The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Nasihat Raka



Syafa sudah selesai menandatangani beberapa berkas penting yang diberikan bu Zeina. Ia juga sudah mengirimnya kembali ke butik. Dan sekarang ia mulai mendesain beberapa baju yang di minta oleh kliennya.


" Haus banget! " Syafa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Langkahnya terhenti disaat melewati ruang makan. Pak Ayan yang sepertinya baru sampai di Surabaya sedang sarapan bersama mbok Nur. Canda tawa menghiasi meja makan itu. Bahkan terlihat sesekali mereka saling suap. Syafa tersenyum melihatnya.


" Apa aku juga bisa seperti mereka ketika menikah dengan Ando nantinya ya Allah? "


Tanpa sadar tangan Syafa menyenggol sebuah guci yang terletak diatas nakas, tak jauh dari ruang makan.


Prankk...


Pak Ayan dan mbok Nur sontak menoleh.


" Astaghfirullah!! " Pekik Syafa seraya memungut pecahan guci itu. Pak Ayan dan mbok Nur juga mendekat kearah Syafa.


" Nona muda baik baik saja? " Tanya mbok Nur dengan khawatir.


" Syafa nggak papa kok mbok! " Jawab Syafa.


" Biar mbok yang bereskan non " Tawar mbok Nur yang hendak memungut pecahan guci itu.


" Nggak papa mbok, Syafa aja! Mbok Nur dan pak Ayan lanjut aja sarapannya. Maaf ya, karena Syafa mengacaukan acara sarapannya mbok Nur dan pak Ayan. " Sahut Syafa


" Tidak masalah nona muda, seharusnya kami yang minta maaf. Tidak semestinya kami makan dengan santai di meja makan milik majikan kami " Sambung pak Ayan.


" Harus berapa kali Syafa bilang! Jangan sungkan diapartemen ini pak, anggap saja rumah sendiri. Syafa juga sudah menganggap kalian keluarga. Jangan berbicara seperti itu lagi kalau nggak Syafa yang akan memecat mbok Nur dan juga pak Ayan " Ujar Syafa setengah mengancam. Ia masih sibuk memunguti sisa pecahan guci itu dan memasukkannya kedalam tempat sampah yang sudah diambil sebelumnya.


" Kalian lanjut sarapan atau saya akan benar benar memecat kalian berdua " Tidak ada lagi kata Syafa, tidak ada lagi perkataan yang lemah lembut. Yang tampak sekarang adalah seorang Syafa Ferdian, nona muda keluarga Ferdian yang tegas dan tak suka dibantah. Hal itu membuat kedua pasutri itu meneguk savilahnya dengan susah payah. Termenung sejenak, sebelum akhirnya mereka kembali ke meja makan dan melanjutkan makan walaupun dalam keadaan canggung. Syafa tersenyum tipis melihatnya.


Usai membereskan pecahan guci itu, Syafa kembali melangkah ke dapur. Ia berencana membuat es lemon tea untuk menemaninya bekerja.


...*****...


Sudah 4 hari di Surabaya memutuskan untuk menyendiri nyatanya tak membuatnya tenang untuk berpikir. Hari hari yang dilewati bahkan terasa lebih berat. Memikirkan bagaimana dengan kedua orangtuanya yang bahkan tidak tahu jika sang anak sudah berada di kota seberang. Belum lagi mimpi yang setiap malam mendatangi seolah memperjelas jika ia harus menerima perjodohan yang diatur kedua orangtuanya.


" Ngapain melamun dek " Syafa menoleh kebelakang dan mendapati sang kakak berdiri di belakangnya.


" Ng.. nggak kok bang! Syafa cuma cari angin aja " Elaknya.


" Cari angin sampai bengong gitu. Abang ngucap salam dari tadi loh, tapi nggak direspon" Ujar Raka seraya mendekati sang adik yang berdiri di atas rooftop apartemen dengan posisi memegang pagar pembatas rooftop. Diliriknya ponsel Syafa yang terletak diatas meja tidak jauh dari mereka.


6 panggilan tak terjawab


Papađź’–


9 panggilan tak terjawab


Mamađź’•


" Sampai kapan kamu mau menghindar Fa? " Tanya Raka dengan hati hati. Syafa menggeleng.


" Syafa nggak tahu bang " Lirihnya. 4 hari di Surabaya, ia hanya mengurung diri diapartemen. Tidak keluar lagi setelah hari pertama berjalan bersama Raka. Raka juga sangat sibuk, pulang selalu hampir larut malam membuatnya kadang tak memiliki waktu walau hanya untuk bertegur sapa dengan sang adik. Walau begitu ia tetap memantau adiknya. Mbok Nur juga Syafa suruh pulang kerumah selagi pak Ayan masih di Surabaya.


" Sudah meminta petunjuk pada yang kuasa? " Tanya Raka. Syafa mengagguk.


" Lalu apalagi yang kamu ragukan? "


" Entahlah, Syafa merasa berat saja bang. Mungkin Syafa masih butuh waktu untuk memikirkannya " Ujar Syafa lagi. Raka merangkul sang adik.


" Waktu? Sudah empat hari kamu pergi tanpa sepengetahuan mama dan papa. Selama itu abang rasa sudah cukup untuk kamu berpikir secara matang. Bahkan butik pun tidak kamu pedulikan!!! "


Syafa menghela napasnya. Ia belum siap bertemu kedua orangtuanya. Namun tak dapat dipungkiri, hati kecilnya merasa sangat bersalah karena mengabaikan kedua orangtuanya. Apalagi ia sama sekali tidak pamit ketika pergi.


" Cobalah buka hatimu untuk menerima perjodohan ini dek. Kamu sudah sholat istikharah dan jawabannya juga sudah ada! Lalu apa lagi yang harus kamu pertimbangkan. Bukankah Allah adalah sebaik baiknya perencana? " Raka kembali berusaha membujuk adiknya.


" Jangan siksa dirimu dengan keadaan ini. Kamu tahu papa dan mama juga merasakan dampaknya. Mungkin ini sudah menjadi jalan takdir hidupmu. Pulanglah dan minta maaf kepada mereka. Kalaupun kamu nggak terima perjodohan ini katakan secara langsung. Jangan menghindari terus menerus " Syafa hanya diam mendengar penuturan abangnya.


" Ohh ayolah, Syafa adik perempuan abang kuat tidak seperti ini. Dia gadis yang kuat dan mandiri. Bukan gadis yang cengeng dan suka melamun kayak gini. Semangat dongg!! " Ujar Raka lagi. Syafa menatap abangnya. Sepersekian detik kemudian ia berhambur memeluk abangnya.


" Setidaknya kamu bisa bahagiain mama dan papa. " Lirih Raka membalas pelukan Syafa.


" Apa harus Syafa yang berkorban bang? " Tanya Syafa setelah sekian lama diam.


" Nggak! Kamu nggak boleh berkorban. Tapi kamu harus berusaha tunjukkan pada mama dan papa kalau kamu mampu. Taklukkan hati Ando dan menangkan cintanya. Buktikan pada semuanya jika kamu dan Ando bisa bahagia meski awalnya kalian terpaksa! " Air mata Syafa mengalir begitu saja mendengar ucapan abangnya. Bahagia? Bahkan tak pernah terbesit sama sekali dibenaknya.


" Apa Syafa mampu? "


" Kamu mampu, kamu pasti mampu! Abang yakin itu " Ujar Raka tersenyum. Syafa sedikit lega. Setidaknya ada sang abang yang menghiburnya hari ini.


" Kok abang udah pulang " Ujar Syafa melepas pelukannya. Ia dan Raka berjalan menuju kursi santai yang terletak di pojok rooftop.


" Abang punya janji mengajak seseorang berkeliling kota sebelum pulang lusa. Bahkan besok mungkin abang akan pulang sangat terlambat " Ujar Raka.


" Mengajak seseorang? Laki laki atau perempuan. Ntar Syafa beritahu kak Nay loh bang " Syafa menatap tajam abangnya.


" Perempuan! Dia cantik, manis dan cerewet. " Jawab Raka singkat.


" Apa? "


" Hemm.. dia perempuan yang juga sangat berarti dalam hidup abang! " Raka semakin menggoda sang adik.


" Yaampun bang! Abang selingkuh dibelakang kak Nayra? Sadar bang, kalian udah punya dua anak. Jangan karena kesenangan sesaat membuat abang menyesal dikemudian hari. Pikirkan kak Nay, Nara dan juga Nabil! Jangan egois " Ujar Syafa geram.


" Abang nggak bilang kalau abang selingkuh? "


" Lalu? "


" Perempuan yang abang maksud ada di hadapan abang! Adik kesayangan abang. Syasa nya abang " Ujar Raka seraya tersenyum. Syafa juga mengulum senyumnya saat mendengar sang abang menyebut nama panggilannya ketika kecil dulu.


" Udah ah! Masuk. Kita jadi pergi nggak? "


" Jadi dong bang! Tunggu bentar " Syafa berlari menuruni anak tangga menuju unit apartemennya. Sebuah senyum terbit di bibir sang abang.


" Semoga senyum itu tetap ada di bibirmu sampai kapanpun Syasanya abang. Abang yakin kamu pasti bahagia! " Batin Raka seraya ikut melangkah mengikuti sang adik.


To be continued!!!