
Kurang lebih 5 jam Syafa berada diperjalanan, sekarang ia sudah sampai di rumah sakit. Dengan tergesa gesa ia masuk kedalam gedung rumah sakit itu. Tak peduli lagi dengan tubuhnya yang lelah. Pikirannya hanya tertuju pada sang papa.
" Nona muda Syafa! " Sapa seseorang yang kebetulan berpapasan dengan Syafa. Syafa mendongak dan mendapati asisten sang papa yang sedang menatap heran kearahnya.
" Paman Ed! Bisa beritahu aku dimana ruang rawat papa " Pinta Syafa dengan penuh harap. Pria yang bernama Edwin itu mengangguk. Walaupun sedikit heran dengan keberadaan Syafa yang tiba tiba sudah berada di Bandung, ia tetap menuntun Syafa ke ruang IGD, tempat papa Rizky mendapatkan perawatan yang intensif.
" Masuklah nona, didalam ada tuan muda Dafa dan nyonya besar " Ujar Edwin. Syafa mengangguk lemah.
" Terima kasih paman! " Perlahan Syafa membuka pintu ruangan IGD itu. Pemandangan yang pertama ia lihat adalah sang papa yang terbaring lemah di ranjang pasien. Tangan kiri yang dipasang selang infus. Ditambah dengan beberapa balutan perban di kepala dan lengan. Serta oksigen yang membantu papa Rizky bernapas. Air mata Syafa mengalir deras. Sungguh sakit melihat papanya yang beberapa hari ini ia abaikan terbaring lemah di rumah sakit. Mama Lesty berada disamping sang suami sedangkan Dafa masih memantau keadaan papa Rizky lewat layar monitor. Sesekali ia tampak memeriksa handphonenya, berharap ada seorang pendonor yang bersedia mendonorkan darahnya untuk papa Rizky.
" Mama.. " Lirih Syafa. Mama Lesty yang semula fokus pada suaminya pun menoleh. Ia dan Dafa sama sama terkejut melihat keberadaan Syafa. Baru 5 jam lalu mereka memberi kabar. Bukankah setidaknya 4-5 jam lagi Syafa baru sampai?.Syafa berlari menuju mamanya. Tangisnya semakin pecah. Rasa bersalahnya semakin besar melihat sang mama yang sepertinya sangat terpukul. Ia bersimpuh dihadapan mamanya.
" Ma.. hiks.. hiks.. maafkan Syafa. S.. Syafa bukan anak yang baik. Maaf ma, hiks.. hiks.. karena Syafa papa jadi celaka.. hiks.. hiks.. maaf !! " Iirih Syafa. Mama Lesty meneteskan air matanya. Sedikit banyak ia juga menjadi penyebabnya. Jika bukan karena ide konyolnya bersama sahabatnya, tidak mungkin sang anak jadi pembangkang. Tidak mungkin suaminya sekarang terbaring lemah dirumah sakit. Dia juga salah!
Perlahan mama Lesty meraih pundak Syafa.
" Bangunlah nak! " Ujar mama Lesty. Ia menarik sang putri dan memeluknya dengan erat. Keduanya menangis.
" Syafa salah ma! Syafa salah!! Syafa minta maaf.. hiks.. hiks.. "
" Mama juga salah sayang, jangan salahkan dirimu. Kita sama sama salah nak. Maafkan mama dan papa ya! " Lirih mama Lesty.
" Hiks.. hiks.. " Tak terdengar suara dari keduanya kecuali suara isak tangis yang mewakili perasaan mereka. Bahkan Dafa juga ikut meneteskan air matanya. Ia juga salah karena mengizinkan adiknya pergi tanpa memberitahu orangtua mereka.
Titt.. tit.. tit..
Suasana hening itu seketika menjadi tegang lantaran terdengar suara dari monitor pendeteksi detak jantung yang melekat pada tubuh papa Rizky.
" Kondisi papa semakin lemah! Kita harus cepat bertindak " Ujar Dafa kemudian. Ia memanggil perawat dan rekan dokter yang membantunya tadi untuk menangani papa Rizky.
" Syafa, kamu bersedia mendonorkan darahmu untuk papa. Hanya kamu harapan kami semua " Ujar Dafa pada sang adik.
" Aku bersedia! Ambil darahku sebanyak yang kalian mau. Yang terpenting selamatkan papa! " Ujar Syafa seraya mengusap air matanya. Sudah cukup baginya untuk menangis. Ia harus tegar demi mama dan juga papanya.
Tak lama terdengar suara derap langkah memasuki ruangan IGD. Seorang dokter muda dan dua suster datang dengan membawa alat alat yang di perlukan. Mereka akan segera melakukan tranfusi darah untuk papa Rizky.
" Maaf, ruangan ini harus steril " Ujar dokter muda itu. Mama Lesty mengangguk. Ia melangkah keluar bersama Syafa. Dalam hati ia berdoa supaya sang suami bisa selamat.
" Nona Syafa, mari ikut kami! " Ujar seorang suster yang keluar dari ruang IGD. Syafa mengagguk.
...*****...
" Teh, gimana keadaan papa? " Tanya Syafa pada Rasya, istri Marsel yang baru saja datang kerumah sakit bersama Zahira.
" Teteh belum tahu dek, doakan saja yang terbaik ya! " Jawab Rasya dengan senyumannya.
Ceklek..
Pintu ruang rawat itu terbuka, nampaklah seorang suster membawa sebuah nampan berisikan berbagai macam makanan bergizi. Dibelakangnya tampak sepasang suami istri yang ikut berjalan menuju Syafa dan Rasya.
" Saya permisi nona! " Ujar suster itu sesaat setelah meletakkan makanan itu pada nakas. Syafa tersenyum dan mengangguk.
" Makan yang banyak dek! Kalau mas tahu kamu belum makan, mas nggak akan izinkan kamu donorin darah buat papa!! " Ujar Dafa mendekati Syafa diikuti Zahira.
" Gimana kondisi papa mas? " Tanya Syafa tanpa memperdulikan ucapan kakak ketiganya itu.
" Pikirkan dulu kondisimu! " Ujar Dafa.
" Masss.. " Rengek Syafa. Dafa terkekeh dan mencubit pelan hidung adiknya itu.
" Kalian ini selalu saja bertengkar jika bersama" Ujar Zahira menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Rasya terkekeh.
" Daf, beritahu kami apa papa sudah melewati masa kritisnya? Jangan membuat kami mati penasaran " Hardik Rasya dengan tatapan tajamnya. Pasalnya hanya ia dan Syafa yang mungkin belum tahu kondisi terkini papa Rizky. Karena saat Syafa pingsan hanya dirinya yang menemani Syafa. Sedangkan Zahira menemani mama Lesty didepan IGD. Mama Lesty dan Zahira juga sempat menengok Syafa. Tapi hanya sebentar, takut jika dokter membutuhkan keluarga pasien. Sedangkan Marsel yang menggantikan papa Rizky menemui kliennya. Dan Aleta masih belum bisa pulang dari kampus.
" Alhamdulillah kondisi papa sudah stabil teh, tinggal menunggu papa sadar. Kami juga masih memantau selama 24 jam. Jika selama itu papa masih belum sadar ada kemungkinan terjadi komplikasi dan bisa menyebabkan papa koma. Tapi kami optimis jika papa akan sadar. Aku mohon doa dari kalian semua " Ujar Dafa sendu.
" Innalilahi.. " Gumam Syafa. Penjelasan Dafa tak membuatnya lega. Masih ada kemungkinan buruknya!
" Sekarang kamu makan dulu Fa, papa paling tidak suka dengan gadis cengeng. Tegarlah demi papa dan mama juga dek. hemm.. " Ujar Dafa mengelus pucuk kepala adiknya yang berbaring di ranjang pasien. Syafa mengagguk. Sebelumnya ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri supaya tidak menangis lagi. Tapi tetap saja ia tak bisa. Rasanya sakit, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
" Sekarang beritahu mas, gimana kamu bisa sampai ke Bandung dalam waktu 5 jam? "
" Aku menyetir mobil seperti biasa! "
" Jangan berbohong, kamu pasti kebut kebutan!" Tuduh Dafa seraya menyuapi adiknya makan.
" Hemm.. " Jawab Syafa
" Kamu itu selalu saja ngenyel! " Dengus Dafa.
To be continued!!