The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Jawaban Syafa



" Kamu itu selalu saja ngeyel " Dengus Dafa membuat Syafa hanya menyengir seraya mengunyah makanannya.


" Mas, antar Syafa menemui papa dong!! " Mohon Syafa. Dafa tampak acuh, ia tetap menyuapi Syafa tanpa berkata apapun.


" Mass.. " Rengek Syafa.


" Hemm.. habiskan dulu makananmu! " Tegas Dafa membuat Syafa diam seketika. Kedua kakak iparnya tampak tertawa melihat tingkah Syafa. Syafa sudah tidak bisa berkutik lagi jika sudah dihadapkan dengan Dafa.


" Teh, duduk dipojokan sana yuk! Ada beberapa hal yang mau Za tanyakan. Boleh kan? " Ajak Zahira pada kakak iparnya.


" Boleh dong Za, ayo! " Mereka berdua memilih duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan itu.


Ceklek..


Pintu berwarna putih dengan kaca transparan di tengahnya itu kembali terbuka. Semua orang yang berada didalam ruangan itu menoleh dan mendapati seorang wanita paruh bayah dan lelaki muda dengan setelan jas rapi memasuki ruangan itu.


" Mama, aak!! " Ujar Syafa. Rasya segera bangkit dan menyambut suaminya dan mama mertuanya. Sedangkan Dafa tetap duduk ditempatnya seraya fokus menyuapi makanan sang adik. Zahira juga berdiri mengikuti kakak iparnya.


" Mas, ma! " Sapa Rasya seraya mencium tangan keduanya. Marsel mencium kening sang istri. Zahira menghampiri Mama Lesty dan mencium tangannya juga.


" Jangan terlalu banyak gerak nak, kamu sedang hamil " Pesan mama Lesty seraya mengelus pelan perut menantunya.


" Iya ma, maaf! " Ujar Zahira. Mama Lesty merangkul pundak menantunya dan kembali melangkah masuk. Dibelakang mereka Rasya dan Marsel tampak bergandeng mesra.


" Dafa, kamu keluarlah nak. Mama dengar ada korban kecelakaan yang baru saja masuk IGD. Bantulah tim medis menanganinya. Bukankah itu tanggung jawabmu? " Ujar mama Lesty.


" Baik ma, tolong pastikan Syafa menghabiskan makanannya atau jangan izinkan dia bertemu dengan papa " Ujar Dafa setengah mengancam. Syafa hanya mengangguk pasrah.


" Iya nak! "


" Sayang, mas keluar dulu ya! Kalau kamu mau pulang, minta tolong aak atau teh Aca mengantarmu " Ujar Dafa memeluk istrinya.


" Iya mas! "


" Tenang saja Daf, aak dan tetehmu ini nggak mungkin ngebiarin istrimu kesusahan. " Sahut Marsel seraya terkekeh. Ia tahu betul sifat Dafa yang posesif pada istrinya.


Dafa melangkah keluar dari ruang rawat Syafa. Mama Lesty duduk ditempat Dafa tadi. Rasya dan Zahira pun kembali duduk ditempat semula. Mereka kembali melanjutkan obrolan seputar kehamilan.


" Dek, kamu baik baik aja kan? " Tanya Marsel seraya mengelus pucuk kepala adiknya yang masih melanjutkan makan disuapi mamanya.


" Syafa baik baik aja a' " Jawab Syafa seraya tersenyum.


" Lain kali jangan suka membantah ucapan orangtua. Lihat sendiri akibatnya kan? " Kembali Syafa mendengarkan omelan dari kakak kakaknya. Dan kini kakak keduanya yang biasanya sedikit cuek nampak cerewet.


" Udah, jangan salahkan siapa siapa! Semua sudah jalan takdir seperti ini. Jalani saja " Lerai mama Lesty. Semua mengagguk dan diam.


...****...


Usai makan Syafa tetap bersikeras menemui papanya yang masih belum sadarkan diri. Marsel mendorong Syafa menggunakan kursi roda menuju ruang rawat VVIP. Sedangkan Rasya, Zahira serta mama Lesty pergi kekantin. Marsel yang memaksa mereka mengisi perut mereka. Apalagi mama Lesty yang juga sama sekali belum makan.


" Yakin mau menemui papa dek? " Tanya Marsel seraya mendorong kursi roda Syafa. Sebenarnya Syafa tidak selemah itu, tapi Marsel tidak membiarkannya berjalan.


" Insyaallah " Balas Syafa lirih. Marsel menepuk pelan bahu adiknya.


" Yakin saja pada yang kuasa! Dia pasti punya rencana yang indah untukmu dikemudian hari sayang. " Ujar Marsel memberi semangat pada adiknya.


" Iya a', aamiin! "


Marsel juga menatap sendu sang papa. Pria yang mendidiknya dengan kasih sayang, pria yang dengan semua kelembutannya selalu mengajarkan hal hal yang berguna baginya. Pria yang tegas namun berhati lembut yang selalu jadi sosok idola baginya itu kini terbaring tak berdaya. Ingin rasanya ia menangis. Tapi ia sadar disampingnya ada sang adik yang secara tidak langsung menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Ia tak mau sang adik kembali merasa sangat bersalah saat melihatnya menangis.


" Sadarlah pa! Lihatlah putri kesayanganmu sudah kembali.. Jangan membuatnya semakin dihantui rasa bersalah. Sadarlah demi kami semua pa, Marsel mohon!!! "


" Pa.. " Lirih Syafa seraya menggenggam erat tangan kanan papa Rizky.


" Syafa minta maaf ya pa!! Nggak seharusnya Syafa bertingkah kekanakan. Syafa tahu papa pasti ingin yang terbaik buat Syafa. Syafa salah, Syafa minta maaf pa!! Papa boleh marahi Syafa, papa boleh hukum Syafa, papa boleh mukul Syafa tapi Syafa mohon papa bangun.. Jangan hukum Syafa dengan cara seperti ini pa! Bukan hanya Syafa tapi mama, abang, aak, mas dan adek juga merasa sedih. Bangun pa.. Syafa mohon!! Hiks.. hiks.. " Luruh sudah benteng pertahanan Syafa. Ia mati matian menahan tangisnya. Namun pada kenyataannya ia sama sekali tak bisa. Hatinya hancur, sangat hancur! Marsel mengelus pelan pucuk kepala Syafa, memberi kekuatan pada adiknya itu.


" Syasa.. " Terdengar suara rintihan dan sepertinya berasal dari papa Rizky. Sesaat baik Syafa maupun Marsel terdiam.


" Syasa.. prin-ces pa-pa... " Lirihnya lagi.


" Pa.. papa! Ini Syasanya papa. Papa bangun pa, Syasa mohon!! " Pekik Syafa. Syasa, panggilan masa kecilnya yang sering sekali diucapkan oleh papanya.


Marsel tak tinggal diam, ia menghubungi dokter melalui tombol darurat di sebelah ranjang pasien. Tak lama dokter muda yang tadi menangani papa Rizky bersama Dafa datang.


" Maaf tuan! Dokter Dafa sedang melakukan operasi pada pasien lain. Apa pihak keluarga tidak keberatan jika hanya saya yang menangani tuan besar untuk sementara waktu " Ujar dokter muda yang bername tag " RYAN AL QIBSHI "


" Tidak masalah dokter, yang terpenting saat ini adalah keselamatan papa saya! " Jawab Marsel tegas. Dokter Ryan mengagguk dan mulai memeriksa papa Rizky.


" Tubuh tuan Rizky mulai merespon, terus ajak dia bicara untuk memacu semangatnya supaya cepat sadar! " Ujar Dokter Ryan.


" Pa.. papa dengarkan? Ini Syafa, cepat bangun pa. Syafa udah pulang.. Syafa janji bakal terima perjodohan itu jika papa sadar. Syafa janji pa! " Lirih Syafa membuat Marsel tersentak dan menatap adiknya dengan tatapan tak percaya.


" Jangan pernah main main dengan janjimu dek! " Ujar Marsel.


" Syafa nggak main main a', Insyaallah Syafa akan terima dengan ikhlas jika memang itu bisa membuat mama dan papa bahagia karena janji mereka terpenuhi " Jawab Syafa dengan bijak.


" Kamu sudah yakin dengan keputusanmu? "


" Insyaallah a' " Syafa mencoba menguatkan hatinya. Beberapa hari ini ia mendapat mimpi yang sama yang akhirnya membuatnya mencoba untuk menerima perjodohan itu.


" Pa, jika papa nggak mau bangun Syafa tidak akan pernah memaafkan diri Syafa sendiri. Syafa tahu, Syafa yang menyebabkan papa khawatirkan pa?.. Andai papa tahu seminggu ini hidup Syafa rasanya nggak tenang. Syafa selalu dihantui rasa bersalah karena pergi tanpa berpamitan dengan papa dan mama. Setiap langkah Syafa rasanya berat. Bahkan Syafa sama sekali nggak bisa konsentrasi saat kerja... " Syafa menjeda ucapannya. Sungguh ia menyesali semuanya. Marsel merangkul adiknya dari belakang. Syafa sontak mendongak. Wajah yang sudah berlinangan air mata itu menatap wajah kakaknya yang tampak sendu. Marsel menghapus air mata adiknya. Ia berjongkok dihadapan adiknya yang kini sudah berpindah duduk di kursi sebelah ranjang sang papa. Dokter Ryan dan dua suster yang masih berada didalam ruangan itu tampak terharu melihat kedua kakak adik yang saling menguatkan itu.


" Kuatkan dirimu dek!! " Lirih Marsel seraya memeluk adiknya itu. Syafa kembali terisak di dalam pelukan kakaknya.


" Syafa egois a', Syafa hanya memikirkan perasaan Syafa tanpa tahu kalau sebenarnya papa dan mama juga terluka!! "


" Semua sudah jalannya dek, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Ikhlaslah.. " Ujar Marsel mengelus pelan kepala adiknya. Dokter Ryan terus memantau papa Rizky, ia melihat tangan papa Rizky bergerak. Matanya juga mengeluarkan air mata.


" Tuan besar kembali merespon! " Ujar dokter Ryan membuat keduanya melihat kearah papa Rizky. Syafa mendekati papa Rizky dan menghapus air matanya.


" Jangan menangis pa, Syafa sudah meminta petunjuk yang kuasa dan jawaban yang Syafa terima semua mengarah pada perjodohan itu. Jangan sedih karena Syafa sama sekali nggak terpaksa pa. Insyaallah Syafa ikhlas. Bangun pa, Syafa mau papa jadi wali nikah Syafa nanti.. Syafa mohonn!! " Ujar Syafa memeluk tubuh lemah papanya. Marsel memeluk mereka berdua dari belakang.


" Pa, lihatlah.. putrimu bahkan sudah ingin mengabulkan keinginanmu. Apa papa tega meninggalkan kami setelah apa yang dilakukan oleh Syafa? Bahkan anak papa yang bandel ini bahkan kebut kebutan dari Surabaya ke Bandung demi papa. Bangun pa, setidaknya hargai perjuangan anak nakal ini! " Ujar Marsel lagi. Mereka berdua terisak di dada bidang sang papa. Bahkan Marsel yang cool tidak tampak disini.


Jari jari tangan papa Rizky perlahan bergerak. Tak lama kedua matanya terbuka. Sesekali ia mengerjabkan matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk kedalam retina matanya. Dadanya terasa berat, ia tersenyum kalah melihat kedua putra putrinya sedang memeluknya. Semua itu tak luput dari pandangan dokter Ryan.


" Sya..fa!! Ma..af kan pa.. pa " Ujar papa Rizky terbata. Selang oksigen yang semula melekat pada hidungnya sudah dilepas setelah donor darah dilakukan. Syafa dan Marsel sama sama tercengang. Tapi keduanya tak segera bangkit dari pelukan nyaman sang papa. Mereka seolah tak merespon.


" Tuan muda, nona muda! Tuan besar sadar, kami harus.. "


" Diamlah dokter, biarkan aku memeluk papaku! Jangan memberi harapan palsu " Sarkas Syafa yang masih memeluk papanya. Begitu pula Marsel. Dalam diam papa Rizky tersenyum, ia mengisyaratkan pada dokter Ryan untuk diam saja.


To be continued!!!