya sama bang Ikhsan. Apalagi ini sudah terlanjur mesen dan bungkus makanan yang segini banyaknya. Jadi deh aku ajak bang Ikhsan ke tempat adik-adik asuh aku. Tadinya sempet ada suasana canggung, tapi semua bisa teratasi karena gak disangka, sisi konyol bang Ikhsan itu muncul disaat yang tepat. Adik-adik asuh ku pun terlihat sangat nyaman di dekat bang Ikhsan. Akhirnya kami pulang juga selepas acara makan bersama yang dipenuhi canda tawa dan obrolan seru dengan mereka. Kami pamit undur diri setelah dirasa senja sudah mulai menampakkan dirinya. Bang Ikhsan meraih kunci mobil dan mengambil alih setirnya. Aku tak kuasa menahan kantuk dan akhirnya pulas di perjalanan. Oh, terima kasih ya Allah, semoga aku lebih bisa berbagi kebahagiaan dengan banyak makhluk Mu yang lain.