
" Keluarlah jika kau masih punya harga diri Liona " Ujar Syafa dengan tegas. Liona yang terlanjur kesal memilih keluar dari ruangan itu.
" Aku pastikan kalian tidak akan bahagia diatas penderitaanku " Ancam Liona membuat Syafa terkekeh.
" Kami tidak pernah merasa bahagia diatas penderitaanmu Liona. Mungkin dirimu saja yang terlalu banyak berkhayal " Sahut Syafa lagi.
" Kauu.. " Liona menghentakkan kakinya kesal dan berlalu begitu saja.
" Selamat berjuang calon pelakor " Syafa masih sempat mengejek Liona.
" Kamu hebat sayang! " Rivan merangkul Syafa yang duduk disampingnya. Syafa menatap Rivan dengan tajam dan melepaskan rangkulannya dengan kasar.
" Jangan menyentuhku mas! Cuci tanganmu itu, aku tidak suka kau menyentuhku setelah menyentuh wanita lain. Aku tidak marah padamu karena tidak ingin terlihat lemah didepan Liona. Sekarang jelaskan, kenapa kalian berdua di dalam ruangan ini? " Tanya Syafa.
" Mas nggak tahu sayang, tiba tiba dia masuk ke ruangan mas dan menyajikan makanan tanpa izin. " Jelas Rivan. Syafa hanya melengos karena masih sedikit kesal dengan Rivan.
" Dimana Leo dan Danur sekretarismu itu mas? Biasanya mereka selalu standby didepan ruangan "
" Leo mas kasih tugas diluar sayang. Dan Danur mungkin sedang istirahat di kantin. " Rivan mencoba menggenggam tangan sang istri. Namun Syafa menolak. Moodnya tiba tiba buruk melihat keberadaan Liona di ruangan yang sama dengan Rivan. Hanya berduaan pula.
" Cuci tangan mas dan makanlah, aku juga harus kembali ke kantor. Banyak berkas yang belum diperiksa " Syafa bangkit dari duduknya. Ia menyalimi tangan Rivan.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam, sayang tapi.. " Rivan menghentikan ucapannya saat Syafa sudah keluar dari ruangannya.
" Agrhh.. sial! Siapa yang mengizinkan wanita itu masuk ke ruanganku dengan leluasa " Gerutu Rivan. Ia mulai masuk kedalam kamar mandi dan membasuh tangannya dengan sabun. Setelah itu ia kembali melanjutkan makan meskipun sebenarnya ia sudah tak berselera.
...****...
" Bang Rey!! " Teriak Liona seraya menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Reyhan yang sedang sibuk dengan laptop di depannya menoleh pada Liona.
" Kenapa Lio? Apa terjadi sesuatu? " Tanya Reyhan.
" Huh! Ini semua karena Syakilah itu. Beraninya dia menginjak-injak harga diriku didepan Rivan. Untung saja ada Rivan, kalau nggak wanita itu sudah aku jambak dan aku lempari ke sungai " Gerutu Liona sementara Reyhan mengernyitkan dahinya tak mengerti arah pembicaraan Liona.
" Memangnya apa yang terjadi? " Tanya Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop didepannya. Liona mulai menceritakan awal mula ia datang menemui Rivan dikantornya untuk mengantarkan makan siang hingga tiba tiba Syafa datang dan menggagalkan rencananya.
" Huh! Kalau begini apa yang harus aku lakukan bang? " Tanya Liona setelah ia selesai bercerita.
" Sabarlah dulu. Abang juga akan berusaha mendekati Syakilah lagi " Jawab Reyhan santai.
" Aku nggak mau tahu, pokoknya rencana kita harus berhasil "
" Tentu Liona! "
...****...
Mentari mulai tenggelam, menandakan senja telah tiba. Seorang pria muda berjas navy segera membereskan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya. Setelah itu ia keluar dari ruangannya.
" Tuan, mau saya antar? " Tanya sang asisten yang sudah siaga di depan ruangannya.
" Tidak perlu, saya akan menjemput istri saya dulu. Jangan lupakan tugasmu " Pria muda itu berjalan menuju lift dan turun kelantai bawah. Dengan penuh kharisma, ia melangkah keluar dari perusahaan miliknya menuju parkiran.
" Semoga kamu nggak marah lagi sayang " Ia juga sempat membelikan buket mawar merah dan cheese cake kesukaan sang istri demi membujuk istrinya yang saat ini tengah marah padanya.
Perlahan tapi pasti, ia melajukan mobilnya menuju butik milik istrinya.
" Inka, apa Syafa ada diruangannya? " Tanya pria muda itu pada asisten istrinya. Inka yang fokus pada kerjaannya sehingga tak menyadari ada suami bosnya di hadapannya segera menoleh.
" Tuan Rivan, maaf saya tidak menyadari keberadaan anda. Nona Syafa baru saja berangkat ke perusahaannya bersama tuan Gio dan nona Cindy tuan " Jawab Inka.
" Kalau begitu saya akan menyusul kesana. Terima kasih Inka " Rivan keluar dari butik dan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan milik Syafa.
Kebetulan sekali, Syafa sedang berada di ruangannya dan pintu ruangannya sedikit terbuka. Rivan mengintip di sela sela pintu itu. Ia bisa melihat sang istri yang begitu sibuk dengan laptop dan berkas yang ada ditangannya itu. Perlahan ia membuka pintu dan melangkah mendekati Syafa.
" Sesuatu yang spesial untuk orang yang sangat spesial " Bisik Rivan tepat ditelinga Syafa seraya meletakkan buket bunga dan cheese cake kesukaan Syafa didepan istrinya itu.
Syafa yang fokus pada kerjaannya menjadi kaget.
" Fokus banget sih bu presedir " Sindir Rivan seraya memeluk Syafa dari belakang.
" Hemm.. "
" Masih marah? " Goda Rivan. Syafa hanya diam dan tetap fokus pada kerjaannya. Ia tak menghiraukan ucapan Rivan karena masih kesal dengan kejadian tadi siang.
" Yaampun, tahu nggak sih kalau mengabaikan suami itu dosa loh " Ujar Rivan masih setia memeluk istrinya dari belakang. Syafa hanya tersenyum tipis mendengar Rivan yang tengah mencoba membujuknya.
" Yaudah, kalau istriku yang manis ini sedang marah. Aku pulang saja dan mencari wanita lain yang bisa me.. " Ucapan Rivan terhenti saat Syafa tiba tiba menyuapinya sepotong cheese cake yang tadi dibawa Rivan.
" Awas aja kalau berani! " Ancam Syafa dengan tatapan setajam elang. Rivan mengunyah cake yang disuap istrinya seraya terkekeh. Ia juga mengambil sepotong cake dan berbalik menyuapi Syafa. Syafa mengunci rapat rapat mulutnya.
" Kalau nggak mau berarti aku juga harus mencari.. " Syafa tiba tiba menarik tangan Rivan yang memegang cake itu dan memakannya membuat Rivan lagi lagi tersenyum.
" Kamu gemesin kalau lagi cemburu gini sayang. Jadi makin cinta dehh "
Cupp..
" Siapa yang cemburu? " Syafa masih saja berbicara ketus.
" Baiklah², ayo kita pulang! Udah sore. Besok lagi kerjainnya " Ujar Rivan. Syafa menggeleng. Sebenarnya ia sudah selesai sejak Rivan memeluknya dari belakang. Namun, ia yang sedang merajuk pada Rivan mencoba mengerjakan pekerjaan yang semestinya dilakukan esok hari.
" Nggak, kerjaanku masih banyak " Tolak Syafa.
" Katanya mau pulang cepat! Tadi udah janji sama mama loh "
" Pulang aja sendiri kalau mau pulang. Aku masih belum selesai " Rivan tak kehilangan akal. Ia tarik kursi yang diduduki Syafa sehingga sekarang mereka berhadapan.
" Mas minta maaf sayang! Mas tahu mas salah karena udah biarin wanita itu masuk ruangan mas gitu aja. Kamu boleh marahin mas, tapi jangan diamin mas kayak gini sayang. Mas mohon.. " Rivan berlutut dihadapan Syafa. Syafa juga merasa bersalah, karena itu bukan sepenuhnya salah Rivan.
" Mas.. " Syafa menyentuh pundak Rivan membuat Rivan mendongakkan kepalanya menatap Syafa.
" Kamu memaafkan mas? " Tanya Rivan penuh harap.
" Siapa bilang? " Jawab Syafa. Rivan tanpa kata langsung memeluk Syafa tak peduli jika nanti istrinya itu tambah merajuk padanya.
" Mas minta maaf sayang " Ujar Rivan. Syafa perlahan membalas pelukan Rivan. Ia juga sudah tak marah lagi pada Rivan. Hanya sedikit kesal saja. Dan lagi, ia ingin melihat usaha Rivan membujuknya.
" Awas aja kalau mas berani selingkuh dibelakangku. Atau aku akan mengirim kalian berdua ke neraka " Ancam Syafa membuat Rivan gemas dan mengelus pelan pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab.
" Nggak akan sayang! Mas nggak akan pernah selingkuh dibelakang kamu. Promise " Ujar Rivan.
" Hemm.. aku percaya! "
" Makasih sayangkuu.. love you " Rivan mengecup kedua pipi Syafa bergantian. " Ayo pulang, nanti mas kena marah mama karena telat bawa anak kesayangannya pulang " Sambung Rivan.
" Menantu kesayangan mana mungkin kena marah " Jawab Syafa seraya membereskan meja kerjanya.
" Itu cake sama buketnya kenapa nggak dibawa sayang " Syafa yang sudah berdiri melirik ke atas mejanya. Ia mengambil buket dan cake yang dibawa Rivan tadi.
" Kelupaan mas "
...****...
Kediaman Keluarga Ferdian
Benar saja saat mereka keluar dari dalam mobil, mama Lesty sudah menunggu didepan pintu utama.
" Assalamualaikum mama " Ujar keduanya seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
" Waalaikumsalam, kok sore pulangnya? " Tanya mama Lesty seraya mempersilahkan anak dan menantunya masuk.
" Maaf ma, Rivan tadi yang banyak kerjaan! Jadi Syafa juga ikut nungguin Rivan " Jawab Rivan membuat Syafa menoleh. Karena kenyataannya bukan Rivan yang sibuk, tapi dirinya yang sok sibuk karena merajuk.
" Yasudah, kalian bersih bersih dulu. Habis itu siap siap sholat Maghrib berjamaah " Titah mama Lesty. Keduanya mengangguk dan segera berlalu menaiki tangga menuju kamar Syafa.
To be continued!!!