
Satu Minggu kemudian...
Pagi ini Seperti janjinya dengan sang papa, ia akan pulang ke Bandung. Ia akan pulang menggunakan mobil pribadinya. Karena Syafa bilang menggunakan mobil akan lebih cepat sampai bila dibandingkan menggunakan kereta api. Sebenarnya ia berencana pulang ke Bandung kemarin karena malam ini adalah acara makan malam bersama yang sudah direncanakan papa, mama dan sahabatnya. Namun, karena pekerjaan Syafa belum selesai membuat ia memilih pulang hari ini.
" Nona muda yakin mau nyetir sendiri sampai ke Bandung? " Tanya mbok Nur khawatir.
" Insyaallah yakin mbok. Doain aja moga selamat sampai tujuan ya mbok Nur " Jawab Syafa sembari memasukkan beberapa bajunya kedalam koper. Tak lupa ia memasukkan oleh oleh yang sudah ia siapkan untuk para ponakannya. Juga untuk abang, aak, mas dan para kakak iparnya serta papa dan mamanya.
" Iya non, aamiin.. " Jawab mbok Nur.
" Sarapan dulu non " Tawar mbok Nur.
" Iya mbok " Selesai memasukkan baju bajunya kekoper, Syafa segera turun.
" Mbok, tolong dimasukin ke dalam bagasi mobil ya " Ujar Syafa menyerahkan koper damn kunci mobilnya pada mbok Nur.
" Iya non " Jawab mbok Nur segera berlalu. Syafa pun melangkahkan kakinya keruang makan dan segera menyantap sarapannya.
°°°°°°°°°°°°
" Mbok, aku pamit ya! Titip apartemen mbok! " Ujar Syafa
" Iya non, hati hati "
" Iya mbok, assalamualaikum! "
" Waalaikumsalam "
Syafa masuk kedalam mobilnya. Ia memasang sabuk pengaman. Setelah itu ia mulai menyalakan mobilnya dan melajukannya perlahan keluar dari basemant apartemen. Mobil mewah Syafa melaju secara perlahan membela kota Surabaya.
Drett...drett..
Syafa yang mendengar ponselnya berbunyi segera mengangkatnya setelah sebelumnya disambungkan pada handset supaya lebih memudahkannya menelpon sembari menyetir. Ia melirik ponselnya, ternyata sang mama yang menelponnya.
" Hallo, assalamualaikum ma! " /Syafa
" Waalaikumsalam, kak jadi pulangkan hari ini?" /Lesty
" Jadi dong ma, ini kakak lagi dijalan " /Syafa
" Kakak nyetir mobil sendiri? " /Lesty
" Iya ma, ini kakak lagi dijalan " / Syafa
" Kenapa nggak naik kereta api aja kak. Atau setidaknya ajak pak Ujang buat nyetir. Kakak memang keras kepala ya! " /Lesty
" Heheh..nggak papa ma! Kakak bakal istirahat di jalan kalau capek. Lagian pak Ujang juga ada kerjaan. Dan kakak nggak suka naik kereta api, lama sampainya! /Syafa
" Iya deh, terserah kakak " /Lesty
" Oiya ma, nanti mama share aja di restoran mana acara makan malamnya. Kemungkinan kakak sampai ke Bandungnya sudah malam. Jadi kakak langsung ke sana aja! " /Syafa
" Iya nanti mama share ya! kakak hati hati dijalan, jangan ngebut. Mama tutup telponnya ya. Assalamualaikum " /Lesty
" Iya ma, Waalaikumsalam " /Syafa
°°°°°°°°°°°°°
Pukul setengah delapan malam ia sampai di Bandung. Setelah melakukan perjalanan selama 9 jam 30 menit. Memang agak terlambat dari yang mestinya hanya memakan waktu 9 jam. Hal itu dikarenakan Syafa yang sering singgah saat mulai merasa letih. Belum lagi Syafa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang saja.
Dan saat ini, Syafa sedang dalam perjalanan menuju restoran yang menjadi acara makan malam dua keluarga. Kebetulan jalan ini searah dengan butik milik Syafa. Jadi, Syafa memutuskan untuk mampir ke butiknya terlebih dahulu supaya bisa mengganti bajunya sekaligus membersihkan diri.
" Malam nona muda " Sapaan para karyawan butik banyak terdengar ditelinga Syafa. Mereka kaget sekaligus heran melihat Syafa yang tiba tiba datang ke butik. Padahal mereka tahu kalau Syafa sedang ada di Surabaya.
" Malam " Balas Syafa tersenyum tipis sembari terus berjalan ke lantai atas, tempat ruang pribadinya berada.
" Anin " Panggil Syafa pada salah satu karyawan butik.
" Iya nona " Jawab karyawati yang bernama Anin sembari menghampiri Syafa.
" Tolong siapkan satu setel baju buat saya untuk dinner sekarang juga " Titah Syafa
" Baik nona " Jawab Anin.
" Langsung antar keruangan saya saja nanti " Sambung Syafa
" Siap nona " Syafa kembali melangkah keruangannya sementara Anin segera mencarikan apa yang dipinta Syafa tadi. Didepan ruangannya, Syafa berpapasan dengan Inka. Sama seperti karyawan lain, Inka pun merasa terkejut dengan kedatangan Syafa yang mendadak.
" Malam nona muda " Sapa Inka.
" Malam " Jawab Syafa tersenyum tipis pada orang kepercayaannya sembari terus melangkah ke ruangannya.
" Nona muda maaf, saya belum menyiapkan laporan keuangan butik bulan ini " Ujar Inka menunduk.
" Inka, kita bahas itu besok. Saya tidak punya waktu banyak saat ini " Ujar Syafa. Inka hanya mengangguk dan berlalu dari hadapan Syafa.
" Nona, ini baju yang anda minta " Anin datang saat Syafa hendak membuka pintu ruangannya.
" Terima kasih Anin " Ujar Syafa mengambil baju yang diberikan Anin dan segera masuk kedalam. Didalam ruangan itu terdapat kamar pribadi Syafa dilengkapi dengan kamar mandi didalamnya.
Syafa segera masuk kamar pribadinya dan segera mandi. 15 menit setelah mandi, ia memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh Anin tadi. Tak lupa memoles sedikit wajahnya dengan make up supaya terlihat lebih segar.
°°°°°°°°°°°°°
15 menit kemudian, Syafa sudah sampai di restoran yang dimaksud oleh mamanya. Ia segera memarkirkan mobilnya diparkiran dan masuk ke dalam.
" Maaf mbak, ruang VVIP dimana ya? " Tanya Syafa pada salah satu pelayan restoran. Karena Lesty mengatakan padanya tadi kalau mereka memesan ruang VVIP.
" Ada dilantai 2 nona. Mbak bisa lewat lift yang itu, dan dilantai 2 itu cuma ada satu ruangan yaitu ruang VVIP " Jawab pelayan itu sopan
" Makasih ya mbak "
" Sama sama nona "
Syafa berjalan menuju lift yang ditunjuk oleh pelayan tadi. Ia pun sampai pada ruangan bertuliskan RUANG VVIP di depannya.
" Assalamualaikum " Ucap Syafa saat membuka pintu ruang itu.
" Waalaikumsalam.. kakak! " Jawab seluruh keluarga Ferdian yang ada di dalam ruangan itu.
" Aunty Syafa " Teriak Nara yang sekarang berusia 6 tahun dan Nabil yang berusia 2 tahun setengah berlari kearah Syafa.
" Hay sayang, aunty rindu banget sama kalian " Jawab Syafa sembari memeluk kedua ponakannya itu dan mengelus kepala keduanya.
" Nara juga rindu sama aunty " Ucap Nara
" Abil juga " Sambung Nabil dengan gaya cadelnya. Syafa mengajak mereka berjalan kedalam bergabung dengan keluarganya.
" Aunty, aunty janji bakal kasih oleh oleh kalau pulang ke Bandung kan? mana oleh olehnya? " Tanya Nara membuat Syafa tersenyum.
" Ada kok sayang, tapi masih aunty taruh didalam mobil. Nanti aja dirumah nenek aunty bagiin ya " Jawab Syafa.
" Okedeh, janji ya aunty " Ujar Nara sembari menjulurkan jari kelingkingnya pada Syafa
" Iya sayang, aunty janji " Ujar Syafa sembari mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nara.
" Pa, Ma " Panggil Syafa ketika sudah dekat dengan kedua orangtuanya. Dengan segera Syafa memeluk kedua orangtuanya. Bergantian dengan ketiga kakaknya dan adiknya serta para kakak iparnya.
" Ti....fa..ti..ti....fa " Celoteh twins H ketika Syafa mendekati mereka yang duduk dipangkuan Marsel dan Rasya
" Hay sayang, iya ini aunty. Rindu ya sama aunty? " Ujar Syafa tersenyum sembari mengangkat Hanna dari pangkuan Rasya. Melihat adik kembarnya digendong oleh auntynya, Hanif pun menangis.
" Huaaaa...ti..fa " Celoteh Hanif terus terusan menangis
" Aduh,, abang Anif pengen digendong aunty juga ya? " Tanya Syafa. Seakan mengerti ucapan Syafa, Hanif dengan cepat mengangguk dan menghentikan tangisnya.
" Ehmm.. yaudah, aak tolong taruh abang Anif di pangkuan aku " Ujar Syafa sembari duduk di samping Zahira dengan Hanna yang sudah duduk dipangkuannya juga.
" Nggak usah dek, nanti kamu kesusahan buat makan. Mana kamu capek habis dari perjalanan jauh kan? " Tolak Rasya yang merasa tak enak hati pada Syafa.
" Huaaaa.... " Tangis Hanif kembali terdengar saat mendengar ucapan maminya.
" Nggak papa teh, kasian tuh Hanifnya nangis " Jawab Syafa. Akhirnya Marsel meletakkan Hanif dipangkuan Syafa disebelah Hanna.
" Kak, masih kenalkan dengan sahabat mama dan papa yang ini? " Tanya Lesty menunjuk sahabatnya yang duduk di seberangnya bersama suami dan anak anaknya.
" Eh, iya ma.. tante Viona dan om Andra kan? " Tanya Syafa balik.
" Iya sayang " Jawab Viona tersenyum.
" Oiya, kenalin ini anak pertama tante Vivto dan Hana istrinya serta anak mereka Ciko dan Reyna. Anak kedua tante Axel dan Nabila istrinya serta Bahira dan Tari ( Tari Anisa Pranata yg baru berusia 1 tahun) anaknya. Anak ketiga tante Shalsa dan Biman suaminya serta anak mereka Ivan( Ivander Putra Wijaya usianya 8 bulan) Dan yang paling bungsu namanya... "
" Kalista? " Ujar Syafa memotong ucapan Viona
" Jadi kamu udah kenal sama Kalista? " Tanya Viona
" Iya tante, Kalista sering main sama Leta dirumah " Jawab Syafa. Viona hanya mengangguk sembari tersenyum
" Oiya, sebenarnya anak tante Viona itu ada satu lagi namanya Ando " Ujar Lesty
" Bukankah Kalista adiknya mas Rivan, itu artinya mas Rivan juga anaknya tante Viona. Atau mungkin Ando yang mereka bilang itu mas Rivan? " Batin Syafa menerka nerka.
" Iya, tapi maaf ya anak tante yang satu itu baru pulang dari Kanada jadi agak sedikit sibuk " Ujar Viona
" Nggak papa kok tan "
" Yaudah, kita makan sekarang aja ya. Nanti Andonya nyusul aja kalo dia sudah datang " Ujar Andra
" Boleh " Jawab Rizky. Akhirnya mereka memesan makanan duluan tanpa menunggu Ando. Selang setengah jam, makanan yang mereka pesan sudah ludes tak tersisa. Mereka makan sembari mengobrol santai. Sangat jarang mereka bisa berkumpul bersama anak dan menantu mereka seperti ini walaupun ada yang kurang yaitu pria yang mereka sebut Ando itu sampai sekarang belum menunjukkan batang hidungnya.
To be continued!
Hay para readers kesayangan, Author mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H bagi seluruh saudara muslim dunia. Author juga mau minta maaf yang sebesar besarnya jika ada salah sama para teman online sekalian baik disengaja maupun nggak disengaja. Entah itu dari dalam segi komen maupun segala kesalahan di dunia nyata. Semoga Allah senantiasa meneguhkan Iman dan Taqwa kita semua... Aamiin..
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum...
Minal Aidzin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin🙏
Ttd,
Nanda Utamy