The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pertengkaran



Beberapa Hari Kemudian....


Seorang gadis muda tampak berkutat dengan laptopnya sambil sesekali mengecek sebuah berkas.


Ceklek..


" Siang bu presdir " Seorang pria tiba tiba masuk seraya membawa sebuket bunga mawar merah, kesukaannya. Wanita muda itu sontak menoleh dan tersenyum lebar.


" Mas Rivan! " Ujarnya girang.


" Bunga spesial untuk seorang wanita yang sangat spesial " Ujar Rivan seraya menyerahkan buket bunga itu pada wanita pujaannya.


" Sudah pandai menggombal sekarang?! " Syafa mengambil buket bunga itu seraya tersenyum manis.


" Iya dong! Calon suami siapa dulu? " Rayu Rivan seraya duduk didepan meja kerja Syafa.


" Makasih ya mas " Ujar Syafa kemudian. Ia melirik sekilas jam dinding yang tertempel di salah satu dinding ruangannya.


" Bukannya janjinya masih 30 menit lagi ya? " Tanya Syafa kemudian.


" Iya sengaja! Kalau jam istirahat biasanya jalanan macet parah " Jawab Rivan. Ia mengajak Syafa makan siang bersama siang ini. Tapi usai sholat dhuhur dia langsung meluncur ke perusahaan Syafa.


" Tapi aku masih ada kerjaan loh mas " Ujar Syafa seraya menunjuk tumpukan berkas yang mengantri di atas meja kerja.


" Aku tunggu " Jawab Rivan santai.


" Yakin nih? " Tanya Syafa lagi.


" Iya! "


" Hemm.. oke! Baiklah tunggu sebentar ya mas "


" Iya Syafa. Santai aja! "


Syafa kembali fokus pada laptop dan berkas berkasnya. Sementara Rivan memainkan ponselnya.


...****...


Ceklek..


" Syafa kamu ada waktu siang ini? " Tanya Marsel yang tiba tiba masuk kedalam ruangan Syafa tanpa melihat ada siapa didalam.


" Hemm.. memangnya kenapa a'? " Tanya Syafa balik.


" Hari ini papa keluar kota, sementara tuan Jamesh ingin pertemuannya dipercepat hari ini. Jadi kalau ada waktu Aa' minta tolong kamu yang wakili papa " Ujar Marsel seraya duduk disamping Rivan. Sesaat ia menoleh kearah Rivan yang tersenyum kearahnya.


" Adik ipar, kamu disini? " Tanyanya kemudian.


" Iya a', mau lunch sama adik Aa' yang cantik ini. Bolehkan a'? " Tanya Rivan balik.


" Boleh! Tapi tetap jaga batasan. Walau bagaimanapun hubungan kalian belum halal " Balas Marsel dengan tegas.


" Siap a' " Tatapan Marsel kini kembali kepada sang adik yang masih terlihat sibuk.


" Bagaimana? Kamu bisa Fa? " Tanya Marsel kepada adiknya.


" Syafa sibuk a', kenapa nggak Aa' saja yang wakili papa? " Jawab Syafa tanpa mengalihkan pandangannya.


" Aa' juga sudah telanjur ada janji dengan klien lain Fa! "


" Syafa usahakan! Tapi nggak janji " Jawab Syafa.


" Makasih Fa. Pokoknya harus diusahakan! Nanti Aa' minta paman Ed datang kesini membawa proposal yang akan dibahas " Ujar Marsel. Syafa mengagguk.


" Baiklah Aa' pamit dulu. Mau jemput teh Aca juga! " Marsel beranjak dari duduknya.


" Hati hati dijalan a' " Ujar Rivan.


" Iya, Assalamualaikum! "


" Waalaikumsalam "


30 menit berlalu, Syafa merapikan kembali berkas berkas diatas mejanya. Ia juga sedikit merapikan penampilannya.


" Mau makan siang dimana? " Tanya Rivan saat keduanya sudah berada didalam mobil.


" Aku ngikut mas Rivan aja " Jawab Syafa.


" Baiklah, kalau begitu aku ajak kamu ke restoran favorit aku aja. Gimana? "


" Boleh "


Rivan melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan Ferdian Jewelry setelah mendapat persetujuan dari calon istrinya.


...****...


Rivan memarkirkan mobilnya diparkiran yang tersedia. Setelah itu ia turun dan membukakan pintu mobil untuk Syafa.


" Makin romantis ini mamas ganteng! " Puji Syafa seraya turun. Sementara Rivan hanya tersenyum menanggapi komentar dari Syafa. Mereka berjalan berdampingan memasuki Restoran. Tidak ada acara gandengan tangan atau kontak fisik lainnya. Itu dilarang keras oleh kedua keluarga mereka sebelum mereka resmi menikah.


" Duduk disana? " Tawar Rivan menunjuk meja paling pojok yang berdekatan dengan jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota yang indah. Syafa mengagguk.


" Selamat datang di Galaxy Restaurant! Silahkan dipilih menu yang disukai tuan, nona! " Seorang pelayan menyapa mereka dengan ramah seraya membawa daftar menu di restoran itu. Rivan dan Syafa segera memilih menu makanan yang akan di pesan. Tak lama pesanan keduanya datang. Mereka menyantap makanan seraya bercerita dan bernostalgia pertemuan mereka saat masa masa kuliah dan masih sama sama bergabung di organisasi BEM dikampus masing masing.


" Syakilah.. " Seorang pria muda berjas maroon tiba tiba menyapa Syafa. Tanpa permisi menarik kursi disamping Syafa dan duduk begitu saja. Sontak Syafa dan Rivan menoleh kearahnya.


" Reyhan? "


" Boleh gabung? " Tanya Reyhan tanpa peduli kedua insan itu terkejut melihat keberadaannya disana.


" Hemm.. boleh! " Jawab Rivan.


" Baguslah, mbak menunya dong! " Ujarnya seraya memanggil pelayan.


" Oiya, jadi ini alasan kamu nggak mau terima aku dari dulu Kil? Kenapa? Karena dia lebih kaya dari aku? Atau dia jauh lebih romantis dan sentuhannya lebih hot dari aku? " Tanya Reyhan menunjuk Rivan. Ia lantas tersenyum penuh arti pada Syafa.


" Mas, aku udah kenyang! " Ujar Syafa. Ia meletakkan sendok yang dipegangnya begitu saja. Ia begitu kesal dengan Reyhan yang berbicara seenaknya saja.


" Kita mau langsung pulang? " Tanya Rivan. Syafa mengagguk. Padahal makanan mereka masih ada separuhnya. Tapi rasanya sudah tidak berselera lagi.


" Maaf tuan, ini pesanannya! Selamat menikmati " Ujar seorang pelayan yang membawakan makanan pesanan Reyhan.


" Mbak, tolong sekalian bill kami ya! " Ujar Rivan.


" Tunggu sebentar tuan! " Pelayan itu bergegas ke kasir dan tak lama kembali muncul dengan membawa selembar kertas.


" Total pesanan yang pertama 250 ribu rupiah tuan ditambah pesanan yang kedua 125 ribu rupiah jadi totalnya 375 ribu rupiah " Jelas pelayan itu seraya menyerahkan kertas yang tadi dibawanya.


" Sama pesanan yang baru kan? " Tanya Rivan lagi menunjuk Reyhan yang sedang makan tanpa peduli dengan sekitar.


" Iya tuan! " Rivan mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sebanyak lima lembar dan menyerahkannya kepada pelayan itu.


" Sisanya untukmu saja " Ujar Rivan lagi.


" Terima kasih tuan, saya permisi! "


" Ayo mas! Kita juga pergi. " Syafa beranjak dari tempatnya disusul oleh Rivan.


" Ngapain marah kalau itu emang kenyataannya! Ternyata cewek sok alim kayak kamu itu memang munafik Syakilah " Teriak Reyhan ketika keduanya hampir keluar restoran. Sontak saja perkataannya menyita perhatian pengunjung restoran yang lain.


" Sampah! Munafik " Umpatnya lagi. Rivan yang tak tahan mendengar celotehan pria itu kembali mendekatinya.


Bughh..


Satu bogeman mentah dilayangkan pada wajah tampan itu. Reyhan sampai tersungkur karenanya.


" Mas Rivan! " Pekik Syafa berlari kearah Rivan.


" Beraninya kamu menghina calon istriku. Bukan dia yang munafik, tapi kamu! Mau tau apa alasannya selalu menolakmu? Alasannya hanya satu, kamu pria yang pemaksa dan suka menyentuh sembarangan lawan jenis. Jangan coba coba melimpahkan kesalahanmu pada Syafa. Karena wanita baik baik seperti Syafa tidak pantas berdampingan dengan pria brengsek sepertimu! Camkan itu " Ujar Rivan menarik kerah kemeja yang digunakan Reyhan.


" Kalian berdua yang sok suci! Munafik " Teriak Reyhan seraya mencoba melepas cengkaman Rivan


Bughh...


Perkelahian tak dapat terelakkan. Keduanya sama sama tak mau kalah.


" Mas! Hentikan, nggak enak diliat orang " Ujar Syafa mencoba menarik Rivan.


" Dia yang memulai Syafa! Aku tidak masalah dia menghinaku, tapi tidak jika menyangkut dirimu " Ujar Rivan kembali membalas pukulan Reyhan.


" Mas, aku mohon hentikan hiks..hiks.. " Syafa mulai menangis.


" Hentikan! Ada apa ini? " Seorang manager Galaxy Restaurant datang dan melerai mereka.


" Pak, dia berbuat onar! Pria itu mengganggu kami " Ujar Syafa seraya menunjuk Reyhan.


" Mereka yang salah " Sarkas Reyhan.


" Semua hanya salah paham, tolong jangan diperpanjang! Ini kartu namaku, kirim saja berapa kerugian yang sudah kami perbuat. Akan segera ku transfer " Ujar Rivan.


" Syafa kita pergi " Syafa hanya mengikuti langkah Rivan.


" Ini belum seberapa, jika kamu berani berkata seperti itu lagi terutama kepada Syafa aku akan benar benar membunuhmu! " Bisik Rivan saat melewati Reyhan. Reyhan tersenyum sinis.


" Lihat saja! Akan ku buat kau dan Syakilah berpisah. Aku tak akan membiarkan kalian berbahagia "


To be continued!!!