
Selepas kembali dari kompleks perumahan sang gadis, Ikhsan memacu laju kendaraan motornya dengan kecepatan standar. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu lambat. Inilah salah satu cara Ikhsan menikmati hidupnya. Dimana dia bisa berpeluang untuk menikmati angin malam, bertengger manja di atas kuda besinya dan memikirkannya sesuatu yang masih mengganjal di dalam pikirannya. Ya, siapa lagi? Gadis itu.. Siapa namanya? Usia berapakah dia? Bahkan jika diizinkan lancang bertanya, sudahkah dia memiliki tambatan hati?
'Eehhh, kok ngawur gini sih yaa?' Gumamnya menepis pikiran-pikiran yang mampu menghipnotisnya untuk terus memikirkan gadis itu. Tapi ya sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu.
Tak lama kemudian Ikhsan sudah mendekati area kompleks perumahannya. Rumahnya diapit oleh area mesjid kompleks dan kantor Posyandu yang dipadukan dengan Lembaga
TK yang dipimpin ibunya. Suasana hangat inilah yang sangat Ikhsan rindukan jika sedang diluar rumah. Dia akan menikmati pemandangan dari rumah sambil sesekali melirik Yayasan milik mamanya berdiri, yayasan yang berdiri atas kerja keras dan usaha mamanya yang pantang menyerah dan dedikasinya terhadap dunia pendidikan tidak diragukan lagi, berbagai penghargaan sudah disabet sang mama bawel itu beberapa kali, misalnya guru berprestasi, guru teladan, lomba ini, lomba itu yaah lihat saja pajangan pialanya berjejer. Disana juga tersimpan kenangan yang tak mungkin Ikhsan lupa. Bagaimana memori itu begitu lekat di pikirannya, saat Ikhsan masih mengenakan seragam sekolah TK, saat menghabiskan waktu di sekolah bersama sang mama tercinta, saat adiknya lahir ke dunia ini, Saat Ikhsan dan Hasna saling berebut mainan bahkan bertengkar hanya gara-gara hal sepele. Juga ingatan ironis saat sang mama menemukan paket haram milik Zaki didalam kamarnya. Ikhsan menyunggingkan senyuman. Memorinya dipaksa ditarik kembali ke waktu saat ini, sekarang Ikhsan sudah cukup dewasa, bahkan harusnya sudah memiliki tambatan hati, yaahh you know lah, girl friend alias pacar, alias KABOGOH gituuu..
Bayangan gadis itu kembali merangsek masuk kedalam pikirannya, mengajak Ikhsan mengingat lagi kejadian tadi. Kejadian diluar rencana. Untung saja si preman tengil jomblo nan bau asem itu tidak menyadari kalau senjata api yang Ikhsan todongkan ke kepalanya itu cuma mainan. Hahahhahaha. Iya, itu cuma pistol mainan yang kebetulan ia temukan di jalan menuju mushola tempatnya sholat isya tadi. Memang saat ini Ikhsan sudah lulus di akademi polisi, tapi tak serta merta ia berhak untuk memiliki senjata api saat itu juga. Nanti, jika sudah betul-betul tepat, sang komandan juga memberikan wewenangnya untuk memegang senjata api.
Tiba dirumahnya, Ikhsan mengklakson motornya sebagai tanda bahwa ia minta dibukakan pagar. Ada mang Engkus segera menyambut kedatangannya. Sebagai tanda kesopanan terhadap orang yang lebih tua, Ikhsan pun membuka kaca helmnya sambil melambai pada mang Engkus, yang kemudian dibalas mang Engkus dengan anggukan.
Motor Ikhsan sudah masuk pelataran parkir dirumahnya. Ada 2 mobil berjejer disana, ada juga motor matic milik sang adik. Ikhsan segera turun dari motor dan menghampiri pintu rumahnya. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan keluarga tercinta. Dan mencicipi makanan khas buatan sang mama bawel.
Tiba di depan pintu, pintu pun terbuka dengan perlahan dan sudah bisa ditebak, Husna yang pertama menampakan dirinya sambil melompat ke arah si Abang tercinta. Kemudian Hasna mengambil ancang-ancang untuk minta digendong di punggung abangnya.
"Aduuuh, adek jangan gitu donk! Kamu udah gede tau, berat lagi, mana mungkin Abang bisa tahan gendong kamu sekarang!" Seloroh Ikhsan sambil ngos-ngosan.
"Iiihh Abang tega banget, masa ngatain aku berat? emangnya aku gendut!" Jawab Hasna sambil memajukan bibirnya pertanda ia sedang cemberut.
"Anggap ini hukuman, suruh siapa Abang telat datang! Hasna udah kelaparan tauuu nunggu Abang, kepengen buruan makan kue buatan mama!" Jawab Hasna dengan enteng.
"Nah Ikhsan, kamu telat pulang sampe dua jam gini, kamu kemana dulu emangnya? Mama kuatir tau! Takutnya anak mama yang ganteng, Sholeh, baik hati dan tidak sombong ini malah di culik anak gadis orang lain lagi ahh, nanti mama cemburu deh!" Kata mama sembari mengerucutkan bibirnya, berpura-pura sedang ngambek gituh.
Namun kali ini ayah yang menjawab :"Yaah mama, biarin aja Ikhsan diculik gadis pujaan hatinya, sudah waktunya juga Khan anak sulung kita punya tambatan hati? Iya gak, Ikhsan?"
Ikhsan yang tadinya sedang menikmati kue cemilan buatan mamanya itu sontak langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
"Uhuuukk... uhukkk... Ya ampun kalian ini yah, seneng banget deh godain Ikhsan, hu hu huuuu..." Selorohnya sambil beringsut dari tempat duduknya menuju kamarnya. Hanya dengan cara ini, Ikhsan bisa menghindari sindiran tajam dari keluarganya.
"Yeeeyyy si Abang malah kabuuurrrr...!" Teriak Hasna dari lantai bawah.
Kamar Ikhsan memang terletak di lantai atas.
" Abang mau mandi dulu deeekkk....!" Jawabnya dengan suara menggelegar.
'Huuffttthh.. selamat kali ini' Gumamnya.