The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kisah Ayah dan Mama



Mereka tertawa bersama. Gelak tawa itu makin terdengar riuh saat orangtuanya memperdebatkan siapa yang pertama menyatakan cinta. Kata Daddy, tentu saja mommy yang jatuh cinta duluan sama Daddy. Mommy pun menyangkalnya. Entahlah Safira juga bingung melihat tingkah mereka.


Malam ini mereka habiskan dengan canda tawa antara mom, dad dan juga Fira, yang menggema di setiap sudut ruangan dirumah ini.


Rumah Ikhsan


Malam ini belum juga menyurutkan debar hebat di jantung Ikhsan. Seusai kejadian bertemu kembali dengan gadis cantik yang tempo hari ia selamatkan, dan tentu saja memuji dirinya bagaikan pahlawan dimata sang gadis membuat perasaannya melambung tinggi melewati langit biru.


'Apa yang harus aku lakukan?'


'Apa aku harus kerumahnya? atau tidak...'


'Lalu aku harus bilang apa?'


'Apa yang harus aku katakan?'


Perdebatan batin itu memenuhi relung hati Ikhsan yang membuat sesak dadanya.


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu kamarnya.


tok tok tok.


Disusul suara cerewet dan bawel khasnya sang mama.


Mama : " Ikhsan sayang, ayolah turun. Kita makan bareng. Kasian Hasna dan Ayah udah nunggu. "


Ikhsan : " Siap komandan! " Ikhsan segera menjawab sambil mempraktekkan gaya hormat pada sang mama. Mama tersenyum dan membelai lembut wajah sang anak sulungnya itu.


Mama : " Nak, entahlah.. Mama rasa, dalam waktu dekat ini kamu akan menemukan jodoh.. "


Glek! Tawa di wajah Ikhsan seketika memudar. Ia kaget, bingung dan apalah perasaan campur aduk.


" Jodoh memang di tangan Allah nak, Allah sudah mentakdirkan jodoh kita datang disaat yang tepat, waktu dan tempat yang tepat. "


Ikhsan mematung. Gelagapan.


Ikhsan : " Haduh mama, kenapa jadi bahas ini sih? Khan mama tau, Ikhsan paling males bahas hal ini... Ikhsan belum ketemu cewek yang ummm... yang pas dihati gituh mah.. "


Mama tersenyum menatap kedua mata anak sulungnya itu.


Mama : " Mama akan mendoakan yang terbaik untukmu, nak.. " Mama nyelonong gitu aja saat berhasil mengobrak-abrik perasaan Ikhsan saat ini.


Namun karena Hasna dan Ayah sudah menunggunya di ruang makan, Ikhsan mau tak mau mengekori langkah sang mama menuju ruang makan.


Suasana makan malam dirumah Ikhsan terasa sangat hangat dan menyenangkan. Sesekali terselip candaan yang mampu memecah tawa diantara mereka.


Ayah : " Nak dengerin yah, biar ayah nostalgia sebentar, kalian penasaran gak sih gimana ceritanya mama sama ayah ketemu? "


Mama terlihat menggelengkan kepala namun menampakkan wajah tersenyum menanggapi obrolan sang suami.


Hasna dan Ikhsan begitu heboh dan mulai memasang wajah kepo tingkat maksimal.


" Ayah sama mama ketemu di toko alat tulis kakek kamu. Dulu mamamu terlihat sangat cantik memakai seragam dinasnya sebagai guru TK, rupanya mama mau memfotokopi berkas untuk melengkapi syarat jadi PNS.. " Ayah bercerita sambil melayangkan tatapan kearah mama. Mama membalas tatapan ayah dengan senyuman penuh cinta.


Hasna dan Ikhsan cuma 'berciyeeee' ria makin menambah keromantisan suasana mama dan ayah saat ini.


Mama : " Iya, tapi mama sebel banget liat ayah, ya ampun cuma fotokopiin KTP dan berkas aja laaammmaaa minta ampun, sedangkan berkas itu udah ditunggu loh sama pihak dinas pendidikan waktu itu... ampun deh ayah! " Mama membrendeli cerita ayah dengan tanggapan menggemaskan.


Ayah cuma bisa tertawa.


Ayah : " Iya laahh, kalo gak gituh, ayah gak akan tau nama asli dan alamat rumah mama kalian loohh... "


Hasna dan Ikhsan : " Terus, teruuuusss?? " Tanya anak-anaknya kompak.


Mama menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mungkin ada sedikit rasa malu terpancar dari sana.


Ayah : " Yah, ayah datengin aja rumah kakek kalian. Nekat broh! "


Hasna dan Ikhsan sampe memasang wajah tegang menyimak cerita sang ayah.


" Ayah mengetuk pintu dan ternyata yang bukain pintu itu sialnya kakek kalian lah, alias bapaknya mama kamu tuh... '


Mama menutup mulutnya menahan suara tawa supaya tidak merusak suasana tegang cerita suaminya itu.


" Ayah tadinya gentar loh, secara gituh kakekmu khan tentara, terus muka kakek kalian tuh hiiyyy gak ramah, serem lah.. Aduh bapak mertua, maafkan menantumu ini... Tenanglah di alam sana yaa..." Mama mencubit pinggang sang suami sehingga terdengar pekikan dari mulut sang suami :


" Awwwww... ampun mah! "


Hasna dan Ikhsan tertawa lepas menyaksikan kekonyolan sang ayah dan mamanya.


"Karena tekad ayah sudah bulat, ayah pantang mundur dan akhirnya menurut saja ketika sang kakek menyuruh ayah masuk keruang tamu dan mempersilakannya duduk di sofa empuk itu.."


" Aduuuh jantung ayah berasa mau copot liat mama kamu yang pakai baju santai kala itu... " Mata ayah menerawang.


_____Flashback on_____


Ayah Ikhsan \= Satrio


Kakek Ikhsan \= Bapak Nur Saputro


Bapak Nur : " Jenengan sopo? Ada perlu apa tho?"


Satrio : " Iki tho pak, saya minta maaf tapi anak perempuan bapak sudah mencuri dan itu merugikan saya... "


Wajah ramah Bapak Nur mulai hilang. Nampak Bapak Nur mengernyitkan dahi keriputnya.


Bapak Nur : " Maksudmu opo? Ndak mungkin anak saya mencuri! "


Satrio : " Silakan tanya sama anak perempuan bapak, apa tadi dia datang ke toko percetakan saya? "


Bapak Nur : " Sartika, Sartika, kesini sebentar nduk! "


Sartika datang ke ruang tamu dengan tergopoh-gopoh.


Sartika : " Ada apa tho, pak? Teriak-teriak gitu bikin Tika kaget aja. " Sartika menoleh ke arah tamu lelaki yang wajahnya tidak asing itu.


Bapak Nur : " Ayo coba jawab nduk, apa betul kamu pernah datang ke toko percetakan pemuda ini? " Tunjuk kakek kepada si pemuda asing itu.


Sartika tampak memperhatikan wajah pemuda yang masuk kategori tampan itu.


Sartika : " Hmmm iya pak, sepertinya tadi siang Tika dari toko mas ini lho, fotokopi berkas pak... "


Wajah Bapak Nur kian menegang.


Bapak Nur : " Jadi, apa yang kamu curi, nduk? " Tanya sang bapak kepada Tika.


Sontak saja Tika memasang wajah tegang dan matanya melotot merasakan nyeri di dadanya ketika label SANG PENCURI itu ditujukan kepadanya.


Sartika : " Loh? Maksud bapak dan masnya ini apa tho? Mencuri apa? Siapa maksudnya? " Brendelan pertanyaan memberondong kedua lelaki itu.


Satrio menyunggingkan senyum. Sedangkan Bapak Nur makin merasakan hal ganjil diruangan ini. Entahlah.


Satrio : " Anak gadis bapak, tadi siang memang betul datang ke toko percetakan saya. Tapi bukan sekali dua kali. Tadinya saya tidak memperdulikan, tapi makin kesini entah kenapa dia sangat menggangu dan merugikan saya. "


Bapak Nur menghela nafas berat. Sartika sudah ingin rasanya menangis.


Sartika : " Saya ini dididik jujur oleh orangtua saya sedari kecil. Tidak mungkin saya melakukan hal bodoh itu, mas! "


Satrio menggeleng.


Satrio : " Lalu, jika kamu terbukti mencuri, apakah kamu mau menerima konsekuensinya, dek Tika? "


Sartika : " Iya, jika memang saya terbukti melakukan tindakan amoral, saya siap dihukum. "


Pak Nur terlihat makin gelisah dan bingung.


Satrio : " Kalau begitu, saya minta doa restu dari bapakmu, Pak Nur, untuk membawa dek Tika ke kantor urusan agama, alias KUA, karena anak bapak telah lancang mencuri hati saya! "


" Gara-gara putri bapak, saya jadi tak enak tidur, tak enak makan, bahkan hilang semangat jika sehari saja saya tidak melihat dek Tika. Maka dari itu, saya selalu sempatkan untuk mencuri pandang kepada dek Tika jika dek Tika sedang berada di toko saya.. "


Suasana yang tadinya tegang itu berubah menjadi kikuk dan konyol. Pak Nur menunjukkan air muka bahagia dan senyum merekah di bibirnya. Sedangkan Tika hanya melongo dan tak berkedip. Satrio pun tak kalah santainya. Ia meneguk kopi buatan Tika tanpa rasa berdosa sama sekali.


Namun Tika sudah tak sanggup menahan gejolak emosinya. Ia meraih bantal kursi dan melemparkannya kearah Satrio. Satrio berhasil menangkis serangan Tika. Sedangkan Pak Nur hanya memperhatikan mereka dengan seulas senyuman di bibirnya.


Nur Satrio : " Kalau begitu, ajak orangtuamu kesini nak, biar silaturahmi... "


Sartika menatap sang bapak dengan tatapan tak percaya. Dan malam menegangkan itupun berakhir manis sampai akhirnya Satrio dan Sartika menikah dan hidup bahagia dalam pernikahannya.


___ Flashback off ____


" Ha ha ha ha ha ha ha ha ha.... " Tawa Ikhsan dan Hasna mengema di ruangan itu selepas mendengar cerita nostalgia ayah dan mamanya.


Hasna : " Heuuhhh dasar ayah bucin, Hasna gak nyangka loh kalo ayah tuh Be U Ce I En, alias BUCIN alias budak cintanya mama.... Hahahhahaha "


Ayah : " Anggaplah itu perjuangan cinta ayah buat mama. Kalo gak berjuang, kami gak akan menikah dan punya anak-anak ajaib kayak kalian.... "


Hasna dan Ikhsan hanya menggelengkan kepala melihat kekonyolan sang orangtuanya. Namun tetap terselip bahagia diantara mereka.


Mama : " Iyaaaa, bahkan berani-beraninya ayah kalian melontarkan pepatah konyol kakek kalian, hmmm itu loh nak, kira-kira begini pepatahnya : CINTA ITU BAGAI KENTUT. JIKA DITAHAN BIKIN SAKIT PERUT, NAMUN JIKA DIKELUARKAN BIKIN RIBUT... Hahahahhaha "


Sontak saja kalimat terakhir mama membuat Hasna dan Ikhsan tak kuasa menahan rasa geli bercampur lucu sampai tak henti mereka tertawa terbahak-bahak.