
Pagi ini Syafa terlihat lebih ceria, walaupun suasana hatinya masih belum terlalu baik. Ia sudah siap dengan baju kerjanya.
" Selamat pagi aunty Syafa " Sapa Zahira pada Syafa yang baru menuruni tangga. Syafa tersenyum seraya menghampiri kakak iparnya.
" Pagi mbak, dan selamat pagi juga calon keponakan aunty " Jawab Syafa. Ia juga mengelus pelan perut kakak iparnya.
" Ayo sarapan dek " Ajak Zahira melangkah kearah ruang makan diikuti Syafa. " Yaampun maafin Syafa ya mbak, Syafa kesiangan jadi nggak bantuin mbak masak sarapan deh " Ujar Syafa. Hidangan untuk sarapan sudah tertata rapi di meja makan.
" Iya nggak papa dek " Jawab Zahira.
" Sarapanlah, mbak mau manggil mas Dafa dulu ya " Pamit Zahira. Syafa menggangguk dan memilih duduk di bangku menunggu mas Dafa dan mbak Zahira.
...*****...
" Mau kerja kamu dek? " Tanya Dafa seraya duduk di bangku meja makan diiringi Zahira.
" Iya mas, hari ini Syafa ada meeting sama klien Ferdian Jewelry " Jawab Syafa sembari memakan sarapannya.
" Katanya mau pulang ke Surabaya hari ini dek? Jadi nggak? " Tanya Zahira
" Jadi mbak, kayaknya sore "
" Besok aja sekalian dek, jangan sore. Ntar sampai Surabaya kemaleman " Usul Dafa
" Iya mas, liat keadaan nanti " Jawab Syafa. Mereka melanjutkan sarapan.
" Syafa berangkat ya mas, mbak! Assalamualaikum " Syafa beranjak dari tempat duduknya dan mencium tangan kedua kakaknya.
" Waalaikumsalam, hati hati dek " Balas Dafa. Syafa mengagguk dan berjalan keluar dari rumah megah milik Dafa. Ia masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya perlahan meninggalkan kediaman Dafa.
...****...
Ferdian Jewelry 💕
Syafa memarkirkan mobilnya di parkiran, setelah itu ia turun dan mulai memasuki gedung besar itu. Sebuah perusahaan yang ia rintis dengan kerja keras dan usahanya sendiri. Tanpa campur tangan kedua orangtua maupun keluarganya.
" Selamat pagi nona " Sapa beberapa karyawan yang melihat Syafa masuk dengan wibawanya.
" Pagi " Jawab Syafa tersenyum tipis sembari terus melangkah ke arah lift yang siap membawanya keruangannya.
" Cindy tolong siapkan berkas berkas untuk meeting nanti, bawa saja keruangan saya. Sebentar lagi tuan Damian akan datang " Ujar Syafa ketika melewati meja kerja Cindy
" Baik nona muda " Jawab Cindy. Syafa melangkah masuk kedalam ruangannya.
" Huuftt, lelah banget rasanya " Gumam Syafa. Ia menghempaskan tubuhnya kasar pada kursi kerjanya. Ia memejit pelipisnya, kepalanya terasa sangat pusing.
Dreetttt.. Drett...
Ponselnya berbunyi, Syafa melihatnya.
" Papa " Gumam Syafa. Ia belum siap berbicara dengan papanya. " Angkat nggak ya " Lirihnya seraya melirik ponselnya yang masih bergetar.
Akhirnya Syafa membiarkan ponselnya berbunyi hingga panggilan yang ketiga. Dan ponsel itu akhirnya mati sendiri.
" Maafin Kakak pa, kakak belum siap bicara sama papa " Syafa memandang layar ponselnya dengan penuh penyesalan. Baru kali ini ia mengabaikan panggilan papanya.
Syafa mengalihkan pikirannya dengan bekerja. Tapi tetap saja pikirannya kembali gundah. Ia tak bisa fokus pada kerjaannya.
Tok.. tok.. tok..
" Masuk " Ujar Syafa. Cindy membuka pintu ruangan Syafa dan melangkah masuk kedalam.
" Maaf nona, ini berkas yang anda minta " Ujar Cindy seraya meletakkan sebuah dokumen ke meja kerja Syafa.
" Terima kasih Cindy " Jawab Syafa.
" Oiya nona, tuan Damian akan sampai dalam 10 menit pagi. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan " Ujar Cindy menjelaskan.
" Huhh.. baiklah siapkan ruang rapat. Kabari saya jika mereka sudah sampai " Titah Syafa
" Baik nona " Jawab Cindy kemudian keluar ruangan.
" Ada apa dengan nona muda? Sepertinya dia banyak pikiran " Gumam Cindy ketika duduk di meja kerjanya.
...****...
" Kami cukup tertarik nona Syafa. Saya rasa putri saya akan sangat senang jika memakai perhiasan dari Ferdian Jewelry " Ujar tuan Damian. Syafa tersenyum.
" Kami sangat tersanjung jika anda bersedia bekerja sama dengan kami menyukseskan acara tunangan putri anda tuan Damian " Jawab Syafa seraya membalas uluran tangan tuan Damian.
" Silahkan ditanda tangani kontrak kerja samanya "
" Tentu nona, sepertinya saya akan memakai produk perusahaan anda sampai hari pernikahan anak saya " Jawab tuan Damian seraya mengeluarkan pulpen dan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Syafa sampai seluruh urusan pernikahan putrinya selesai.
" Oiya nona, apakah Syafa Boutique juga butik milik anda? " Tanya tuan Damian.
" Iya tuan, Syafa Boutique memang butik saya " Jawab Syafa.
" Baguslah kalau begitu, saya juga memesan baju pengantin hingga baju seragam keluarga dari sana nona " Ujar tuan Damian merasa senang.
" Baiklah, nanti saya akan menyuruh putri dan calon menantu saya untuk datang kemari memilih sendiri bentuk cincin dan lain sebagainya " Ucap tuan Damian
" Tentu tuan, kami tunggu kedatangan putri anda. Tapi mohon maaf mungkin untuk kedepannya mereka akan bertemu Gio asisten saya karena saya akan keluar kota setelah ini " Balas Syafa
" Tidak masalah nona, kalau begitu saya permisi "
" Iya tuan, semoga kerja sama ini terjalin dengan baik "
" Saya juga berharap demikian nona " Tuan Damian dan asistennya segera keluar dari ruangan itu. Sementara Syafa dan Cindy masih berada disana bersama Gio.
" Cindy, apa jadwal saya setelah ini? " Tanya Syafa menatap Cindy
" Tidak ada nona, hanya besok pagi pertemuan dengan nona Felice untuk mengkonfirmasi cincin yang beliau pesan " Jawab Cindy.
" Berarti aku nggak bisa ke Surabaya hari ini? " Batin Syafa.
" Baiklah, saya ke butik dulu. Hubungi saja jika butuh saya " Ujar Syafa sembari bangkit dari duduknya.
" Baik nona " Jawab Gio dan Cindy bersamaan. Setelah mengatakan itu Syafa langsung pergi ke butiknya.
...*****...
" Fa, lo nggak dateng ke acaranya kak Bimo dan kak Jihan besok? " Tanya Rara pada Syafa yang baru saja sampai di butiknya. Kebetulan Rara sedang disana, fitting baju untuk kondangan besok.
" Astaga iya! Aku sampai lupa besok acara resepsi pernikahannya kak Bimo dan kak Jihan" Batin Syafa. Sungguh ia benar benar lupa akan hal itu.
" Entahlah " Jawab Syafa.
" Kok gitu? "
" Rencananya hari ini gue mau balik ke Surabaya. Tapi berhubung besok ada meeting sama klien nggak jadi deh " Jelas Syafa dengan wajah yang kurang semangat.
" Bukannya lo bilang mau ke Surabaya tiga hari lagi? "
" Hemm.. rencana awalnya gitu, tapi gue banyak kerjaan yang nggak bisa ditinggal " Ujar Syafa. Rara mengerutkan dahinya.
" Kerjaan? Oh, ayolah Fa! Kita ini sahabatan udah dari jaman anak anak. Gue tahu bener sama lo. Jangan coba coba bohongi gue. Lo ada masalah apa? " Tanya Rara terus mengikuti Syafa yang masuk kedalam ruangannya.
" Nggak ada Ra " Syafa tetap kekeh dengan jawabannya.
" Jangan bohongi gue Fa! Sebenarnya lo anggap gue sahabat nggak sih " Ujar Rara kesal.
" Bukan gitu Ra, gue baik baik aja kok. Nggak ada masalah " Jawab Syafa seraya duduk di sofa diikuti Rara.
" Syafa "
" Apa Ra? Gue udah bilang nggak ada yang gue sembunyiin "
" Mulut lo bisa bohong Fa, tapi mata lo nggak. Jujur deh Fa "
" Rara gu.. "
" Apa? Yaudah kalau lo nggak mau cerita nggak papa. Tapi inget ya setelah ini jangan anggap gue sahabat lagi " Tegas Rara.
" Ra, kok gitu sih! " Syafa sudah pusing masalah perjodohan itu ditambah sahabatnya berbicara seperti itu.
" Rara please!! Rasanya kepala gue udah pusing dengan semua permasalahan ini. Jangan bikin gue tambah pusing " Keluh Syafa. Rasanya ia ingin lari saja dari semua masalah yang dihadapinya. Belum lagi papanya yang sedari tadi menelponnya, tetap saja ia abaikan.
" Ehmm... maaf Fa! Kalau ada masalah tuh cerita sama gue, gue siap dengerin lo. Siapa tahu kita bisa cari solusinya sama sama " Rara merangkul pundak Syafa yang sudah mulai terisak. Tak ada pilihan lain selain Syafa menceritakan masalahnya pada Rara. Walaupun tak menemukan solusi, setidaknya hatinya lebih plong.
" Lo yang sabar ya Fa! Gue yakin lo gadis yang kuat " Rara memberikan semangat untuk Syafa karena ia sendiri tak bisa memberikan solusi untuk masalah sahabatnya. Ia hanya bisa memberikan sedikit semangat untuk Syafa.
" Makasih Ra, lo dan Asya memang sahabat terbaik gue " Syafa memeluk Rara sambil menyeka air matanya.
" Bisa aja lo " Canda Rara. Syafa terkekeh.
" Yaudah² cukup ya acara nangis nangisnya. Aku mau fitting baju dulu nih " Ujar Rara melepas pelukannya
" Gue minta Inka buat temani lo nyari baju yang pas ya, maaf gue pusing banget " Ujar Syafa. Rara mengagguk.
" Lo istirahat aja, nggak usah dipaksain kerja " Ujar Rara
" Iya, Thanks ya Ra " Rara tersenyum dan keluar dari ruangan Syafa.
" Gue harap semua masalah yang lo hadapi akan cepat selesai. Gue yakin lo gadis yang kuat Fa. Gue yakin lo bisa lewati semua ini. Dan gue janji gue akan selalu ada untuk lo Fa. Gue janji! " Gumam Rara sembari melangkah keluar dari ruangan Syafa. Didepan ruangan Syafa, Inka sudah menunggunya.
" Mari saya akan temani nona mencari baju yang cocok untuk nona Rara " Ujar Inka
" Terima kasih ya mbak Inka "
" Ayo nona! "
" Ah, iya "
Rara dan Inka segera memasuki lift. Mereka turun ke lantai dua tempat baju baju dengan kualitas terbaik dipajang disana.
To be continued!!!