The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Daddy's little girl



Dengan langkah gontai Safira menyeret kedua kakinya menuju pintu masuk rumahnya. Tangannya baru saja terangkat untuk mengetuk pintu tapi belum sampai tangan gadis itu ke permukaan pintu ukiran kayu jati tersebut, tak disangka pintu rumah sudah terbuka dengan sendirinya. Ternyata sang Daddy dengan tatapan mematikannya mampu membuat sekujur tubuh Safira menegang kembali. Kemudian muncullah sang Mommy di belakang tubuh tegap sang Daddy. Tatapan sang mommy begitu teduh. Safira tanpa ragu melewati tubuh Daddy nya dan langsung memeluk sang Mommy. Menangis sesenggukan menumpahkan semua isi hati dan perasaannya. Sang mommy membimbing Safira menuju ruang tamu dan mendudukkannya di sofa beludru yang begitu nyaman. Tanpa mengucap apapun, Safira yakin kalau Mommy dan Daddy nya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Tak lama Safira merasa agak tenang dan menarik nafas dalam-dalam untuk lebih menstabilkan keadaan hatinya. Tak lama, sang Daddy datang dari dapur membawa segelas teh hangat. Safira langsung meneguk habis minuman buatan Daddy nya tersebut. Setidaknya memang itu yang ia butuhkan. Setelah dirasa kuat untuk mengatakan kondisi yang sudah ia alami, Safira berusaha tegar menatap kedua bola mata Daddy dan Mommy nya secara bergantian. Terdengar Safira membuang nafas berat, menandakan begitu sesaknya beban yang sedang ia pendam.


"Mom, Dad, I so sorry, Harusnya Safira patuhi mom and dad, tapi Safira malah tidak dengarkan mom and dad.. hiks hiks hiks"


Tangis Safira seketika pecah dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya bergetar dan airmatanya jatuh dengan derasnya.


Mommy Safira mengelus lembut lengan anaknya yang sedang meluapkan emosi negatifnya itu. Daddy nya meraih tubuh sang putri tercinta dan memeluknya dengan erat.


"Please jangan buat Daddy merasa bersalah.." Ucapan Daddy menyentak hati Safira. Perlahan dia mulai menstabilkan kembali emosi dalam hatinya. Dan kemudian Safira menata hatinya untuk bisa mengungkapkan kejadian yang menimpanya tadi.


"Mom, Dad, Safira tadi nunggu Virzha jemput di halte, sudah 1 jam Safira stay there, but he's not come! I really confuse and then ada preman yang ganggu Safira dad... hu.. hu.. hu.. hiks hiks hiks.."


Terlihat raut wajah Mommy dan Daddy begitu kesal, No.. I mean itu adalah wajah perpaduan antara kesal, marah, penyesalan dan ketakutan.


Seketika mommy memelukku dengan eratnya. Seakan caranya ini dapat menularkan kekuatan dari diri kami. Daddy terlihat gusar, lalu berkata :


"Where's Virzha?"


aku hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu.


Kemudian aku melanjutkan perkataanku :


"But Daddy, there's someone help me.. Entah dia datang dari mana, tapi lelaki itu penyelamatku. Bahkan dia antar aku sampai rumah."


"Janganpun aku menanyakan namanya, bahkan aku juga belum mengucapkan terima kasih atas pertolongannya..." Ujarku.


Tapi ending dari kejadian ini, mommy dan Daddy ku sangat waspada mulai saat ini. Itulah mungkin yang disebut hikmah dari kejadian yang kita alami.


Sesaat setelah penuturannya, Safira kemudian pergi ke kamarnya, membersihkan diri dan menghempaskan tubuhnya di tempat tidur untuk melepaskan penat dan rasa trauma atas kejadian yang menimpanya. Tak lama berselang, terdengar ketukan pintu kamarnya, kemudian Safira mempersilahkannya masuk, ternyata itu adalah Bi Eylah yang mengantarkan makanan malamnya juga segelas susu coklat hangat sebagai pengantar tidurnya.


Setelah mengisi nutrisi dalam tubuhnya, pintu kamar yang tadinya tertutup, perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Ternyata mommy dan Daddy Safira yang giliran kini masuk ke kamar putri semata wayangnya itu. Mereka kompak mengelus dan menciumi pucuk kepala sang gadis sambil tak lupa mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga.


Dan tak lupa, doa begitu tulus terpanjatkan untuk lelaki penyelamat sang putri kesayangannya itu, semoga Tuhan membalas semua kebaikan lelaki itu, everywhere everytime... Hopeless...


Kehidupan sudah mengajari banyak hal kepada kita, salah satunya tentang karma. Karma baik dan karma buruk. Percayalah, apa yang kita tanam sebelumnya, itu yang akan kita tuai selanjutnya.


Nun jauh disana, disebuah hotel di kota XX, pergulatan tubuh pria wanita tanpa status sah itu masih berlangsung.


Seandainya hujan dapat menyampaikan kenyataan ini kepada Safira, entah bagaimana remuk redamnya hati gadis itu.


Ya, pengkhianatan selalu meninggalkan luka, luka yang tak berdarah, tapi membuat perih yang menganga lebar !


Happy reading yaa... Maaf kalo kata-katanya kurang pas, maklum aku masih amatiran...