
" Tuan muda, nona muda! Tuan besar sadar, kami harus.. "
" Diamlah dokter, biarkan aku memeluk papaku! Jangan memberi harapan palsu " Sarkas Syafa yang masih memeluk papanya. Begitu pula Marsel. Dalam diam papa Rizky tersenyum, ia mengisyaratkan pada dokter Ryan untuk diam saja.
Tiba tiba seseorang pria dengan jas putihnya masuk kedalam ruang rawat itu. Ia menatap penuh haru melihat sang papa sudah membuka matanya. Tetapi ia kembali heran ketika melihat adik dan kakaknya yang menangis tersedu di dada bidang papa. Dokter Ryan dan dua suster juga tampak diam mematung di sudut ruangan.
Papa Rizky menyadari keberadaan putra ketiganya itu. Ia mengisyaratkan agar putra ketiganya mendekat. Dengan segera Dafa mendekat. Netranya berkaca kaca menatap sosok lelaki idolanya itu.
" Terima kasih sudah bertahan untuk kami pa! " Lirihnya. Papa Rizky tampak tersenyum.Syafa dan Marsel masih tidak bergeming ditempatnya.
" Heii, kalian mau membuat papaku sesak napas heh? Ayo bangkitlah " Sentak Dafa seraya menarik adik dan kakaknya yang bersandar pada dada bidang papa Rizky.
" Masss.. " Kesal Syafa seraya memutar wajahnya menatap tajam kakak kesayangannya itu.
" Apa?! Mau protes?. Kalian bahkan tidak sadar kalau papa sudah sadar! Setidaknya biarkan dokter Ryan memastikan keadaan papa " Ujar Dafa memarahi keduanya. Marsel dan Syafa sontak melihat papanya yang sekarang tersenyum kearah mereka.
" Papa, Maaf! " Lirih Syafa seraya memeluk papanya. Marsel dan Dafa juga berpelukan.
" Papaaaa.. " Teriak seorang gadis dengan baju kemeja dan rok khas mahasiswi masuk kedalam ruang rawat itu dan berhamburan memeluk papanya.
" Papa baik baik saja kan pa? Nggak ada yang luka? " Ujarnya lagi.
" Papa baik baik saja Leta, sekarang mas mohon kalian keluarlah dulu. Biarkan kami memeriksa keadaan papa untuk observasi lebih lanjut " Ujar Dafa menarik pelan kedua adiknya dari pelukan papa Rizky.
" Biarkan kami disini mas " Ujar Aleta
" Maaf nona, demi kenyamanan bersama sebaiknya kalian keluar terlebih dahulu. Kami juga perlu berkonsentrasi supaya tidak salah dalam melakukan tindakan lanjutan " Ujar dokter Ryan.
" Baik, kami akan keluar " Ujar Marsel. Ia merangkul kedua adiknya keluar dari ruang rawat papa Rizky.
" Nggak pake kursi roda lagi dek? " Ledek Dafa pada adiknya.
" Aku nggak selemah itu ya! "
...****...
Ketiganya duduk diluar ruang rawat papa Rizky. Tak lama Mama Lesty, Rasya dan Zahira kembali ke ruang rawat papa Rizky. Mereka menatap heran kearah ketiga kakak adik yang duduk didepan ruangan.
" Kenapa kalian diluar? " Tanya mama Lesty pada ketiganya.
" Mas dan dokter Ryan sedang memeriksa papa, ma! Papa.. "
" Papa kenapa? Apa terjadi sesuatu sama papa kalian? " Ujar mama Lesty memotong ucapan Syafa. Ia bahkan mengguncang bahu Syafa.
" Ma, tenanglah! Papa baik baik saja " Ujar Marsel merangkul pundak mamanya dan mengajaknya duduk.
" Teh Aca, Mbak Za! Kalian juga duduk dong. Kita nggak punya utang sama kalian ya " Ujar Aleta.
" Utang kamu banyak sama aak Leta!! " Ledek Marsel pada adiknya dan itu sukses membuat wajah sang adik cemberut.
" Ck, dasar ngeselin! "
" Teh, twins H nggak ikut? " Tanya Aleta pada kakak iparnya.
" Twins dirumah mbah uti nya dek! Tadi main disana. Eh dapet kabar dari mama kalau papa kecelakaan. Makanya teteh bergegas kesini " Jawab Rasya. Aleta mengagguk mendengar penuturan kakak iparnya.
" Maaf ya! Mama jadi merepotkan kalian semua nak " Ujar mama Lesty menatap sendu kesemua anaknya. Ada setitik kebahagiaan melihat keempat anaknya berkumpul seperti ini. Hanya minus Raka dan Nayra yang belum mendapatkan izin untuk cuti mengingat Raka yang baru saja pulang dari Surabaya.
" Kita nggak repot sama sekali ma, kita semua malah senang bisa dampingi mama. Jangan sungkan sama kita ya ma, anggap saja Zahira, teh Aca dan kak Nay kayak anak mama sendiri " Ujar Zahira memeluk mama mertua yang sudah seperti mamanya sendiri.
" Zahira benar ma! Kita akan selalu ada kapanpun mama butuh " Sambung Rasya. Mereka terus berbincang hingga tiba tiba pintu ruang rawat papa Rizky terbuka dan kedua dokter muda itu keluar dengan raut wajah yang sedikit sumringah.
" Bagaimana keadaan papamu nak? " Tanya mama Lesty harap harap cemas.
" Alhamdulillah pasien sudah sadar dan sudah berhasil melewati masa kritisnya. Tetapi tuan Rizky harus menginap setidaknya dua sampai tiga hari kedepan untuk benar benar memastikan keadaannya. Dan usahakan supaya lengan kiri tuan Rizky tidak banyak bergerak terlebih dahulu karena benturan yang cukup keras itu juga menyebabkan terjadinya sedikit keretakan! " Jelas dokter Ryan membuat mama Lesty dan yang lainnya cukup lega.
" Sama sama nyonya! Kalau begitu saya permisi. Mari semuanya.. " Dokter Ryan melangkah meninggalkan keluarga itu bersama suster.
" Kita sudah boleh masuk mas? " Tanya Mama Lesty pada Dafa yang tampak mematung.
" Iya ma, ayo.. " Dafa mempersilahkan semuanya masuk.
" Hati hati sayang!! " Ujarnya pada sang istri. Usia kehamilan yang masih muda membuat Dafa overprotektif pada sang istri.
" Nggak usah bucin disini! Masih ada anak dibawah umur kali " Ledek Syafa seraya melewati pasangan itu.
" Punya adek kerjaannya syirik aja! "
...*****...
" Mas.. " Lirih Mama Lesty seraya mendekati suaminya. Papa Rizky yang menyadari keberadaan mama Lesty dan anak anaknya sontak menoleh. Ia tersenyum senang ketika melihat semua anaknya berkumpul untuknya. Hanya Raka dan Nayra yang tidak terlihat disana. Tapi papa Rizky memaklumi karena anaknya itu merupakan seorang abdi negara. Negera adalah prioritas utamanya.
" Mas nggak papa kan? Ada yang sakit? Kenapa sih mas ceroboh banget! Bikin jantung Agrec rasanya mau copot " Ujar mama Lesty seraya memeluk suaminya. Air matanya juga mengalir begitu saja.
" Agrec sayang!! Mas nggak papa kok, jangan khawatir ya " Balas papa Rizky membalas pelukan istrinya dengan sebelah tangannya. Agrec, itu panggilan khusus dari papa Rizky untuk mama Lesty. Semuanya tersenyum senang melihat kedua orangtuanya seperti itu.
...****...
Malam Harinya..
Raka dan Nayra beserta kedua anaknya baru sampai di Kota Bandung. Mereka bergegas menuju rumah sakit. Setelah singgah sebentar, mama Lesty menyuruh mereka pulang. Awalnya semua menolak untuk pulang. Namun karena sang mama memaksa akhirnya semua pulang. Tinggal Marsel dan mama Lesty serta beberapa bodyguard yang menemani papa Rizky dirumah sakit. Tidak ada yang pulang kerumah pribadi, mama Lesty meminta semuanya berkumpul dirumah utama.
" Semuanya istirahatlah! " Ujar Raka. Mereka akhirnya berjalan menuju kamar masing masing.
...@@@...
Syafa membersihkan dirinya didalam kamar mandi. Setelah selesai ia mengambil sebuah buku bersampul merah berjudul " My Diary " Dengan namanya di bawah tulisan itu.
Muhammad Rivando Pranata..
Satu satulah lelaki yang mampu membuat jantungku berdetak kencang. Laki laki yang begitu mengingat hari bersejarah dalam hidupku.
Laki laki yang penuh keberanian mengungkapkan perasaannya padaku, tapi dengan berat hati aku tolak. Bukan tanpa alasan, aku hanya tidak ingin memberikan sebuah harapan yang nyatanya tak mampu aku wujudkan.
Perjodohan..
Iya, itu satu kata yang terngiang dipikiranku. Jujur rasanya lebih baik aku menerima dia yabg sudah jelas baik padaku dari pada menerima pria yang bahkan belum pernah aku kenal sama sekali. Tapi lagi lagi hati ini takut, takut jika mengecewakan sosok seorang pria yang dengan penuh kasih sayang menuntunku berjalan, merangkulku sehingga aku bisa sesukses sekarang. Takut, mengecewakan seorang wanita yang bahkan mempertaruhkan nyawanya demi menghadirkan aku kedunia.
Jujur aku kecewa, saat tahu papa dan mama menjodohkan aku tanpa meminta persetujuanku lebih dulu. Tapi apa boleh buat. Mungkin mas Dafa benar, ini cara Tuhan mempertemukan aku dengan jodohku.
Mas Rivan, jika mengingatmu rasanya hati ini semakin ragu. Tapi melihat kondisi papa tadi pagi membuat hati ini rasanya seperti tertusuk beribu pisau. Apalagi saat dokter mengatakan jika papa kritis. Pikiranku mulai berkelana, apa yang bisa aku lakukan untuk papa sehingga papa bisa semangat untuk sadar. Hingga aku kembali memikirkan perjodohan itu. Berkali kali aku meyakinkan hatiku, sampai saat benar benar siap aku ditemani aak Acel menemui papa diruang rawatnya. Aku benar benar mengatakan semuanya.
Hingga entah karena perkataanku atau bukan papa sadar. Aku sungguh bahagia. Dalam hati aku bertekad untuk memenuhi janjiku pada papa. Walaupun aku tahu papa mendengar ucapanku di alam bawah sadarnya tapi belum pasti dibawah ke alam sadar. Aku bertekad untuk menerima kehadirannya didalam hidupku.
Aku tahu rasanya sulit, tapi aku akan berusaha. Sedikit berkorban untuk kedua orangtuaku agar mereka dapat memenuhi janji kepada sahabat mereka. Mungkin dengan mengedepankan kebahagiaan orangtua, aku akan merasa lebih bahagia.
Mas Rivan..
Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku. Entahlah, kurasa aku sudah menorehkan luka yang begitu besar padamu. Tapi aku harap kita bisa menjadi teman. Walau tidak sebagai pendamping hidup, aku harap kita bisa berdampingan sebagai seorang sahabat. Ku akui kehadiranmu sungguh memporak-porandakan hatiku. Sungguh kehadiranmu begitu berarti. Aku harap pertemuan singkat ini bisa menjadi sebuah kenangan indah yang tak terlupakan. Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus.
I hope you are happy even if not with me..
You mean a lot to me..
My best friend forever 😍
Sebuah torehan tinta ia goresi dibuku diary kesayangannya, menggambarkan betapa hatinya sangat gundah.
To be continued!!!