The Perfection Of Love

The Perfection Of Love
Terkejut



" Bukankah itu tante Lesty? Mamanya Syafa! Ada mas Dafa dan Aleta juga? Apakah Syakilah adalah saudarinya Syafa? Lalu dimana Syafa? "


Tak hanya mereka, netranya juga menangkap seorang pria yang ia yakini calon suami wanita yang ia cintai. Keningnya berkerut lantaran melihat pria itu menggandeng mesra wanita cantik disebelahnya.


" Ayah, katanya mau ambilin cake buat kakak? " Gadis kecil yang digandeng oleh wanita cantik itu tampak berbicara.


" Sebentar sayang! Ayah mau nyambut tamu dulu ya. Abis itu baru kita ambil cake sama sama oke? " Yang membuat Rivan tercengang calon suami wanita yang dicintainya itu menyahut.


" Ayah? Apa dia seorang duda? Lalu siapa wanita disampingnya? Apa iya dia berselingkuh dibelakang Syafa? "


" Bunda, Abil mau digendong ayah aja! Capek beldiri telus " Kembali lagi seorang anak laki laki kecil yang berdiri ditengah keduanya melempar protes pada wanita cantik disampingnya.


" Nanti ya nak! "


" Maunya sekalang bunda "


" Sini, ayah gendong anak tampan ini! Tapi jangan ngambek ya "


" Tidak tidak! Pria itu sudah memiliki istri. Bahkan anaknya sudah dua. Tapi kenapa ia masih menginginkan Syafa? "


" Rivan, kenapa berhenti! Ayo.. " Bunda Viona menarik tangan putranya yang tiba tiba saja menghentikan langkahnya saat akan menaiki panggung kecil yang disiapkan untuk acara lamaran.


" Ah,iya maaf bun "


" Selamat datang calon besan " Sambut papa Rizky seraya memeluk sahabatnya. Begitupula para wanita yang tak kalah hebohnya.


" Langsung saja kita mulai acaranya kali ya "


" Boleh "


Acara lamaran pun dimulai. Dari pembukaan, kata sambutan dan sampailah pada acara inti, dimana pihak pria akan menanyakan kesiapan calon mempelai wanita untuk dipersunting calon mempelai prianya.


" Oke, sekarang saatnya kita dengarkan jawaban dari calon mempelai wanitanya. Kita sambut inilah Syakilah Asyafa Ferdian.. " MC mulai menginstruksikan supaya calon mempelai wanita masuk kedalam gedung.


" Nama itu.. "


Tap.. tap.. tap..


Suara yang berasal dari sepatu high heels calon mempelai wanita yang bergesekan dengan anak tangga menyita perhatian Rivan dan para tamu undangan. Dengan gaun putih panjang menjuntai dan hijab senada serta riasan make up yang natural membuat aura kecantikannya terpancar walaupun kini ia menutupi sebagian wajahnya dengan cadar. Dia sengaja ingin memberi kejutan kepada calon suaminya. Meski ia tak tahu siapa calon suaminya.



Ia berjalan menyusuri puluhan anak tangga sebelum akhirnya menuju ke panggung kecil itu dan digandeng oleh kedua kakaknya, Raka dan Dafa. Tak ketinggalan Marsel dan Aleta yang tadi tiba tiba menghilang kini muncul dibelakang mereka.


" Masyaallah, sepertinya aku mengenal wanita itu " Batin Rivan risau. Detak jantungnya berdetak lebih cepat, sama seperti saat ia melihat wanita yang ia cintai.


Sementara calon mempelai wanita tampak gugup. Ia bahkan berjalan seraya menunduk. Jalannya pun dituntun oleh kedua kakaknya.


" Apa kamu nggak berniat melihat calon adik ipar mas hem? " Bisik Dafa pada adiknya yang sedari tadi tidak berani mengangkat kepalanya.


" Ah.. anu.. "


" Dia sangat tampan dek! Seperti para aktor di sinetron ftv ikan terbang " Goda Raka lagi membuat pipi adiknya itu merona. Untung saja ia menggunakan cadar. Perlahan wanita cantik itu mendongak. Selangkah lagi akan sampai pada tempat acara.


Deg..


" Mas Rivan.. "


" Ujian macam apa ini Ya Allah.. Disaat hambamu ini mencoba menghindarinya, nyatanya sekarang hubungan kami semakin dekat walau mungkin hanya akan jadi saudara ipar "


Jika dipasangkan, mungkin baju yang di kenakan oleh Rivan jauh lebih serasi dengan baju yang dipakainya. Tapi pria yang ada disebelahnya juga menggunakan baju yang warnanya senada. Dan lagi, tidak mungkin Rivan itu Ando kan?


Akhirnya calon mempelai wanitanya sampai di atas panggung. Keempat saudaranya tadi sudah bergabung dengan keluarga yang lain. Pria yang tadi berdiri bersama Rivan tampak hendak menghampiri wanita itu membuatnya yakin jika ia adalah Ando.


" Jangan ragu ragu calon adik ipar! Jika tidak suka dengan adikku maka jangan ragu untuk menolaknya. " Ujar pria itu seraya tersenyum menunjuk adiknya yang berdiri dengan gelisah diujung panggung dan berlalu dari hadapan calon adik iparnya.


" Calon adik ipar? Adik? Jadi, itu artinya mas Rivan adalah.. "


" Jangan melamun sayang! Ayo, calon suamimu sudah menunggu " Tiba tiba mama Lesty menghampiri putrinya yang masih mematung di pinggir panggung.


" Apa ini makna dari perkataan mas Rivan pada mimpiku itu ya Allah? "


Perlahan ia mengikuti langkah mamanya yang membawanya mendekati Rivan. Entah kenapa, hatinya yang mula ragu kini berangsur tenang. Bahkan tak ia pungkiri, secerca kebahagiaan merasuki relung hatinya. Begitu pula Rivan, melihat calon istrinya ini membuatnya yang tadinya sedikit enggan kini tampak bersemangat. Entahlah, perasaan apa ini. Tidak mungkin kan dalam waktu yang sangat singkat nama Syafa bisa terhapus dari hatinya dan tergantikan dengan wanita bercadar didepannya ini?


" Nak Ando, silahkan jelaskan maksud kedatangan nak Ando dan keluarga didepan putri saya langsung " Ujar papa Rizky. Rivan yang semula terpana pada calon mempelai wanitanya kini beralih pada calon ayah mertuanya.


" Baiklah, tapi sebelumnya boleh saya minta tolong om? " Tanya Rivan. Papa Rizky mengagguk.


" Tolong panggil saja saya Rivan, jangan Ando! Rasanya saya sangat asing dengan panggilan itu " Ujar Rivan membuat papa Rizky dan mama Lesty terkekeh.


" Ah iya, tante ingat! Kamu pernah datang ketoko tante bersama anak tante waktu itu kan? " Ujar mama Lesty. Sedangkan Rivan hanya mengangguk malu malu.


" Kita fokus pada acaranya dulu sayang! Nanti kita ngobrol setelah acara inti "


" Iya mas! "


" Bismillahirrahmanirrahim, Saya percaya takdir tuhan itu nyata dan adil, jika putri om dan tante memang jodoh saya, maka izinkan saya membahagiakan dia dengan menjadikannya istri sah saya. Saya tidak bisa berjanji tapi saya akan berusaha untuk menjadi suami yang bertanggung jawab dan setia. Untuk itu, Syakilah Asyafa Ferdian bersediakah engkau menjadi pendamping hidupku? Bersediakah engkau menemaniku dikala suka dan duka? "


Kata kata yang semula sangat susah ia hapalkan, bisa dicetuskan dengan lugas dan juga penuh wibawa. Sepertinya pesona calon istrinya begitu memikat. Wanita bercadar itu sejenak menatap papa dan mamanya bergantian seolah meminta persetujuan. Dengan kompak kedua orangtuanya mengaggukkan kepalanya. Ia menghela nafasnya perlahan. Kemudian ia memberanikan diri menatap pria didepannya.


" Insyaallah aku bersedia " Jawaban dari calon mempelai wanita membuat semua orang tersenyum lega. Senyum indah terbit dibibir Rivan.


" Suara itu.. "


" Alhamdulillah " Terdengar suara lirih dari kedua orangtua Rivan dan juga orangtua mempelai wanita.


" Maaf, sebelumnya apa aku boleh melihat a


wajahmu "


Deg..


Wanita itu tampak ragu, bagaimana reaksi Rivan jika ia tahu wanita didepannya adalah wanita yang sempat menolaknya karena alasan perjodohan. Yang pada kenyataannya perjodohan inilah yang mempersatukan mereka tanpa mereka sadari. Apakah Rivan akan bahagia ataukah kecewa? Pikiran wanita cantik ini mulai berkecamuk.


" Maaf jika aku lancang! Aku tidak memintamu melepas cadarmu didepan umum. Jika kamu memang merasa sungkan, nanti saja ketika tamu undangan pulang " Ujar Rivan kemudian yang merasa calon istrinya keberatan.


" Putriku aslinya memang tidak bercadar. Tapi tiba tiba hari ini dia bilang akan memberi kejutan untuk calon suaminya walaupun tadinya ia belum tahu siapa calon suaminya. Jadi tidak mengapa ia melepas cadarnya " Sahut papa Rizky. Papa Rizky menatap putrinya dan mengisyaratkan supaya ia melakukan apa yang diminta oleh calon suaminya. Walaupun gugup tapi ia tidak bisa menolak. Perlahan tangannya terangkat dan mulai melepas ikatan cadarnya. Hingga tampaklah wajah cantik sang mempelai wanita yang membuat semua orang tambah terpesona.


" Syafa.. "


To be continued!!!