
Tringg.. triing
Suara bising alarm membangunkan tidur wanita cantik yang sedang tertidur pulas. Setelah nyawanya terkumpul, ia mulai melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi.
Allahuakbar Allahuakbar....
" Udah subuh ternyata " Gumamnya. Ia segera membasuh mukanya dan melangkah menuju lemari untuk mengambil mukenah. Kemudian segera keluar menuruni anak tangga menuju moshola kecil dirumahnya.
" Assalamualaikum " Ucapnya
" Waalaikumsalam, cepetan kak udah selesai azan nih " Jawab wanita paruh bayah yang sudah berada didalam mushola terlebih dahulu.
" Iya ma " Jawab wanita cantik itu. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya kedalam mushola. Ia meletakkan mukenah di sajadah dan bergegas menuju tempat pengambilan air wudhu. Setelah selesai ia kembali ketempat dan mulai memakai mukenah.
" Ck, kebiasaan banget Syafa kalau sibuk pasti tidurnya larut. Akhirnya bangun kesiangan deh" Omel Dafa. Syafa hanya mendengus mendengar ucapan Dafa
" Sudah siap semuanya " Ujar Rizky yang sepertinya sudah siap menjadi imam sholat
" Sudah pa "
" Sesekali Aak atau mas dong yang jadi imam. Masa iya Abang sama Papa terus " Ujar Syafa
" Iya nih, Nico juga harus belajar. Supaya nantinya bisa jadi imam yang baik buat istri sama anak anaknya " Nasihat Lesty
" Iya ma, "
" Yaudah gimana kalau kali ini Aak yang jadi imamnya. Ntar gantian mas sama Nico " Ujar Rizky
" Iya deh pa " Marsel melangkah kedepan dan mulai memimpin Sholat. Selesai sholat, para pria kembali kekamar untuk mandi dan bersiap siap berangkat kerja. Sedangkan para wanita mulai melangkah ke dapur untuk membuat sarapan.
Selesai membuat sarapan, para wanita juga kembali masuk ke dalam kamar karena mereka untuk bersiap mengawali kegiatan masing masing.
" Morning Semuanya " Teriak Syafa saat sampai dimeja makan. Semua sudah lengkap kecuali Aleta dan Dafa yang sepertinya belum selesai bersiap
" Morning " Syafa segera duduk
" Eh adek sama mas kok belom turun sih " Omel Syafa
" Nggak tahu kak, kita tunggu sebentar mungkin mereka belum selesai bersiap " Ujar Rizky
" Iya pa, emang ya suka banget nyuruh orang nunggu lama " Ujar Syafa lagi
" Ehmm... nggak salah denger nih, tadi yang terlambat masuk mushola siapa coba? " Tanya Dafa yang tiba tiba muncul bersama Aleta
" Namanya juga kesiangan " Jawab Syafa
" Sama aja "
" Bedalah "
" Udah udah ngapain jadi bertengkar sih, kita mau makan nih " Ujar Raka
" Tahu nih, udah udah duduk kita mau makan " Sambung Marsel
" Biasanya juga kalian ikut ikutan bertengkar " Dengus Syafa
" Iya tuh " Sambung Aleta
" Makan sekarang yok " Ajak Nayra melihat situasi semakin panas
" Iya udahan dulu ya bertengkarnya, nggak malu apa diliat sama Nara " Ujar Lesty.
Dafa dan Aleta segera duduk dikursi mereka. Mereka semua mulai menyantap sarapan. Setelah sarapan semua anggota keluarga mulai berangkat satu per satu melakukan kegiatan masing masing. Begitupun Syafa, setelah sarapan ia segera mengajak sang adik berangkat.
" Mau berangkat bareng " Tawar Nico
" Emang kak Nic ada keperluan dikampus? " Tanya Syafa. Karena saat ini Nico sudah lulus.
" Nggak ada sih "
" Yaudah aku berangkat sendiri aja, lagian mau nganter Leta dulu "
" hmm.. yaudah aku duluan ya. Assalamualaikum " Pamit Nico langsung masuk mobilnya
" Waalaikumsalam " Jawab Syafa. Ia segera naik mobil.Mobil mewah milik Syafa pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju sekolah Aleta.
" Leta masuk ya kak, Assalamualaikum " Pamit Aleta pada sang kakak setelah Syafa memberikan uang saku tambahan pada Aleta
" Iya, Waalaikumsalam " Jawab Syafa. Aleta segera turun. Setelah itu Syafa segera melajukan mobil menuju kampusnya.
°°°°°°°°°°
" Guys gue duluan ya " Pamit Syafa
" Iya, Jangan lupa ntar sore kerjain tugas bareng " Ujar Asya
" Iya tenang aja nggak bakal lupa kok " Balas Rara
" Dirumah gue kan? " Tanya Syafa memastikan
" Iya pokoknya jam tiga sore kita udah kumpul dirumah lo " Jawab Asya
" Okedeh, gue tunggu " Jawab Syafa
" Sipp "
Setelah berpamitan mereka bertiga masuk mobil masing masing. Mereka melajukan mobil beriringan keluar dari parkiran. Setelah keluar, mereka berpencar menuju rumah masing masing.
Syafa tidak pulang kerumah, ia lebih dulu mampir kebutiknya.
°°°°°°°°°°°
Pranata Home..
" Bun, tolong panggil Rivan.Ada yang ingin ayah bicarakan dengan dia " Titah Andra pada sang istri.
" Iya yah, tunggu sebentar bunda panggilkan " Jawab Viona. Andra mengangguk dan duduk disofa. Sedangkan Viona menuju kekamar Rivan. Memang saat ini Rivan sedang sibuk dengan urusan perusahaan yang baru dibangunnya. Walaupun bisa dibilang baru namun perusahaan itu berkembang sangat pesat bahkan sudah memiliki beberapa cabang. Namun hari ini Rivan memilih memantau perusahaannya dirumah karena merasa kurang enak badan.
Tok.. tok.. tok..
" Kak, bunda boleh masuk " Izin Viona saat berada di depan kamar Rivan
" Masuk aja bun, nggak dikunci kok " Jawab Rivan sembari sibuk dengan laptop dan berkas berkasnya.
" Kenapa bun? " Tanya Rivan
" Turun sebentar gih, Ayah bilang ada yang mau ayah sampaikan sama kamu " Ujar Viona
" Bicara apa bun? " Tanya Rivan
" Bunda juga kurang tahu nak, sebaiknya kamu segera turun " Titah Viona
" Iya bun kakak turun sekarang juga " Jawab Rivan. Ia segera mematikan laptopnya dan menyimpan berkas didalam nakas. Kemudian ia mengikuti sang bunda turun menemui ayah di ruang tamu.
" Ayah " Panggil Rivan saat sudah berada diruang tamu.
" Duduklah nak, bunda juga duduk ada yang mau ayah sampaikan " Perintah Andra. Rivan dan Viona menggangguk dan segera duduk didepan Andra dan Viona disampingnya.
" Ada apa yah? " Tanya Rivan penasaran. Andra terlihat menghembuskan napas berat.
" Sebenarnya perusahaan cabang di Kanada kolabs. Ada beberapa orang kepercayaan disana yang melakukan penggelapan dana " Andra menjeda ucapannya sebentar.
" Hemmm.. ayah mau kamu meninjau langsung perusahaan disana. Ayah yakin kamu pasti mampu membuat perusahaan itu kembali berdiri seperti sedia kalah " Ujar Andra kemudian
" Aku yah? " Tanya Rivan menunjuk dirinya sendiri. Andra menggangguk
" Ayah yakin kamu bisa "
" Tapi kenapa harus aku yah? Kan ada bang Vivto. Rivan yakin abang pasti lebih jago mengatasi masalah ini yah. Lagian Rivan nggak yakin kalau Rivan bisa mengatasi semuanya " Tolak Rivan. Jujur saja, ia sangat berat berpisah dengan keluarganya. Apalagi pergi keluar negri yang belum tahu kapan ia akan kembali lagi ketanah air.
" Huh, Abang kamu saat ini sedang sangat sibuk. Begitupun ayah. Ayah sangat berharap kamu bisa mewakili ayah disana. Hitung hitung belajar supaya perusahaan kamu semakin berkembang pesat. Ayah percaya pada kamu" Nasihat Andra. Rivan masih ragu akan keputusan yang ia ambil. Disisi lain ia sangat sulit untuk pergi namun disisi lain ia tak mau mengecewakan ayahnya. Perlahan Viona berdiri dan duduk disamping anaknya. Viona menepuk pelan bahu anaknya.
" Berangkatlah nak, bunda yakin kamu bisa " Ujar Viona
" Tapi bunda.. " Rivan hendak protes,namun ia urungkan saat melihat bundanya menggelengkan kepalanya.
" Bagaimana dengan perusahaanku yah? " Tajya Rivan kemudian
" Kamu nggak perlu khawatir, untuk sementara perusahaan kamu ayah yang pegang " Jawab Andra. Rivan terdiam dan berpikir sebentar
" Bagaimana keputusan kamu nak? " Tanya Viona. Rivan menatap lekat kedua orangtuanya.
" Huh, baiklah Rivan akan pergi ke Kanada " Ujar Rivan kemudian. Hal itu membuat Andra dan Viona bernapas lega. Walaupun dalam hati kecil mereka sedikit tak rela berpisah dengan putra mereka. Namun mereka yakin ini akan menjadi pengalaman berharga buat Rivan yang tentunya akan membawa Rivan menjadi CEO muda yang cerdas.
" Terima kasih nak " Ujar Andra beranjak dan memeluk putranya.
" Ayah nggak perlu berterima kasih,ini sudah tanggung jawab Rivan sebagai putra ayah " Jawab Rivan membalas pelukan Andra
" Yasudah Rivan kekamar dulu ya, ayah, bunda" Ujar Rivan yang diangguki kedua orangtuanya.
To be continued....