The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Penjelasan Rivan



Tak lama Rivan turun ke ruang makan dengan penampilan yang lebih segar. Syafa menarik salah satu kursi.


" Silahkan mas " Dengan cekatan Syafa menyiapkan makanan didepan sang suami. Rivan tersenyum. Walaupun ia melihat raut wajah istrinya yang tak seceria biasanya tapi ia tetap melayani Rivan dengan baik.


" Kamu juga makanlah sayang. Tadi mas Axel bilang kamu nggak makan siang bareng mereka. " Rivan ikut menarik kursi disampingnya dan mendorong pelan tubuh Syafa agar duduk.


" Aku sendiri aja mas " Syafa mencegah Rivan yang hendak menuangkan nasi dan lauknya kedalam piringnya. Namun Rivan tetap pada pendiriannya. Ia tak membiarkan Syafa mengambil nasinya sendiri.


" Biar mas saja sayang! " Syafa yang sedang malas berdebat akhirnya mengiyakan saja. Sepasang suami istri itu menikmati makanan mereka tanpa bersuara.


Hingga saat mereka selesai makan, Syafa membereskan meja makan. Rivan menghentikan Syafa karena masih melihat Syafa yang masih memendam rasa kesal.


" Biar bibi saja yang bereskan sayang! Ayo temani mas istirahat di kamar " Rivan merangkul pundak sang istri. Syafa hanya pasrah saat Rivan malah menggedongnya ala ala bridal style.


" Bi, tolong bereskan ya.. makasih " Teriak Rivan sesaat sebelum mereka keluar dari ruang makan. Bi Asih hanya tersenyum melihat tuan mudanya begitu romantis pada nona Syafa.


" Baik tuan muda "


...****...


" Ada apa sayang? Ada yang membuatmu merasa kesal? " Tanya Rivan ada Syafa. Syafa hanya acuh.


" Jangan seperti ini, Zaujatii.. nggak baik memendam rasa yang ujung ujungnya berakibat buruk untuk hubungan kita. Kalau mas ada salah atau membuatmu kesal maka katakan. Supaya mas bisa introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan itu. " Rivan menyusul Syafa yang sudah duduk disofa kamarnya. Ia merangkul pundak istrinya.


" Kalau kayak gini terus, mas nggak tahu apa yang harus mas lakuin. Sekarang coba kamu cerita, apa yang membuatmu marah, Zaujatii " Sambung Rivan menatap Syafa. Syafa menghelah napas panjang. Entah ia yang terlalu cemburu atau memang Rivan yang selingkuh dibelakangnya. Syafa terdiam beberapa saat.


" Kenapa tiba tiba klien mas berubah perempuan? Padahal katanya tadi mau ketemu tuan Lawyer " Tanya Syafa akhirnya. Rivan tersenyum, ia bisa mengartikan sikap Syafa tadi karena Syafa cemburu.


" Tuan Lawyer mendadak ada urusan keluar kota, jadi putrinya yang mewakili sayang. Lagipula mas nggak macam² kok! Hanya sebatas membahas kerjasama perusahaan. Maaf ya kalau itu buat kamu cemburu sayang " Rivan mengambil tangan Syafa dan ia kecup tangan halus itu dengan penuh cinta. Hal itu membuat hati Syafa menghangat.


" Ya Allah, pada siapa aku harus percaya? Suamiku atau pesan misterius itu? Mas Rivan sepertinya berkata jujur, tapi bau parfum itu? Bekas lipstik pada jas mas Rivan juga seharusnya cukup jadi buktinya. Tapi kenapa hati ini memilih percaya pada perkataan suamiku... Tolong berilah hamba-Mu ini petunjukmu ya Rabb "


" Sayang, kok melamun " Rivan memegang kedua pundak Syafa membuat Syafa terperanjat kaget.


" Ah, i.. iya mas? "


" Masih ada yang mengganjal dihatimu sayang? " Tanya Rivan lembut. Rivan jelas tahu, jika hanya perihal dia yang meeting dengan klien perempuan saja tentu Syafa tidak akan cemburu berlebihan seperti ini. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan Syafa seperti ini. Tapi apa?


" Mas Rivan benar benar hanya meeting kan? " Rivan kembali tersenyum. Ia akui Syafa terlalu menggemaskan jika cemburuan seperti itu.


" Kamu bisa tanyakan sama Leo kalau masih ragu sama mas sayang " Syafa berhambur memeluk Rivan. Ia akui, ia memang sedikit tak percaya pada Rivan karena foto² yang dikirimkan entah oleh siapa.


" Maaf mas, aku nggak bermaksud menuduh. Aku hanya.. hiks.. hiks.. " Tiba tiba Syafa menangis. Rivan membalas pelukan Syafa dan mengelus pelan rambut sang istri.


" Cerita sama mas, sayang! Apa ada seseorang yang mengatakan sesuatu padamu? " Rivan masih setia memeluk sang istri yang masih terisak. Syafa menggelengkan kepalanya. Ia lantas meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan menyerahkannya pada Rivan.


" Aku harap itu bukan kamu mas " Lirih Syafa. Rivan memperhatikan pesan yang dikirim oleh nomor tak dikenal kepada sang istri. Rahangnya mengeras melihat foto dan captionnya. Pantas saja Syafa sampai cemburu.


" Sayang! Ini memang mas.. "


Deg!!


" Astaghfirullah.. Ya Rabb jadi mas Rivan benar benar... "


" Tapi mas berani sumpah, mas nggak pernah ada niatan memeluk wanita lain apalagi selingkuh. Liona tersandung dan tubuhnya menimpah mas yang sedang duduk. Kita cek cctv kantor kalau kamu benar benar nggak percaya sama.. "


Bughh...


Syafa kembali memeluk Rivan membuat Rivan menghentikan ucapannya. Dia salah, seharusnya Syafa lebih percaya suaminya daripada nomor asing itu. Ia menangis tersedu didada bidang sang suami.


" Maaf.. hiks, hiks.. maafkan istrimu yang durhaka ini mas, hiks.. hiks.. aku bahkan menuduh suamiku yang bukan bukan hanya karena.. "


" Shuttt, kamu bukan istri durhaka sayang! Kamu istri sholehahku.. "


" Mas.. tapi aku.. "


Tok.. tok.. tok...


" Onty, Uncle " Syafa dan Rivan saling pandang.


" Kayaknya Reyna mas "


" Biarin aja sayang "


" Onty, uncle didepan ada nenek Lesty cama onty Leta " Teriak Reyna karena aunty dan unclenya tidak menyahut panggilannya.


" Ehmm.. iya sayang! Aunty akan keluar sebentar lagi, aunty ganti baju dulu ya " Balas Syafa.


" Ciapp onty " Gadis kecil itu segera pergi dari depan pintu kamar Rivan. Sementara kedua insan di dalam kamar itu segera bersiap keluar.


...*****...


Mama Lesty begitu antusias melihat anak menantunya menghampiri mereka diruang keluarga seraya bergandengan tangan.


" Assalamualaikum mama " Rivan mencium tangan mertuanya dengan takzim diikuti oleh Syafa juga.


" Waalaikumsalam nak, kalian sehat? " Tanya mama Lesty mengelus pelan kepala menantunya itu.


" Alhamdulillah sehat ma "


" Syukurlah kalau begitu "


" Mama merindukanmu kak " Mama Lesty memeluk sang putri. Leta yang berada disebelahnya terperangah melihat sang mama yang sepertinya sangat berlebihan. Padahal, baru satu hari Syafa tinggal dirumah mertuanya.


" Baru satu hari kakak nikah loh ma " Sindir Aleta usai bersalaman dengan kakak dan kakak iparnya.


" Kakakmu ini memang baru satu hari nikah dek. Tapi baru beberapa minggu ini dia dirumah. Sebelum itu dia menghabiskan waktunya di Surabaya. Entah untuk kerja atau merajuk " Ujar mama Lesty setengah mengejek.


" Sudahlah nggak usah mengejek menantuku Les, ayo duduk dan cicipi resep terbaruku ini " Bunda Viona datang dan membawa nampan berisi jus mangga dan stoples cemilan.


" Sebelum jadi menantuku, dia itu putriku Vi! Jadi jangan coba coba membelanya didepanku " Ujar mama Lesty.


" Mama dan bundaku sayang, nggak perlu berdebat! Sekarang Syafa putri mama juga bunda. " Syafa merangkul mama Lesty dan bunda Viona seraya duduk di sofa.


" Rivan, ayo duduk! Nak Leta juga " Ujar bunda Viona. Rivan duduk di samping sang istri sementara Leta duduk disamping mamanya.


" Kak, ini dari mbak Za sama teh Aca. Mau Leta kasih kemaren tapi kalian keburu pergi " Leta memberikan sebuah paper bag kepada Syafa.


" Kata teh Aca harus di pakai ntar malem biar Leta cepet dapet ponakan lagi " Sambung Leta membuat Syafa menunduk malu.


" Doain aja Leta " Sahut Rivan.


" Aamiin.. "


" Mama udah nggak sabar nunggu seminggu lagi dan kalian nginep dirumah "


" No, masih lama Les! Waktunya mereka nginep disini dulu " Sanggah bunda Viona membuat ketiga anak muda yang melihat pertengkaran mereka hanya geleng geleng kepalanya.


" Hemm.. aku juga nggak nyuruh mereka nginep di rumahku sekarang loh Vi " Sahut mama Lesty.


" Udahlah, daripada kita ribut nggak penting mending cicipi kue ini. Resep baru " Bunda Viona memasukkan kue kering itu kedalam mulut mama Lesty.


" Yaampun.. Vionaa!!! " Teriak mama Lesty setelah kue itu tertelan semua. Syafa, Rivan dan Leta hanya terkekeh melihat tingkah absurd orang tua mereka.


" Mama dan tante Viona kalau udah ketemu pasti berantem mulu " Keluh Aleta membuat kedua sahabat itu terkekeh pelan.


" Beginilah sahabat sejati Leta. Kami memang sering bertengkar dan adu mulut. Tapi dibalik itu semua kami saling menyayangi " Bunda Viona merangkul mama Lesty.


To be continued!!