
Setelah Ikhsan mematikan mesin motornya, si gadis cukup tau diri untuk segera turun dari kendaraan si lelaki penyelamat itu. Ikhsan hanya diam tak bergeming. Kemudian menoleh kepada si gadis lalu berkata : "Sudah sampai yah! Aku mau melanjutkan perjalananku. Lain kali berhati-hatilah!" Tukasnya sambil menyalakan kembali mesin motornya. Seketika sang gadis hanya bisa tercekat tanpa bisa mengatakan apapun. Padahal dia sangat ingin sekali berkata apapun lah, atau sekedar ucapan terima kasih. Tapi aneh sekali, bibirnya terasa kelu. Sampai akhirnya dia tersadar dari lamunannya tatkala sang lelaki penyelamat itu sudah benar-benar hilang dari pandangannya.
"Tunggu...hey... Siapa namamu?" Ucapnya lirih sambil melangkah kaki selangkah. Percuma, ya percuma memang! Ikhsan dan bayangannya sudah jauh pergi dari sana. Safira hanya mampu merutuki kebodohannya, bodoh bodoh bodoh! Janganpun berkenalan, bahkan mengucapkan terimakasih saja dia belum melakukannya! Ahhh tuhan, maafkan hamba yang tidak tahu terima kasih ini. Terima kasih juga Tuhan, karena engkau telah mengirimkan malaikat penolong disaat aku sedang dalam keadaan bahaya. Uuhh, jika teringat hal tadi, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Safira meremang, hiiyy naudzubillah! Jangan sampe aku mengalami hal sial ini lagi. Semua itu gara-gara si Virzha, yahh Virzha kekasihnya yang baru dia terima cintanya. Tak cukup waktu sebentar untuknya setelah Virzha berusaha mati-matian untuk mendapatkan hati gadisnya itu. Mereka baru resmi menjalin kasih atau pacaran selama 1 Minggu ini, tapi malah dia hampir membuat Safira dalam bahaya! Yah, Virzha yang awalnya berjanji akan mengantarkan Safira pulang selepas selesai jam kuliahnya. Safira yang masih berstatus mahasiswi semester 4 di akademi kebidanan di salah satu perguruan tinggi kesehatan di kota XX tersebut pun hanya mengiyakan saat Virzha menyuruhnya menunggu di sebuah halte bus kota. Safira sudah 1 jam menunggu tapi naas baginya, dua orang preman malah datang menggodanya dan mengancam Safira dengan sebilah pisau jika Safira tidak mengikutinya ke semak belukar dimana ada sebuah gubug reot itu. Suasana sedang sepi dan terdengar gemericik hujan saat itu. Sedangkan kehadiran Virzha, entah kemana dia itu!
'Ciiihh, dasar lelaki kurang ajar, gara-gara si lelaki br*ngsek itu aku hampir berada dalam bahaya yang mengancam masa depanku.' (Safira)
Kalau saja di lelaki penyelamat itu tidak datang tepat waktu, entah bagaimana nasibku. Ya Allah, berikanlah kepadanya perlindungan sebagaimana dia telah melindungiku.
*POV Virzha
Pukul 8 malam waktu setempat
"Sayaaang, lebih kasian mana? Sama aku, atau sama si cewek sok alim itu? Aku tuh lebih bisa bahagiain kamu sayaaaang, bahkan aku paling memahami apa yang kamu inginkan!" Sambil bergelayut manja menggoda Virzha diatas ranjang empuk di hotel di kota XX ini.
'Kamu gak akan nyangka baby, bahkan aku udah kirim 2 preman buat menodai si Safira itu, hahahahhaha.... Aku gak sabar gimana berita gosip di kampus besok saat semua tahu kalo Safira jadi korban perkosaan di gubug reot itu....' Gumam Renata sambil tersenyum licik.
Renata pun mulai menggoda Virzha lagi. Entah sudah ke berapa kali mereka melakukan hubungan intim selayaknya pasangan suami istri tersebut. Renata mulai melumati bibir Virzha secara intens, tangan Renata sudah menyusup di bagian sensitif tubuh lelaki, yang notabene nya adalah PACAR SAHABAT nya sendiri.
Ya, Safira sudah menganggap Renata sebagai saudara perempuannya sendiri. Malam gerimis dingin seolah berbanding terbalik dengan suasana panas antara pasangan tidak halal itu. Mereka saling membalas kecupan, meninggalkan tanda kemerahan dan terus memacu adrenalin nya untuk mencapai klimaks yang sudah terjadi berapa kalinya.
Happy reading para pembaca. Semoga suka yaa sama cerita aku. Ini cuma cerita fiktif yang ada di kehidupan nyata. Begitulah.