The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kok Sama?



Ketika sampai dirumah, Rivan langsung disambut oleh bundanya.


" Assalamualaikum bunda " Ujar Rivan


" Waalaikumsalam, dari mana kak? " Tanya Viona


" Dari tempat teman bun " Jawab Rivan


" Maaf ya bun, tadi kakak nggak sempat jemput bunda di mall " Sesal Rivan


" Nggak papa, oiya tadi malam kamu kemana saja sampai lupa dengan janji kamu sama bunda dan ayah " Ujar Viona


" Maaf bun, setelah meeting tadi malam, klien kakak minta ditemani makan malam sebagai perayaan kerja sama. Kakak nggak enak kalo nolak " Jawab Rivan


" Kamu tahu, bunda juga merasa nggak enak sama om Rizky dan tante Cia yang terus menanyakan keberadaanmu. Bahkan Syakilah, putri mereka yang ada di Surabaya rela datang ke Bandung karena ingin menghadiri acara itu. Ia bahkan nggak sempat mampir kerumah, begitu sampai di Bandung,Syakilah langsung menuju restoran. Sedangkan kakak? Kakak udah ada di Bandung tapi nggak dateng " Ujar Viona.


" Kan bunda bilang nggak usah susulin lagi karena kalian semua udah pulang? " Tanya Rivan


" Iya kami pulang karena hari sudah larut tapi kakak belum juga menampakkan batang hidung " Jawab Viona


" Maafin kakak bun " Ujar Rivan.


" Huh! Sudahlah. Bunda sudah siapkan makan siang. Kakak bersih bersih terus langsung makan. " Ujar Viona


" Iya bun "


" Oiya, ini ada titipan dari Syakilah untuk kakak! katanya ia bawa khusus untuk kakak dari Surabaya " Ujar Viona memberikan paper bag yang diberikan Syafa pada Rivan


" Teriman kasih bun. Kakak ke atas dulu "


" Iya "


°°°°°°°°°°°


Rivan segera mengganti bajunya dengan pakaian santai karena ia tak pergi ke kantor lagi setelah ini. Setelah itu, ia turun dan makan masakan sang bunda.


Selesai makan, Rivan kembali kekamarnya. Ia mencoba baju kokoh yang dibelinya di butik Syafa.


" Eh, kok warnanya beda ya! " Ujar Rivan bingung. Pasalnya, ia melihat dengan jelas baju kokoh yang dibungkus Syafa tadi berwarna navy. Sedangkan yang ia coba berwarna hijau daun. Ia menghampiri ranjangnya dan melihat ada 2 paper bag disana.


" Paper bagnya sama! Mungkin hadiah dari Syakilah juga ia beli di butik Syafa " Gumam Rivan. Ia pun membuka paper bag satunya yang ia kira hadiah dari Syakilah.


" Kok sama? " Tanyanya pada diri sendiri. Yang benar saja, kedua paper bag itu berisi baju kokoh dengan motif yang sama. Hanya warnanya saja yang berbeda. Wait! ia teringat perkataan Syafa tadi siang padanya saat ia mencoba baju kokoh berwarna navy itu.


Flashback on!


Rivan mencoba baju kokoh yang ia pilih di ruang ganti yang tersedia di ruangan Syafa.


" Syafa, gimana menurut kamu? " Tanya Rivan saat keluar dari ruang ganti


" Perpect! Warnanya sangat bagus, cocok buat mas Rivan. Tapi... " Syafa menggantung kalimatnya.


" Tapi apa? " Tanya Rivan lagi


" Tapi, sepertinya lebih terlihat perpect lagi kalau seandainya masih ada yang berwarna hijau daun " Jawab Syafa


" Hijau daun? Apa warna itu masih ada? "


" Sayangnya sudah soul out semua mas! Apalagi yang ada dibutik yang ada di Surabaya" Jawab Syafa


" Sangat diminati sepertinya "


" Iya, bahkan dalam waktu 1 minggu, cabang butik di Surabaya sudah mengeluarkan 200 potong baju kokoh ini dengan warna hijau daun yang pertama sekali habis " Jelas Syafa


" Berarti nggak produksi lagi Fa? Yang warna hijau daunnya? " Kini giliran Arka yang bertanya


" Tentu saja masih diproduksi kak, tapi dengan motif yang berbeda " Ucap Syafa.


" Berarti yang motif seperti ini sudah habis? " Tanya Arka lagi


" Sebenarnya masih ada aku simpan satu. Tapi sudah aku kasih sama anak sahabatnya mama " Jawab Syafa.


Flashback off!


" Apa mungkin Syakilah yang bunda maksud itu... Syafa? " Gumam Rivan. " Ah, nggak mungkin. Nama mamanya Syakilah itu tante Cia sedangkan Syafa tante Lesty " Ujar Rivan kemudian. Ia bertambah pusing memikirkan hal itu. Akhirnya Rivan memutuskan untuk mengajak Darren berkunjung ketempat wisata kota Bandung bersama dengan Arka dan juga Bagas.


°°°°°°°°°°°°°


Syafa keluar dari butiknya dan berniat mengunjungi perusahaannya. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju parkiran. Ia pun menaiki mobil mewah miliknya dan segera melajukannya menuju perusahaannya.


" Selamat siang nona Syafa " Sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan Syafa.


" Siang " Jawab Syafa tersenyum tipis. Ia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai 30, dimana ruangannya berada.


" Maaf, apa anda ada temu janji dengan bu Presedir " Ujar seseorang dari belakang Syafa saat melihat Syafa akan masuk kedalam ruangannya. GINA DAUTYSILLAH, begitulah nama yang tertera pada name tagnya.


" Iya nona Gina! Apakah bu Presedir ada diruangannya? " Tanya Syafa memancing Gina


" Ibu presedir sedang tidak ada ditempatnya. Ia sedang ada kepentingan. Dan lagi, beliau tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengan orang yang kurang penting " Jawab Gina dengan nada sinis. Syafa tersenyum tipis.


" Ternyata karyawan baru ini mau main main denganku! Baiklah kita ikuti permainannya " Batin Syafa tersenyum sinis.


" Memangnya anda siapa? berani sekali anda menyuruh presedir kami datang kemari hanya untuk menemui anda " Ujar Gina dengan nada sinis


" Baiklah, jika memang presedir tidak bisa saya temui. Panggilkan saja asistennya kalau begitu " Ujar Syafa


" Kenapa anda sangat ingin bertemu orang orang penting diperusahaan ini? Anda tahu mereka tidak punya banyak waktu hanya untuk menemui orang orang yang tidak penting seperti anda " Jawab Gina lagi


" Panggilkan saja asisten presedir kemari! Anda akan tahu semuanya nanti " Ujar Syafa lembut namun tegas.


" Huh! Baiklah saya hubungi dulu " Jawab Gina


" Katakan saja Syafa ingin bertemu dengannya " Ujar Syafa membuat Gina semakin geram dengan keberanian serta kepercayaan diri Syafa.


Tak lama asisten presedir datang. Ia heran melihat Syafa yang berdiri didepan ruangannya sendiri.


" Selamat siang nona muda, Maaf apakah ada hal yang penting sehingga anda menunggu saya didepan ruangan anda? " Ujar Asisten itu


" Nona muda? " Batin Gina


" Siang Gio, Apakah nona ini pegawai baru? " Tanya Syafa tanpa menjawab pertanyaan sang asisten.


" Iya nona, Gina baru bekerja satu bulan diperusahaan ini sebagai asisten sekretaris karena pekerjaan Cindy yang banyak ditambah anda yang sedang tidak ditempat " Jawab Gio.Cindy adalah sekretaris Syafa.


" Hey, kenapa kau bertanya tanya tentangku! Cepat katakan saja apa maumu " Ujar Gina


" Wah, ternyata hanya pegawai baru! Tapi sudah berani melarang saya masuk keruangan saya sendiri " Jawab Syafa santai. Sementara Gio sudah menatap tajam Gina.


" Maafkan saya atas ketidaknyamanan ini nona " Ujar Gio menunduk


" Bukan salahmu Gio! Tak perlu meminta maaf " Jawab Syafa


" Ruangan sendiri? Jangan mimpi!" Ucap Gina lagi.


" Gina! " Bentak Gio.


" Beraninya kamu bersikap tidak sopan pada presedir kita " Sambung Gio.


" Presedir? " Tanya Gina ambigu


" Iya, ini nona Syakilah Asyafa Ferdian, Presedir Ferdian Jewelry. Jadi bersikap sopanlah jika kau ingin selamat " Jelas Gio membuat Gina susah menelan savilahnya.


" Matilah aku! "


" M..Maafkan saya nona! " Ujar Gina


" Bagaimana? Apakah saya sudah boleh masuk ruangan saya NONA GINA? " Ucap Syafa menatap tajam Gina


" Ah, si..lahkan nona " Jawab Gina gugup.


" Saya akui kau begitu berani nona Gina. Kau begitu menjaga ruangan ini hingga tak ada yang bisa masuk kesini kecuali kamu mungkin! Tapi ingat melindungi bukan berarti menjatuhkan. Kau bisa peringatkan dengan baik tanpa berkata sinis dan mengejek! Karena tak selamanya orang yang kita pandang rendah itu rendahan! " Ujar Syafa berlalu.


" Dan, Gio tolong bawakan laporan keuangan perusahaan beberapa bulan terakhir ini. Juga anda nona Gina 30 menit lagi temui saya diruangan saya karena saya akan memberikan anda hadiah atas keberanian anda " Sambung Syafa. Ia pun masuk kedalam ruangannya.


" Baik nona " Jawab Gio


Syafa berkutat dengan laptop dan juga berkas berkas yang mengantri meminta tanda tangannya. 30 menit berlalu, Gina datang keruangan Syafa seperti yang Syafa perintahkan tadi.


" Kamu tahu apa kesalahanmu? " Tanya Syafa


" I..iya nona, maafkan saya " Jawab Gina gemetar


" Lulusan mana kamu? " Tanya Gina


" Universitas Trisakti Dharma "


" Wah, saya nggak nyangkah bakal bertemu dengan junoir saya disini dengan sikap yang begitu sopan " Jawab Syafa menyindir.


" Kamu ingat saya? Ketua BEM fakultas desain tahun ajaran 20xx/20xx " Tanya Syafa lagi


" Kak Syakilah? " Pekik Gina tak percaya


" Iya, dan kamu tahu bagaimana saya menghukum para mahasiswa yang melanggar peraturan waktu itu bukan..ah ya, tentu dibawa perintah dari pak Kevin " Ujar Syafa tersenyum sinis. Gina mengangguk ragu. Ia tahu betul Syafa bukan orang yang suka dengan yang namanya pelanggaran. Dan ia tak segan segan menghukum orang yang berani melakukan itu dengan hukuman yang memberikan efek jera pada mereka.


Brakkk..


Syafa melempar sebuah surat dimeja kerjanya.


" Temui HRD dan mintalah gajimu bulan ini. Hari ini kamu saya pecat dan jangan pernah lagi menampakkan wajahmu di perusahaan ini. Dan itu surat pemecatanmu " Ujar Syafa tegas


" Nona saya mohon! jangan pecat saya. Saya sangat butuh pekerjaan nona " Mohon Gina


" Tapi sayangnya sikap sombongmu itu membuatmu kehilangan pekerjaan ini. Saya sangat menyayangkan, orang berpendidikan seperti anda bersikap tidak sopan seperti tadi. Mungkin diperusahaan lain, orang berpendidikan yang dicari. Tapi tidak disini! Prestasi memang penting, tapi akhlak yang diutamakan. " Ucap Syafa


" Pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran dan membekukan gajimu bulan ini " Sambung Syafa lagi


" Tapi nona.. "


" Keluar " Teriak Syafa membuat Gina terdiam. Dengan wajah lesu Gina keluar dari ruangan itu. Ia segera menemui HRD dan mengambil gaji pertama sekaligus terakhir baginya. Kemudian ia keluar dan pulang kerumah..


To be continued!!!