
1 minggu telah berlalu, kini tugas para BEM hampir usai. Satu per satu kampus sudah mereka datangi dan dana yang digunakan untuk menyumbang desa yang terkena bercana juga sudah terkumpul. Hari ini, mereka bertujuh ditugaskan untuk berkunjung langsung ke desa itu dan memberikan sumbangan dana itu.
°°°°°°°°
Ferdian Home
" Syafa ayo buruan ntar telat " Teriak Nico didepan kamar Syafa.Ya, setelah kejadian itu Nico belum diperbolehkan Rizky tinggal diapartemen miliknya. Alhasil, sekarang ia tinggal bersama Rizky,Lesty dan anak anaknya. Syafa dan Nico juga sering berangkat kuliah bersama jika jam kuliah keduanya bersamaan.
" Iya bentar kak, ini juga mau selesai " Ujar Syafa sembari membentuk jilbab segiempat yang akan dia pakai.
" Yaudah, aku tunggu dibawah " Balas Nico
" Iya "
Setelah semua beres, Syafa turun ke bawah.
" Ayo kak, udah selesai nih " Ujar Syafa.
" Hemm.. yaudah kita berangkat sekarang "
" Oke "
" Ma, Pa kita pamit dulu ya. Assalamualaikum " Ujar Keduanya berpamitan pada kedua orangtuanya
" Iya, Waalaikumsalam " Jawab Rizky dan Lesty
" Hati hati dijalan ya nak " Pesan Lesty
" Oke mamaku sayang " Balas Syafa yg kemudian mencium pipi sang mama
Setelah berpamitan, mereka segera naik mobil. Mobil mewah itu melaju membela keramaian kota dengan kecepatan sedang.
" Kita jemput siapa dulu nih? " Tanya Nico. Hari ini mereka akan berangkat dengan satu mobil. Dan yang bertugas menjemput dari satu tempat ke tempat lain adalah Nico.
" Ehmm.. gimana kalau kerumah Rara dulu " Ujar Syafa
" Boleh " Sesampainya didepan gerbang rumah Rara, Nico membunyikan klakson mobilnya. Pak satpam yang mendengar suara klakson mobilpun segera keluar.
" Maaf,cari siapa ya? " Tanya Pak Satpam. Syafa segera menurunkan kaca mobil.
" Eh.. non Syafa, bapak kira siapa atuh " Ucap Pak Satpam
" He..he.. iya pak, Raranya ada? "
" Ada atuh non, monggo kedalam aja langsung " Ucap Pak Satpam
" Nggak usah pak, Tolong panggilin aja Raranya ya " Ujar Syafa
" Okelah kalau begitu, bapak tinggal dulu bentar ya. Punten "
" Iya pak " Tak lama Rara keluar. Setelah itu ia langsung masuk kedalam mobil.
" Kita berangkat ya pak, Mari " Ujar Syafa
" Jangan lupa jagain rumah jangan sampai ilang ya pak " Kelakar Rara
" Iya siap atuh non. Pokoknya non tenang aja waktu non pulang nanti rumah ini teh masih berdiri tegak disini " Jawab Pak Satpam
" Heheh iya pak " Ujar Rara
Mobilpun kembali melaju. Kali ini mereka menjemput Alisyah dan Nadin. Kebetulan rumah Alisyah dan Nadin bersebelahan. Sesampainya disana, Alisyah dan Nadin sudah menunggu di depan rumah mereka.
" Yuk masuk " Ajak Syafa dari dalam mobil
" Oke " Ujar mereka. Mereka pun masuk dan seperti biasa mereka duduk di jok paling belakang. Padahal Rivan sudah menyarankan agar Alisyah dan Nadin duduk ditengah bersama Rara sedangkan Rivan dan Kean duduk paling belakang. Tapi mereka menolak dengan berbagai alasan. Setelah dari rumah Alisyah dan Nadin mereka pun melaju ke rumah Rivan. Rivan yang sudah menunggu diluar pun segera naik. Dan terakhir Kean.
Setelah semua anggota lengkap, Nico menjalankan mobilnya ke Universitas Trisakti Dharma untuk mengambil yang akan mereka sumbangkan. Baru lah mereka menuju ke desa. 2 Jam kemudian mereka baru sampai di desa X. Nico segera memarkirkan mobilnya dipinggir jalan dan kemudian mereka semua turun.
" Selamat datang didesa kami " Sambut bapak kepala desa X. Pak Anton sudah memberi tahu kepada pak Romli selaku kepada desa X. Jadi ketika mereka datang, mereka langsung disambut. Mereka juga menggunakan blezer BEM Universitas masing masing jadi mereka mudah dikenali
" Oiya pak, kalau mobil kami diparkirkan disini kira kira ganggu kendaraan warga yang mau lewat nggak ya pak? " Tanya Nico
" Oh, nggak sama sekali kok nak. " Jawab Pak Romli
" Yasudah, kalau gitu kalian mau istirahat atau gimana? " Tanya pak Romli
" Untuk mempersingkat waktu sebaiknya kami langsung ke tempat pengungsian warga aja pak. Lagian tadi kami sudah istirahat dimobil. " Jawab Rivan. Semua orang mengangguk membenarkan ucapan Rivan.
" Baiklah kalau gitu ayo bapak antar, tapi kita jalan kaki ya soalnya jalannya sempit " Ujar pak Romli
" Nggak masalah kok pak " Jawab Syafa
" Oiya, ini ada sedikit bantuan dari Seluruh Universitas kota Bandung pak. Mohon diterima ya pak,mudah mudahan bisa sedikit membantu warga yang terkena dampak dari gempa ya pak" Ujar Syafa
" Waduh jadi ngerepotin nih, terima kasih ya " Ujar pak Romli
" Nggak ngerepotin kok pak, Oiya kami mau minta tolong sama warga buat bawain barang barangnya pak. Soalnya lumayan banyak pak " Ujar Nico
" Baiklah, saya panggil beberapa warga dulu buat bantu kalian " Ujar pak Romli
" Iya pak " Pak Romli pun memanggil para warga yang kebetulan lewat disana. Ia meminta tolong kepada warga untuk menolong Rivan and the gengs membawa barang sumbangan untuk warga desa. Dengan senang hati para warga bersedia menolong mereka.
Nico membuka bagasi mobil dan mengeluarkan satu per satu barang. Banyak sekali yang mereka sumbangkan. Mulai dari pakaian, obat obatan, bahan pangan, dan juga sejumlah uang.
Satu per satu warga mulai mengangkat barang barang itu untuk dibawa ke pengungsian warga. Syafa juga sangat antusias membantu membawa barang barang itu. Walaupun sudah dilarang ketiga rekan lelakinya tapi ia tetap keras kepala. Hingga saat akan mengambil salah satu barang yang sudah dikemas didalam kardus itu ia tak sengaja menginjak kulit pisang. Sepatu yang digunakan Syafa sedikit memiliki hak sehingga menyebabkan ia tergelincir.
" Ahh " Pekik Syafa. Rivan yang tak terlalu jauh dari Syafa segera mendekat dan dalam waktu yang tepat ia menangkap Syafa.
" Kok nggak sakit ya " Ujar Syafa dalam hati. Perlahan ia membuka matanya dan menatap ke arah lelaki yang menolongnya itu. Sesaat mata mereka saling bertemu
Deg .. deg.. deg
" Aduh kenapa jantungku dikso kayak gini" Keluh Syafa dalam hati
" Kenapa sih dengan jantungku" Batin Rivan
" Ehemmm.. udah dulu mesra mesraannya. Disini kita punya tugas bukannya pacaran " Ujar Nico. Sontak Syafa dan Rivan menoleh. Syafa pun langsung berdiri.
" Astaga apaan sih kak, tadi tuh mas Rivan cuma nolongin aku yang hampir kepeleset " Bela Syafa
" Iya, Syafa bener Nic. Kamu jangan mikir macem macem " Sambung Rivan
" Makanya jadi orang jangan keras kepala Syafa. Udah dibilangin tadi duluan aja biar para lelaki yang angkutin barang barangnya. Jadinya kayak ginikan. Gimana kalau tadi ada orang yang liat bakal jadi fitnah. Apalagi kalau papi sampai tahu, Makin rumit urusannya " Ujar Nico
" Iya iya maaf kak " Ujar Syafa menunduk
" Yaudah kamu duluan sana. Van lo bantu gue angkatin sisanya nih " Ujar Nico
" Oke " Syafa berjalan didepan Rivan dan Nico.
" Kak Nic "
" Hemm "
" Rara, Alisyah, Nadin sama Kean mana? " Tanya Syafa
" Mereka udah duluan kesana " Jawab Nico
" What? " Pekik Syafa
" Makanya kalau dibilangin itu jangan ngeyel, ditinggalin kan jadinya " Omel Nico
" Iya iya bawel banget sih dari tadi kayak ibu ibu kontrakan " Ujar Syafa. Sedangkan Rivan hanya mendengar perdebatan mereka.
To be continued!!