The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Hari Kelulusan Rivan



Beberapa minggu kemudian!!


Hari ini adalah hari bersejarah bagi mahasiswa semester akhir Universitas Gajah Mada. Dimana para mahasiswa ini akan diwisuda setelah di nyatakan lulus oleh pihak universitas. Begitu pula dengan Rivan, ia sedang berbicara sepatah dua patah di atas panggung dengan sangat tegas dan berwibawa. Apalagi ia diumumkan sebagai mahasiswa yang lulus dengan nilai tertinggi seantero kampus membuatnya semakin percaya diri. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada bunda dan ayahnya yang sudah mendoakannya dan mendukungnya sampai detik ini. Sesesai berbicara, Rivan kembali ketempat duduknya. Ia duduk didampingi kedua orangtuanya.


" Alhamdulillah kak, bunda bangga sama kamu" Ujar Viona menatap Rivan


" Makasih bunda, " Balas Rivan kemudia memeluk sang bunda yang tengah meneteskan air mata bahagianya.


" Ayah bangga sama kamu, ayah harap kamu bisa memanfaatkan ilmu yang kamu dapatkan ini dengan sebaik baiknya. Terutama untuk kemajuan dan perkembangan perusahaan yang baru kamu bangun itu " Timpal Andra menepuk pelan bahu Rivan yang masih memeluk Viona. Perlahan Rivan melepas pelukannya dan beralih memeluk sang ayah.


" Terima kasih bunda, ayah. Semua ini tak pernah lepas dari doa dan dukungan kalian terhadap kakak. Tanpa kalian kakak nggak akan jadi apa apa " Balas Rivan menarik Viona dan mereka bertiga berpelukan.


Acara demi acara pun sudah selesai. Banyak teman teman seangkatan Rivan memberikan selamat kepadanya. Termasuk kedua sahabatnya Arka Kusuma Wijaya dan Bagas Rahardian.


" Wihh, selamat bro. Gue bangga sama lo, andai gue yang ada diposisi lo " Ujar Arka menepuk pelan bahu Rivan


" Congrats bro, Lo yang terbaik " Sambung Bagas


" Thanks ya Ar, Gas. Congrats juga buat lo berdua " Ujar Rivan merangkul kedua sahabatnya


" Gue iri sama lo Van " Ujar Arka


" Iri kenapa? " Tanya Rivan


" Iri sama prestasi yang lo dapet, apalagi sekarang mahasiswa lulusan terbaik dengan nilai tertinggi seantero kampus. Gimana gue nggak iri coba? " Rivan menepuk pelan bahu Arka


" Jangan iri sama gue. Kita nggak tahu kedepannya kehidupan kita kayak apa? belom tentu apa yang kita dapat hari ini bisa jadi jaminan masa depan yang cerah. Jadi saran gue kita sama sama berdoa dan berikhtiar supaya masa depan kita lebih baik. Lagian gue yakin kalian berdua bisa lebih sukses dari ini " Nasihat Rivan.


" Ar, kayaknya sih Rivan salah masuk fakultas ini " Ujar Bagas


" Kenapa Gas? " Tanya Arka mengerutkan keningnya


" Ya nggak sesuai aja gitu masa penceramah masuk fakultas Management " Canda Bagas


" Hahahahha "


" Udah udah gue mau pulang " Ujar Rivan


" Cepet banget pak ustadz mau pulang " Ledek Bagas


" Iya nih pak Ustadz " Sambung Arka


" Apa sih kalian berdua ngeledek terus dari tadi, kan bener apa yang gue omongin. Gue nggak mau sahabat gue jadi orang yang suka iri nantinya "


" Iya kita ngerti kok "


" Hemm.. yaudah deh gue cabut dulu ya. Ayah sama bunda gue udah nungguin tuh " Ujar Rivan


" Iya hati hati pak Ustadz " Balas Arka


" Somplak lo pada "


" Hahahh.. anak sultan kesel tuh "


" haha, iya. Yaudah gue juga mau cabut ah "


" Gue juga " . Arka dan Bagas segera menuju ke mobil masing masing dimana kedua orangtua mereka sudah menunggu.


Sesampainya dirumah Rivan langsung sambut oleh adik dan kakak perempuannya.


" Yeayyy, selamat ya kakakku sayang " Ujar Kalista memeluk Rivan


" Makasih dek " Balas Rivan membalas pelukan sang adik.


" Selamat adik mbak yang paling tampan " Sahut Shalsa yang baru pulang dari luar kota setelah melihat kedua adiknya melepas pelukannya. Shalsa pun beralih memeluk Rivan


" Makasih mbak " Ujar Rivan


" Udah udah masuk dulu yuk, bunda sama ayah sudah kepanasan dari tadi nungguin kalian peluk pelukan kayak teletabis " Ujar Viona


" Iya iya bunda, ayo masuk " Ujar Shalsa mulai melangkah masuk diiringi keempat orang itu.


" Yaudah Rivan kekamar dulu ya semuanya "


" Iya " Rivan mulai menaiki tangga dan berjalan menuju ke kamarnya. Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Setelah itu, Rivan merebahkan tubuhnya dikasur.


" Lelahnya " Gumam Rivan


Tiing..


Suara notifikasi pada ponselnya membuyarkan lamunan Rivan. Ia segera mengambil ponselnya diatas nakas. Senyumnya mengembang saat melihat ada beberapa orang yang sangat berharga baginya mengirimkan pesan.


*Bang Vivto


Selamat ya adekku tersayang. Abang seneng banget punya adek yang punya prestasi tanpa batas kayak kamu. Moga ini jadi motivasi buat kamu kedepannya ya dek. Selamatt🎉💕


*Mas Axel


Rivannn, adekku yang tampan. Congratulations ya!!! Mas bahagia banget pas liat live streamingnya Universitas kamu tadi... rasanya pengen langsung meluncur ke kampus kamu tadi. Sayangnya ada tugas yang nggak bisa mas tinggal. Tapii, apapun itu yang penting kamu juaranya hari ini... Good job Son☺️💪


*Kak Hana


Adik ipar, selamat ya! kakak juga bangga bisa liat kamu jadi mahasiswa lulusan terbaik tadi. Maaf kakak sama abang kamu nggak bisa ikut menyaksikan langsung dikampus tadi🙏.. sekali lagi selamat ya!


*Mbak Nabila


Wooooww, suatu kebanggaan yang luar biasa buat mbak pribadi melihat kamu hari ini. Kamu yang terbaik.. congratulations Rivan🎉


*Syafa


Assalamualaikum!


Selamat ya mas Rivan atas pencapainnya hari ini. Akhirnya setelah 4 tahun berjuang kini bisa mencapai hasil yang paling terbaik pula... woow ini emang the best banget! Syafa doakan moga ilmu yang didapatkan itu bisa menjadi barokah ya mas.. Aamiin! Congratulations 💖


Dan ada banyak lagi pesan pesan yang disampaikan oleh keluarga besar Rivan. Rivan pun membalas satu per satu ucapan itu dengan senyum lebar. Terutama dari Syafa. entah mengapa, hatinya sangat berbunga bunga melihat pesan sederhana yang di sampaikan oleh Syafa.


Setelah semua pesan terbalaskan, Rivan mengambil laptop yang terletak dimeja belajarnya dan mulai melihat laporan laporan yang masuk dari orang kepercayaannya di perusahaan miliknya.


" Semua berjalan dengan lancar, huh! semoga perusahaan yang aku bangun ini bisa berkembang lagi dari ini.. Aamiin " Doanya. Rasa kantuk mulai menyerang. Rivan segera mematikan laptopnya dan mengembalikannya ketempat semula. Setelah itu ia memutuskan untuk tidur siang sebentar.


To be continued!!