
Sama halnya seperti Syafa, dikediaman keluarga Pranata Rivan juga uring uringan karena tidak diperbolehkan keluar rumah. Beruntung kedua sahabatnya datang berkunjung.
" Ngelamunin apa woy!! " Tiba tiba Bagas dan Arka sudah duduk disamping Rivan yang masih sibuk memandangi bulan di balkon kamarnya.
" Nggak ada " Kilah Rivan tak bergeming. Bagas dan Arka duduk disampingnya. Rivan menghadap keatas sementara handphonenya dibiarkan menyala di pangkuannya.
Ting..
Bunyi handphone Rivan membuyarkan lamunan ketiganya. Mereka kompak mematap handphone itu.
" Bidadari Surga? " Gumam Bagas membuat Arka mengagguk. Mereka terdiam sesaat sebelum akhirnya otak mereka konek.
" Jadi galau nungguin chat dari ayang " Celetuk Arka membuat Rivan tersenyum malu.
" Apaan sih lo Ar! " Ketus Rivan. Ia sontak menjauh dari kedua sahabatnya itu.
" Ck, pelit amat sih Van! Gue cuma pengen liat doang " Jawab Arka lagi.
" Privasi gue! " Balas Rivan seraya membalas chat dari calon istrinya. Sementara Bagas dan Arka mencebik kesal.
" Baru calon udah posesif amat "
" Terserah gue lah " Rivan keluar dari dalam kamarnya tanpa peduli pada kedua sahabatnya yang menatapnya tak percaya.
" Kesambet apa tuh anak, ketus banget! " Gerutu Bagas memperhatikan Rivan yang kian menghilang di balik pintu.
" Efek kelamaan dipingit kali! " Jawab Arka asal.
" Bener juga ya! "
...****...
Selama satu minggu penuh, Syafa dan Rivan tidak di perbolehkan keluar rumah sedikitpun oleh orangtua mereka. Selama itu, mereka hanya uring uringan di rumah. Namun, mereka selalu saling memberi kabar lewat handphone. Bahkan, hampir setiap jam mereka saling berkirim pesan.
Dan hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup mereka. Acara akad nikah akan dilaksanakan beberapa menit lagi.
Tempat yang dipilih adalah kediaman keluarga Ferdian. Halaman belakang yang begitu luas sudah didekorasi dengan sangat indah dan elegan oleh WO terbaik yang sengaja di sewa oleh mama Lesty dan bunda Viona. Kursi kursi dan meja untuk tamu juga sudah berjejer rapi di sana.
" Syafa... lo cantik banget! " Puji Rara yang baru masuk kedalam kamar tempat Syafa dirias bersama Asya.
" Asli, lo ratunya hari ini " Sambung Asya membuat Syafa menunduk.
" Gue gugup tahu " Kilah Syafa membuat kedua sahabatnya tersenyum.
" Nggak usah gugup gitu dong! Calon mempelai harus happy. " Hibur Rara.
" Btw selamat ya, gue nggak nyangkah lo duluan yang nikah.. Jangan pernah lupain kita Fa " Tiba tiba Asya memeluk Syafa membuat Syafa juga tersentuh.
" Iya, pokoknya jangan pernah lupain kita! Awas aja " Ancam Rara yang ikut memeluk sahabatnya itu.
" Gue nggak akan lupain sahabat sebaik kalian kok. Makasih ya kalian udah mau jadi sahabat gue "
Ceklek..
Pintu kamar terbuka dan nampaklah Nayra dan Rasya yang masuk kedalam kamar.
" Calon suami kamu sudah sampai dek, ayo turun " Ujar Nayra. Rara dan Asya melepas pelukannya.
" Rara, Asya! Kalian temani Syafa kedepan ya " Sambung Rasya. Kedua sahabat Syafa itu mengangguk. Nayra memasang cadar pada Syafa seperti permintaan Rivan. Rivan ingin setelah ijab qobul ia yang pertama melihat kecantikan wajah istrinya.
" Sudah, ayo keluar! " Nayra dan Rasya menuntun Syafa keluar dari dalam kamar diiringi oleh Rara dan Asya yang setia memegangi ekor gaun Syafa yang lumayan panjang.
Sementara di halaman belakang, tampak sudah ramai dipenuhi tamu undangan. Bukan hanya tamu undangan, keluarga besar keluarga Ferdian, Amberlt, Pranata dan Lazuardy juga sudah tampak memenuhi halaman rumah. Bahkan mempelai laki laki sudah duduk didepan penghulu dan petugas MUA. Tinggal menunggu kehadiran mempelai wanitanya.
Tap.. tap.. tap..
Suara derap langkah menyita perhatian semua orang yang ada di sana. Syafa berjalan dengan anggun menuju ke altar pernikahan di dampingi oleh kedua kakak iparnya dan juga dua sahabatnya. Rivan yang semula menunduk kini menatap penuh kagum pada sosok yang sedang berjalan menghampirinya. Kecantikan yang tetap terpancar walaupun sebagian wajahnya ditutupi oleh cadar.
Sementara Syafa kini dituntun duduk disamping Rivan. Sesaat keduanya saling memandang.
" Ehmm.. bisa kita mulai? " Tanya papa Rizky seraya terkekeh kecil melihat tingkah calon pengantin ini.
" Eh, iya om! " Jawab Rivan gelalapan karena lagi lagi ia kepergok memandangi Syafa. Setelag semua siap, acara langsung dimulai. Mulai dari kata sambutan, nasihat nasihat, khutbah nikah dan serangkaian acara adat lainnya. Kini tibalah acara yang paling di nanti, yaitu pengucapan ijab qobul. Papa Rizky menjabat tangan calon menantunya yang terasa sangat dingin.
" Rileks saja Rivan! Jangan dibawa tegang " Lirih papa Rizky. Rivan mengagguk pelan.
" Bismillahirrahmanirrahim.. "
" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Muhammad Rivando Pranata bin Andra Aprianto Pranata dengan putri kandung saya Syakilah Asyafa Ferdian binti Rizky Dirgantara Ferdian dengan mas kawin uang tunai sebesar tujuh ratus tujuh puluh tujuh juta rupiah, dua suku emas batangan dan seperangkat alat sholat dibayar tunai " Papa Rizky sedikit menyentak tangannya.
" Saya terima nikah dan kawinnya Syakilah Asyafa Ferdian binti Rizky Dirgantara Ferdian dengan mas kawin tersebut dibayar tunai " Rivan menyahut dengan lantang dan dalam satu tarikan napas.
" Bagaimana para saksi, sah? "
" Sahh.. "
Syafa menangis haru. Detik ini, ia sudah resmi menyandang gelar sebagai istri dari Muhammad Rivando Pranata.
" Alhamdulillah.. "
" Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin... " Usai berdoa, Syafa dituntun oleh sang mama untuk mencium tangan suaminya. Tangannya gemetar saat berhasil meraih tangan Rivan yang terulur. Ini pertama kalinya ia bersentuhan dengan pria lain selain kakak dan papanya.
Setelah itu Rivan mencium kening Syafa seraya mengucapkan doa dengan suara lirihnya. Mereka menandatangi beberapa dokumen dan bertukar cincin.
" Sekarang sungkeman dengan orangtua juga mertua kalian "
Pertama, mereka bersimpuh dihadapan ayah Andra dan bunda Viona. Kemudian baru papa Rizky dan juga mama Lesty. Kedua pasangan paruh bayah itu memberikan nasihat nasihat kepada anak dan menantu mereka dengan diiringi derai air mata. Suasana haru kembali terasa.
" Kau tidak penasaran dengan wajah cantik pengantinmu yang sudah dirias sedemikian rupa ini, Rivan? " Tanya Dafa memecahkan suasana haru yang tercipta. Syafa dan Rivan berdiri setelah bersungkeman kepada kedua orangtua mereka. Syafa sudah menunduk malu mendengar ucapan kakaknya. Sementara kedua orangtua mereka terkekeh.
" Bukalah cadarnya Rivan! Dan sekarang kau pun bebas memandangi putriku " Sambung papa Rizky terkekeh pelan seraya menyeka air matanya. Rivan tersenyum malu mendengar sindiran papa mertuanya.
" Bismillah.. " Tangan Rivan bergerak membuka ikatan tali cadar di belakang hijab yang Syafa kenakan. Jika sewaktu lamaran dulu, Syafa sendiri yang membuka cadarnya. Namun, kali ini berbeda. Suaminya lah yang membukanya.
" Masyaallah, kamu sangat cantik zaujatii " Puji Rivan membuat Syafa menunduk malu. Ini pertama kalinya Rivan memanggilnya dnegan sedikit mesra. Selama ini Rivan hanya memanggil namanya saja.
" Kamu juga tampan, ya zauji.. " Lirih Syafa.
...*****...
Acara akad sudah usai, sebagian tamu yang hadir juga sudah pulang setelah menyantap hidangan yang tersaji. Kini, Rivan dan Syafa beristirahat di kamar Syafa. Nanti malam akan diadakan acara resepsi di hotel milik keluarga Pranata.
Mendadak suasana menjadi canggung. Karena ini pertama kali bagi keduanya berduaan di dalam kamar dengan lawan jenis.
" Zaujatii.. Apa kamu berniat mengabaikan suamimu ini? " Tegur Rivan. Sedari tadi Syafa hanya duduk di depan meja riasnya seraya memghapus make up yang melekat di wajah cantiknya. Ia bahkan tidak menegur Rivan yang duduk di tepi ranjang. Entah tidak sadar atau sengaja menghindar.
" Maaf.. " Cicit Syafa. Ia masih canggung dengan suasana baru ini. Jadi ia berusaha menghindar.
" Apa sudah selesai? " Tanya Rivan yang kini beranjak dan memeluk Syafa dari belakang. Syafa terkesiap dan reflek mengelak.
" M.. maaf mas! Aku n.. nggak sengaja. Sungguh aku belum terbiasa " Ujarnya merasa tidak enak pada Rivan. Rivan tersenyum dan kembali mendekati Syafa.
" Nggak papa zaujatii, aku mengerti kamu belum terbiasa. Tapi lama lama juga akan terbiasa kok " Rivan kembali memeluk Syafa dan kali ini Syafa hanya diam.
" Jika sudah selesai, ayo istirahat! Nanti malam masih ada acara " Syafa mengagguk. Ia menaruh spons yang digunakannya pada meja rias dan mengikuti Rivan yang menarik tangannya menuju ranjang. Keduanya berbaring dengan posisi saling berhadapan. Meski masih sedikit canggung.
" Ana Uhibbuki Fillah, Ya Zaujatii.. " Rivan menatap Syafa penuh cinta.
" Ahabbakilladzii ahbabtani ilahuu, Ya Zauji.. "
To be continued..