
Ba'dah isya kedua mempelai kembali dirias. Malam ini, acara resepsi akan diadakan di hotel milik ayah Andra.
" Cantik sekali! " Puji Rivan saat masuk kedalam salah satu kamar hotel yang dipakai untuk merias istrinya. Syafa yang semula fokus pada penata rias kini menoleh ke sumber suara. Rivan menghampirinya seraya tersenyum manis. Setelan jas putih yang dipakainya membuatnya semakin berwibawa dan elegan.
" Jangan gombal mas!! " Protes Syafa dengan wajah cemberutnya membuat Rivan terkekeh. Ia mencium pipi istrinya yang sudah tampak memerah karena malu.
" Mas.. malu diliat mbaknya! " Bisik Syafa menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya yang kini sudah berdiri dihadapannya.
" Mbak, tadi nggak liat kan? " Tanya Rivan setengah menahan tawa.
" T.. tidak tuan! Saya permisi dulu " Penata rias dan anak buahnya segera keluar dari kamar itu.
" Sampai kapan mau kayak gini sayang, mereka udah pergi kok " Syafa melepas pelukannya dan menatap tajam suaminya.
" Nggak tahu tempat banget sih mas! " Gerutu Syafa.
" Iya maaf ya! Janji nggak lagi deh... " Rivan menyodorkan jari kelingkingnya pada Syafa membuat Syafa mendelik kesal.
" Aku serius mas.. "
" Mas juga serius, Zaujatii " Rivan menangkupkan pipi istrinya dengan kedua tangannya. " Lagian kalau berdekatan sama kamu, pengen nyium aja! Gemes soalnya "
Cupp..
Tanpa rasa bersalah, Rivan kembali mencium pipi Syafa.
" Mas Rivan ngeselinnn "
" Biar adil sayang! Itu pipi kirinya nanti iri loh kalau cuma pipi kanan yang di cium " Sahut Rivan terkekeh kecil. Ia merasa gemas melihat istrinya yang merajuk seperti itu.
" Tau ah.. " Syafa kembali duduk di depan meja riasnya tanpa peduli pada Rivan.
" Heii.. nggak boleh cemberut gitu dong, Zaujatii! Nanti orang orang ngira mas ngapa ngapain kamu lagi " Bujuk Rivan memeluk Syafa dari belakang. Kini Syafa mulai terbiasa dengan sentuhan sentuhan kecil dari Rivan.
" Biarin aja "
" Gemesin banget sih istrinya mas ini kalo merajuk gini "
" Mas Rivan lepasin ihh.. aku susah nafas! " Protes Syafa pada Rivan yang memeluknya erat dari arah belakang.
" Maafin dulu, baru mas lepasin "
" Nggak!! "
" Sayang, ayolah.. "
" Lepasin mas! Nanti gaunnya jadi kusut "
" Makanya maafin "
" Mas.. " Rivan menggelengkan kepalanya membuat Syafa menghela napas.
" Iya² aku maafin! Sekarang tolong lepasin dong " Bujuk Syafa. Rivan terkekeh mendengarnya.
" Nah gitu dong, Zaujatii.. "
Cup..
Ceklek!!
" Ups, maaf! Mbak kira hanya ada Syafa didalam " Tiba tiba saja Nabila masuk bersama Hana membuat kedua pengantin baru itu sedikit terkejut. Rivan refleks berdiri dan tersenyum malu pada kedua kakak iparnya. Sementara Syafa hanya menunduk tak berani menatap kedua wanita cantik itu.
" Hemm.. kayaknya udah nggak sabar lagi kamu Van " Goda Hana membuat Syafa bertambah malu.
" Ditunda dulu sebentar adik ipar! Nanti usai acara resepsi baru di lanjut " Sambung Nabila.
" Masalahnya Rivan selalu nggak bisa nahan kalau terus terusan dekat sama Syafa mbak. Gimana dong? " Sahut Rivan terkekeh pelan.
" Kamu ini ya.. " Shalsa datang dengan menggendong Ivan seraya menjewer telinga adiknya itu.
" Auhh.. sakit mbak! " Keluh Rivan. Syafa tertawa pelan melihat Rivan meringis seperti itu.
" Lain kali jangan macem macem sama adik ipar mbak "
" Sudah², ayo keluar! Bunda, ayah dan yang lain udah nungguin " Hana melerai pertengkaran kakak adik itu.
" Iya kak! "
...****...
Kini kedua mempelai sudah berjalan menuju ballroom hotel tempat diadakan acara resepsi. Mereka berjalan dengan anggun diiringi oleh kedua orangtua dan keluarga besar mereka. Aura keduanya begitu terpancar. Semua tamu seolah tersihir begitu rombongan mempelai masuk kedalam.
" Silahkan yang mulia ratu " Ujar Rivan mengulurkan tangannya pada Syafa saat keduanya hendak naik keatas pelaminan. Syafa lagi lagi tersipu malu mendengar ucapan Rivan. Semenjak resmi menjadi suami istri siang tadi, sikap romantis Rivan terus saja muncul. Bahkan Syafa sendiri seolah menemukan sosok Rivan yang lain.
" Sebaiknya yang mulia raja yang duluan " Jawab Syafa masih menyembunyikan rona merah dipipinya. Rivan menggeleng tanda tidak setuju.
" Tidak ada yang akan duluan! Untuk hari ini dan seterusnya, kita akan melangkah bersama sama. Karena jika kita melangkah bersama, semua rintangan akan mudah terlewati. Dan insyaallah kita bisa mencapai kesempurnaan cinta yang abadi.. The perpection of love " Tutur Rivan membuat Syafa tersentuh.
" Sampai kapan kalian akan mengobrol didepan tangga itu? " Tegur Vivto membuat Rivan dan Syafa yang tadi terhanyut dalam obrolan mereka sontak menoleh. Semua orang tampak menahan tawa melihat tingkah kedua mempelai ini.
" Ayo naik, Zaujatii.. " Rivan menggenggam tangan Syafa dan keduanya mulai naik ke pelaminan tanpa mendengar gerutuan Vivto yang kesal karena mereka abaikan.
" Udah mas, ayo naik! Nanti nggak jadi foto sama pengantin " Ujar Hana seraya mengelus pelan lengan suaminya itu seraya menuntun Ciko dan Reyna yang kini berusia tiga tahun naik keatas pelaminan untuk berfoto bersama.
" Mas, bantuin pegang Reyna! Kenapa bengong aja " Ujar Hana lagi membuat Vivto tersentak kaget.
" Iya iya sayang.. " Vivto akhirnya menggandeng tangan putri kecilnya itu meski dengan wajah yang sedikit kesal mengingat sikap Rivan tadi.
...****...
" Happy wedding ya buat kalian berdua. Doa terbaik dari kami pokoknya " Rara, Asya, Kenan, Bagas, Arka, dan Nico kini berdiri diatas panggung dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
" Thanks ya kalian udah datang " Ujar Syafa yang diangguki Rivan juga.
" Sorry aku telat kayaknya " Tiba tiba seorang pria muda naik kepelaminan dan menghampiri mereka yang asyik mengobrol.
" Kean? " Syafa, Rivan dan yang lainnya juga terkejut, bukan karena kedatangannya. Namun, mereka terkejut karena melihat Kean tiba tiba merangkul Rara. ( Ada yang masih ingat Kean? Wakil ketua BEM UGM yang ikut kegiatan sosial sama Rivan )
" Eh, apaan belom halal! Main rangkul² aja " Protes Asya seraya melepas tangan Kean yang bertengger di bahu Rara. Sementara keduanya hanya menunduk menahan malu.
" Kayaknya gue ketinggalan berita nih " Sindir Syafa tersenyum menggoda keduanya.
" Mereka udah jadian Fa, tuh sih Rara yang mau pacaran! Padahal udah gue ingetin " Aduh Asya dengan wajah cemberutnya.
" Pacaran boleh kok, asal jangan sampai melewati batas " Sambung Rivan yang sedari tadi diam saja.
" Hemm.. kalau nggak salah, lo yang ikut kegiatan sosial di desa X bukan? " Tanya Nico.
" Iya kak.. " Kean tersenyum canggung pada rekan rekannya dulu.
" Wah, CLBK nih " Bagas dan Arka berujar bersamaan menimpali ucapan Nico meskipun mereka tidak kenal Kean sebelumnya.
" Kita foto dulu yuk! " Timpal Syafa membuat perbincangan mereka terhenti. Usai berfoto, para sahabat Syafa dan Rivan langsung turun karena banyak tamu yang mengantri ingin mengucapkan selamat pada keduanya. Bimo, Jihan, dan teman teman Syafa dari alumni Irmas juga datang. Tidak hanya mereka, teman teman sekolah Syafa dan Rivan juga hadir.
...****...
Ditempat yang sama, di sebuah sudut ruangan tampak dua orang wanita baru masuk setelah beberapa pemeriksaan ketat di lewati.
" Jadi benar Rivan menikah dengan Syafa? " Tanya nya pada teman wanita disampingnya. Wanita disampingnya tampak mengagguk, karena memang begitu lah yang tercantum di surat undangan. Bukan hanya itu, bahkan kedekatan keduanya sudah menjadi rahasia umum di perusahaan. Para awak media juga sering memberitakan mereka.
" Benar miss! " Jawabnya singkat.
" Nikmati kebahagiaan kalian sekarang, setelah ini aku akan hancurkan hidup kalian berkeping keping seperti kalian menghancurkan ku " Geram wanita itu seraya mengepalkan tangannya kesal.
" Siapa yang ingin kamu hancurkan? " Tiba tiba datang seorang pria berperawakan bule dari arah belakang mereka. Wanita itu tampak terkejut, ia cukup mengenal teman dari mantan bosnya ini.
" Mr. Darren? "
" Kenapa ? Terkejut melihat diriku? Jangan berpikir untuk mengusik mereka atau kau tahu sendiri akibatnya! Saya harap kamu tidak mempermalukan diri sendiri untuk yang kedua kalinya " Peringat Darren. Pria bule ini sudah mahir berbahasa Indonesia. Berkat berteman dengan Rivan, ia jadi tertarik mempelajari apapun mengenai Indonesia. Termasuk bahasanya. Ia lantas tersenyum penuh misteri dan pergi begitu saja.
" Celine, saya tidak akan pernah membiarkan rencanamu berhasil " Gumam Darren. Ia ikut mengantri di antara para tamu yang hendak memberikan ucapan selamat pada pengantin baru di pelaminan. Cukup lama mengantri, hingga akhirnya ia bisa bertemu kedua orang itu.
" Happy wedding, brother " Darren memeluk Rivan yang masih terperangah melihat keberadaannya yang katanya tidak bisa datang karena sedang sibuk itu.
" Darren, are you coming? " Tanya Rivan sesaat setelah Darren melepas pelukannya.
" Tentu saja! Mana mungkin aku melewatkan hari bahagia sahabatku " Balas Darren tersenyum.
" Kamu udah bisa bahasa Indonesia? " Kali ini Syafa ikut menimpali.
" Yups, bahasa Indonesia mudah untuk dipahami " Darren tersenyum bangga.
" Selamat sekali lagi, jangan buat sahabatku ini patah hati lagi Syafa! Kau tahu Syafa, akulah yang menjadi saksi betapa frustasinya seorang Rivan karena ditolak olehmu waktu itu. Jadi aku harap setelah ini kalian bisa bahagia " Ujar Darren kemudian seraya memberikan sebuah hadiah.
" Terima kasih "
" Celine ada disini dan dia sedang merencanakan sesuatu! Aku harap kau berhati hati " Bisik Darren pada telinga Rivan. Setelah itu ia meninggalkan pelaminan mengingat begitu banyak tamu yang masih mengantri dibelakangnya. Meninggalkan Rivan dengan segala rasa terkejutnya. Ia sudah tahu Celine ada di Indonesia. Tapi ia belum mencari tahu lebih lanjut apa motifnya datang kemari. Jika benar apa yang dikatakan oleh Darren, Rivan tak akan segan lagi untuk kembali menghancurkan wanita itu. Tunggu saja!
To be continued!!!