The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Luka



" Kalau begitu lanjutkan perjodohan ini pa " Ujar Syafa membuat papa Rizky dan mama Lesty kaget.


" Kamu yakin nak? " Mama Lesty tampak sudah menyelesaikan makannya dan berjalan menuju putri dan suaminya. Syafa mengagguk pasti.


" Selama satu minggu Syafa menyendiri dan hampir setiap malam Syafa sholat istikharah. Tiga hari setelahnya Syafa bermimpi yang menunjukkan seolah Syafa harus menerima perjodohan. Bahkan selama beberapa malam Syafa selalu mendapatkan mimpi yang sama. Beberapa kali Syafa mencoba meyakinkan hati dan insyaallah Syafa sudah ikhlas menerima semuanya. Mungkin mas benar! Ini cara Tuhan menemukan Syafa dengan jodoh Syafa. Jadi Syafa mohon jangan mengecewakan sahabat papa dan mama. Syafa siap menjalani semuanya " Ujar Syafa dengan penuh penegasan membuat kedua orangtuanya menatap haru sekaligus heran.


" Papa nggak mau kamu melakukan semuanya dengan terpaksa nak. Tolong pertimbangkan lagi! " Ujar papa Rizky. Kini makanan yang dibawakan Syafa sudah habis. Syafa kembali menyimpan wadah makanannya. Setelah itu ia kembali fokus pada kedua orangtuanya.


" Syafa nggak terpaksa. Syafa ikhlas pa. Lagipula Syafa nggak punya pacar jadi Syafa rasa nggak ada alasan untuk menolak " Jawab Syafa dengan nada candaan membuat kedua orangtuanya terkekeh.


" Kamu benar benar yakin dengan keputusanmu ini nak? " Tanya mama Lesty lagi. Syafa menatap mamanya dan kemudian merangkul pundak sang mama yang tampak sedikit bersedih.


" Insyaallah ma! Syafa hanya minta doakan Syafa supaya pernikahan Syafa nanti akan menjadi pernikahan yang barokah, samawa dan yang terpenting Syafa bisa bahagia seperti mama dan papa " Ujar Syafa tersenyum lebar. Ia memeluk mamanya.


" Maafkan mama ya nak! "


" Tolong berikan keikhlasan pada hatiku untuk menerima semuanya ya Allah. Hanya engkaulah maha pembolak balik hati manusia "


Ceklek..


Pintu ruang rawat VVIP itu kembali terbuka. Tampaklah seorang pria datang menggandeng tangan seorang wanita dengan seorang anak laki laki.


" Kakek, nenekkk" Suara anak laki laki itu menggelegar di ruang rawat papa Rizky membuat suasana haru itu seketika menjadi cair.


" Nabil, jangan teriak teriak! Nanti kerongkonganmu sakit " Ujar mama Lesty memarahi cucunya.


" Maaf nenek! " Nabil menunduk membuat seisi ruangan tampak gemas melihatnya.


" Kemarilah cucu kakek! " Ujar papa Rizky. Nabil berlari kearah papa Rizky dan Syafa mengangkat tubuhnya keatas ranjang papa Rizky.


" Ma, Pa! " Sapa Raka seraya mencium tangan keduanya. Diikuti oleh istrinya.


" Gimana keadaan papa? " Tanya Nayra pada kedua mertuanya.


" Papa udah baik baik aja Nay! Dafa saja yang belum memperbolehkan papa pulang, padahal papa juga pengen kumpul dengan semuanya. " Keluh papa Rizky pada menantu tertuanya.


" Adik ipar ada benarnya pa! Lebih baik papa dirawat sampai benar benar sembuh daripada nanti muncul gejala tambahan yang membuat papa bertambah sakit. Tenang saja kami semua akan menginap dirumah utama sampai papa pulang kerumah. Jadi Nayra harap papa sedikit bersabar! " Jawab Nayra membuat semuanya tersenyum. Tapi tidak dengan papa Rizky.


" Iya, terserah kalian! Papa memang nggak bisa melawan kata dokter "


...****...


Pukul 12.30


Sesuai janjinya dengan Marsel, Syafa langsung berangkat ke perusahaan papanya ketika selesai makan siang dirumah sakit bersama kedua orangtuanya juga kakak pertama dan kakak iparnya itu.


" Kalau mau pulang, telpon abang atau yang lain. Biar kami jemput! " Ujar Raka sesaat sebelum Syafa turun dari mobil. Syafa mengagguk seraya mencium tangan abangnya itu.


" Abang juga hati hati. " Syafa segera turun setelah berpamitan pada Raka. Raka menjalankan mobilnya menuju rumah sakit untuk menjemput istri dan anaknya. Sedangkan dirumah sakit kini ada Rasya dan adik mama Lesty yang baru kebetulan ada di kota Bandung menemani mama Lesty. Dan twins H ikut bersama uncle dan auntynya pulang kerumah.


" Selamat siang nona muda! Tuan muda Marsel menunggu anda di ruangan tuan besar " Ujar asisten pribadi papa Rizky menyapa Syafa yang baru saja masuk ke perusahaan.


" Siang paman Ed! Baiklah, kalau begitu saya langsung keruangan papa saja " Jawab Syafa seraya melangkahkan kakinya menuju ruangan papanya diikuti oleh paman Edwin. Sesampainya di depan ruang kerja papa Rizky, Syafa berpapasan dengan seorang gadis.


" Haii nona Gina Dautysillah, senang bertemu anda kembali " Sapa Syafa dengan senyum yang terlihat mematikan. Gina mendongak, sedikit terkejut karena melihat Syafa berada disana.


" Tidak menyangkah ya! Setelah sekian lama akhirnya kita bertemu kembali diperusahaan yang begitu besar ini. " Ujar Syafa lagi membuat Gina mendengus kesal.


" Bukan urusan anda! " Sinis Gina


" Paman Ed, bekerja dibagian apa nona ini? " Tanya Syafa pada paman Edwin yang masih berdiri disampingnya.


" Gina bekerja di bidang akuntansi keuangan perusahaan nona muda. Dia adalah salah satu rekomendasi dari tuan Damar, manager keuangan perusahaan ini " Jelas paman Edwin.


" Jangan terus mencampuri urusan orang lain nona Syafa, Saya tidak mengganggu anda! Lagipula bukan wewenang anda mengatur karyawan yang bekerja pada perusahaan ini " Balas Gina masih dengan nada sinisnya membuat Syafa tersenyum masam.


" Paman Ed, tolong tes ulang kemampuannya dan pekerjakan dia pada bidang yang benar benar ia kuasai. Saya tidak ingin perusahaan ini hancur hanya karena seseorang yang bekerja tidak sesuai pada keahliannya. Lain kali kalian tetap harus mengetes orang yang bersangkutan siapapun yang merekomendasikannya. " Tegas Syafa


" Baik nona, maafkan kelalaian kami " Jawab paman Edwin.


" Oiya beritahu padanya siapa saya! Saya tidak suka dipandang remeh seperti ini. Jangan sampai saya memecatnya secara tidak terhormat untuk yang kedua kalinya " Ujar Syafa seraya melangkah keruang kerja papanya. Sedangkan paman Edwin masih berdiri ditempat bersama Gina.


" Gina, lain kali kau harus lebih sopan pada nona Syafa. Dia adalah anak pemilik perusahaan ini. Oiya besok temui saya diruangan saya! " Ujar paman Edwin seraya melangkah meninggalkan Gina yang masih mematung ditempat.


" OMG, ternyata aku telah bermain main dengan orang yang salah! "


...***...


" Aak! " Panggil Syafa pada kakak keduanya yang sedang sibuk membereskan berkas berkas yang Syafa sendiri tidak tahu berkas apa itu. Disana juga sudah ada Aleta yang terlihat memangku sebuah buku kuliahnya.


" Syafa, kemarilah! " Syafa mendekati aaknya itu.


" Ini, tolong kamu pelajari! 30 menit lagi kamu akan bertemu klien kita dari Rivprant Corp " Ujar Marsel seraya memberikan sebuah berkas pada Syafa.


" What? Kenapa harus aku a'?? " Tanya Syafa dengan raut wajah yang cukup terkejut. Bagaimana bisa ia mempelajari berkas berkas itu dalam waktu 30 menit.


" Sebenarnya tadi aak yang mewakili papa. Tapi karena klien aak di Mrl. Group memajukan jadwal meeting, terpaksa kamu yang mewakili. Lagipula kamu sudah biasa bertemu klien. Apa susahnya? " Ujar Marsel seraya duduk di kursi kebesaran sang papa dan mengeluarkan laptopnya.


" Tapi ini berbeda a' " Rengek Syafa.


" Sama aja Syafa! Cepat pelajari berkas itu, jangan membuat waktumu terbuang sia sia. Aak juga banyak pekerjaan " Tegas Marsel membuat Syafa tak bisa berkutik lagi.


" Hemm.. "


" Paman Ed dan sekretaris papa yang akan menemanimu nanti "


" Adek berangkat kuliah dulu a', kak! Nanti adek mampir kesini lagi " Ujar Aleta.


" Iya, nanti tolong kamu periksa laporan keuangan yang diberikan pak Damar, Leta! " Sahut Marsel


" Oke a', assalamualaikum! " Aleta mencium tangan kedua kakaknya dan segera berlalu.


" Waalaikumsalam " Jawab keduanya.


Dua puluh lima menit tanpa terasa sudah terlewat begitu saja. Marsel sudah pergi ke perusahaannya sendiri dan melakukan meeting dengan kliennya. Dan kini Syafa duduk seorang diri di ruang papa Rizky. Ia terlihat fokus pada berkas yang dipegangnya.


Tok.. tok.. tok..


" Masuk! " Masuklah seorang pria paruh baya seumuran dengan papa Rizky.


" Maaf nona muda, kita harus berangkat sekarang. Sesuai janji sebelumnya, kita akan mengadakan meeting di restoran milik keluarga Pranata "


" Hemm.. baiklah, kita berangkat sekarang! " Syafa berdiri dan sedikit merapikan penampilannya. Diraihnya berkas yang ia pelajari tadi. Ia melangkah keluar dari ruangan itu diikuti oleh paman Edwin. Didepan ruangan Dhea sudah menunggu keduanya.


...****...


" Selamat siang tuan Edwin! Kami diperintahkan untuk mengantar anda dan tim keruang VVIP. Tuan muda sudah menunggu " Ujar seorang pelayan pria kepada Edwin yang berjalan bersama Syafa dan Dhea.


" Mari saya antarkan! " Mereka mengikuti langkah pelayan pria itu.


Setelah sampai didepan ruang VVIP, pelayan pria itu mempersilahkan tamu tuan mudanya itu masuk kedalam ruang VVIP.


" Terima kasih! " Jawab Syafa dengan senyum tipis dibibirnya. Pelayan pria itu mengangguk dan segera bergegas meninggalkan mereka.


Huhhh..


" Selamat datang tuan, nona! Perkenalkan saya Leo asisten pribadi tuan Rivando. " Sambut Leo sang asisten pribadi Presedir Rivprant corp.


" Saya Edwin asisten pribadi tuan Rizky. Perkenalkan ini nona Syafa, putri tuan Rizky yang akan mewakili tuan Rizky pada rapat kali ini. Dan ini Dhea sekretaris tuan Rizky " Jelas Edwin.


" Syafa " Ujar Syafa mengatupkan tangannya di depan dada dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


" Dhea, tuan! "


" Mari nona, tuan "


Leo mengantarkan mereka pada sebuah meja yang sudah menunggu seorang pria muda dengan setelan jas resminya.


" Maaf tuan, mereka sudah sampai " Seseorang yang duduk santai dikursi sontak berdiri dan menyambut Syafa dan rombongannya.


Degg..


" Mas Rivan! "


" Syafa! "


Keduanya berucap lirih dengan hampir bersamaan. Untuk sesaat mereka terdiam.


" Nona Syafa, anda baik baik saja? " Tanya paman Edwin pada Syafa yang terlihat melamun.


" Ah, iya saya tidak apa apa paman! " Jawab Syafa. Syafa mencoba bersikap profesional. Ia melangkah mendekati Rivan dan Asisten pribadinya yang bernama Leo.


" Selamat siang tuan Rivan, maaf membuat anda menunggu lama " Ujar Syafa seraya mengangkupkan tangannya didepan dada.


" Selamat siang nona Syafa, tidak masalah! Mari duduk " Jawab Rivan dengan senyum canggungnya. Syafa duduk didepan Rivan bersama paman Edwin dan Dhea. Hanya bersekat sebuah meja makan yang lumayan besar.


" Bisa kita mulai? " Tanya Rivan.


" Iya, tentu saja! Dhea berikan berkasnya "


" Ini nona "


Mereka semua fokus pada meeting, bahkan Rivan dan Syafa juga bersikap seprofesional mungkin sebagai rekan kerja.


" Baiklah, saya setuju! " Putus Syafa pada akhirnya seraya menandatangi berkas itu diikuti oleh Rivan juga.


" Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik, nona Syafa."


" Saya juga berharap demikian tuan Rivan " Syafa membereskan berkas berkas dan laptopnya yang berserakan di meja. Setelah itu ia beranjak diikuti oleh kedua rekannya itu.


" Kalau begitu kami permisi! "


" Syafa tunggu!! " Pekik Rivan. Syafa yang sudah melangkah pun menoleh.


" Iya? "


" Bisakah kita makan siang bersama, setidaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum kamu menikah dengan pria itu " Ujar Rivan yang membuat hati Syafa tiba tiba merasa sangat sakit. Perkataan Rivan sungguh menyiratkan sesuatu yang sangat menyakitinya. Entah apa dan kenapa sebabnya! Seolah Rivan mengingatnya pada pria yang bergelar calon suaminya, yang bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana rupanya.


" Ehmm.. baiklah tuan Rivan! Saya rasa saya punya waktu "


Syafa kembali mengajak paman Edwin dan Dhea duduk di kursi mereka tadi. Rivan memanggil pelayan dan pelayan itu mulai mencatat pesanan mereka.


" Paman Ed, apa setelah ini ada lagi meeting yang harus saya wakili? " Tanya Syafa pada paman Edwin.


" Tidak ada nona, tuan muda Marsel sudah menghandle semuanya " Jawab paman Edwin. Syafa tampak mengagguk mendengar ucapan paman Edwin.


" Ehm.. Syafa! "


" Iya tuan Rivan? "


" Bisa kita bicara biasa saja seperti biasanya. Lagipula meetingnya sudah selesai " Pinta Rivan.


" Ehmm.. baiklah, mas Rivan! " Jawab Syafa. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Bahkan ketiga manusia lain yang berada diruangan yang sama tampak diam saja. Tidak ada niatan untuk menyelah dan mencairkan suasana mengingat aura mencekam yang disebabkan kedua pimpinan perusahaan ini.


" Apa kamu bahagia? " Akhirnya kata kata yang tadi tertahan keluar juga dari mulut Rivan. Syafa menoleh, ia terlihat bingung dengan apa yang Rivan tanyakan.


" Bukankah pria itu jauh lebih baik dariku? " Tanya Rivan dengan senyum getir membuat Syafa semakin merasa bersalah saja. Kini ia mengerti dengan arah pembicaraan Rivan.


" Insyaallah aku bahagia mas! Bukankah membahagiakan kedua orangtua itu kewajiban kita sebagai anak? Aku hanya menjalankan kewajiban itu saja dan selebihnya aku serahkan semua pada yang kuasa. Tapi satu yang aku yakini, jika kita memikirkan kebahagiaan orang lain maka kebahagiaan itu juga akan menghampiri kita suatu saat nanti " Jawab Syafa dengan bijak membuat Rivan lagi lagi merasakan jatuh cinta yang sedalam dalamnya pada wanita yang berada dihadapannya ini.


" Dia benar benar bijak! Apakah memang benar benar tidak ada kesempatan untuk aku memilikinya Ya Allah? "


" Mas Rivan maaf! Maafkan aku yang sudah menggoreskan luka yang begitu dalam. Mungkin akan sulit untuk sembuh, atau bahkan.. " Syafa terdiam. Ia tahu Rivan pasti merasa sakit.


" Tidak akan bisa sembuh?! Nggak papa, jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu rasanya sangat sakit. Dan mungkin ini juga menjadi pelajaran untukku supaya suatu saat nanti aku nggak menorehkan luka yang sama pada perempuan lain " Ujar Rivan. Lagi lagi Syafa terdiam. Rasa bersalah kembali menyelimutinya.


" Maaf " Cicit Syafa untuk kesekian kalinya.


" Jangan terus meminta maaf Syafa! Semua ini bukan salahmu. Maafkan aku jika mengingatkanmu pada sesuatu yang menyakitkan " Ucap Rivan merasa tidak enak pada Syafa.


" Bisakah kita bersikap layaknya teman seperti biasa mas, seperti saat sebelum mas Rivan mengungkapkan perasaan padaku " Pinta Syafa. Ia merasa hubungan keduanya bertambah jauh. Tidak seperti dulu.


" Akan aku usahakan! Tapi tetap dalam batasan. Apalagi sebentar lagi kamu akan menikah begitupula denganku. Akan ada hati yang harus kita jaga nantinya " Jelas Rivan membuat Syafa tersentak. Kata kata Rivan pada akhir kalimatnya menyita perhatian Syafa.


" Maksudnya, mas Rivan akan menikah juga? " Tanya Syafa dengan rasa penasarannya. Rivan mengagguk lemah.


" Ayah juga menjodohkanku dengan anak sahabatnya. " Jawaban dari Rivan membuat Syafa merasa sakit. Entahlah, Syafa juga bingung dengan perasaannya. Atau lebih tepatnya ia tidak menyadari jika diam diam Rivan berhasil menepati ruang hatinya.


" Maaf tuan, nona makanannya sudah siap! Selamat menikmati " Ujar pelayan pria membawakan sebuah nampan diikuti beberapa pelayan lainnya memecahkan keheningan yang tercipta.


" Iya, terima kasih! " Ujar Rivan mempersilahkan para pelayan itu menata makanan dimejanya.


To be continued!!!!










Haii haii.. aku kembali lagi niihhh!! Sorry ya buat para readers yang nungguin updatenya novel ini. Beberapa minggu ini aku benar benar sibuk mengurusi dunia nyata..


Dan khusus malam ini aku bikin satu bab tapi panjangnya kayak dua bab demi kalian yang setia menunggu ceritanya Syafa dan Rivan. Doakan aku supaya nggak terlalu sibuk jadi bisa update secepatnya. Oiya, ceritanya masih panjang ya.. nanti akan ada konflik yang menghadirkan Celine, Reyhan dan juga Gina yang akan menjadi pemeran antagonis nantinya. Dan untuk visual, aku belom bisa janji kapan bisa kasih. Tapi kalau ada waktu nanti usahakan cari visualnya.


Salam sayang dari author, readers tersayang dimanapun berada.


TTD


Nanda Utamy💖