The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Memonopoli



Usai sarapan, mereka beranjak meninggalkan hotel. Rencananya Rivan dan Syafa akan menginap di rumah ayah Andra selama satu minggu kedepan. Kemudian satu minggu berikutnya, mereka menginap dirumah papa Rizky. Setelah itu baru mereka menepati rumah mereka sendiri. Rumah yang sudah disiapkan Rivan secara diam diam dan akan menjadi surprise untuk istrinya.


Syafa dan Rivan mampir kerumah papa Rizky lebih dulu untuk mengambil pakaian Syafa.


" Papa titipkan Syafa padamu nak. Tolong perlakukan dia dengan baik. Sama seperti kami memperlakukannya. Kalau dia salah tegurlah. Kalau kamu merasa sudah tak mencintainya, kembalikan dia pada papa secara baik baik. Sama seperti saat kamu datang memintanya pada papa " Papa Rizky berucap dengan nada gemetar seraya merangkul pundak menantunya.


" Dan Syafa, ingat kamu sekarang seorang istri. Izinlah pada suamimu jika ingin melakukan apapun. Ikuti perintah suamimu selama itu masih dalam batas wajar. Patuhi suamimu layaknya kamu mematuhi papa dan mama... " Syafa berhampur kepelukan sang papa. Ia menangis sejadi jadinya. Apalagi ia mengingat kejadian disaat ia menolak perjodohan yang diatur orangtuanya. Semua kenangan melintas di kepalanya, seperti kaset rusak.


" Syasa sayang, sebesar apapun kamu sekarang. Bagi papa dan mama kamu tetap Syasa kecil kami yang lucu.. Syasa kecil yang manja.. Syasa kecil yang suka merengek minta jajan. Syasa tetap kesayangan kami. Jangan sungkan pada mama dan papa meski kamu sudah menikah nak.. kami selalu ada untukmu " Mama Lesty menyambung dan ikut memeluk erat suami dan putrinya. Sementara Rivan yang menyaksikan kejadian ini, juga menitikkan air matanya. Ia sungguh terharu dengan keharmonisan keluarga Syafa.


" Syafa sayang papa dan mama.. " Ujar Syafa membalas pelukan kedua orangtuanya. Tiga tahun terakhir ia memang lebih sering di Surabaya. Tapi kali ini rasanya sangat berat, statusnya sudah berbeda. Tentu ia tak akan bisa bebas menginap di rumah orangtuanya lagi. Ada suami yang harus ia layani dan ia patuhi.


" Rivan janji, Rivan akan jaga Syafa semampu Rivan.. pa, ma! Rivan mungkin nggak bisa bahagiain Syafa kayak papa dan mama, tapi Rivan akan berusaha membuat Syafa bahagia dan nyaman bersama Rivan. Itu janji Rivan.. " Ujar Rivan dengan nada tegasnya membuat papa Rizky menatapnya penuh kagum.


" Papa dan mama percaya padamu, nak " Papa Rizky menarik Rivan bergabung dan ikut memeluk menantunya juga. Cukup lama berpelukannya, hingga akhirnya papa Rizky kembali mengingatkan.


" Berangkatlah sekarang! Kasihan ayah Andra dan bunda Viona sudah menunggu " Ingat papa Rizky seraya menarik koper milik Syafa dan menaruhnya di bagasi mobil Rivan.


" Kami pamit pa, ma! Assalamualaikum " Rivan mencium tangan mertuanya disusul oleh Syafa. Usai berpamitan, keduanya naik kedalam mobil. Papa Rizky dan mama Lesty menatap mobil Rivan yang kian menjauh dari pandangan mereka.


" Ayo masuk ma! " Papa Rizky merangkul pundak istrinya.


" Pa, ini nggak mimpi kan? Putri kita benar benar meninggalkan kita? " Tanya mama Lesty menatap suaminya.


" Kakak sudah menikah ma, sudah kewajibannya ikut kemanapun suaminya pergi. Mama jangan sedih hemm.. kalau mama kangen kakak, kakak bisa nginep disini kan? Atau bila perlu kita yang menginap dirumah mereka. "


" Tapi kan pa.. "


" Shutt, mama nggak perlu mikir yang nggak². Sekarang kita masuk ya! Papa juga harus kekantor " Ujar papa Rizky seraya menuntun sang istri masuk kedalam rumah. Rumah itu tampak sepi karena anak dan menantu mereka yang lain sedang mengajak anak anak ke Timezone.


" Kakak sama kak Rivan udah pergi ya ma, pa? " Tiba tiba Aleta datang seraya membawa sebuah paper bag.


" Baru aja pergi, emangnya kenapa dek? " Tanya papa Rizky.


" Ada yang ketinggalan pa, ini dari mbak Za sama teh Aca! Katanya hadiah buat kakak. Eh, kakaknya udah pergi duluan " Ujar Aleta dengan wajah kecewanya.


" Nggak papa! Nantikan bisa diantar " Jawab papa Rizky lagi.


" Yasudah papa kekantor dulu ya! Adek jagain mama dirumah " Sambung papa Rizky. Aleta mengacungkan jempolnya tanda mengiyakan ucapan sang papa.


" Mas pergi dulu sayang! " Papa Rizky mengecup pelan kening sang istri yang masih tampak murung. " Kita akan mengunjungi mereka nanti sore, dan lagi mereka akan menginap disini seminggu lagi " Bisik papa Rizky ditelinga mama Lesty.


" Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam "


Setelah papa Rizky keluar dari rumah, Aleta mengajak sang mama masuk kedalam rumah.


" Mama jangan sedih, adek yakin kakak pasti bahagia sama kak Rivan " Ujar Aleta membuat mama Lesty tersenyum.


" Iya dek! Mama tau itu "


...*****...


Mobil yang dikendarai Rivan sudah memasuki gerbang utama kediaman keluarga Pranata.


" Mas.. aku gugup! "


" Nggak usah gugup, tenang aja " Rivan menggenggam tangan Syafa. Syafa akhirnya turun. Ia menggandeng tangan istrinya, sementara tangan sebelahnya menyeret koper Syafa.


Ceklek..


Baru saja Rivan hendak menekan bel, pintu rumah sudah lebih dulu terbuka.


" Selamat datang menantu bunda! Jangan sungkan ya nak, anggap saja rumah sendiri " Ujar bunda Viona yang sudah menyambut anak dan menantunya didepan pintu utama. Ia lantas memeluk menantunya itu.


" Makasih tan, eh maksudnya bunda! " Ujar Syafa setelah pelukannya terlepas.


" Ayo masuk sayang! " Bunda Viona merangkul pundak sang menantu dan menuntunnya masuk, meninggalkan Rivan yang mematung melihat bundanya seperti tidak melihat keberadaannya.


" Bun, ini sebenarnya yang anak bunda itu Syafa apa Rivan sih! " Rivan berjalan seraya memprotes kelakuan bundanya.


" Syafa! " Jawab bunda Viona tak acuh membuat Syafa yang masih dirangkulnya merasa tak enak pada suaminya.


" Bunda lupa kalau Syafa itu.. "


" Syafa itu istri kamu! Bunda tahu, itu sebabnya dia jadi anak bunda sekarang " Ujar bunda Viona membuat Rivan menghela napas.


" Huh.. iya² terserah bunda " Rivan memerintahkan pelayan membawa koper sang istri kekamarnya. Sementara ia kini duduk di kursi meja makan dan meneguk segelas air.


" Rivan, setelah ini ajak istrimu istirahat dikamar. Ingat, hanya istirahat! " Tegas bunda Viona yang juga menyuruh Syafa duduk bersebrangan dengan Rivan dan menyodorkan segelas air.


" Syafa bisa sendiri bun, jangan seperti ini " Ucap Syafa yang merasa tak enak diperlakukan seperti putri saja.


" Nggak papa sayang! Ayo minumlah " Bunda Viona memaksa Syafa meminum airnya.


" Makasih bunda " Syafa akhirnya mengambil gelas yang disodorkan bunda Viona dan meminumnya perlahan.


" Oiya, yang lain pada kemana bun? Kok sepi " Tanya Rivan. Biasanya jika sedang berkumpul pokanannya selalu saja berlarian kesana kemari. Tak hanya itu bahkan suara tawa mereka terdengar jelas di seluruh penjuru rumah. Tapi kenapa rumahnya sangat hening?


" Mereka semua sedang berkunjung kerumah baru mbakmu " Jawab bunda Viona. Shalsa dan Biman memang baru saja selesai mendirikan rumah. Itu sebabnya semua anggota keluarga berkumpul disana.


" Ayah juga ikut? "


" Ayah di kantor! Ada meeting penting katanya "


" Yasudah, ajaklah istrimu kekamar! Istirahat yang cukup. " Rivan hanya mengangguk seraya mendekati sang istri.


" Rivan sudah dari tadi ingin mengajak Syafa kekamar, tapi bunda memonopoli istriku " Sahut Rivan kesal.


" Apa, mau menyalahkan bunda? " Sarkas bundanya yang tak diindahkan Rivan.


" Kita istirahat dikamar sayang! " Bisik Rivan pada Syafa membuat Syafa tersenyum malu.


" Hanya istirahat kak! " Tegas bunda lagi dengan mata yang melotot tajam kearah Rivan.


" Iya bunda! " Rivan menyahut seraya membawa sang istri ke kamar miliknya.


To be continued!!!