
Sinar mentari masuk melalui celah gorden pada sebuah kamar yang di tempati oleh seorang wanita berwajah bule.
" Miss, maaf sudah pagi! " Seorang art tiba tiba mengetuk pintu kamar itu. Membuat sang empu tambah terusik.
" Hemm.. iya! " Jawabnya. Ia segera bangun dari tempat tidur dan langsung membersihkan diri didalam kamar mandi. Setelah selesai, ia langsung keluar.
" Apa Gina sudah kemari? " Tanyanya pada sang art yang sedang menyajikan sarapan diatas meja.
" Belum miss! " Sahut sang art.
" Sial, kemana anak itu? " Gerutu Celine seraya memakan sarapannya.
Tap.. tap.. tap..
Suara derap langkah terdengar begitu terburu buru mendekati ruang makan.
" Miss, maaf saya telat karena.. "
" Saya tidak butuh penjelasanmu! Katakan, bagaimana kerjaanmu? Sudah berhasil? " Potong Celine cepat.
" Maaf miss, CV miss Celine kemarin ditolak! Mereka bilang belum menerima karyawan baru. Apalagi tuan Rivan akan menikah minggu depan " Jawab Gina seraya menunduk.
" Apa? Ditolak? Saya tidak mau tahu, kamu harus berhasil memasukkan saya disana " Bentak Celine menatap tajam Gina.
" Tapi miss.. "
" Kamu mau saya ber.. "
" Tidak miss, Saya akan berusaha " Ujar Gina memotong ucapan Celine. Celine tampak tersenyum tipis kemudian mengangguk.
" Saya tunggu secepatnya! "
" Baik miss, kalau begitu saya permisi! " Gina langsung meninggalkan apartemen itu begitu dipersilahkan oleh Celine. Sementara Celine tampak berpikir keras. Ia tahu tidak mudah masuk kedalam sebuah perusahaan besar tanpa orang dalam.
" Sial, aku tidak mengenal siapapun disini " Gumam Celine.
" Kalau begini aku tidak bisa bekerja disana. Oh.. tidak tidak! Aku akan balaskan dendamku perlahan. Bagaimana pun aku harus bisa masuk perusahaan itu. Ya harus!! Mereka tidak boleh bahagia diatas penderitaanku. " Sambungnya seraya tersenyum penuh arti.
...****...
" Hari ini terakhir kita boleh bertemu, setelah itu aku akan melihatmu lagi sebagai istriku " Ujar Rivan menatap Syafa yang duduk disampingnya. Kini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju butik, mereka akan fitting baju pengantin.
" Insyaallah! Semoga semua di permudah ya mas " Ujar Syafa menatap lurus kedepan.
" Aamiin.. "
Mereka terus berbicang, hingga tak terasa mobil Rivan sudah berada di depan sebuah butik yang tak kalah terkenal dari butik Syafa.
...Viona's Boutique...
Atas permintaan bunda Viona, Syafa dan Rivan sepakat akan mengenakan baju pengantin rancangan bunda Viona. Bunda Viona tidak ingin menantunya terlalu lelah saat menjelang acara pernikahannya. Itulah sebabnya ia dan mama Lesty berupaya mengambil alih semua urusan pernikahan mereka. Mulai dari baju pengantin, dekorasi, hingga konsumsi.
" Assalamualaikum bunda " Ujar Rivan seraya mencium tangan sang bunda diikuti oleh Syafa.
" Waalaikumsalam! Cepat banget kalian sampai" Jawab bunda Viona seraya mengajak keduanya duduk di sofa.
" Biar cepat selesai bun, Kakak juga mau ajak Syafa jalan jalan sebelum dipingit " Jawab Rivan.
" Ehmm.. so sweet banget sih anak bunda satu ini " Goda bunda Viona.
" Bundaaa " Rajuk Rivan. Sementara Syafa menunduk malu.
" Sebentar ya! Kita tunggu tante Lesty dulu " Ujar bunda Viona. Mereka kembali bercerita hingga tiba tiba pintu ruangan itu terbuka dari luar.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam! " Rivan dan Syafa bangkit mencium tangan mama Lesty yang baru saja masuk kedalam ruangan.
" Yaampun, mama kira bakal lama nunggu kalian! Eh, taunya mama yang telat " Goda mama Lesty pada keduanya.
" Iya nih, katanya mereka mau quality time berdua sebelum dipingit " Sahut bunda Viona.
" Mamaaa " Rengek Syafa. Mama Lesty hanya tersenyum seraya mengelus pucuk kepala putrinya dengan sayang.
" Sekarang aja fittingnya, kayaknya mereka udah nggak sabar pengen berduaan " Sahut bunda Viona.
" Boleh tuh " Bunda Viona segera memanggil karyawannya. Tak lama munculnya dua wanita muda yang membawa dua setel baju pengantin untuk keduanya. Satu dipakai saat akad nikah, satu lagi untuk resepsi yang akan diadakan malam harinya.
" Syafa, kamu cobain dulu ya sayang " Ujar bunda Viona.
" Iya tante " Syafa mengikuti bunda Viona yang berjalan menuju private roomnya.
Ceklek..
Tak lama Syafa keluar dengan menggunakan gaun pengantin yang sangat indah itu.
" Jaga pandanganmu Rivan, belum halal " Tegur bunda Viona saat melihat sang anak yang menatap Syafa tanpa berkedip.
" Astaghfirullah " Gumam Rivan seraya mengalihkan pandangannya.
" Anak tante cantik ya Van? " Goda mama Lesty membuat Rivan menunduk malu karena ketahuan mengagumi Syafa.
" Hehe.. iya tante! Cantik rupa dan hatinya " Jawab Rivan membuat wajah Syafa memerah mendengar pujian calon suaminya.
" Aamiin.. "
" Bagaimana? Apa gaun ini cocok untuk menantuku? " Tanya Bunda Viona meminta pendapat calon besan dan juga anaknya.
" Menantumu itu putriku Viona " Sahut mama Lesty membuat bunda Viona terkekeh.
" Iya² dia memang putrimu Les, tidak ada yang menyangkal hal itu " Jawab bunda Viona lagi.
" Syafa, apa kamu cocok dengan gaunnya nak? Atau ada yang perlu dirombak? " Tanya bunda Viona pada Syafa.
" Gaunnya sangat bagus tante! Syafa suka, dan Syafa rasa tidak perlu dirombak. Benarkan ma? " Jawab Syafa seraya meminta pendapat sang mama. Mama Lesty tampak mengagguk.
" Iya, kamu cantik memakai pakaian apapun Syafa. Benarkan Rivan? " Kini mama Lesty meminta pendapat calon menantunya.
" Iya tante " Jawab Rivan.
" Kita coba yang satunya ya " Bunda Viona kembali membawa Syafa kedalam private roomnya dan membantu Syafa mencoba gaun yang satunya. Jika yang tadi masih memiliki unsur tradisional Sunda, maka yang ini mengusung konsep internasional. Gaun yang lebih mewah dan glamor dibandingkan gaun yang pertama.
" Bagaimana? " Tanya bunda Viona saat keduanya sudah keluar. Syafa tampak menunduk menunggu reaksi mama dan calon suaminya.
" Cantik " Puji Rivan membuat Syafa tersenyum malu.
" Tuh, calon suamimu yang muji loh kak " Ujar mama Lesty. Setelah Syafa, kini Rivan juga mencoba jas pengantinnya. Sama seperti Rivan, Syafa juga tak kalah takjub melihat ketampanan calon suaminya.
" Kemarin aja nangis² pas mau dijodohin. Sampai mama kira kamu nginep dirumah masmu, eh taunya udah kabur ke Surabaya dengan abang! Sekarang antusias banget, heran mama sama kamu kak " Ujar mama Lesty memandangi sang anak yang tampak salah tingkah. Sementara bunda Viona dan Rivan langsung duduk setelah jas yang dikenakan Rivan cocok dan tak ada yang perlu dirubah.
" Kemarinkan kakak nggak tahu kalau ternyata Ando itu mas Rivan yang sering bantuin kakak ma! " Protes Syafa yang tak mau disalahkan.
" Rivan juga nolak mentah mentah, sampai minta waktu satu minggu sama ayahnya buat ngenalin wanita yang dia suka. Eh taunya ditolak karena wanitanya sudah dijodohkan " Bunda Viona terkekeh mengingat masa masa itu.
" Mana Rivan tau kalau Syakilah yang bunda maksud itu Syafa. Rivan baru ngeh waktu mc diacara lamaran itu nyebutin nama lengkap Syafa bun " Sahut Rivan.
" Lagian kalian juga mau langsung lamaran segala. Padahalkan kami mau kalian kenalan dulu " Ujar mama Lesty lagi.
" Biar nggak berteleh teleh ma! "
" Yang penting udah happy kan sekarang " Sahut bunda Viona membuat keduanya tertunduk malu.
" Katanya mau pergi berdua? Jadi nggak? " Tanya mama Lesty.
" Jadi tante, ehm.. boleh kan Rivan ajak Syafa? " Rivan meminta izin pada mama Lesty.
" Tentu saja boleh, tapi tetap harus ada batasan! Ingat banyak banget godaan menuju hari H pernikahan. Jadi mama harap kalian bisa jaga diri " Jawab mama Lesty. Rivan dan Syafa tampak mengagguk.
" Kalau begitu kita permisi bunda, tante " Rivan dan Syafa mencium tangan keduanya sebelum pergi.
To be continued!!!