
Raka dan Syafa masuk kedalam sebuah restoran setelah hampir dua jam berada di taman bermain anak anak yang baru didirikan oleh Marsel.
" Capek nggak? " Tanya Raka pada adiknya.
" Nggak kok bang! Aku happy banget bisa berbagi sama anak anak tadi " Jawab Syafa dengan senyum yang mengembang. Raka hanya tersenyum mendengarnya.
" Ramai banget bang! "
" Kita disana aja, kayaknya cuma itu meja yang kosong " Raka melirik sebuah meja yang sepertinya belum di booking oleh orang lain.
" Boleh bang, daripada harus cari cari resto lagi. Udah keburu laper " Mereka berdua segera berjalan menuju meja yang sebelumnya ditunjukkan oleh Raka.
" Maaf tuan, kami duluan disini "Ujar Raka pada seorang pria yang sepertinya ingin menempati meja kosong itu.
" Maaf, tapi saya duluan sampai sini " Jawab pria itu tak mau mengalah.
" Tuan, saya mohon biarkan kami duduk disini. Kasihan adik saya sudah kelaparan " Ujar Raka.
" Tapi, tuan saya juga sedang mengejar deadline! Dia tidak akan mau jika saya ajak pindah "
" Dimana tuanmu? " Giliran Syafa yang bertanya.
" Dia ada di.. "
" Ada apa Leo? " Tiba tiba seseorang datang menghampiri mereka seraya merapikan jas yang dipakainya.
" Mereka ingin makan dimeja ini tuan. Padahal saya sudah duluan disini " Ujar Leo
" Tapi kami duluan yang melihat meja ini kosong " Syafa kembali membuka suaranya. Ia sangat kesal. Sudah lapar, harus berdebat lagi! Benar benar menyebalkan. Pria tadi mendongak.
" Syafa " Lirihnya. Syafa juga menoleh.
" Mas Rivan " Syafa tak kalah kaget melihat Rivan ada di depannya.
" Kita pindah saja! Carikan restoran terdekat " Titah Rivan.
" Tapi tuan.. "
" Lakukan saja!! " Hardik Rivan membuat Leo mau tak mau melakukan perintah tuannya.
" Ehmm... mas Rivan! Gimana kalau kita berbagi meja saja, toh kursinya juga ada empat kan? Kalian buru buru begitu pula kami. Aku rasa tidak masalah " Usul Syafa
" Nggak usah Fa, biar kami cari tempat lain saja" Ujar Rivan
" Ehmm.. yasudah kalau begitu biar kami aja yang pindah. Kalian lebih terburu buru sepertinya " Syafa menarik tangan abangnya dan beranjak dari sana.
" Syafa tunggu! " Teriak Rivan membuat Syafa menghentikan langkahnya, begitu pula Raka.
" Kita berbagi saja " Ujar Rivan pada akhirnya. Ia juga tak tega membiarkan Syafa yang sepertinya sudah sangat lapar harus mencari restoran yang lain lagi.
" Apa nggak masalah? "
" Hemm.. " Syafa tersenyum dan kembali menghampiri meja itu setelah mendapat persetujuan dari Raka. Rivan dan Leo duduk didepan Syafa dan juga Raka.
" Bang! Tolong pesankan makananku seperti biasanya aja, aku mau ke toilet bentar " Ujar Syafa.
" Nggak mau ganti menu? Disini banyak menu baru yang enak loh dek " Ujar Raka
" Nggak deh bang, udah ah.. " Syafa meletakkan tas tangannya di kursi tempat dia duduk tadi dan segera berjalan ke toilet.
...****...
" Mbak!! " Panggil Raka. Ia langsung memesan makanan untuknya dan Syafa. " Pesanlah, kalian juga buru buru kan? Jangan malu malu " Ujar Raka melihat keduanya seperti malas memesan makanannya.
" Hemm.. iya! " Kedua pria itu langsung memesan makanan mereka.
" Udah aku bilang juga, nggak usah dateng! Aku lagi diluar sama bang Raka. Tenang aja aku udah mau makan ini "
"..."
" Iya bye!! "
Syafa mematikan ponselnya dan langsung duduk di samping Raka.
" Kenan! "
" Kenan? Teman kamu itu? " Tanya Raka memastikan. Syafa mengagguk.
" Teman plus rekan kerjaku bang! "
" Jangan terlalu dekat dengannya, bagaimana pun dia seorang lelaki. Seorang lelaki itu musuh terbesarnya perempuan. Dan satu hal yang harus ingat! Tetap jaga kehormatanmu apapun yang terjadi. Mengerti? " Muncul sudah sifat posesif abangnya.
" Iya bang! Syafa akan jaga diri kok " Jawab Syafa.
" Abang cuma nggak mau kamu kenapa napa dek! " Raka mengusap pelan kepala Syafa yang tertutup hijab. Syafa tersenyum. Ia tahu ketiga kakaknya begitu menyayanginya dan juga Aleta. Itulah sebabnya mereka selalu posesif pada adik perempuan mereka.
" Syafa tahu bang! " Mereka terus bercanda seakan lupa jika ada dua manusia lagi didepan mereka.
" Maaf tuan, nona!! Makanannya sudah siap, selamat menikmati... " Pelayan restoran datang dengan membawa beberapa pesanan mereka. Setelah mendapat persetujuan, mereka menyajikan makanan makanan itu diatas meja.
" Terimakasih ya mbak " Ujar Syafa sesaat setelah para pelayan itu menyajikan makanannya. Para pelayan itu mengangguk seraya beranjak dari tempatnya.
" Selamat menikmati semuanya " Syafa kembali berucap sebelum ia makan.
...****...
" Makannya pelan pelan dong dek, nggak akan ada yang minta kok " Omel Raka seraya mengelap sudut bibir adiknya dengan tisu yang ada di atas meja.
" Maaf bang, abisnya laper " Jawab Syafa dengan makanan yang penuh didalam mulutnya.
" Habiskan dulu, baru bicara!! "
Perlakuan Raka pada Syafa membuat Rivan semakin gerah saja. Bisa bisanya Syafa bermesraan seperti itu didepannya. Padahal ia tau Rivan menyukainya. Ingin rasanya Rivan segera bangkit dan pergi dari sana. Andai saja ia tidak dikejar deadline kerjaannya, ia tidak akan mau makan semeja dengan Syafa dan seorang pria.
" Ehmm.. " Rivan berdehem untuk menetraljan rasa amarahnya. Entahlah, ia merasa sangat cemburu dengan kedekatan kakak adik itu.
" Eh, sorry mas! " Syafa tersenyum canggung. Sesungguhnya ia juga merasa canggung bertemu Rivan. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah Rivan mengungkapkan perasaannya waktu itu.
" Nggak papa!! "
10 menit kemudian, makanan yang tersaji sudah habis tak tersisa.
" Kita pulang? " Tanya Raka pada Syafa. Syafa mengagguk.
" Tapi nanti sore kita ke bazar! Abang sudah janji loh "
" Iya!! Abang nggak lupa kok. Tapi nggak tahu nanti " Ujar Raka mengejek Syafa.
" Abanggg " Pekik Syafa memukul mukul pelan lengan Raka membuat pria itu tergelak.
" Sudah sudah, hentikan Syafa!! Iya baiklah nanti sore kita ke bazar " Ujar Raka membuat Syafa tersenyum senang.
" Thankss, abang yang terbaikkk pokoknya " Syafa memeluk abangnya.
" Giliran ada maunya baru muji " Ledek Raka seraya mengeluarkan sebuah kartu dari dalam dompetnya. Ia memanggil pelayan dan pelayan itu menyerahkan tagihannya.
" Biar saya bayar sendiri saja " Ujar Rivan
" Nggak papa!! Anggap saja salam perkenalan dariku " Ujar Raka kekeh pada pendiriannya.
" Tapi.. "
" Nggak papa mas Rivan, bang Raka emang gitu. Selalu mau menang sendiri " Ujar Syafa terkekeh membuat Rivan mau tak mau akhirnta mengalah dan membiarkan Raka membayar makanannya.
" Yaudah kami permisi dulu ya!! Semoga kita dipertemukan lagi. " Ujar Raka menarik tangan Syafa beranjak dari sana.
" Semoga tidak " Gumam Rivan menatap kedua insan itu yang masih asyik bercanda hingga benar benar keluar dari restoran.
" Kenapa rasanya sakit sekali.. "
" Tuan! Kita juga harus bertemu tuan Handoko sekarang. " Ujar Leo membuyarkan lamunan Rivan.
" Ah, baiklah! Kita pergi " Rivan beranjak dari duduknya diikuti Leo.
To be continued!!