
Suasana yang tadinya mencekam sekarang sudah berganti menjadi suasana kikuk diantara lelaki dan perempuan disana sepeninggal preman-preman itu. Untuk memecah suasana tak nyaman itu, Ikhsan berinisiatif untuk memulai perbincangan dengan gadis asing itu. Dari seragamnya, nampaknya gadis itu adalah mahasiswi kebidanan atau keperawatan. Lengkap dengan tanda pengenal atas nama RA Safira M, logo dan sepatu pantofel hitamnya.
"Hey perempuan, masih betah disini? Kalo aku sih ogah, aku mau jalan duluan yakz!" Ujar Ikhsan.
Si gadis mulai beringsut dari tempatnya di sekap preman tadi. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya bergetar dan langkahnya terlihat lemah tak berdaya. Mungkin dia trauma dan shock atas kejadian yang menimpanya.
"Terima kasih, bang! Kalo saja tidak Abang menyelamatkan aku, aku gak tau gimana nasib aku... Hiks hiks hiks..." Tangisan si gadis itu pecah, dengan kedua tangannya menutupi wajah pucatnya. Bahunya bergetar. Ikhsan dibuat salah tingkah dengan situasi ini. Tak mau berlama-lama, Ikhsan segera menggandeng tangan sang gadis dengan lembut. Agar mereka segera bisa keluar dari tempat itu.
Namun, ini pertama kalinya Ikhsan memegang tangan seorang gadis. Rasanya, nyetrum bosss!!! Ada sengatan listrik yang terasa di sekujur tubuh Ikhsan. Apa mungkin, gadis itu adalah manusia supranatural yang memiliki kekuatan listrik dalam tubuhnya? Ikhsan hanya menggelengkan kepalanya perlahan sambil berucap istighfar dalam hatinya, Astaghfirullah ya Allah, maafkan aku telah menyentuh tangan gadis ini. Tangan yang belum boleh aku sentuh karena bukan tangan halal yang harus aku sentuh. Aku hanya ingin segera menuntaskan masalah ini. Aku hanya ingin segera pulang kerumah! Begitu batin Ikhsan berkecamuk.
Sang gadis hanya menurut mengikuti lelaki asing itu. Setibanya di jalan raya, Ikhsan menyalakan alarm motornya, terlihat motor sport berwarna hitam bertengger disana. Kemudian Ikhsan melepaskan genggaman tangan gadis itu, sang gadis kaget bagaimana cara Ikhsan memperlakukannya.
Perlahan gadis itu mengikuti instruksi dari sang empunya kendaraan roda dua itu. Dia mulai menaiki motor gede milik sang lelaki penyelamat itu, seseorang yang bernama Ikhsan Samudera.
Setengah jam berlalu, perjalanan itu terasa cepat karena menggunakan motor roda dua yang terkenal akan performanya, juga jalanan yang tidak terlalu ramai dari hiruk pikuk pengguna jalan. Si gadis memeluk punggung si lelaki dengan eratnya. Ada desiran hangat mengalir diantara keduanya. Entah apa itu namanya, tapi itu mengalir begitu saja.
Mereka memasuki kompleks sebuah perumahan elite, rumah-rumah tipe cluster minimalis nan mewah berjejer rapi disana. Ikhsan menurunkan kecepatan laju kendaraannya. Si gadis pun dengan berat hati melepaskan pelukannya. 'Ada apa denganku?' Gumam gadis itu dalam hatinya.
Setelah melihat tujuannya sudah dekat, si gadis menepuk pundak si empunya kendaraan tersebut menandakan bahwa mereka sudah sampai di rumah si gadis tersebut.
Mesin kendaraan itu berhenti di depan sebuah rumah minimalis mewah bercat hijau, ada pernak-pernik TNI menghiasi rumah itu, mungkinkah sang empunya rumah itu adalah seorang prajurit TNI? Ahh, Ikhsan tak mau ambil pusing.