The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Pertemuan tak disadari 1



Tak lupa sebelumnya, Hasna mengabari pada sang Abang agar menjemputnya di sebuah restoran fast food di kawasan dekat dengan arena latihan karate itu.


Hasna dan Safira menikmati kebersamaan mereka dengan bahagia dan disertai dengan canda tawa diantara satu sama lainnya.


Safira : " Tell me about you, Hasna.. "


Hasna : " Hmm... Mamaku bawel, abangku bawel, Ayahku juga bawel... " Katanya polos sambil mencocolkan kentang goreng kearah saus dan menyuapkan ke dalam mulutnya.


Safira terkekeh geli saat mendengar ucapannya.


Safira : " Come on baby, are you seriuosly? " Selidik nya.


Hasna : " Eumm gitulah, aku ceritain nih dulu mama aku pernah hampir berubah jadi Hulk loh, pas di kamar Abang aku ada majalah dewasa dan beberapa bungkus rokok yang ternyata.... bla.... bla.... bla.... "


Mengalirlah cerita Hasna yang sontak saja membuat Safira tak kuasa menahan tawa sampai air mukanya merah dan meneteskan air mata sampai lucunya.....


Safira : " Apa? hahahahhaha.... Aduh aduh, keluarga mu kocak yaa.... Its so sweet, aku sampe gak tahan buat gak ketawa lho.... " Tanggapan Safira di akhir cerita Hasna.


Keasyikan mereka terganggu manakala telepon genggam miliknya bersuara menandakan ada telepon masuk.


Safira melirik Hasna dan mengisyaratkan bahwa ia akan menerima panggilan telepon itu.


Safira : " Halo, ya, mang Ucit... "


"......"


Safira : " Uhhh kenapa bisa? "


"......"


Safira : " Ya udah deh, nanti Safira naik takai online aja yah! Jangan lupa kabarin mom dirumah.. "


"...... "


Ia pun mengakhiri percakapannya di telepon dengan wajah betenya. Hasna dapat dengan jelas membaca airmuka sahabatnya itu segera melontarkan pertanyaan : " Kamu kenapa Fira? Kok cemberut gituh sih? "


Safira hanya menggeleng.


Safira : " Barusan sopir aku telpon katanya mau ke bengkel dulu, ban mobilnya kempes. Hmm otomatis aku harus pesen taksi online deh nanti pulangnya! "


Hasna : " Emangnya kenapa sih kalo pake taksi online? " Tanya Hasna penasaran.


Safira mengangkat bahu dan berkata :


" Eumm.. sebenernya aku agak trauma pake kendaraan umum, Eumm bulan lalu, aku hampir aja jadi korban gangguan preman, hiyy aku aja masih trauma kalo inget itu, makanya aku pengen belajar karate buat melindungi diri... Tau khan gimana kehidupan jalanan diluar sana? " Ia bergidik ngeri.


Hasna tak mampu menyembunyikan rasa penasaran dan kagetnya : " Oh my God, Its true?? "


" I so sorry, please aku gak maksud buat bikin kamu sedih beb... " Tukas Hasna.


Safira : " No..no problem beb, everything its okey, aku bisa melalui masa-masa sulit itu kok.. Eumm sebenernya biang keladi itu semua justru datang dari orang-orang yang tadinya dekat sama aku... " Lanjutnya.


Wajah Hasna terlihat sangat penasaran dan belum memahami arah pembicaraan Safira. Sejenak obrolan mereka terhenti karena kini giliran telepon genggam miliknya bergetar nan bersuara.


Hasna : " Iya, halo bang... Hasna di tempat makan biasa nih... "


".........."


Hasna : " Oh gitu, oke siap, 5 menit yaa? "


"........."


Hasna : " Oya bang, kita antar teman Hasna dulu kerumahnya boleh bang? "


"........."


Hasna : " oke deh Abang yang baik, nanti Hasna bungkusin makanan favorit Abang yaa, sini Hasna cium muach muach Abang baik... "


Safira hanya tersenyum gemas sambil memperhatikan kawannya bercakap di telepon bersama lawan bicaranya di seberang sana. Setelah obrolan selesai, Hasna mematikan teleponnya. Hasna melambai ke arah pelayan dan memesan 2 porsi makanan yang hendak ia bawa untuk sang Abang baiknya itu.


Hasna : " Ayo Fira, kami antarkan kamu pulang yaa... Abangku udah setuju mau anter kamu pulang dulu, sekalian jalan-jalan kita... Hahahahah... "


Hasna segera berdiri dan menggandeng lengan sang sahabat menuju meja kasir dan mengambil pesanannya. Safira segera mengeluarkan dompetnya dikala Hasna hendak membayar tagihan dan berkata : " Eh Hasna, kamu gak lupa khan kalo hari ini aku yang traktir, anggap aku nyogok kamu pas tadi kamu bete nungguin aku hahahahha.... "


Hasna menepuk dahinya pelan sambil berkata : " Oia lupaaa, heum harusnya aku makan banyak tadi yah biar abis isi dompet kamu beb bayarin makanan aku whahahahha... "


Setelah selesai, mereka menuju lahan parkir. Ternyata Ikhsan mengenakan masker wajah dan jaket Hoodie berwarna hitam yang menutupi setengah tubuhnya karena tubuhnya sedang meriang dan sedikit demam.


Hasna dan Safira segera masuk kedalam mobil dan duduk di kursi belakang penumpang. Hasna terkejut melihat penampilan sang Abang, karena jarang sekali Ikhsan terlihat sakit atau lemas.


Hasna : " Loh, Abang sakit? Tumben rapi banget kayak mumi piramid di Mesir... " Hasna mendekatkan kepalanya ke bahu sang Abang.


Ikhsan : " Eits jangan deket-deket dulu, takut ketularan tau, Abang lagi batuk pilek nih, kebanyakan makan es krim sama kamu kemaren! " Tukasnya dengan suara agak berat.


Hasna : " Yaahh tau gituh, Abang istirahat aja dirumah. Biar Hasna pulang sama taksi online aja. "


Safira merasa tak enak hati mendengar pembicaraan kakak beradik ini.


Safira : " Eumm maaf, saya jadi gak enak hati bang, Hasna. Kalo gituh, saya turun aja ya, saya mau nunggu supir saya aja lagi ke bengkel, mungkin bentar lagi selesai... "


Ikhsan menoleh ke arah asal suara.


Ikhsan : " Its okey, no problem.. " Tukasnya.


Hasna : " Iya Fira, jangan kuatir gituh ah. Nanti dijalan khan sekalian kita bahas obrolan yang tadi sempat ketunda, heheheh aku kepooo... " Ujar Hasna.


Sedangkan Ikhsan yang ada dibalik kemudi mobil cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkah dua bocah labil itu. Tak perduli. Sampai Safira menyebutkan alamat rumahnya. Ikhsan merasa sangat familiar saat mendengar alamat yang hendak ditujunya itu.


Hasna memecah kesunyian.


Hasna : " Ayo donk Fira, gimana kelanjutannya tadi? "


Safira sebenarnya malas untuk membahas ini tapi melihat antusiasme Hasna, akhirnya ia bercerita pula, walau terasa ada sekat yang menghambat tenggorokannya. Pahit. Sesak. Nanar.


Safira : " Jadi gini beb, aku janjian sama cowok aku, Eumm anggaplah pacar bayangan doank gituh, aku gak pernah anggap hubungan kami spesial. Nah, dia bilang mau jemput aku di halte pas balik jam kuliah. Aku nurut aja..... "


Ikhsan mulai tertarik dengan obrolan heboh di belakang sana. Entah kenapa, ia serasa mengenali suara perempuan ini. Karena memang sudah kebiasaan Ikhsan tidak mau melihat wajah wanita yang bukan muhrimnya. Ikhsan selalu berusaha menjaga pandangannya.


Hasna : " Oohh mau dijemput sang kekasih hati toh, uhmm lalu lalu..... " Tanyanya penasaran.


Safira terlihat menghela nafas mencoba mengingat kembali kejadian berat itu.


Safira : " Nah, aku udah nunggu hampir satu jam. Tadinya sih everything its okey. Tapi tiba-tiba ada dua preman yang menodongkan pisau ke arah aku, tadinya aku pikir mereka cuma mau rampok uang dan isi tas aku, aku sih gak keberatan kok, asal mereka jangan lukai aku... "


Nafas Hasna tertahan membayangkan betapa beratnya situasi saat itu. Mata Ikhsan di balik kemudi diam-diam membulat sempurna menandakan betapa ia juga terkejut akan cerita dari kursi penumpang belakang itu.


Safira kembali meneruskan ceritanya : " Nah aku digiring ke area hutan gituh deh, mana suasananya ujan gerimis, ihh pokoknya serem gitu deh, mommy aku aja sampe ngajak aku ke psikiater buat ngilangin trauma aku... " Air muka Safira tertunduk dan terlihat sedih. Sedangkan Hasna terlihat merasa sangat bersalah.


Hasna : " Udah deh, stop, jangan diceritain lagi... Aku gak mau liat kamu sedih! " Kata Hasna sambil memeluk sahabatnya itu. Sedangkan Ikhsan, ia hanya menghela nafas berat. 'Ya ampun, ternyata cewek ini lagi...' Gumam Ikhsan sambil berusaha untuk tetap konsentrasi kearah jalan raya.


Hasna : " Maafin aku, Fira. Aku gak nyangka ujian kamu seberat ini. Aku jadi ngerasa gak enak hati, maafin aku.. " Tukasnya kepada Safira. Sedangkan Safira hanya menggeleng dan tersenyum ke arah sang sahabatnya itu.


Safira : " Its okey baby, no problem. Biarin aku luapin semua uneg-uneg aku biar plong. Kamu mau khan jadi pendengar aku? " Safira menatap Hasna dengan tatapan teduhnya. Hasna mengangguk.


Safira : " Asal kamu tau Hasna, bagian preman itu bukan bagian terbaiknya. Pas aku lagi disekap, aku denger si preman itu bicara di telepon dengan seseorang dan ternyata si preman itu cuma suruhan orang jahat yang nyuruh mereka buat sekap aku... "


" Aku takut dan panik banget. Aku berusaha teriak minta tolong. Nah gak lama, ada cowok ganteng yang datang kesitu buat nolong aku, ya ampun antara shock, seneng, terharu pokoknya, Tuhan kirim malaikat itu buat selametin aku... " Hasna tercekat. Ikhsan mulai tak tahan dengan kondisi ini. Entah kenapa perasaan Ikhsan jadi tak menentu.


Sedangkan Safira masih tenang menceritakan pengalamannya itu.


Safira : " Nah si cowok itu sempet berantem juga, terus dia todongin pistol terus preman itu lari kocar-kacir, hahahahhaha... " Tawa Safira lepas.


Ikhsan sudah mulai tak terkontrol saat ini. Rasanya ia ingin segera kabur jauh dari dua cewek labil itu. 'Aduh ya ampun, kenapa gini siii...' Gumam Ikhsan.


Safira kembali meneruskan ceritanya : " Singkat cerita, si cowok itu antar aku pulang dalam keadaan aku waktu itu kacau banget. Udah gituh ya udah, bahkan bilang terima kasih aja aku malah lupa..! " Safira menepuk dahinya.


Ikhsan mulai salah tingkah. Keringat dingin mulai mengucur di wajahnya. Kakinya udah mulai lemes. Nervous banget dah!!


Hasna makin tertarik dan gak berkedip sama sekali. Perasaannya diaduk-aduk terbawa emosi dari cerita Safira.