The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Kagum



Sesampainya di sana Syafa langsung berjalan kearah teman temannya.


" Tega banget sih kalian ninggalin gue sendiri tadi " Ujar Syafa


" Lagian lo udah dibilangin nggak usah bantu masih aja keras kepala, yaudah kita tinggal " Jawab Rara.


" Iya tapi.... " Ucapan Syafa terpotong karena teriakan seseorang


" Tolonggg... toolongg.. " Teriak seorang pria itu


" Kalian denger nggak sih ada orang yang minta tolong " Ujar Nadin


" Iya gue juga denger Din " Jawab Alisyah


" Gue juga " Sahut Rara


" Tooloongg " Teriaknya lagi. Mereka berempat segera mencari sumber suara itu.


" Astaga ternyata bapak itu yang teriak " Ujar Syafa sembari menunjuk kearah suara


" Tunggu apalagi, samperin yuk " Ajak Rara. Mereka pun menghampiri bapak itu


" Maaf pak, ada apa ya pak kok teriak teriak " Tanya Alisyah dengan sopan


" Tolong putri saya nak, saya sudah bawa dia ke pos kesehatan. Tapi disana nggak ada satupun dokter yang jaga " Ujar bapak itu menangis


" Kalau boleh tahu putri bapak sakit apa? " Tanya Nadin


" Maag nya kambuh karena telat makan nak " Jawabnya


" Kebetulan saya sama teman saya jurusan kedokteran, setidaknya kami bisa memberikan pertolongan pertama pada anak bapak sampai dokter tiba " Sambung Alisyah.


" Terima kasih banyak nak " Jawab bapak itu


" Iya sama sama pak, kita ke pos kesehatan dulu ya Syafa, Rara " Pamit Nadin buru buru


" Iya " Jawab Syafa dan Rara. Nadin dan Alisyah segera menuju ke pos kesehatan. Sedangkan Rara tertarik membantu para warga yang sedang memasak di dapur umum. Syafa yang sedang malas membantu memasak memilih tak ikut. Ia berjalan sendirian mengelilingi desa itu. Namun, ia tak mau terlalu jauh karena ia tak mau tersesat.


Beberapa saat kemudian Syafa melihat anak anak yang sedang belajar bersama guru mereka. Duduk di tikar dan didepannya ada sebuah papan tulis kecil. Syafa pun segera mendekat.


" Assalamualaikum " Ujar Syafa


" Waalaikumsalam " Jawab Bu guru yang bername tag YURA ADINDA. Sesaat Yura terdiam karena tak mengenali Syafa. Namun kemudian ia teringat bahwa ada mahasiswa dari kota yang datang berkunjung ke desa mereka hari ini. Ditambah jas yang dikenakan Syafa memperkuat dugaan Yura.


" Mari silahkan masuk nona " Sambung Yura kemudian


" Terima kasih " Jawab Syafa. Ia pun mulai melangkah masuk kesana.


" Oiya, siapa nama kamu? " Tanya Yura


" Syafa, panggil aja Syafa bu " Jawab Syafa tersenyum.


" Baiklah nona Syafa. Saya Yura " Ujar Yura


" Tidak perlu sungkan bu Yura, panggil nama saja " Ujar Syafa


" Sebaiknya kamu juga jangan memanggil saya Ibu. Kesannya kayak saya tua sekali " Canda Yura


" He..he..he baiklah mbak saja kalau gitu " Ujar Syafa


" Good "


" Anak anak kebetulan nih hari ini kita kedatangan tamu dari kota. Dan wanita yang berada didepan kalian ini adalah salah satu dari mereka. Namanya ibu Syafa, ayo sapa ibu Syafanya anak anak " Ujar Yura


" Hallo bu Syafa " Ucap semua anak


" Hai juga adik adik semua, jangan panggil ibu ya panggil kakak aja, oke " Ujar Syafa tersenyum


" Oke kak " Ujar anak anak itu. Syafa terlihat sangat antusias mengajari anak anak itu membaca, menulis, berhitung dan banyak hal lagi. Metode mengajar yang diterapkan Syafa yang tidak terlalu monoton dan membuat anak anak itu sangat bersemangat sekali belajar. Diselingi candaan dan juga permainan permainan mengasah otak yang seru yang dibuat Syafa membuat anak anak itu semakin antusias. Bahkan, Yura pun ikut kagum melihat Syafa yang bisa cepat akrab dengan anak didiknya.


" Sepertinya aku juga harus menerapkan metode seperti ini dalam mengajar " Batin Yura


" Kenapa semakin aku kenal sama kamu, aku semakin kagum sama kamu. Sikap kamu yang ramah, rendah hati dan suka menolong orang lain meskipun hidup bergelimang harta menambah nilai plus tersendiri buat kamu. Bertutur kata lembut membuat hati orang yang mendengarnya menjadi damai. Sepertinya semakin kesini aku semakin mengagumimu Syafa " Batin orang itu sembari tersenyum


Merasa ada yang mengawasi, Syafa pun menoleh.


Deg..


Untuk sesaat pandangan mereka bertemu. Detak jantung keduanya tak dapat dikontrol. Sudah dapat dipastikan saat ini jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya.


" Kak Syafa " Panggil salah satu murid. Membuyarkan lamunan Syafa.


" Eh.. iya? " Jawab Syafa


" Kita nyanyi lagi yuk kak " Ajak mereka


" Bentar ya dek " Ujar Syafa. Syafa melambaikan tangannya kearah orang itu dan mengisyaratkan agar orang itu mendekat. Orang itu mengerti dan berjalan mendekati mereka


" Ngapain mas Rivan sembunyi sembunyi disana " Bisik Syafa


" Mau liat kamu ngajarin mereka " Jawab Rivan santai sembari menunjuk anak anak itu


" Ihh.. ada ada aja deh, alasannya nggak masuk akal tau " Jawab Syafa cemberut sembari kembali berjalan menuju tenda tempat anak anak itu belajar.


" Nah adik adik kenalin kakak ini juga temennya kakak, namanya kak Rivan " Ujar Syafa memperkenalkan orang yang memperhatikan dia tadi dibalik pohon beringin yang cukup besar.


" Hai adik adik, salam kenal ya " Ujar Rivan menyambung ucapan Syafa


" Hai kak Rivan "


" Kak Rivan ini pintar main gitar loh, jadi kita nyanyi sambil kak Rivan main gitar. Gimana mau nggak?" Ajak Syafa


" Mau kak " Jawab mereka semua


" Mbak Yura juga ikutan nyanyi ya " Bujuk Syafa


" Aduh kamu aja deh yang nyanyinya Fa, mbak mah nggak bisa nyanyi " Jawab Yura


" Nggak papa mbak kita juga sama sama belajar, mau ya mbak " Syafa tak menyerah, ia terus membujuk Yura


" Hemm.. yaudah deh " Ujarnya pada akhirnya membuat Syafa sumringah


" Oke, tapi kakak nggak bawa gitar nih. Gimana ya? " Rivan jadi bingung sendiri.


" Ya, padahal kita udah semangat mau nyanyi bareng " Protes salah satu anak yang langsung diangguki oleh teman temannya


" Ehhem.. maafin kakak ya adik adik, kakak lupa kalau kak Rivannya nggak bawa gitar " Ujar Syafa merasa bersalah pada anak anak itu. Syafa segera menarik tangan Rivan menjauh dari anak anak itu.


" Mas Rivan maafin aku ya, aku nggak tau kalau kamu nggak bawa gitar. Anak anak itu jadi sedih gara gara aku " Sesal Syafa


" Udahlah Fa, nggak ada yang perlu kamu sesali. Kita bisa bikin mereka ceria lagi dengan cara lain, misalnya mengajak mereka bermain mungkin " Jawab Rivan


" Syafa, Rivan kalian nggak perlu khawatir. Mbak coba pinjem gitarnya di kantor kesenian desa ya. Lagian kantor kesenian itu jauh dari lokasi gempa jadi nggak kena dampaknya. Moga aja ada gitar yang bisa dipake ya " Ujar Yura yang tiba tiba datang menyusul mereka


" Beneran mbak? " Tanya Syafa


" Iya, yaudah mbak kesana bentar ya. Mbak titip anak anak itu dulu " Ujar Yura


" Siap mbak " Jawab mereka berdua. Yura segera menuju ke kantor kesenian desa untuk meminjam gitar. Sedangkan Syafa dan Rivan kembali ketenda untuk mengalihkan perhatian anak anak itu sementara. Setelah berhasil menemukan gitarnya dan mendapat izin meminjam Yura segera kembali. Benar saja, saat ia kembali dengan membawa sebuah gitar, anak anak itu bersorak gembira.


" Baiklah adik adik karena udah ada gitarnya, kita nyanyi.. lest go.. " Teriak Syafa


" Lest go " Ujar anak anak itu bersemangat. Mereka semua bernyanyi dengan semangat dengan diiringi petikan gitar nan indah yang dimainkan oleh Rivan.


Raut wajah bahagia terpancar jelas dari anak anak itu. Keterbatasan sekolah karena dampak dari gempa yang terjadi didaerah mereka membuat anak anak itu harus belajar di bawah sebuah tenda kecil dan duduk beralaskan tikar. Tapi hal itu tak menyurutkan semangat anak anak itu untuk belajar.


Ditambah hari ini mereka kedatangan tamu Syafa dan Rivan yang turun tangan dengan suka rela mengajarkan mereka dan membagi ilmu mereka kepada anak anak sekolah dasar kelas 1 itu membuat mereka bertambah semangat dalam belajar. Ditambah lagi motivasi yang diberikan keduanya untuk anak anak itu supaya anak anak itu tetap semangat belajar apapun kondisinya. Bahkan sebelum pulang, Syafa dan Rivan masih sempat berbagi.Beberapa lembar uang mereka berikan kepada setiap anak.


" Semakin kesini aku semakin mengagumimu " Batin Rivan sembari menatap Syafa yang sedang membagi uang kepada anak anak sekolah itu.


To be continued...