
" Sudah tugasku, kamu jangan khawatir. Sebagai kakakmu aku akan selalu ada untukmu.. Jangan sedih terus ya! Ingat loh butik sama perusahaan butuh kamu Fa. Percayakan semuanya pada yang kuasa. Siapa tahu calon suamimu cakep kayak aku kan?? " Ujar Kenan seraya memakan sarapannya.
" Iya Ken, makasih! " Setelah itu tak ada pembicaraan lagi diantara keduanya. Kenan fokus pada makanannya sedangkan Syafa fokus pada handphonenya dan melihat email yang dikirimkan Gio padanya.
...****...
" Terima kasih tuan, semoga kerja sama ini berjalan dengan lancar "
" Hem.. semoga! " Balas Rivan mengulurkan tangannya membalas uluran tangan kliennya. Setelah itu mereka pamit dan pergi dari hadapan Rivan dan Leo.
" Tuan, kita langsung ke hotel atau.. "
" Pesankan makanan, saya belum sempat sarapan tadi! " Potong Rivan sebelum Leo menyelesaikan ucapannya.
" Baik tuan "
" Aneh banget! Perasaan di hotel tadi tuan Rivan sudah sarapan " Batin Leo. Ia tak mau memperpanjang masalah jika bertanya pada Rivan. Leo memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk Rivan.
" Kenapa dia terlihat bahagia sekali? " Batin Rivan ketika melihat Syafa tertawa bersama pria didepannya.
" Ken, aku harus kembali! Ada klien yang ingin bertemu denganku " Ujar Syafa kemudian seraya melihat layar handphonenya. Terdapat Chat dari bu Zeina.
" Ayo aku antar " pria itu mengelap mulutnya dengan tisu dan meletakkan sendoknya kembali di piringnya yang masih ada setengah makanan lagi.
" Makanlah dulu, aku balik sendiri aja! Lagian deket kok " Jawab Syafa seraya beranjak dari duduknya.
" No! Aku akan mengantarmu, aku sudah kenyang " Dengan cepat pria itu memanggil pelayan dan membayar makanan serta minuman yang dipesannya. " Ayo! Aku pastikan tuan putri sampai kebutik dengan selamat " Ujar pria itu dengan nada menggoda.
" Ck, gombalan mu receh kang mas " Syafa balik menggoda pria itu seraya terkekeh pelan. Pria itu tampak tertawa.
Sedangkan Rivan, ia merasa tak senang melihat Syafa tertawa dengan pria lain. Ia terus menatap keduanya hingga menghilang dibalik pintu kaca itu.
" Tuan maaf ini makanannya, selamat menikmati " Seorang pelayan datang mendekatinya seraya menyajikan makanan di atas meja.
" Tuan, makanannya " Ujar Leo saat tuannya hanya diam saja dan sama sekali tak berminat melihat makanan makanan itu. " Kamu saja yang makan! Saya sudah tidak lapar " Ujar Rivan. Ia bangkit dan meletakkan dua lembar uang seratus ribu diatas meja.
" Tapi tuan.. " Leo menutup mulutnya saat Rivan menatapnya tajam.
" Temui aku di kamar hotel pukul 2 siang! Kita bahas proyek yang baru di bangun di Surabaya ini. Dan satu lagi kita tunda kepulangan kita jadi besok sore. Mengerti! "
" Baik tuan. " Jawab Leo. Rivan segera melangkahkan kakinya keluar dari cafe. Entah kenapa ia sangat penasaran dengan hubungan Syafa dan pria yang baru dilihatnya tadi.
...Syafa Boutique...
Ia tertarik pada bangunan yang berada tepat disebrang cafe.
" Syafa Boutique bukannya butik milik Syafa? " Batin Rivan. Ia melangkah menuju ke gedung itu.
" Aku ada meeting Fa. Nanti siang aku kesini lagi. Byee " Terdengar suara pria yang berdua dengan Syafa ketika di cafe tadi. Rivan mencari sumber suaranya. Ternyata mereka berada didepan butik Syafa. Dengan posisi pria itu sudah berada didalam mobilnya.
" Ngapain kesini lagi? " Ujar Syafa sedikit sewot.
" Nemenin kamu makan sianglah " Jawabnya santai. Seraya menghidupkan mesin mobilnya.
" Aku bukan anak kecil yang harus selalu ditemani Kenan!! " Pekik Syafa.
" Kenan? Jadi namanya Kenan? "
" Hemm.. ya ya terserah!! Byee. "
" Waalaikumsalam " Ledek Syafa.
" Heheh.. lupa ustadzah! Assalamualaikum " Ujar Kenan. Ia segera melajukan mobilnya.
" Ya Allah ternyata sesakit ini rasanya menyaksikan wanita yang kita cintai tertawa bahagia bersama pria lain. Bantu aku mengikhlaskannya ya Allah " Batin Rivan merintih
" Syafa!! " Panggil seseorang membuat Syafa menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan tersenyum tatkala mendapati pria yang sangat ia sayangi berjalan kearahnya.
" Abang " Pekik Syafa memeluk pria itu.
Deg...
" Siapa lagi pria itu? " Tanya Rivan dalam hati.
Pria yang dipanggil abang oleh Syafa pun membalas pelukan Syafa. " Bang Raka nggak ada kerjaan? Bukannya mau pelatihan ya? " Tanya Syafa memastikan. Raka menggeleng.
" Ini hari pertama pelatihan bagi anggota polisi yang baru dan abang langsung yang ngelatih. Karena hari ini masih pengenalan jadi abang cuma dateng sebentar dan sisanya anak buah abang yang pegang kendali. Sebelum besok abang akan sangat sibuk " Ujar Raka merangkul adiknya. Ia sengaja meluangkan waktunya hari ini karena ia ingin menghibur adiknya. Sedikit banyak ia tahu Syafa sedang bersedih saat ini. Walau Syafa tak terlalu menunjukkan wajah sedihnya.
" Kamu ada waktu nggak? Kita jalan jalan yuk! Udah lama abang nggak ke Surabaya " Ajak Raka. " Syafa temui klien sebentar ya bang, setelah itu kita berangkat " Jawab Syafa. Raka mengagguk.
" Abang tunggu diruanganku aja, sekalian ganti baru! Masa pake baju polisi gini sih " Omel Syafa.
" Terus klien kamu? "
" Aku suruh menunggu di ruang rapat " Mereka berdua berjalan masuk kedalam butik sembari sesekali bercanda.
Sementara seorang pria masih bersembunyi di balik tembok besar butik Syafa. Perlahan ia merosotkan tubuhnya ke lantai. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Kecewa, sedih, dan hancur itu lah yang ia rasakan. Apalagi melihat Syafa berpelukan dengan pria yang ia panggil abang tadi.
" Maaf, kami tidak terbiasa berjabat tangan dengan pria yang bukan saudara kami! "
" Kamu selalu berupaya menjaga dirimu dari pria pria yang bukan saudaramu Fa. Tapi kenapa kamu berpelukan dengan pria itu. Begitu berhargakah dirinya sehingga kamu sendiri melanggar prinsipmu sebagai wanita muslimah " Gumam Rivan berurai air mata. Sungguh rasanya begitu sakit melihat pemandangan tadi. Ia berusaha ikhlas. Tapi tetap saja sulit. Baru pertama kali Rivan merasakan yang namanya jatuh cinta. Dan kisah cintanya begitu tragis, kalah sebelum berperang. Disaat yang bersamaan juga ia merasakan yang namanya patah hati
...*****...
Satu jam berlalu
11.00 WIB
Syafa keluar bersama Raka setelah kliennya pergi. " Mau pergi kemana sayang? " Tanya Raka kepada Syafa seraya terus menggandeng tangan adiknya itu.
" Pengen ke bazar bang! Tapi masih pagi banget, pasti bazarnya belum buka " Jawab Syafa dengan wajah cemberut.
" Yaudah ntar sore kita ke bazar, ehmm.. kalau sekarang gimana kita pergi ke taman bermain yang baru di resmikan Marsel beberapa hari lalu. Hari ini ada pembagian give away untuk anak anak balita, pasti seru " Usul Raka. Marsel baru saja meresmikan sebuah taman bermain untuk anak anak di Surabaya bekerjasama dengan papanya dan juga beberapa rekan kerjanya.
" Iyadeh! Terserah abang aja " Jawab Syafa.
" Jangan cemberut gitu dong, jelek tahu! Ayo senyum " Paksa Raka dengan menarik kedua pipi Syafa.
" Abang sakitt " Pekik Syafa. Bukannya tersenyum, Syafa semakin cemberut.
" Makanya senyum! "
" Nggak mau "
" Yaudah, kita nggak jadi jalan jalan. Abang mau balik ke kantor aja kalo gitu " Ujar Raka berpura pura merajuk dan berjalan cepat kearah mobil Syafa yabg terparkir di depan butiknya. Meninggalkan Syafa yang masih diam ditempat. " Ihhh.. abang curang! Mana bisa gitu " Omel Syafa mengejar Raka.
" Abang!! Iya iya aku senyum.. iiihhhh! Udahkan? " Syafa mencoba tersenyum lebar, sampai memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi. " Ayo buruan masuk! Mumpung masih pagi " Ujar Raka mengusap kepala Syafa yang tertutup hijab dengan gemas. Syafa segera membuka pintu mobilnya dan duduk disamping Raka yang sudah siap mengendarai mobilnya.
Lagi lagi sikap Syafa dan Raka membuat Rivan terluka. Satu jam berlalu, tapi Rivan sama sekali tak berniat pergi dari tempatnya. Dengan setia ia memandangi Syafa dan Raka hingga mereka naik mobil dan pergi. Sakit! Sangat sakit sekali! Jika tadi Syafa hanya berbincang dengan Kenan tanpa kontak fisik saja sudah membuatnya panas, apalagi ini. Interaksi antara kakak adik itu membuatnya salah paham. Bukan apa apa, Rivan tak tahu jika Raka adalah kakak Syafa. Yang ia tahu kakak Syafa adalah Dafa, tidak dengan Raka dan Marsel.
" Kenapa Engkau selalu dekatkan aku dengannya jika pada akhirnya aku semakin terluka ya Allah? Mengapa takdir begitu kejam padaku? "
To be continued!!