The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Nasihat Dafa



" Kalau gitu kenapa kamu nggak coba untuk terima dek? " Dafa mencoba memberi pengertian kepada adiknya. Bagaimanapun juga papa Rizky orangnya keras. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Hanya satu orang yang bisa meluluhkannya dan itu adalah putri sulungnya. Namun melihat kondisi sekarang sepertinya tak mungkin lagi menggugat keputusan papanya, apalagi Syafa sendiri yang sudah menyerah membujuk sang papa.


" Syafa nggak bisa mas! " Sarkas Syafa seraya menyeka air matanya.


" Kenapa? "


" Karena... " Syafa terdiam. Ia juga tak punya alasan yang begitu bermutu untuk menolak permintaan papanya.


" Karena? " Tanya Dafa memastikan


" Banyak alasan kenapa Syafa menolak mas! Syafa nggak kenal sama Ando, gimana kalau dia ternyata tak sebaik yang papa dan mama kenal. Gimana kalau ternyata dia punya kekasih? Syafa nggak mau menjalankan pernikahan karena terpaksa karena hasilnya juga nggak bakal baik. " Lirih Syafa menunduk. Ia juga sebenarnya tak tega menolak permintaan papanya. Tapi ini juga menyangkut masa depannya.


" Apa kamu yakin papa langsung menjodohkanmu dengan Ando tanpa kalian kenalan atau setidaknya saling bertemu dulu? " Tanya Dafa. Karena papanya itu selalu memetingkan kebahagian anak anaknya. Dan papa Rizky pasti punya alasan dari setiap tindakannya. Apalagi menyangkut masa depan anaknya. Rasanya tak mungkin jika papa Rizky memaksa Syafa tanpa sebuah penawaran. Syafa menceritakan semuanya pada Dafa, dari papa Rizky mencoba menceritakan tentang Ando padanya hingga keinginan papa Rizky untuk menjodohkannya dengan Ando apabila mereka merasa cocok.


" Papa nggak maksa kamu loh dek, papa cuma pengen kamu kenalan dulu sama Ando. Kalau setelah kenal dan ternyata kamu merasa nggak cocok ya kamu bisa nolak dek. " Tutur Dafa. Syafa menggeleng.


" Kenapa hem? "


" Syafa nggak mau mas, Syafa mau memilih pasangan hidup Syafa sendiri. Titikk " Pekik Syafa. Dafa mengelus pelan bahu Syafa.


" Nggak perlu emosian sama papa dek. Mas juga nggak maksa kamu buat terima kok. Setidaknya kamu terima dulu usulan papa buat ngenalin kalian berdua. Supaya ketika kamu menolak nanti papa nggak terlalu kecewa karena memang dari awal kamu sudah berusaha memenuhi permintaannya papa " Jelas Dafa lagi.


" Tapi Mas.. "


" Shutt, dengerin mas dulu dong. Kamu nggak mau ngecewain papa kan? " Syafa mengagguk.


" Kalau begitu ikuti apa yang papa mau " Ujar Dafa tegas.


" Mas!! "


" Dek, kapan sih papa pernah minta sesuatu sama kamu? "


" Nggak pernah " Lirih Syafa.


" Lalu kenapa kamu nggak mau penuhi permintaan papa dek. Niat papa itu baik, dia ingin kamu dapet pendamping yang bertanggung jawab. "


" Tetep aja mas, Syafa nggak mau menjalankan pernikahan karena terpaksa. Orang yang udah pacaran bertahun tahun aja rumah tangganya kadang berantakan. Lah ini, kenal aja belom! Gimana mau harmonis coba mas? Syafa nggak mau nanti setelah nikah Ando selingkuh apalagi terang terangan didepan Syafa. Syafa juga nggak mau jika orangtuanya Ando caci maki Syafa jika Syafa buat salah nanti. Syafa nggak akan sekuat tokoh wanita di novel novel itu mas. Syafa nggak bisa " Ujar Syafa. Dafa hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Syafa. Adiknya itu terlalu terprovokasi dengan cerita novel yang sering dibacanya hingga membuatnya khawatir berlebihan seperti itu.


" Syafa², kamu itu terlalu banyak baca novel sampai berpikir terlalu jauh. Nggak semua kisah perjodohan berakhir selingkuh dan sebagainya. Banyak juga diantara mereka hidup bahagia. Kuncinya ada di diri kita sendiri. Jika kita menerima dengan ikhlas, insyaallah saja rumah tangga kita akan harmonis. Percayalah pada pilihan papa dek. Mas yakin Ando pria yang baik dan bertanggung jawab " Jelas Dafa menatap Syafa membuat Syafa terdiam. Apa yang dikatakan Dafa memang benar. Tak ada salahnya ia mencoba. Toh papanya juga tak memaksanya menerima, hanya mencoba menjodohkan.


" Pikirkan dulu secara matang dek. Jangan mengambil keputusan disaat kamu emosi. Bila perlu lakukan sholat istikharah supaya kamu lebih yakin. Mas akan selalu mendukung apapun keputusanmu nanti, kamu jangan khawatir dek!! " Ujar Dafa menepuk pelan bahu Syafa.


" Hemm.. iya mas! " Jawab Syafa


" Istirahatlah, ayo mas temani sampai kamu tidur " Seru Dafa.


" Mas kekamar mas aja, Syafa akan tidur nanti " Jawab Syafa


" Nggak! Mas akan keluar kalau kamu sudah tidur " Tegas Dafa. Syafa tak akan tertidur semudah itu jika ia mempunyai masalah.


" Tapi.."


" Nggak ada tapi tapian. Ayo!!! " Dafa menarik tangan Syafa hingga mau tak mau Syafa menuruti masnya.


" Mas ngeselin " Keluh Syafa dengan wajah cemberut.


" Kamu lebih ngeselin. Ngapain nangis nangis kayak tadi. Mas kira ada masalah apaan, tahunya cuma masalah perjodohan " Ledek Dafa


" Iya mas tahu, ingat jangan emosian "


" Iya mas " Syafa sudah menutup pintu balkon dan kini ia duduk ditepi ranjang.


" Sudah sholat isya? " Tanya Dafa pada Syafa. Syafa mengangguk. " Sudah mas " Jawabnya.


" Yaudah kamu tidur sekarang " Ujar Dafa. Ia memaksa Syafa rebahan dan menarik selimutnya hingga sebatas dada. Sementara Dafa menarik kursi meja rias di kamar itu dan ia duduk disana seraya mengelus kepala Syafa. Syafa akan mudah tidur jika dielus kepalanya. Apalagi jika ia mempunyai masalah seperti ini. Dan Dafa sangat memahami adiknya itu. Ia juga membacakan sholawat nabi supaya sang adik cepat tidur.


" Mas tahu ini nggak mudah bagi kamu dek. Tapi mas yakin kamu bisa melewatinya. Semangat sayangg " Gumamnya seraya mengecup kening adiknya. Ia mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah itu Dafa keluar dari kamar itu.


...****...


" Sayang, belum tidur? " Dafa masuk kedalam kamarnya dan menghampiri istrinya yang masih membaca asyik membaca novel.


" Iya abi, abisnya adek belum mau tidur. Adeknya ngajak umi baca novel dulu " Ujar Zahira.


" Nakal ya kamu dek, nanti abi hukum loh. Ayo tidur sekarang ya!! " Ujar Dafa seraya mengelus perut istrinya. Dafa merebut novel yang ada ditangan istrinya kemudian menaruhnya di rak penyimpanan buku.


" Ihh mas ngeselin deh, kan aku belum selesai bacanya. Dikit lagi masss " Keluh Zahira dengan wajah yang sudah cemberut.


" Sudah malam sayang, besok bisa disambung lagi bacanya. Sekarang tidur dulu ya!! " Bujuk Dafa kembali menghampiri Zahira.


" Nanggung mas!! Lagi seru serunya itu "


" Sudah umi, jangan cemberut. Sini abi peluk, kita tiduran aja " Ujar Dafa. Ia menarik Zahira agar berbaring disampingnya dan ia menaikkan selimutnya setelah sebelumnya mematikan lampu kamar.


" Mass! " Panggil Zahira menyelusupkan kepalanya didada bidang Dafa.


" Iya sayang?! "


" Gimana Syafa? " Sepertinya suasana hatinya sudah tak seburuk tadi. Benar saja, mood ibu hamil itu mudah sekali berubah ubah.


" Papa menjodohkannya dengan anaknya om Andra. Makanya Syafa keluar dari rumah. " Jelas Safa


" Apa? Dijodohkan?? " Pekik Zahira tak percaya.


" Hemm.. sebenarnya bukan dijodohkan sih, tapi papa berniat mendekatkan mereka dulu. Kalau mereka cocok baru dijodohkan " Ujar Dafa. Ia semakin mengeratkan pelukannya membuat Zahira risih.


" Mass lepasin, sesak tahu. Adeknya juga kejepit kalo gini " Protes Zahira mencoba melepas tangan kekar Dafa yang melingkar diperutnya.


" Eh adek kejepit ya! Sini abi elus elus deh " Dafa malah mengelus perutnya.


" Geli mas, udah dong! Katanya mau tidur " Ujar Zahira lagi semakin membuat Dafa tergelak.


" Hehee.. oke oke, kita tidur sekarang ya umi, adek. Selamat malam kesayangan abi " Ujar Dafa seraya mengecup kening dan pipi istrinya.


" Selamat malam abi " Jawab Zahira balas mengecup pipi suaminya.


" Bacain sholawat dong abi " Rengek Zahira manja.


" Baiklah umi sayang, abi bacain supaya umi dan adek cepet tidur ya!! "


" Iya abi, makasih " Dafa membacakan sholawat sembari mengelus kepala Zahira sambil sesekali mengelus perut istrinya itu. Tak lama istrinya tertidur. Dafa membenarkan posisi tidur istrinya dan kemudian ia juga ikut tertidur.


To be continued!!!