The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Weekend



Cukup lama mereka berbincang, hingga akhirnya mama Lesty dan Aleta harus berpamitan karena Aleta harus ke kampus.


" Jaga diri baik baik ya sayang. Jangan buat mertuamu merasa tak nyaman dengan keberadaanmu. Mama tunggu kalian minggu depan " Mama Lesty memeluk Syafa. Syafa mengangguk.


" Mama titip putri mama ini padamu Rivan. Vi, tolong anggap putriku seperti putrimu sendiri. Kalau dia salah tolong tegur. " Sambung mama Lesty membuat Syafa semakin mengeratkan pelukannya pada sang mama.


" Kamu tenang saja Les, Syafa menantuku yang baik. Dan aku sudah menganggapnya putriku sejak dulu " Ujar bunda Viona. mama Lesty mengangguk membenarkan ucapan bunda Viona.


" Mama pamit ya.. " Mama Lesty mengajak Aleta beranjak dari duduknya.


" Kak, Leta pamit ya " Aleta menyalimi kakak dan kakak ipar serta mertua kakaknya itu.


" Hati hati ma "


...****...


Diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda. Seorang lelaki dan seorang wanita tampak duduk berdua seraya menyantap makanan yang tersedia di meja makan.


" Aku berubah pikiran bang, aku ingin Rivan menjadi milikku. Jangan hancurkan dia " Ujarnya seraya memasukkan sepotong steak ke dalam mulutnya.


" Kau yakin Liona? Masih banyak pria yang lebih tampan darinya " Ejek pria itu.


" Masih banyak juga wanita yang lebih cantik dari Syakilah. Tapi kau terus saja mengejarnya " Ejek Liona balik membuat si pria menjadi kesal sendiri.


" Dia itu berbeda Lio "


" Rivan juga berbeda bang, ia bahkan tak tergoda meski aku sudah bersusah payah merayunya " Ujar Liona tak mau kalah.


" Baiklah, terserah kau saja! Yang jelas pria sialan itu dan Syakilah harus berpisah. Setelah itu terserah dirimu " Putusnya kemudian.


" Oke, deal. Lalu bagaimana dengan Celine sialan itu bang? Bang Rey begitu bersikeras menjadikan dia bagian dari rencana kita " Protes Liona lagi membuat Reyhan menghelah napasnya.


" Dia berguna Lio! Dia bisa kita jadikan mata mata dan juga alat untuk mendapatkan apa yang kita mau. Kau mengerti? "


" Bagaimana caranya? " Tanya Liona.


" Aku yakin kamu tidak sebodoh itu sehingga tidak mengerti perkataanku Liona. Sudahlah aku mau istirahat dulu, suruh bibi bereskan jika kau sudah selesai " Reyhan meneguk segelas air putih kemudian beranjak dari duduknya.


" Hemm.. "


" Awas saja kalau Celine berani menjadi benalu! "


...****...


" Akhirnya, sebentar lagi balas dendamku akan terwujud dan Rivan akan berada dipelukanku " Teriak Celine seraya melemparkan tasnya diatas sofa apartemennya. Kemudian menjatuhkan dirinya diatas sofa.


" Kau akan menangis darah setelah ini Syafa! Tunggu kehancuranmu hahaha.. "


" Miss, ini minumannya " Seorang art datang dan membawa segelas jus mangga untuk Celine.


" Hemm.. " Celine mengambil jus itu dan meminumnya perlahan.


" Miss tadi ada paket dari Rivprant Company. Kurirnya bilang untuk miss Celine " Jelas sang art.


" Mana paketnya? Bawa kemari "


" Baik miss " Art itu segera berlalu. Tak berselang lama ia membawa sebuah paket yang dikatakannya tadi. Celine menerima paket itu dan segera membukanya. Ternyata didalamnya ada beberapa berkas berisi peraturan yang harus ia patuhi diperusahaan. Juga denah perusahaan dan tanda pengenalnya sebagai karyawan.


" Hanya ini ternyata! "


...****...


Hari hari yang dilewati Syafa dan Rivan terasa begitu menyenangkan. Terlebih Syafa yang diperlakukan seperti putri sendiri oleh bunda Viona dan ayah Andra. Juga seperti adik sendiri oleh para kakak iparnya. Hari ini Vivto, Axel, Biman dan para istri mereka sudah pulang kerumah masing masing. Jadilah weekend kali ini hanya ada ayah Andra, bunda Viona, Rivan, Syafa dan Kalista dirumah. Mereka menggelar tikar di halaman belakang rumah dan duduk bersama layaknya piknik.


" Rasanya waktu begitu cepat berlalu, besok kalian sudah meninggalkan rumah ini. Bunda pasti kesepian lagi " Keluh bunda Viona menatap Syafa dengan tatapan sendu. Membuat Syafa merasa tak enak hati. Namun bagaimanapun ia juga harus menepati janjinya pada mama Lesty. Karena sudah dipastikan mama Lesty juga menanti nanti hari esok.


" Maaf bun " Jawab Syafa seraya menunduk.


" Sudahlah bunda, sudah seharusnya Syafa dan Rivan berlaku adil untuk kita juga besan kita. Karena bagaimanapun sekarang mereka juga orangtuanya Rivan " Ujar ayah Andra seraya merangkul pundak sang istri.


" Ayah benar bun, lagipula Rivan bisa sesekali mengajak Syafa berkunjung dan menginap disini kan? Bunda jangan khawatir ya " Sambung Rivan. Bunda Viona akhirnya mengangguk. Ia juga sadar, sang sahabat juga butuh waktu bersama anak dan menantunya ini.


" Maaf, bunda hanya terbawa suasana " Ujar bunda Viona tersenyum lebar membuat Rivan menghelah napas lega.


" Kelihatannya enak " Puji Syafa membuat Kalista tersenyum lebar.


" Kak Syafa bisa aja. Cobain dulu deh kak, takutnya nggak seenak kue buatan kak Syafa " Kalista menyodorkan sepotong kue untuk Syafa.


" Memangnya kenapa kalau rasanya nggak sama? Kan setiap orang punya ciri khas masing masing. Begitu pula masakannya. Jadi kita harus percaya diri " Syafa menjelaskan seraya mengambil kue yang disodorkan Kalista untuknya.


" Ayah, bunda dan kakak juga harus cicipi " Kalista juga menyodorkan kue pada ayah Andra, bunda Viona dan Rivan.


" Ehmm.. enak! " Ujar Syafa. Kue nastar keju buatan Kalista yang diajarkan olehnya terasa begitu lembut dan pas dilidah.


" Benarkah? Kakak nggak bohong kan? " Tanya Kalista sedikit tak percaya.


" Coba kamu cicipi deh " Syafa menyuapi Kalista.


" Anak bunda sekarang pintar masak ya " Bunda Viona tersenyum bangga pada sang putri.


" Iya dong bun, kan bentar lagi mau nikah " Celetuk Rivan membuat sang adik yang semula tersenyum senang jadi cemberut.


" Nanti mikirin nikah, selesaikan dulu kuliah. Kalau sudah sukses baru ayah izinkan nikah " Sahut sang ayah.


" Iya ayah! Lagian siapa juga yang mau nikah. Orang calonnya aja belum punya " Gerutu Kalista membuat Syafa dan bunda Viona yang melihat perdebatan itu hanya terkekeh pelan. Mereka terus menggoda Kalista yang baru mau mulai belajar memasak semenjak Syafa tinggal dikediaman Pranata.


Hingga saat matahari mulai meninggi kedua pasangan suami istri beserta Kalista memutuskan untuk kedalam rumah.


" Ayo ambil wudhu, siap siap sholat Zhuhur berjamaah. Baru setelah sholat kita makan siang bersama " Titah ayah Andra. Mereka semua mengagguk dan mulai masuk ke kamar masing masing untuk membersihkan diri.


" Mas, apa kita menginap lagi disini seminggu kedepan? aku nggak enak sama bunda " Ujar Syafa membuat Rivan yang hendak masuk kedalam kamar mandi menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan kembali berbalik kearah sang istri.


" Bunda hanya sedikit sedih sayang, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula ayah sudah memberi pengertian pada bunda. Kita juga sudah sepakat untuk menginap di rumah papa dan mama minggu depan. Mas nggak mau buat mereka kecewa hanya karena kita mengedepankan perasaan salah satu dari mereka. Kita sebagai anak juga harus berlaku adil kepada orangtua juga mertua. " penjelasan dari Rivan membuat Syafa sedikit lega. Jujur, ia juga tak tega jika harus mengecewakan orangtuanya. Tapi melihat bunda Viona bersedih tadi juga membuatnya merasa tak enak hati.


Cup..


Tanpa aba aba Rivan mengecup pipi Syafa singkat saat melihat sang istri justru melamun.


" Mas... " Rengek Syafa membuat Rivan terkekeh lalu menarik sang istri kedalam dekapannya.


" Bunda akan mengerti sayang! Jangan terlalu dipikirkan hemm.. "


" Iya mas, aku beruntung sekali memiliki seorang suami yang begitu pengertian " Puji Syafa membuat Rivan tersenyum. Ia lantas mencubit hidung Syafa yang tak terlalu mancung itu.


" Mas lebih beruntung memiliki istri yang nyaris sempurna seperti dirimu sayang " Balas Rivan membuat pipi Syafa bersemu merah.


" Btw, sekarang istri mas ini sudah pandai sekali menggombal. Belajar dari siapa sih? "


" Dari pakarnya mas. Namanya Rivando Pranata, anak dari ayah Andra Pranata dan CEO Rivprant Company " Jawab Syafa.


" Oiya? Lalu apakah Rivando itu punya seorang istri? " Tanya Rivan menggoda sang istri tentu dibalas senyum manis oleh Syafa yang masih diperlukannya.


" Iya, dia punya seorang istri yang sangat cantik "


" Tapi tidak secantik bidadari didepan mas ini kan? "


" No, mereka itu sama sama cantik " Ujar Syafa dengan gaya centilnya. Rivan merasa sangat gemas pada istrinya ini. Ia lantas menatap Syafa dengan intens, bahkan tanpa sadar wajah keduanya sudah semakin dekat. Hingga...


Tok.. tok.. tok..


" Kak Rivan, kak Syafa! Cepat keluar, ayah dan bunda sudah menunggu di mushola. Sebentar lagi juga adzan Zhuhur " Teriak Kalista dibalik pintu kamar mereka membuat mereka tersadar.


" Ehmm.. iya " Sahut Rivan gelalapan. Kalista hanya geleng geleng kepala seraya pergi dari depan kamar Rivan.


" Mas, buruan wudhu! ayah dan bunda sudah menunggu " Ujar Syafa saat Rivan kembali memeluknya erat.


" Sebentar saja sayang "


" Nggak enak sama ayah bunda mas. Tuh, udah adzan juga! Nggak baik nunda² sholat "


" Iya iya istriku sayang " Rivan akhirnya melepas pelukannya dan melangkah kekamar mandi untuk mengambil wudhu. Sementara Syafa menyiapkan peralatan sholat mereka dan juga segera mengambil wudhu setelah Rivan selesai.


To be continued!!