The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Badmood



Syafa kembali menutup pintu apartemennya ketika Raka sudah keluar. Ia melangkah keatas dan duduk diatas karpet bulu bulu setelah sebelumnya menghidupkan televisi. Tak ada hal yang begitu penting ia lakukan. Entahlah, rasanya malas saja. Apalagi mimpi semalam masih terus menghantuinya.


" Nona muda, maaf mengganggu! " Ujar mbok Nur menghampiri Syafa. Syafa menoleh.


" Ada apa mbok? "


" Didepan ada Nyonya Zeina, katanya dia perwakilan dari butik dan ada keperluan dengan nona muda " Jelas mbok Nur.


" Suruh masuk mbok, Syafa mau pake jilbab dulu "


" Baik nona " Syafa masuk kedalam kamarnya dan mengambil sebuah jilbab pashmina hitam dan segera memakainya di kepalanya. Setelah rapi Syafa keluar dari dalam kamarnya dan menemui bu Zeina yang sudah menunggu diruang tamu.


...****...


" Bu Zeina! Maaf sudah menunggu lama " Ujar Syafa seraya duduk disamping bu Zeina.


" Tidak masalah nona, saya juga baru sampai " Jawab bu Zeina menunduk sopan.


" Ada apa bu? " Tidak biasanya bu Zeina mendatangi Syafa diapartemen ketika Syafa libur. Kecuali ada hal yang benar benar urgent.


" Ada beberapa berkas yang harus segera ditandatangani nona. Dan juga beberapa contoh desain baju yang dikirim client. Mereka ingin nona mendesainnya segera supaya bajunya juga bisa langsung di produksi" Ujar bu Zeina menyerahkan beberapa map berisi berkas berkas penting pada Syafa.


" Hemm.. baiklah, saya akan segera selesaikan! Terima kasih bu Zeina. Maaf sudah merepotkan" Jawab Syafa menerima map itu seraya memeriksanya sekilas.


" Oiya, berkas ini akan saya kirimkan ke butik jika sudah selesai " Ujar Syafa kemudian.


" Baik nona, kalau begitu saya permisi "


" Silahkan " Bu Zeina pamit dan keluar dari apartemen Syafa. Sedangkan Syafa kembali ketempat semula seraya memeriksa berkas berkas itu.


...****...


Rivprant Company 💕


Seorang pria tampan duduk di kursi kebesarannya seraya memeriksa berkas berkas penting yang tertumpuk dimejanya. Sesekali ia tampak memijat pelipisnya. Berkali kali ia mencoba fokus pada pekerjaannya. Tapi sama sekali ia tak bisa fokus. Pikirannya tetap bercabang.


Tok.. ******tok.. tok******..


" Masuk "


" Maaf tuan Rivan, client kita pak Handoko sudah sampai " Ujar Pria yang masuk kedalam ruangannya.


" Siapkan semua berkasnya. Kita keruang meeting sekarang! " Jawab Rivan seraya berdiri merapikan jasnya dan melangkah keluar dari ruangannya dan diikuti oleh asistennya.


1 Jam kemudian..


Meeting terus berlanjut, tapi Rivan sama sekali tidak fokus.


" Tuan, anda baik baik saja? " Tanya Leo melihat tuannya yang sesekali memijat pelipisnya.


" Saya tidak bisa konsentrasi Leo, tolong kamu handle semuanya. Saya mau istirahat dirumah " Ujar Rivan setengah berbisik pada Leo.


" Baik tuan "


" Ehmm.. pak Handoko, maaf menyelah sebentar " Sekretaris pak Handoko yang sedang mempresentasikan sesuatu untuk kerjasama kedua perusahaan itu diam mendengar Rivan berbicara.


" Iya tidak masalah pak Rivan. Ada apa? " Tanya Pak Handoko.


" Sebelumnya saya minta maaf, saya merasa agak kurang enak badan. Jadi asisten saya yang akan melanjutkan meetingnya dengan pak Handoko. Apakah bapak tidak keberatan? " Tanya Rivan memastikan.


" Baiklah, saya sama sekali tidak keberatan pak Rivan. Semoga anda bisa segera kembali fit dan bisa beraktivitas seperti biasa. " Ujar pak Handoko


" Terima kasih pak, saya permisi! "


" Silahkan "


...****...


" Kak, tumben udah pulang " Saat hendak masuk kedalam kamarnya, Rivan berpapasan dengan sang bunda.


" Iya bun, kepala kakak pusing. Jadi pengen istirahat aja dirumah. " Ujar Rivan. Bunda Viona tampak mengagguk tapi tak percaya begitu saja.


" Sini duduk! " Ujar bunda Viona seraya menarik tangan putra bungsunya dan membawanya menuju sofa yang terletak diruang tengah lantai atas.


" Ada yang mengganjal pikiranmu nak? " Tanya bunda Viona yang sudah duduk diikuti Rivan yang malah tiduran dengan berbantalkan paha bunda Viona. Rasanya nyaman!


" Nggak ada bun! " Lirih Rivan.


" Jangan coba membohongi bunda, kak! Pasti ada hubungannya dengan perjodohan itu kan? " Ujar bunda Viona seraya mengelus pelan kepala sang anak. Rivan hanya diam. Tidak mengiyakan juga tidak menyangkal. Dan sepertinya bunda Viona sudah tahu jawabannya tanpa perlu Rivan katakan.


" Maafkan ayah dan bunda ya kak. Karena perjodohan konyol itu, kakak jadi uring uringan kayak gini. Sejujurnya bunda juga menyesal karena menyetujui perjodohan itu begitu saja. Bahkan kami spontan mengucapkannya saat kakak berusia 2 tahun dan Syakilah yang baru saja berumur 7 hari. Kami pikir, dengan perjodohan itu bisa membuat tali persaudaraan antara kami semakin erat. Kami tidak memikirkan perasaanmu dan juga Syakilah. Bunda minta maaf ya kak " Bunda Viona menatap putranya dengan intens. Matanya sudah berkaca kaca. Ia sungguh merasa bersalah. Rivan bangkit seraya memeluk bundanya dari samping.


" Bunda dan ayah nggak salah! Mungkin ini cara Tuhan mempertemukan jodoh kakak bun. Insyaallah kakak ikhlas menerimanya. Bunda nggak perlu minta maaf "


" Kakak terima perjodohannya? Bukannya kakak minta waktu seminggu sama ayah. Katanya mau ngenalin wanita yang kakak cintai? " Tanya bunda Viona heran. Rivan melepas pelukannya dan beralih menatap sang bunda.


" Kakak sudah putuskan untuk menerima perjodohan ini bun. Beberapa hari yang lalu kakak bertemu dengannya. Kakak mengungkapkan perasaan kakak padannya. Tapi sepertinya takdir lagi lagi tidak berpihak. Dia ternyata sudah dijodohkan oleh orangtuanya. Dan kemarin kakak melihatnya di Surabaya. Dia terlihat sangat bahagia bersama calon suaminya itu " Ujar Rivan sendu seraya menunduk. Bunda Viona menepuk pelan bahu anaknya.


" Kamu yang sabar ya kak! Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. "


" Iya bun! "


" Bunda harap kamu pikirkan lagi keputusanmu ini nak! Syakilah anak baik, jangan kamu jadikan dia sebagai pelarian " Nasihat bunda Viona


" Kakak sudah pikirkan dengan matang bun. Dan insyaallah kakak akan belajar mencintai Syakilah seiring berjalannya waktu. Doakan saja bun " Ujar Rivan lagi. Bunda Viona mengagguk.


" Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak " Jawab bunda Viona memeluk Rivan lagi.


" Yasudah, kamu istirahat sana! "


" Iya bun, kakak kekamar dulu " Bunda Viona mengagguk dan membiarkan Rivan kembalu kekamarnya.


...****...


" Kak! " Sapa Kalista saat berpapasan dengan kakaknya ditangga. Rivan menoleh.


" Iya?! "


" Syukurlah kakak sudah kembali. Lista kira kakak lembur hari ini " Ujar Kalista girang.


" Memangnya kenapa? " Tanya Rivan mengerutkan dahinya.


" Bantuin aku ngerjain tugas dong kak! Sore ini sudah harus dikumpul ke rumah Mr. Lee " Ujae Kalista memohon.


" Tapi.. "


" Ayolah kak, bantuin!! " Rengek Kalista. Sejujurnya Rivan sangat ingin beristirahat. Tapi ia juga tidak tega melihat adiknya memohon seperti ini.


" Baiklah, tunggu kakak diruang keluarga! Kita kerjakan disana, kakak ganti baju bentar "


" Yeayy!! Makasih kakakku yang paling gantengg.. " Teriak Kalista girang. Kemudian ia berlari keruang keluarga dilantai bawah membuat Rivan geleng geleng kepala.


To be continued!!!