The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Gerah, butuh minum!



Safira melangkah pasti memasuki gedung mall ini lagi selepas insiden di basement, Safira berhenti sejenak, menoleh ke belakang dimana ada Ikhsan disana. Safira hendak mengatakan sesuatu yang memang harusnya dia katakan sebelumnya.


Safira : " Aku gak tau kamu siapa, yang jelas aku mau bilang makasih atas kedatangan kamu. Entah kenapa, Tuhan selalu kirim kamu disaat aku lagi dalam posisi bahaya... "


Ikhsan : " Anggaplah ini suatu kebetulan, dan aku juga gak mau terlalu ambil pusing.. "


Safira : " Entahlah, aku ngerasa kalo kita pernah ketemu sebelumnya. Euumm, mungkin kita pernah ketemu di kehidupan sebelumnya.. " Tukas Safira sambil tersenyum.


Ikhsan hanya mengangguk.


Ikhsan : " Hmm, maaf aku harus pamit. Kamu harus semangat, sepahit apapun, pasti ada hikmahnya.. Begitulah Allah menunjukkan kasih sayangNya.. "


Safira hanya mengangguk lemah. Perlahan tapi pasti, Ikhsan melangkah pergi meninggalkan nya. Ada guratan kecewa di wajah Safira. Entahlah, seperti ada ruang hampa dihatinya. Melepas kepergian lelaki penyelamat itu.


Safira memaksakan suaranya yang sudah lemah itu.


" Heii cowok, mau gue traktir minum gak? " Teriaknya ke arah Ikhsan.


Ikhsan menoleh. Menuju sumber suara.


Kemudian Ikhsan menjawab sambil berteriak pula : " Maaf, gw udah ada yang nunggu! "


Safira tertegun. Masih tak percaya atas apa yang terjadi. Safira melangkahkan kakinya pergi mengikuti lelaki itu, kemudian Ikhsan terlihat naik lift ke lantai atas dan mendatangi outlet kuliner yang berjejer disana. Dan disanalah, Safira dengan jelas melihat Ikhsan mendatangi seorang gadis muda, yang terlihat cantik dan begitu imut. Gadis muda itu menyambut kedatangan Ikhsan dengan tingkah manis nan menggemaskan nya. Ikhsan pun membalas perlakuan gadis itu dengan hangat. Mereka terlihat tertawa bersama sambil menikmati sajian yang lezat itu.


Nanar.


Hanya itulah yang kini Safira rasakan.


Merasa sendiri ditengah keramaian.


Kejadian hari ini, begitu membuat Safira terpukul.


Memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh, dan kemudian melihat langsung saat sang lelaki penyelamat itu tertawa bahagia bersama seorang gadis cantik nan imut.


Tak ada harapan.


Habis sudah.


Tak terasa, tetesan air mata di pipinya jatuh tanpa bisa ditahannya. Safira segera menyeka air mata itu, kemudian berusaha tegar saat melangkahkan kakinya menuju pintu keluar mall tersebut. Kemudian Safira menyetop taksi yang akan membawanya pulang.


Rumah.


Tak lupa Safira mengirimkan pesan singkat kepada sang mommy yang mengabari kalau saat ini Safira sudah kehilangan selera shoping dan dalam perjalanan menuju rumah.


Centang 1.


Centang 2.


Centang 2 biru. Ya, pesan sudah dibaca sang mommy, yang kemudian dibalas dengan jawaban : Oh my sweety, maafkan mommy, urusan mommy belum selesai. Mungkin mommy pulang agak sore. Baik-baik dirumah yaa honey!


Safira hanya tersenyum getir.


Kemudian mengarahkan pemandangannya menuju jendela menikmati pemandangan khas kota yang tak lepas dari kemacetan, arus lalu lintas padat dan kerumunan orang-orang.


Tepat di lampu merah, saat taksi berhenti, entah kenapa tenggorokan Safira terasa kering. Ia meminta tolong kepada sang supir untuk membukakan kaca jendela agar penjaja air minum mineral itu bisa memberikan sebotol minum dan menerima uang dari Safira.


Safira mengamati sang penjaja air minum itu yang ternyata bocah lelaki kisaran usia 15 tahunan mungkin, ada desiran iba saat melihat bocah itu. Betapa berat hidupnya, bahkan seharusnya dia menikmati masa remajanya dengan bermain dan bersemangat, tetapi karena nasib, dia harus bekerja mencari uang demi mencukupi kebutuhan.


Safira : " Berapa harganya dek? "


Bocah : " 3000 rupiah kak "


Safira mengangguk. Kemudian mengeluarkan uang senilai 50 ribu rupiah kepada sang bocah, sang bocah nampak gelagapan.


Bocah : " Uang pas aja kak, gak ada kembalian. Saya baru keluar. Belum ada uang kak! ' Tukasnya.


Safira hanya tersenyum. Kemudian menjawab :


" Ambil aja kembaliannya dek, semoga bermanfaat yaa. Makasih airnya! "


Tampak wajah sumringah bocah itu saat menerima uang biru yang jarang sekali ia dapatkan.


" Makasih kak! makasih! " Sorot matanya terlihat sangat tulus.


Sang supir taksi kembali menutup kaca jendela mobilnya, karena lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna kuning dan sebentar lagi taksi akan melaju disaat lampu sudah berwarna hijau.


Safira masih mencuri pandang ke arah si bocah penjaja air mineral itu yang matanya tak henti-hentinya memandang selembar uang biru itu sambil berkomat-kamit berucap syukur mungkin.


Ternyata, berbagi kebaikan itu indah. Dan tentunya, mendatangkan keberkahan.