
" Bang Ciko, adiknya jangan diajak lari lari! Nanti jatuh " Teriak seorang wanita yang sedang duduk di disofa. Ciko yang asyik bermain kejar kejaran dengan kedua adiknya sontak berhenti. Ia menatap auntynya seraya mengacungkan jempol.
" Siap aunty "
Ting..
Suara notifikasi handphone yang tergeletak diatas meja membuat sang empu mengalihkan fokusnya. Ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang mengirim chat padanya.
08**********
Suamimu itu sangat pandai bersilat lidah. Dia sebenarnya kekantor bukan untuk bekerja tapi menemui selingkuhannya.
Deg..
Sebuah chat yang masuk via aplikasi hijau miliknya membuat detak jantungnya seolah berhenti berdetak. Dengan tangan gemetar ia tekan unduh pada foto yang juga disertai oleh sang pengirim.
" Mas Rivan!! " Lirihnya. Ia bahkan menutup mulutnya dengan tangan halusnya itu saking terkejutnya. Dunianya seolah berhenti saat ia unduh foto itu, dan ternyata benar yang ada didalam foto itu adalah suaminya.
" Aduhh.. bang Ciko, cakit hiks.. hiks.. " Syafa tersentak kaget mendengar teriakan ponakannya.
" Reyna, mana yang sakit? " Ciko berlari kearah adiknya. Syafa dengan cepat beranjak dan mendekati ketiga ponakannya itu.
" Ayo bangun sayang " Syafa mengangkat tubuh kecil Reyna kedalam pangkuannya. Sejenak ia mengesampingkan perasaannya. Lagipula isi pesan itu belum tentu benar.
" Onty cakit... hiks hiks "
" Anak manis nggak boleh nangis ya.. nanti cantiknya ilang. Memangnya adek Reyna mau cantiknya ilang hemm? " Tanya Syafa seraya mengelus pelan lutut Reyna yang sedikit lecet karena terkena lantai.
Reyna menggelengkan kepalanya membuat Syafa tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu.
" Tapi cakit onty hiks.. hiks.. " Reyna menangis tersedu-sedu walaupun hanya terdapat lecet dikakinya.
" Coba aunty lihat? "
" Cuma lecet sedikit adek Reyna sayang! Nanti nggak sembuh² kalau adeknya nangis terus. Ayo, jadi anak perempuan harus kuat. Nggak boleh cengeng. " Syafa menggendong Reyna.
" Bang Ciko sama kak Ira tolong beresin dulu mainannya ya.. Aunty liat lukanya adek Reyna dulu "
" Iya onty " Sahut Bahira sementara Ciko hanya mengangguk. Syafa membawa Reyna duduk disofa seraya mengelus pelan lutut balita itu. Sesekali ia mengajak Reyna bershalawat agar keponakannya itu tidak lagi ingat dengan sakit dikakinya.
Dari kejauhan, Hana tersenyum melihat interaksi anak dan adik iparnya. Ia yang mendengar teriakan Reyna langsung bergegas kedepan. Tapi, Hana urung mendekat ketika melihat anaknya yang cengeng itu diam di pangkuan adik iparnya. Bahkan Syafa sangat mudah menenangkan Reyna.
" Masih sakit? " Reyna menggelengkan kepalanya. Syafa tersenyum seraya mengelus pelan rambut Reyna. " Adek Reyna anak pintar, anak sholehah yang bisa banggain mami sama papi ya sayang " Gumam Syafa.
" Aunty, sudah " Lapor Ciko pada Syafa.
" Baiklah, kalau sudah sekarang saatnya istirahat! Ayo cuci tangan, cuci kakinya habis itu kita makan puding yang dibuat omah tadi "
" Siap aunty " Dengan semangat empat lima kedua anak itu berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki mereka.
" Mbak, tolong dipantau ya " Ujar Syafa pada baby sitter keduanya yang baru saja pulang dari pasar.
" Baik nona "
" Mau puding juga onty " Rengek Reyna.
" Adek Reyna mau puding juga? Yaudah, ayo aunty gendong " Saat hendak mengangkat tubuh mungil Reyna, Hana tiba tiba muncul.
" Eh, ada apa ini? Kenapa adek manja sama aunty? " Tanya Hana pura pura tidak tahu.
" Tati Leyna cakit mami.. tadi jatuh " Aduh Reyna pada sang mami.
" Aduh², kasihannya anak mami ini. Sini biar mami aja yang gendong. Kasihan auntynya, Reyna berat soalnya " Hana mengangkat sang putri.
" Maaf ya kak, Syafa lalai menjaga mereka. Bahkan Reyna sampai jatuh " Syafa menunduk. Hana menyentuh bahu Syafa dengan sebelah tangannya.
" Nggak papa dek, mereka ini anak² yang aktif. Jadi perihal jatuh seperti tadi adalah hal yang wajar. Tidak perlu merasa bersalah hem.. "
" Onty ayo! Bang Ciko sama Ila sudah cuci kaki, cuci tangan " Bahira menarik ujung jilbab yang dikenakan Syafa.
" Iya Ira, ayo! Aunty Hana juga mau puding " Hana merangkul adik iparnya yang masih memasang wajah masam.
" Sudah tak perlu dipikirkan " Syafa tersenyum pada Hana. Sebenarnya bukan itu saja, ada hal yang lebih mengganggu pikirannya. Ia mengandeng tangan mungil Ciko dan Bahira dan beriringan berjalan ke dapur.
...****...
Disisi lain, Rivan yang terkejut karena Liona tersandung refleks menahan lengan wanita itu. Liona tersenyum miring. Ia tak akan menyia nyiakan kesempatan. Tangannya mulai terulur ingin menyentuh pipi Rivan. Namun, dengan cepat Rivan menghindar. Ia bahkan mendorong wanita itu hingga terduduk ke lantai.
" Maaf! " Hanya itu yang Rivan ucapkan dan setelah itu ia langsung bergegas keluar ruang meeting diiringi oleh asistennya. Sementara Liona tampak menghentakkan kaki kesal. Bagaimana tidak kesal, dirinya yang biasanya dipuja puja oleh kaum adam diacuhkan begitu saja oleh Rivan.
" Kau benar! Pria ini cukup menarik "
...****...
Rivan segera pulang kerumah setelah semua urusannya selesai.
Ceklek..
" Udah pulang Van? " Ternyata yang membuka pintu adalah Axel, Kakak keduanya.
" Iya mas, kenapa sepi? " Rivan mengikuti langkah kakaknya dan duduk disofa ruang tamu.
" Ayah dan bunda sedang menghadiri pernikahan rekan bisnis ayah. Sementara yang lain sedang makan di ruang makan. Kamu juga makanlah dulu.. " Axel menepuk pelan bahu Rivan yang terlihat sedikit lelah.
" Mas nggak makan? "
" Baru saja selesai "
" Tapi, mas nggak lihat Syafa dimeja makan tadi. Nabila bilang Syafa sedang tidur dikamar jadi nggak dibangunkan "
" Syafa tidur? "
" Hemm.. kalian ada masalah? Kata kak Hana, tadi Syafa terlihat sedikit murung saat menemani anak anak bermain " Axel menatap sang adik. Rivan yang hendak beranjak dari duduknya tak jadi berdiri. Ia juga bingung harus menjawab apa karena tadi saat dirinya akan berangkat, Syafa terlihat ceria.
" Setiap rumah tangga pasti punya masalah Van. Tapi semuanya bisa dilewati asalkan kalian saling terbuka, saling percaya, dan satu kunci utamanya yaitu komunikasi. Percayalah pada istrimu dan berusahalah untuk tidak terpengaruh dengan lingkungan. Istirahatlah, setelah itu bicaralah pada istrimu.. jangan sama² memendam rasa yang akhirnya akan menyakiti kalian berdua " Sekali lagi Axel menepuk pelan bahu sang adik kemudian beranjak dari duduknya. Meninggalkan Rivan yang masih bergelut dengan pikirannya. Apa kiranya yang membuat Syafa menjadi murung?
Dengan langkah gontai, Rivan melangkah menuju kamarnya dilantai 2. Ternyata, Syafa lupa mengunci pintu kamarnya. Suatu kebiasaan buruk Syafa saat masih gadis. Dilihatnya wajah cantik sang istri yang masih setia di alam mimpinya.
" Zaujatii.. apa yang membuatmu bersedih hari ini hemm? " Lirih Rivan seraya mengelus pelan rambut sang istri. Syafa merasa terusik, ia lantas terbangun dari tidurnya.
" Mas, sudah pulang? " Tanya Syafa dengan suara seraknya. Rivan menganggukkan kepalanya.
" Kamu semakin cantik saat baru bangun tidur gini, sayang " Puji Rivan membuat Syafa tersipu malu. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami. Terasa sangat nyaman, namun Syafa mencium bau aroma parfum wanita di jas sang suami. Bukan aroma parfum bunda Viona, Hana, Nabila, Shalsa ataupun Kalista. Lebih terkejut lagi, saat Syafa tanpa sengaja melihat ada bekas lipstik di jas Rivan.
" Astaghfirullah ya Allah.. jauhkan aku dari prasangkah buruk "
" Mas.. " Panggil Syafa mendongakkan kepalanya.
" Iya sayang? "
" Mas sudah ketemu kliennya? "
" Sudah "
" Laki laki atau perempuan? " Tanya Syafa membuat Rivan teringat kejadian beberapa jam lalu. Ia merasa bersalah pada Syafa karena sudah menyentuh lawan jenis.
" ... "
" Mas.. " Panggil Syafa. Ia menarik ujung jas Rivan membuat Rivan tersadar dari lamunannya.
" I..iya sayang "
" Klien mas Rivan laki laki apa perempuan? " Tanya Syafa sekali lagi.
" Perempuan " Jawab Rivan spontan.
Deg..
" Mas bilang mau ketemu tuan Lawyer. Tapi kenapa jadi perempuan? " Rivan mencium aroma cemburu dari sikap istrinya. Ia hanya tersenyum.
" Mas lapar sekali sayang! Bisa tolong siapkan mas makan dulu.. " Ujar Rivan membuat Syafa sedikit kesal. Tapi ia tetap beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil jilbab yang di gantungnya di tempat penggantung baju di balik pintu kamar. Kemudian keluar dari kamar.
" Syafa, makan dek " Tawar Nabila yang masih ada dimeja makan. Ia dibantu oleh art masih membereskan sisa sisa makanan di meja makan.
" Iya mbak, Syafa juga mau siapin buat mas Rivan. Maaf ya mbak, tadi Syafa ketiduran jadi nggak ikut makan sama² tadi "
" Nggak papa dek, pengantin baru memang biasanya paling suka dikamar. Mbak juga pernah melewati masa itu kok. Semua orang juga maklum " Goda Nabila membuat Syafa menunduk malu.
" Yasudah mbak kekamar dulu ya "
" Iya mbak "
To Be Continued!!!!