
Pagi hari...
Rivan dan Darren sudah berada di salah satu restoran di kota Surabaya. Mereka berniat sarapan sebelum berangkat ke Bandung.
Disisi lain Syafa sedang menunggu kliennya yang datang dari luar kota di restoran yang sama juga. Ia bersama bu Zeina, orang kepercayaannya.
" Apa masih lama bu? " Tanya Syafa pada bu Zeina
" Kita tunggu 10 menit lagi nona muda. Mereka sedang terjebak macet " Jawab bu Zeina.
" Baiklah, jika dalam 10 menit lagi mereka belum sampai suruh mereka menyusul kita ke butik " Titah Syafa
" Baik nona muda " Jawab bu Zeina.
Syafa membuka laptopnya sembari meminum teh panas pesanannya. Jari jemarinya menari dengan lincahnya di atas keyboard laptop menyelesaikan kerjaannya yang belum terselesaikan. Sedangkan bu Zeina, ia juga bekerja sembari menunggu klien mereka.
" Let me! " Teriak seseorang dari sebrang sana mencuri perhatian Syafa. Ia seperti mengenal suara orang itu. Dengan segera ia pun menoleh. Dan!
" Darren, Mas Rivan " Gumam Syafa. Ia hendak menghampiri mereka. Namun, suara seseorang mengurungkan niatnya.
" Selamat pagi nona Syafa, bu Zeina. Maaf kami terjebak macet jadi sedikit terlambat " Ujar Pria itu. Syafa kembali menoleh kedepan. Dilihatnya Pak Gino beserta sekretarisnya, klien yang mereka tunggu sedari tadi sudah berdiri didepan mereka.
" Pagi pak Gino, mari silahkan duduk " Jawab bu Zeina. Sedangkan Syafa hanya mengangguk tanda membenarkan ucapan bawahannya.
" Huh! Mungkin lain waktu aku bisa bertemu mereka " Batin Syafa. Ia mencoba untuk fokus pada meetingnya.
" Baiklah pak Gino saya rasa kita langsung saja " Ujar Syafa.
" Baik nona ". 15 menit mereka sudah selesai meeting. Kini Syafa dan bu Zeina berniat kembali ke butik.
°°°°°°°°
Disisi lain Rivan dan Darren juga sudah selesai dengan sarapan mereka. Mereka pun berjalan keparkiran menuju mobil sewaan Rivan selama di Surabaya untuk kembali ke hotel, mengambil barang barang mereka. Karena setelahnya mereka akan berangkat ke Bandung. Kota kelahiran Rivan.
" Nona Syafa tunggu " Rivan dan Darren mendengar suara orang berteriak. Namun, hanya Rivan yang mengerti ucapan orang itu. Sontak saja ia menoleh.
" Syafa " Batinnya bertanya tanya sembari melihat kekanan,kiri guna melihat seseorang yang bernama Syafa itu. Dan ya! Netranya melihat sosok yang begitu ia rindukan. Terlihat olehnya seorang pria yang memanggil Syafa tadi mendekatinya.
" Ya benar itu dia " Batinnya lagi.
Sedangkan Syafa, ia menoleh karena merasa dipanggil.
" Pak Gino, ada apa pak? " Tanya Syafa
" Maaf nona, apa ini milik anda? " Tanya balik pak Gino pada Syafa sembari menunjukkan sebuah dompet berwarna merah.
" Coba saya liat " Syafa pun mengambil dompet itu dari tangan pak Gino setelah itu ia membukanya. Ya! Itu adalah dompetnya. Terlihat dari tanda pengenal yang ia taruh didompet bagian depannya.
" Ah, iya! Ini memang punya saya. Terima kasih sudah mengembalikannya pak " Ujar Syafa
" Sama sama nona, kalau begitu saya duluan" Pamit pak Gino
" Iya pak " Pak Gino pun berlalu meninggalkan Syafa beserta bu Zeina di parkiran.
" Kita ke butik sekarang " Ujar Syafa
" Baik nona " Bu Zeina dan Syafa kembali melanjutkan langkah mereka menuju mobil Syafa. Rivan yang melihat pak Gino sudah pergi hendak mengejar Syafa. Namun lagi lagi ada seseorang yang menghampiri Syafa membuatnya mengurungkan niatnya dan hanya melihat dari jauh.
" Syafa " Ujar seorang pria memanggil Syafa
" Kenan, ngapain kamu disini? " Tanya Syafa
" Emm.. aku mau beli makanan buat sarapan" Jawab Kenan
" Tumben " Jawab Syafa
" Lagi pengen aja " Ujar Kenan asal
" Oiya Ken, hari ini kalau ada waktu aku mau ketemu sama pak Malik buat pembahasan lanjutan mengenai desain produk baru itu " Pinta Syafa
" Nggak bisa kalau hari ini Fa " Jawab Kenan
" Loh, kenapa? "
" Papi kecelakaan, sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Tapi kalau kamu mau segera, bisa bicarakan dengan sekretaris papi aja " Jawab Kenan
" Apa? Kecelakaan? "
" Iya "
" Bu Zeina, apa ada meeting lagi setelah ini? " Tanya Syafa
" Sepertinya tidak ada nona " Jawab bu Zeina
" Yasudah, kita kerumah sakit lebih dulu. Saya mau menjenguk pak Malik " Ujar Syafa
" Baik nona " Jawab bu Zeina. Mereka hendak naik mobil. Namun, Kenan menghentikan mereka.
" Tunggu Fa " Pekik Kenan
" Ada apa? " Ujar Syafa berbalik ke arah Kenan.
" Aku juga mau pergi kesana.Kalau kamu mau pergi ke rumah sakit bareng sama aku aja " Ujar Kenan
" Dan biarkan bu Zeina pergi ke butik duluan " Sambung Kenan
" Hemm, baiklah..Bu Zeina, ini kunci mobil saya. Ibu duluan saja ke butik, nanti saya menyusul setelah menjenguk pak Malik " Ucap Syafa sembari memberikan kunci mobilnya pada bu Zeina
" Baik nona, kalau begitu saya duluan " Pamit bu Zeina mengambil kunci mobil Syafa.
" Hati hati bu "
" Baik nona " Bu Zeina pun pergi menggunakan mobil Syafa ke butik lebih dulu. Setelah bu Zeina pergi, Syafa pun naik kemobil Kenan disusul oleh Kenan kemudian.
Sedangkan Rivan berjalan menuju ke arah Syafa. Namun, terlambat! Syafa sudah lebih dulu naik dan mobil yang ditumpanginya sudah lebih dulu melaju.
" Ah, sial " Umpat Rivan.
" Rivan, what's wrong? " Tanya Darren saat melihat Rivan sedari tadi memperhatikan seseorang dan berteriak seperti orang kesal.
" No, it's nothing " Jawab Rivan.
" Alright, let's go home ( Sudah, ayo kita pulang)" Ajak Rivan kemudian. Rivan dan Darren segera naik kedalam mobil sewaan Rivan. Rivan segera melajukan mobilnya menuju hotel.
°°°°°°°°°
Setelah semua siap, Rivan memesan taksi online untuk mengantarkan mereka ke stasiun Surabaya Kota. Mereka pulang ke Bandung menggunakan kereta api. Rivan dan Darren pun segera turun ke bawah. Mereka segera melakukan check out dari hotel dan menaiki taksi yang sudah Rivan pesan setelah sebelumnya mengembalikan mobil sewaan mereka.
" Lest go! " Ujar Darren. Mereka berdua pun segera melakukan check in dan duduk menunggu kereta api. 20 menit kemudian, kereta api yang akan mereka naiki datang. Mereka pun menaruh barang dibagasi dan segera naik ke gerbong kereta dan duduk dikursi, bersiap siap menikmati setiap perjalanan yang akan mereka lewati sampai ke Bandung.
°°°°°°°°
12 jam 30 menit perjalanan. Kini mereka sudah sampai di stasiun kota Bandung. Dengan segera keduanya turun dan mengambil barang dibagasi.
" Rivan, wait here. I'll find a taxi! ( Rivan, tunggulah disini. Aku akan mencari taksi! ) " Ujar Darren
" No need Darren, I've already ordered my family's private driver to pick us up here (Tidak perlu Darren, aku sudah menyuruh sopir pribadi keluargaku untuk menjemput kita disini.) " Tolak Rivan. Darren pun mengangguk tanda mengerti.
" Tuan muda " Ujar seseorang menghampiri Rivan dan Darren.
" Pak Ali " Sapa Rivan.
" Maaf tuan muda, saya terlambat. Tadi jalanan macet karena ada kecelakaan beruntun " Jelas pak Ali pada Rivan.
" Tidak masalah pak, yasudah kita pulang sekarang " Jawab Rivan
" Baik tuan muda "
" Oiya pak, kenalin ini Darren, temanku dari Kanada. Dia akan di Indonesia selama beberapa minggu ini. " Jelas Rivan saat melihat pak Ali menatap bingung pada Darren.
" Darren, this is Mr. Ali, my family's private driver ( Darren, ini pak Ali supir pribadi keluargaku ) " Ujar Rivan
" Darren " Ujar Darren mengulurkan tangannya
" Ali, sir " Pak Ali juga menyambut uluran tangan Darren.
" Oke,kita pulang sekarang! " Ujar Rivan. Pak Ali membantu Rivan membawa kopernya dan Darren. Setelah memasukkan koper itu ke dalam bagasi mobil, pak Ali segera duduk di depan kemudi. Rivan dan Darren juga sudah duduk di bangku tengah.
Mereka tiba di Bandung pukul 8 malam. Sesampainya dirumah, mereka di sambut oleh Andra, Viona, dan juga Kalista.
Ting.. tong...
" Assalamualaikum " Ujar Rivan.
" Waalaikumsalam " Jawab Kalista sembari membuka pintu
" Kakak! " Pekiknya sembari memeluk sang kakak. Rivan pun membalas pelukan adiknya.
" Kakak jahat, lama banget tinggal di Kanada, nggak pulang pulang " Protes Kalista masih memeluk kakaknya.
" Maaf dek, kan kakak ke sana juga karena kerja" Ujar Rivan.
" Tetep aja, udah 3 tahun kakak nggak pulang " Jawab Kalista
" Hemm..iya deh iya, maaf ya! " Ujar Rivan lagi sembari mengelus kepala Kalista yang terrutup hijab.
" Yaudah, lepasin dulu dong. Kakak mau masuk nih. Udah capek banget " Keluh Rivan
" Nggak mau! " Rengek Kalista.
" Ehmmm.. "
" Eh " Mendengar suara seorang pria asing membuat Kalista refleks melepas pelukannya.
" Kak, dia siapa? " Tanya Kalista menunjuk Darren.
" Ini Darren, teman kakak dari Kanada " Ujar Rivan.
" Darren, this is my sister Kalista. Dan adek ini Darren " Ujar Rivan memperkenalkan mereka berdua.
" Hy, Darren " Ujar Darren mengulurkan tangannya.
" Kalista " Jawabnya sembari menangkupkan tangannya didepan dada.
" Jadi dia bakal tinggal disini kak? " Tanya Kalista
" Nggak, hari ini aja. Besok dia bakal tinggal diapartemen kita. " Jelas Rivan
" Yaudah deh kak, ayo masuk "
" Gitu kek dari tadi " Ujar Rivan mencubit pipi adiknya
" Aww... sakit kak! " Keluh Kalista
" Bunda sama ayah mana? " Tanya Rivan tidak menggubris keluhan adiknya.
" Ada didalam " Mereka bertiga pun masuk kedalam.
" Assalamualaikum.. Ayah, bunda " Ujar Rivan.
" Waalaikumsalam, kakak! " Pekik Viona memeluk putranya. Bergantian dengan Andra yang memeluk Rivan.
" Apa kabar kak? " Tanya Andra setelah melepas pelukannya.
" Alhamdulillah kakak sehat yah. Oiya ini teman kakak dari Kanada namanya Darren. Jadi selama beberapa minggu kedepan dia bakal tinggal di Indonesia. Katanya mau liburan. Jadi dia bakal nginep di apartemen kita. Nggak papa kan yah? bun? " Ujar Rivan.
" Ya, nggak papa dong kak " Jawab Viona.
" Iya, nggak masalah kok " Sambung Andra.
" Darren, this is my parents. My mom name is Viona. And my dad name is Andra. " Ujar Rivan.
" Hello uncle, aunty " Ujar Darren
" Hay Darren, nice to meet you " Jawab Viona.
" Yaudah kakak istirahat gih, tuh dimeja makan bunda udah siapin makanan kesukaannya kakak. Bersih bersih dulu baru boleh makan! Jangan lupa ajak Darren juga " Ujar Viona.
" Bunda tahu banget kalau kakak udah kangen sama masakan bunda. Yaudah kakak kekamar dulu ya bunda, ayah, adek. " Pamit Rivan. Mereka semua mengaggukkan.
" Darren, come on! " Ujar Rivan lagi karena melihat Darren tampak sungkan dirumahnya.
" Don't hesitate Darren, just think of it at home! (Jangan sungkan Darren, anggap saja dirumah sendiri! ) " Ucap Andra.
" Yes Darren, you are Rivan's friend. That means you are our child too. (Iya Darren, kamu temannya Rivan. Itu artinya kamu anak kami juga. ) " Sambung Viona.
" Yes, uncle, aunty. Thank you so much! " Jawab Darren.
" Yaudah, kita kekamar bun, yah " Rivan dan Darren segera naik tangga dan melangkah ke kamar Rivan.
To be continued!!!