
Seperti biasanya, Syafa diantar oleh Rivan ke butiknya. Hari ini ia hanya akan bekerja setengah hari sesuai janjinya pada sang mama. Begitu pula Rivan. Karena mama Lesty ingin mengajak keduanya membeli beberapa furniture untuk rumah baru mereka yang baru selesai dibangun atas permintaan Rivan. Dan itu semua tanpa sepengetahuan Syafa. Rivan memang sengaja ingin memberi kejutan pada Syafa nantinya.
" Nanti mas jemput sayang " Ujar Rivan saat Syafa mencium punggung tangannya. Syafa mengangguk.
Cupp..
Rivan juga sempat mengecup kening Syafa dan hal itu lagi lagi membuat pipi Syafa memerah. Memang bukan yang pertama, tapi setiap Rivan melakukannya tetap saja ada getaran aneh yang menyengat tubuhnya.
" Aku turun mas, assalamualaikum " Pamit Syafa.
" Waalaikumsalam, semangat sayang " Syafa tersenyum mendengar kalimat penyemangat dari Rivan. Ia turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Rivan yang mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan gedung butiknya. Setelah mobil sang suami tak terlihat lagi, barulah Syafa beranjak dari tempatnya dan memasuki butik itu.
" Pagi nona muda " Sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Syafa.
" Pagi, bagaimana? Apa ada kendala saat kalian bekerja? " Tanya Syafa. Para karyawannya kompak menggelengkan kepalanya.
" Tidak ada nona, kami begitu senang menjadi bagian dari butik ini " Jawab salah satu dari mereka.
" Saya juga senang mendengarnya! Selamat bekerja. Saya minta jika ada sesuatu tolong bicarakan pada saya, jangan ada masalah yang disembunyikan "
" Baik nona "
" Saya keatas dulu " Syafa kembali melanjutkan langkahnya. Saat memasuki ruangannya, terdapat banyak sekali buket bunga mawar merah berjajar di atas meja kerjanya. Jika dihitung, mungkin sekitar sepuluh buket bertengger disana. Syafa mengerutkan keningnya. Siapa yang mengirim buket bunga sebanyak ini ke kantornya?
" Inka, siapa yang mengirim buket² bunga ini? " Tanya Syafa pada sang asisten yang sebelumnya ia suruh datang keruangannya.
" Tadi kurirnya bilang tuan Rey yang mengirim buket² ini nona. Katanya tuan Rey juga mengirimnya atas permintaan anda. " Jawab Inka.
" Rey? Rey siapa? " Tanya Syafa lagi. Seingatnya ia tak punya teman yang bernama Rey.
" Hai sayang! Apa kabar? " Tiba tiba seorang pria datang menghampiri mereka yang sedang di landa kebingungan.
" Jaga sikap anda tuan Reyhan " Tegas Syafa saat Reyhan mencoba merangkul Syafa.
" Santai girl! Aku hanya bercanda. Apa kamu sibuk hari ini? " Reyhan masuk ke dalam ruangan Syafa tanpa izin. Ia melepas jasnya dan duduk begitu saja di atas sofa.
" Kenapa diam di sana, masuklah " Syafa hanya diam di depan pintu ruangannya bersama Inka.
" Kenapa kau datang kemari tuan? Aku sedang sibuk, jadi jangan coba menggangguku " Ujar Syafa. Reyhan hanya tersenyum. Ia berdiri dan menghampiri sang pujaan hati.
" Aku akan menunggu sampai kamu selesai baby, dan setelah itu ikutlah denganku! Kita akan menikmati waktu berdua hari ini. Kamu mau kan? " Syafa memalingkan wajahnya saat Reyhan hendak menyentuh dagunya.
" Jangan kurang ajar tuan! Jika tidak ada urusan silahkan pergi karena saya tidak berharap dikunjungi orang seperti anda "
...****...
Rivan baru sadar ternyata dompet milik istrinya tertinggal didalam mobil sementara didalam dompet itu ada ponsel Syafa yang mungkin saja penting untuk pekerjaannya.
" Apa aku putar balik aja? pasti Syafa nyariin ponselnya " Rivan akhirnya berbalik arah. Lagipula ia tidak ada meeting penting.
Saat sampai di parkiran, Rivan langsung turun seraya membawa dompet milik istrinya.
" Saya peringatkan lagi tuan Reyhan, jangan bersikap kurang ajar atau anda akan menyesal " Suara teriakan Syafa terdengar bahkan saat Rivan baru keluar dari dalam lift. Karena khawatir, Rivan mempercepat langkahnya menuju ruangan Syafa. Langkahnya terhenti saat melihat Reyhan yang mencoba menyentuh istrinya. Inka dan beberapa karyawan lain mencoba melerai. Tapi tetap saja tenaga mereka kalah melawan Reyhan. Karena memang hanya ada sedikit karyawan yang bertugas dilantai teratas. Dan mereka semua perempuan.
" Jangan takut sayang, aku hanya merindukanmu dan ingjn memelukmu. Itu saja " Ujar Reyhan tersenyum smirk. Ia maju kearah Syafa.
Bughh..
Sebelum sampai, Rivan sudah lebih dulu menendang pria brengsek itu hingga terjungkal.
" Mas " Syafa merasa lega. Ada suaminya yang melindungi dirinya. Ia berhambur memeluk tubuh kekar itu.
" Sayang, kamu nggak papa hem? " Tanya Rivan seraya mengelus pelan pucuk kepala sang istri yang tertutup hijab.
" Hahaha.. tentu istri tercintamu itu baik baik saja. Dia bahkan sangat senang setelah menikmati waktu berdua bersamaku. Iya kan sayang? " Reyhan berdiri walau dengan tertatih. Ia bahkan menampilkan senyum smirknya, berharap rivalnya percaya.
" Anda kira saya mudah percaya sama pria brengsek seperti anda ini tuan Reyhan? " Tanya Rivan tersenyum mengejek. " Ck, ternyata otak anda begitu picik! Saya seorang pengusaha besar, tentu saya tidak akan mudah percaya sama bualan anda yang tidak berguna itu. Cih.. murahan! "
" Tuan Rivan, maaf! tapi semua tidak seperti yang tuan Reyhan katakan. Dia memang berniat melecehkan nona, tapi kami selalu berupaya menggagalkannya. Dia bahkan tidak menyentuh nona secuilpun. Saya berani sumpah untuk itu, nyawa saja jadi taruhannya. " Jelas Inka. Ia takut tuan Rivan terpengaruh oleh omongan tuan Reyhan sehingga membuat hubungan tuan Rivan dan nona Syafanya renggang.
" Saya tahu itu Inka. Terima kasih sudah menolong istri saya "
" Sama sama tuan, sudah kewajiban saya untuk membantu nona! Kalau begitu kami permisi " Inka dan beberapa karyawan wanita itu keluar dari ruangan Syafa. Sementara Rivan membawa Syafa masuk dan duduk di sofa.
" Mas.. " Syafa menahan lengan Rivan saat ia hendak berdiri.
" Mas ambil minum dulu sayang " Ujar Rivan melepaskan tangan Syafa dan beranjak menuju pantri untuk mengambil air putih.
" Minumlah " Rivan kembali duduk di samping Syafa seraya menyodorkan air putih itu pada Syafa.
" Mas, aku sama sekali nggak berduaan dengan Reyhan. Aku juga nggak pernah menyerahkan diriku padanya. Aku bersumpah, aku.. " Rivan menempelkan jari telunjuknya pada bibir Syafa membuat wanita cantik itu terdiam.
" Tanpa perlu kamu jelaskan, mas sudah tahu sayang. Mas mengenalmu! Kamu nggak mungkin melakukan hal yang serendah itu. Mas percaya padamu " Ujar Rivan menarik Syafa kedalam dekapannya. Syafa menangis.
" Shutt.. tenanglah! Mas akan menjagamu. Si brengsek itu takkan berani mengganggumu lagi sayang " Rivan mengecup pucuk kepala Syafa berkali kali. Mencoba menyalurkan ketenangan pada sang istri.
" Kamu istirahat dirumah aja kalau merasa nggak enak badan, sayang " Ujar Rivan. Namun, Syafa menggelengkan kepalanya. Pekerjaannya cukup terbengkalai beberapa minggu ini karena harus menemani papanya di rumah sakit. Belum lagi membagi waktu untuk memantau perusahaan sang papa. Di sambung juga cuti menikah.
" Aku sudah nggak papa mas! Jangan khawatir "
" Kalau begitu biar mas temani disini "
" Tapi pekerjaan mas gimana? " Tanya Syafa menatap Rivan.
" Mas bisa kerjakan disini, jujur mas masih khawatir sama kamu " Rivan mengeratkan pelukannya, seolah enggan untuk melepaskannya lagi.
" Aku nggak papa mas "
" Nggak ada alasan, mas temani! Titik.. " Tegas Rivan membuat Syafa mengangguk pasrah. Lagipula ia masih takut Reyhan kembali.
" Inka tolong suruh ob membuang semua buket ini " Titah Syafa pada Inka lewat sambungan telpon.
" Baik nona "
Kini Syafa kembali melanjutkan pekerjaannya, mendesain beberapa model baju yang hendak di pamerkan pada ajang peragaan busana bulan depan. Sementara Rivan duduk di sofa seraya memeriksa berkas berkas yang dikirim Leo lewat email.
...*****...
Sudah pukul 12.30 WIB, itu artinya kedua insan ini sudah harus pulang kerumah. Mama Lesty pasti sudah menunggu mereka.
" Kita mampir makan siang sama sholat Dzuhur dulu sayang. Mas udah kabari mama tadi " Ujar Rivan saat keduanya sudah didalam mobil.
" Iya mas " Rivan mulai melajukan mobilnya perlahan menuju sebuah restoran.
Usai makan dan juga sholat, mereka langsung menuju ke mall milik keluarga Pranata setelah sebelumnya menjemput mama Lesty.
Sesampainya di mall, mama Lesty menggandeng anak dan menantunya menuju salah satu stand furniture.
" Mau cari apa dulu? " Tanya mama Lesty menatap anak dan menantunya bergantian.
" Kok kesini si ma, emang mau beli untuk siapa? " Tanya Syafa heran. Karena setahu Syafa mamanya hanya ingin mengajaknya belanja seperti biasa.
" Beli furniture untuk rumah baru kita nanti sayang. " Jawab Rivan.
" Tapi kita kan belum beli rumah mas " Protes Syafa. Yang benar saja rumahnya belum ada tapi furniturenya sudah dibeli. Rivan mengulum senyum. Rumah impian mereka bahkan sudah 98 % siap.Tinggal cat bagian luar dan furniturenya saja yang belum.
" Nggak papa sayang! Buat persiapan, mumpung kita ada waktu luang " Ujar Rivan.
" Yaudah deh, terserah mas Rivan aja "
To be continued!!!