The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Hasna vs Ikhsan



Masih terdengar suara rintihan dari bibir mungil milik Hasna menahan rasa sakit akibat luka benjol yang masih berdenyut di pelipisnya.


Walau bagaimanapun, Ikhsan tetap merasa bersalah atas kejadian sial yang menimpa adiknya itu, walau jelas itu bukan kesengajaan Ikhsan.


Ikhsan mulai melirik adiknya, yang ternyata masih memijit-mijit ujung dahinya itu sambil meringis. Lalu Ikhsan berdehem mencari perhatian sang adik.


"Eheemm.. heemm.. Dek, maafin Abang yah? Abang gak sengaja bukain pintunya loh! Abang gak tau kalo ternyata adek udah dorong pintunya itu!" Tukasnya.


Tak ada jawaban. Hanya lirikan tajam dari sang adik, yang kemudian disertai senyuman usil. Hmm, sang kakak sudah bisa menduga kemana arah situasi ini.


" Okey, okey abangku yang ganteng, Hasna yang baik hati ini akan berjiwa besar memaafkan insiden pagi ini, tapiiiii.... ada syarat yang harus Abang penuhi, bagaimana? hah..hah..??" Katanya sambil menaik-naikkan alisnya itu.


Ikhsan tersenyum kecut, iya, senyum yang dipaksakan. Dan akhirnya mendengus berat sambil berkata : " Hmm dasar adik jahil yaa kamu dek, doyan kalik bikin abangmu ini pusing tujuh keliling.. "


" Jadiiii... apa syarat yang anda ajukan nona,,, hmmm... " Tukas Ikhsan gemas.


" Traktir Hasna makan di mall dan belikan Hasna buku baru yaa bang, soalnya kemaren ada judul baru buku yang sudah terbit.. Deal?? " Kata Hasna sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman sebagai tanda persetujuan dengan abangnya.


" siap komandan!! " Sambil membalas uluran tangan Hasna.


Hasna pun melompat kegirangan. Dia segera keluar dari kamar kakaknya tersebut dan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap, because she Will enjoy the day. Yipppyyyy... Horraaayyy... Soraknya dalam hati. Tak absen senyum terukir dari wajahnya walau sedikit benjolan menghiasi dahinya itu.


Ikhsan kembali menjatuhkan diri ditempat tidur empuknya. Entahlah, kenapa Ikhsan selalu membiarkan dirinya jadi bulan-bulanan adiknya itu. Tampaknya inilah yang disebut abang-abang takut adek. Hahahahha. agak maksa emang. Karena rasa sayangnya kepada keluarganya, mama, ayah dan adeknya, Ikhsan selalu mengalah. Ikhsan tak pernah mau memperpanjang urusan jika berhubungan dengan kebahagiaan keluarganya, tak terkecuali si tuan putri itu.


Bayangan Ikhsan pun kembali menuju kenangan lampau yang telah terjadi itu.


POV Ikhsan Lampau


Akhirnya kesalahpahaman ini sudah terjawab kebenarannya. Ikhsan minta maaf kepada kedua orangtuanya. Barang haram yang dibakar mama Ikhsan sampai membuat histeris seisi rumah itu memang dipastikan milik Zaki karena ditemukan didalam tas Zaki. Sedangkan Ikhsan saja tak menyangka kalau tas itu berisi barang haram (versi mamanya) tersebut. Ikhsan sama sekali tidak pernah membuka atau membongkar tas milik kawannya itu.


Untung saja Ikhsan kuat hati saat menjelaskan semuanya. Sehingga masalah ini bisa segera clear!


Namun tak disangka, si Hasna yang berjiwa usil itu merekam semua kejadian naas Ikhsan tersebut, durasinya cukup lama, dimana video itu mempertontonkan bagaimana Ikhsan sesenggukan menangis sambil berusaha minta maaf kepada kedua orangtuanya.


Finally, video itu dikemudian hari menjadi senjata Hasna untuk mengancam sang kakak jika kemauannya tidak dituruti oleh Ikhsan.


Ikhsan hanya bisa pasrah. Bukan tidak bisa melawan, tapi ya sudahlah, Ikhsan tak mau berurusan ribet sama kaum hawa dirumah ini, yaa kaum hawa yang bawel belibet dan bikin pusing penghuni rumah ini : mama dan Hasna.


Pernah juga waktu itu si Hasna yang lagi baper tingkat dewa merengek-rengek minta diantar sang abang ke pesta ulang tahun teman sekelasnya, yang notabenenya teman yang ulang tahun itu berani menikung gebetan Hasna kala itu. Tak tanggung, Hasna meminta si Abang untuk berakting sebagai kekasih Hasna. Biar bisa panas-panasin temannya itu. Dan untuk ke sekian kalinya, Ikhsan menuruti perintah si tuan putri itu. Yang ternyata kejadian diluar dugaan pun terjadi, Ikhsan jadi bintang di pesta itu. Ikhsan yang gagah dan berpenampilan maskulin itu sukses menarik perhatian kaum hawa pecicilan di sana.


POV Ikhsan Kini


Ikhsan mendengus sebal. Hufftth, Ikhsan mengusap kasar wajahnya.


' Ya ampun, ternyata begini yah ribetnya perempuan. Banyak maunya. Bikin bingung. Haduh kalo aku punya istri nanti, kira-kira dia ribet juga gak yah? Kok aku jadi kangen sama si gadis itu sih? Lagi apa yah dia sekarang? ' Batin Ikhsan bergemuruh.


Namun dia harus mengakhiri pertengkaran batinnya karena dia harus segera bersiap-siap untuk menghadapi hari yang berat menuruti kemauan si tuan putri itu.