The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kepergok Papi



" Aaarrrgghhhh " Teriaknya ketika sudah berada ditempat yang sepi.


" Apa hakku marah sama dia? dia siapa aku? " Gumam Rivan.


°°°°°°°°°°


Pandangan Syafa tertuju pada sebuah taman kecil yang tak jauh dari gedung perusahaan itu. Syafa melihat seorang pria yang sedang duduk dibangku taman. Ia pun segera menghampirinya.


" Mas Rivan, ngapain disini sendirian? " Tanyanya dengan lembut


" Nggak papa lagi nyari angin aja " Balas Rivan datar tanpa tersenyum


" Pasti ada yang nggak beres " Batin Syafa. Ia melihat sikap Rivan yang tak seperti biasa itu.Ia mendudukan dirinya di bangku bersebelahan dengan Rivan.


" Mas aku inget dulu waktu aku punya masalah, kamu yang hibur aku, kamu yang beri semangat buat aku hingga kamupun yang kasih ide brilian kamu itu. Dan sekarang kalau kamu ada masalah, giliran aku yang balas budinya mas Rivan. Coba cerita sama aku, siapa tahu aku bisa bantu kamu " Ujar Syafa


" Gimana aku mau cerita sama kamu, kalau kamu sebenarnya sumber masalah aku. Aku juga bingung dengan diriku sendiri, aku juga nggak ngerti alasan aku marah itu apa? atas dasar apa? cemburukah? Cintakah? atau sekedar rasa kagum? " Batin Rivan memandang lekat Syafa


" Hey,, kok malah ngelamun sih " Ujar Syafa menyenggol pelan pundak Rivan


" Emm.. nggak ada kok " Ujar Rivan kali ini dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


" Beneran? " Tanya Syafa


" Iya " Balasnya singkat


" Tapi kok aku kurang yakin ya? " Ujar Syafa pada dirinya sendiri


" Yaudah nggak usah dipercaya, anggap aja angin lalu " Ujar Rivan menjawab Syafa


" Hemm.. " Syafa tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Hingga...


" Ternyata kamu disini toh, berduaan sama seorang pria ditempat yang sepi kayak gini " Ujar Seseorang yang datang entah dari mana. Syafa dan Rivan repleks berdiri dan menoleh.


" Papi " Kaget Syafa


" Ngapain kamu disini sama laki laki ini malam malam kayak gini?Cuma berduaan lagi " Marah Hendri pada Syafa. Ia sangat overprotektif pada semua keponakan perempuannya. Karena Hendri tidak mau ada keponakannya yang salah jalan, terutama perempuan. Ia tak memiliki anak perempuan sehingga membuat ia begitu menyayangi keponakan perempuannya, terlebih Syafa yang sangat akrab dengannya.


" Eh.. Kita cuma ngobrol aja kok pi " Ujar Syafa sedikit takut


" Kalau mau ngobrol kan bisa cari tempat yang ramai supaya nggak jadi fitnah. Kamu itu perempuan Syafa, ingat harga diri lebih berharga dari segalanya " Ujar Hendri sangat marah sama Ponakannya.


" Maaf pi.. hiks...hiks " Ujar Syafa mulai menangis.Ia tak menyangkah sang papi begitu marah hanya karena ia mengobrol dengan Rivan ditempat yang sedikit sepi.


Rivan yang tak tega melihat Syafa menangis pun membantu menjelaskan pada Hendri.


" Maaf om,ini bukan sepenuhnya salah Syafa. Saya juga salah, tadi Syafa melihat saya duduk sendiri disini. Ia tak sengaja melihat saya dan mengira saya sedang ada masalah. Jadi dia menghampiri saya hanya untuk sekedar menghibur saya. Sungguh tidak ada niatan kami untuk mempermalukan keluarga " Jelas Rivan


" Tapi tetap saja jika ada yang melihat kalian pasti mereka mengira kalian melakukan hal hal yang memalukan. Dan itu bisa menjadi aib untuk keluarga. Apa kau memikirkan itu Syakilah Asyafa Ferdian " Bentak Hendri


" Hiks...hiks..hiks.. Papi tolong maafin Syafa pi, Syafa akui Syafa salah. Syafa minta maaf pi. Maaf " Ujar Syafa menangis sembari bersujud dikaki Hendri


" Maafin Syafa pi..Hiks.. hiks... hiks " Ujar Syafa lagi


" Bangun Syafa " Ujar Hendri dingin


" Syafa nggak akan bangun kalau papi nggak maafin Syafa " Ujar Syafa lagi


" Syafaaa " Bentak Hendri lagi.Terlihat jelas dari raut wajah sang papi is sedang sangat marah. Nico yang sedang mencari papinya terkejut melihat sang papi berteriak. Dengan segera ia datang kesana. Alangkah terkejutnya Nico saat melihat Syafa sedang bersimpuh dihadapan Hendri dalam keadaan menangis. Dan ada Rivan juga diantara mereka.


" Papi, Syafa ada apa ini? " Tanya Nico.Mereka semua menoleh kesumber suara.


" Kak Nicc..hiks..hiks.." Pekik Syafa langsung bangkit dan memeluk Nico. Nico membalas pelukan Syafa dan mulai menenangkannya.


" Tenanglah dek " Ucap Nico


" Papi, ada apa? " Tanya Nico yang masih memeluk adik sepupunya itu


Bagaimana papi bisa terima? " Ujar Hendri


" Tenang pi, jangan mudah emosi. Kasihan Syafa. Kalau apa yang dilakukannya itu memang salah sebaiknya papi tegur dia secara halus dulu. Kalau masih nggak mempan baru papi bertindak pi. Lagipula aku yakin Syafa nggak akan ngelakuin hal yang memalukan " Ujar Nico yang mencoba memberi pengertian pada papinya.


" Papi akan kasih tahu sama papa dan mama kamu Syafa. Biar mereka saja yang bertanya langsung padamu " Ujar Hendri tegas tanpa memperdulikan ucapan Nico


" Papi, jangan pi.. Aku mohon " Mohon Syafa kembali bersimpuh dihadapan sang papi


" Syafa bangunlah " Ujar Nico mencoba menarik Syafa agar berdiri.Namun, Syafa masih kekeh pada pendiriannya. Ia tetap tak mau berdiri. Rivan pun menatap iba pada Syafa.


" Om, saya mohon jangan marahi Syafa lagi. " Mohon Rivan


" Ehh.. kamu diam dan jangan ikut campur " Ujar Hendri menunjuk Rivan


" Pi, sudahlah semua orang didalam sedang menunggu kita untuk foto keluarga bersama dan hanya kita bertiga yang belum ada disana " Ujar Nico


" Ini kali terakhir papi lihat kamu kayak tadi Syafa, jika kamu lakuin lagi lain waktu jangan salahin papi jika papi melakukan hal yang tak diinginkan " Ujar Hendri tegas


" Iya pi, maaf.. hiks.. hiks.. " Ujar Syafa


" Bangunlah Syafa " Ujar Hendri dengan nada bicara yang mulai lembut. Syafapun berdiri.


" Syafa mohon jangan kasih tahu sama papa dan mama pi " Mohon Syafa


" Iya sayang " Ujar Hendri


" Tapi janji sama papi jangan ulangi lagi,meskipun kamu nggak ngelakuin apa apa tetap saja nggak enak bila dilihat orang dan orang orang akan mengira kalian melakukan hal yang tidak tidak " Nasihat Hendri


" Iya pi,maaf " Ujar Syafa memeluk sang papi


" Kamu juga, awas saja kalau kau berani macam macam sama anak saya ini " Ancam Hendri pada Rivan


" Baik om "


" Papi masuk duluan ya, kalian juga harus segera menyusul " Ujar Hendri pada Nico dan Syafa


" Oiya Nic, kalian masuk dari pintu belakang dan Syafa cuci muka kamu dulu. Ntar Papa sama mama kamu curiga lagi " Ujar Hendri lagi kemudian beranjak pergi


" Iya pi "


" Van, Maafin papi gue ya " Ujar Nico tak enak hati pada Rivan


" Santai aja bro " Jawabnya


" Yaudah kita duluan ya " Ujar Nico lagi


" Iya " Balasnya


" Duluan ya mas Rivan, maaf banget karena aku kamu jadi kena marah papi " Ujar Syafa


" Iya Fa, nggak papa kok " Ujarnya tersenyum.


Setelah mereka berdua pergi, Rivan memesan taksi online. Ia berniat kembali pulang kerumah.


To be continued!!


Haii, para readers yang masih setia nungguin kelanjutan kisah cinta Syafa dan Rivan. Author mau ngucapin makasih banyak kepada kalian karena udah mau baca cerita author yang nggak seberapa ini. Author juga minta maaf ya kalau alurnya nggak sebagus novel novel karya para senior senior noveltoon yang udah pada bagus bagus semua.


Oiya, Author juga mau ngucapin " Mohon Maaf lahir dan batin " Marhaban ya Ramadhan buat kaum muslimin dan muslimah yang baca. Mohon maaf jika aku ada salah kata, salah ucap dalam berkomentar dan menanggapi komentar dari para readers sekalian.


Selamat Menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalani🙏🙏


Salam hormat,


Nanda Utamy