
Menjelang petang, seluruh anggota keluarga Pranata dan Ferdian pulang kerumah masing². Tinggal Aleta dan Kalista yang masih ingin menginap dirumah kakak mereka itu.
" Kami istirahat di kamar ya kak " Pamit Aleta pada Syafa dan Rivan.
" Iya kalian istirahatlah! Makasih ya udah bantuin kakak kasih kejutan buat kak Syafa kalian " Jawab Rivan.
" Nggak gratis ya! " Sahut Kalista.
" Ntar minta imbalan sama ayah " Ledek Rivan. Kalista hanya mengerucutkan bibirnya seraya menyusul Aleta kedalam kamar tamu. Rencananya mereka akan tidur berdua malam ini.
" Mau liat² dulu sayang? " Tanya Rivan pada Syafa.
" Boleh mas "
Rivan mengajak istri berkeliling rumah. Pada lantai satu, terdapat ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, musholah mini dan empat kamar tamu. Sementara di lantai dua terdapat ruang keluarga, satu kamar utama, lima kamar tamu atau rencananya untuk kamar calon anak mereka nanti. Rumah itu sama luasnya dengan kediaman Pranata dan Ferdian. Hanya saja, rumah mereka ini lebih elegan dan juga terkesan megah. Dilengkapi dengan kolam renang yang cukup luas di halaman belakang rumah. Ada semacam perkebunan bunga di halaman samping. Di halaman depan juga ditumbuhi dengan berbagai bunga yang cantik dan dua buah pohon besar di sisi kanan dan kirinya.
" Itu pohon apa mas? " Tunjuk Syafa pada kedua pohon besar itu.
" Itu pohon mangga sayang! Bukannya kamu suka sekali makan mangga? Jadi kalau kamu pengen mangga, tinggal petik deh " Ujar Rivan mencubit hidup Syafa gemas.
Puas melihat halaman depan. Kini, mereka menuju kesamping. Ternyata Rivan juga membuat garasi mobil yang sangat luas. Mungkin sekitar 15 mobil bisa masuk kedalam.
Dibelakang rumah utama, Rivan membuat sebuah paviliun bertingkat untuk para pelayan dirumah itu. Ada sekitar 15 orang yang Rivan pekerjakan beserta tukang kebun dan satpam.
" Disana sengaja mas buatkan paviliun untuk para pekerja sayang! Jadi mereka nggak perlu jauh jauh pulang pergi. Kamu juga bisa berkunjung kesana sesekali " Ujar Rivan. Syafa begitu terpesona dengan desain rumah ini. Semuanya sangat pas dan sesuai seleranya.
" Ada yang mau kamu ganti sayang? " Syafa menggeleng. Menurutnya rumah ini sudah sangat sempurna.
" Semuanya sudah pas mas. Sangat indah dan cantik "
" Dan semua ini mas persembahkan untuk istri mas yang juga sangat cantik " Rivan memeluk istrinya itu dari belakang. Kini keduanya sudah berdiri di halaman belakang yang langsung menghadap kolam berenang.
" Makasih mas. Dan maaf... "
" Maaf kenapa sayang? "
" Maaf karena sebelum pergi tadi, aku sedikit bawel dan banyak tanya. Maafin aku yang udah buat mas Rivan kesal " Mendengar itu Rivan tersenyum tipis. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Syafa.
" It's okay sayang! Tadi mas juga cuma pura pura marah kok. Biar makin surprise " Ujar Rivan.
Cupp..
" Mas, malu ih! Ntar ada yang liat " Rengek Syafa.
" Nggak akan ada yang liat sayang, mereka masih sibuk beresin bekas syukuran tadi loh "
" Kalau mereka tiba tiba kesini gimana? "
" Ya, nggak gimana². Toh kita juga sudah halal kan? " Goda Rivan membuat Syafa semakin cemberut.
" Tau ah! Terserah mas Rivan " Syafa melepas pelukan Rivan dan masuk kedalam Rumah.
" Sayang tungguin dong! Nggak takut tersesat kamu sayang? "
" Nggak "
" Yaudah² kita lanjutin dikamar aja ya " Goda Rivan lagi seraya mengejar sang istri yang sudah menaiki tangga.
" Nggak mau "
" Nolak suami dosa loh "
" Nggak papa sesekali "
" Sayang! " Rivan mengetuk² pintu kamar saat Syafa masuk dan langsung menguncinya.
" Mas dobrak yaa " Syafa tetap diam tak menyahut.
" Yaudah, kalau kamu nggak mau bukain pintunya. Mas keluar ya, mau cari cewek yang... "
Ceklek..
" Awas aja kalo berani! Aku sunat lagi kamu mas " Ancam Syafa menatap tajam suaminya. Rivan hanya terkekeh pelan mendengar ancaman istrinya itu.
" Ampun tuan putri " Rivan menyusul sang istri masuk kedalam kamar.
...****...
Usai sholat Maghrib berjamaah kini keempat orang itu sudah duduk menghadap meja makan. Semua masakan yang tersaji ada mahakarya dari ketiga perempuan cantik.
" Hemm.. pasti enak nih! " Gumam Rivan menatap makanan didepannya yang begitu menggugah selera.
" Pastilah, orang Kalista yang masak " Celetuk Kalista seraya mulai mengambil makanannya.
" Kakak nggak yakin tuh. Kalian berdua paling cuma liatin kak Syafa masak kan? " Goda Rivan pada kedua adiknya itu.
" Mana ada? Disini cuma kak Rivan doang yang terima beres " Sahut Aleta tak mau kalah.
" Tau tuh, tanya aja sama kak Syafa kalau nggak percaya " Sahut Kalista lagi.
" Diam! Habiskan makanannya dulu baru lanjutin debatnya. " Syafa buka suara membuat ketiganya diam. Ia menuangkan nasi dan beberapa lauknya ke dalam piring suaminya.
" Kakak lagi PMS ya? Kok galak banget " Gerutu Aleta sembari mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.
" Aleta! Mau kakak telpon papa biar kamu disuruh pulang " Ancam Syafa membuat nyali Aleta menciut.
" Ampun kak! Kan Leta cuma bercanda " Aleta diam seraya memakan makanannya dengan sedikit kesal.
15 menit mereka makan dalam diam. Tak terasa makanan di dalam piring itu habis tak tersisa. Kini mereka berkumpul di ruang keluarga seraya menonton televisi. Eh, lebih tepatnya televisi yang menonton mereka karena mereka semua sama sama sibuk sendiri sendiri.
" Oiya kak! Lista udah mau daftar magang di.. "
" Kakak udah ngomong sama dosen adek dan mulai besok adek bisa magang di kantor kakak, kak Syafa atau ayah. Terserah mau milih dimana " Potong Rivan membuat Kalista memberengut kesal.
" Tapi kan Lista juga pengen magang di tempat lain kak. Lagipula, Lista mau kerja kayak anak magang yang lain " Protes Kalista.
" Adek masih tetap kerja kok! Siapa bilang adek santai santai disana. Cuma tempatnya aja yang kakak tentuin "
" Lista baik kok dimana aja, asal sama Leta "
" Leta juga bakal magang di kantor kakak kamu kok Lis " Sahut Syafa membuat Aleta membulatkan matanya.
" What? Kakak nggak ada bilang apa apa sama Leta. Lagian Leta itu mau bebas loh kak. Cuma magang doang kok "
" Kalau kamu nggak mau di kantornya kak Rivan, tinggal pilih aja yang lain. Kantor kakak,papa atau aak juga boleh. " Sahut Syafa lagi.
" Heii dengerin! Yang kakak dan kak Rivan lakuin itu demi keselamatan kalian. Sekarang ini musuh keluarga kita sedang gencar gencarnya mencari kelemahan kita. Mereka ingin keluarga Ferdian dan Pranata hancur. Jadi untuk meminimalisir terjadi itu semua, lebih baik kita antisipasi dari awal. Hemm.. Bukan berarti kami mengekang kalian " Syafa merangkul kedua gadis yang memasang muka cemberut mereka itu. " Kakak janji walaupun kalian magang di kantor keluarga, kalian nggak akan diistimewakan "
" Sudah dong ngambeknya! Nggak enak banget mandangin wajah jutek kalian berdua itu " Ledek Rivan membuat kedua gadis itu menatap tajam dirinya.
" Masss! "
" A.. ampun sayangku "
" Huuuu.. suami takut istri "
To be continued!!!