The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Liona Lawyer



Satu jam berlalu, Syafa dan Kalista akhirnya selesai mengerjakan tugas kuliah milik Kalista. Gadis itu tampak tersenyum sumringah seraya memasukkan buku buku kuliahnya kembali kedalam tas.


" Makasih udah bantuin Lista kak. Kak Syafa yang terbaik.. Yaudah kalau gitu Lista mau berangkat kuliah dulu " Kalista beranjak dari duduknya dan mencium tangan Syafa.


" Mau kemana Lista? Bukankah masih dua jam lagi mata kuliahmu dimulai? " Tanya Rivan yang baru saja kembali dari toilet.


" Lista ada janji dengan dosen kak. Nggak bisa diganggu gugat! Udah ya, Lista udah telat. Assalamualaikum.. " Kalista mencium tangan Rivan dan akhirnya beranjak pergi dari taman. Sementara Rivan hanya menatap adiknya itu dengan tatapan penuh curiga.


" Mas, sudahlah! Lista udah dewasa, jangan terlalu mengekangnya " Syafa memegang pundak Rivan membuat perhatian Rivan teralihkan.


" Tapi tetap saja mas khawatir sayang. Dia adik perempuan mas satu satunya "


" Aku tahu kekhawatiranmu mas. Mas tau ketiga kakak laki-lakiku juga posesif padaku dan Leta. Mereka melarang kami melakukan ini dan itu. Sampai akhirnya kami melayangkan protes pada mereka. Mas tau kenapa kami protes? " Rivan yang sedang serius mendengar cerita istrinya sontak menggelengkan kepalanya.


" Karena rasanya dikekang itu nggak enak mas. Aku pribadi merasa kebebasanku terbatas. Dan aku ingin mas juga ngertiin Leta. Leta udah dewasa, dia udah bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah. Cukup berikan kepercayaan mas untuk Leta. "


" Posesif boleh tapi jangan sampai mengekang. Cukup awasi dari jauh. Aku yakin Leta gadis yang bijaksana dan bisa menjaga kepercayaan kalian semua " Rivan tersenyum menanggapi. Syafa selalu saja bisa membuatnya tenang. Ia lantas memeluk istrinya itu dengan erat.


" Makasih sayang! Kamu istri yang terbaik "


" Mas juga suami terbaik "


" Ana Uhibbuki Fillah, Ya Zaujatii.. " Ujar Rivan mengecup pelan kening sang istri.


" Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu, Ya Zauji.. " Balas Syafa malu malu.


Drett.. drett.. drett..


Suara ponsel yang terletak di saku celana Rivan membuat suasana romantis itu menjadi terganggu.


" Angkat dulu mas, siapa tahu penting " Ujar Syafa yang melihat Rivan hanya diam saja.


" Maaf sayang.. " Syafa hanya tersenyum lalu mengangguk. Sementara Rivan langsung mengambil ponselnya didalam saku celananya.


Leo..


Rivan mengernyitkan dahinya saat tahu yang menelponnya adalah Leo. Padahal Rivan sudah memperingatkannya untuk tidak mengganggunya saat ia sedang cuti.


" Hallo.. "


"...."


" *Saya usahakan! "


"...."


" Hemm*.. "


Tut.. tut... tut..


Panggilan terputus. Syafa dapat melihat raut wajah bingung suaminya.


" Kenapa mas? "


" Leo menelpon, ada klien yang ingin bertemu langsung denganku sayang. Tapi tenang saja, mas masih dalam masa cuti. Itu artinya nggak ada yang bisa ganggu mas meski proyek bermiliar-miliar rupiah sekalipun. Karena bagi mas kamu yang utama, Zaujatii..... " Tegas Rivan membuat Syafa mengulum senyum.


" Tapi disisi lain mas juga seorang pemimpin perusahaan besar. Banyak orang yang menggantungkan nasibnya padamu. Jadi, kalau boleh aku kasih saran. Sebaiknya mas temui saja klien mas. Ingat, mas punya tanggung jawab untuk itu " Ujar Syafa. Rivan lagi lagi dibuat takjub dengan sifat dewasa Syafa. Padahal Rivan sudah berjanji untuk menghabiskan waktu berdua dengan Syafa hari ini. Tapi, dengan legowo Syafa malah membiarkan Rivan menemui kliennya.


" Tapi mas udah janji mau habiskan waktu berdua bersamamu, sayang!! " Rivan merangkul pundak istrinya.


" Kita masih punya banyak waktu mas. Kalau bukan hari ini, bisa jadi besok, lusa, lusanya lagi dan lusa lusanya lagi juga bi... " Rivan mencubit hidung Syafa membuat Syafa menghentikan ucapannya.


" Ehemm.. kayak truk aja, gandengan mulu " Tegur Hana yang kebetulan berpapasan dengan Rivan dan Syafa yang hendak masuk.


" Harap maklum kak! Pengantin baru.. " Sahut Rivan membuat Syafa mencubit pelan lengan Rivan.


" Kayaknya bakalan ada Biman kedua disini " Ledek Hana lagi. Sudah menjadi rahasia umum, Biman memang pria yang romantis dan juga paling pandai mengekspresikan perasaannya pada orang yang dia sayang.


" Tentu beda kak, mas Biman dan Rivan nggak bisa disamakan " Sanggah Rivan


" Iya² Van, kamu memang selalu nggak mau kalah "


" Iya dong kak "


" Iyadeh, terserah kamu " Hana pergi dari sana membuat Syafa merasa tak enak hati. Sementara Rivan hanya bersikap biasa. Karena baik Hana, Nabila ataupun Biman memang sudah seperti kakak Rivan sendiri. Jadi, candaan seperti itu memang sudah biasa.


" Mas.. nggak enak sama kak Hana "


" Nggak papa sayang! Kami udah biasa kayak gitu. "


...*****...


Rivan memasuki perusahaannya dengan langkah lebar dan terkesan buru buru. Di lobby, Leo sudah menunggu seraya membawa beberapa berkas ditangannya.


" Selamat pagi tuan " Leo menundukkan kepalanya begitu Rivan sampai didepannya. Rivan mengangguk. Ia lantas meneruskan langkahnya diiringi oleh Leo di belakangnya.


" Apa mereka sudah sampai? " Tanya Rivan yang kini sudah berada didalam lift bersama Leo.


" Semestinya mereka sudah tiba tuan. Tapi, tadi asisten tuan Lawyer mengkonfirmasi jika mereka masih terjebak macet. Jadi mereka akan sampai 10 menit lagi " Jelas Leo.


" Baiklah, saya keruangan dulu! Panggil saja jika mereka sudah sampai " Begitu lift berhenti, Rivan melangkah keluar. Leo masih setia mengikuti langkah atasannya itu.


" Oiya, mana berkasnya! " Pergerakan tangan Rivan yang ingin membuka pintu ruang kerjanya seketika terhenti. Ia lupa berkasnya masih ditangan sang asisten.


" Ini tuan " Leo menyerahkan berkas itu pada Rivan. Setelah itu, Leo langsung pamit keruangannya.


10 menit berlalu, mereka kini sudah berada didalam ruang meeting. Diluar dugaan, ternyata bukan tuan Lawyer yang datang. Tetapi putrinya Liona Lawyer yang datang mewakili sang daddy yang ada urusan mendadak.


" Selamat siang tuan muda Pranata! " Liona Lawyer mengulurkan tangannya pada Rivan. Namun, Rivan hanya menangkupkan tangannya didepan dada. Liona menarik kembali tangannya dengan tersenyum kecut.


" Siang nona Lawyer, silahkan duduk " Rivan mempersilahkan tamunya duduk dikursi yang berhadapan dengan dirinya dan Leo.


" Langsung mulai pembahasannya Leo " Titah Rivan. Leo mulai membuka pembicaraan. Dua jam sudah berlalu, kini kedua belah pihak sudah sepakat mengadakan kerja sama dan menandatangani kontrak kerja sama.


" Baiklah, mungkin untuk seterusnya anda akan berhubungan dengan Leo nona Lawyer. Karena saya akan bolak balik keluar kota beberapa pekan kedepan "


" Anda pimpinan perusahaan ini tuan Pranata, jadi jika bukan dengan anda saya tidak akan memulai proyek ini " Tegas Liona menggigit bibir bawahnya, berharap Rivan menatapnya.


" Anda benar nona, saya pemimpin perusahaan. Untuk itu saya berhak menunjuk orang kepercayaan saya untuk melanjutkan sebuah proyek. Saya juga bukan hanya memantau satu proyek saja. Banyak kerjaan lain yang juga perlu saya perhatikan " Rivan berkata tak kalah tegas membuat Liona meneguk savilahnya.


" Bukan begitu maksud saya tuan, saya hanya ingin.. " Liona beranjak mendekati Rivan. Namun, entah sengaja atau tidak ia tersandung kakinya sendiri. Hingga ia terjatuh tepat didepan Rivan yang duduk di bangku kebesarannya.


Ceklek..


Dibalik ruangan seseorang tampak tersenyum sinis.


" Bersenang-senang lah teman, sebentar lagi kehancuran menunggumu hahaha.. "


To be continued!!!